Renungan Harian


Kecewa yang suci

diposkan pada tanggal 23 Jan 2015 23.22 oleh Essy Eisen

Dasar Perenungan: Yeremia 20:14-18, Lukas 10:13-16

Nabi Yeremia terlihat sangat putus asa. Tetapi putus asanya nabi ini adalah putus asa yang suci. Sebab ia merasa begitu kecewa saat upayanya menyampaikan apa yang baik bagi umat Allah pada waktu itu dianggap sepi oleh umat-Nya. Begitu juga ucapan-ucapan celaka yang diucapkan Kristus. Ini kekecewaan yang mirip dengan apa yang dialami oleh Nabi Yeremia. Kristus begitu emosi melihat betapa orang-orang tidak mau menerima apa yang baik dari Allah.

Mungkin kita dapat memahami kekecewaan mereka seperti ini. Jika seorang guru yang sudah berupaya mati-matian mengajarkan apa yang baik kepada anak-anak didiknya, tetapi anak-anak itu tidak sungguh-sungguh menerima pelajaran yang diajarkan itu. Atau juga seperti orang tua yang sudah begitu banyak memberikan cinta kasih dan perhatian kepada anak-anaknya, tetapi anak-anaknya justru malah hidup memberontak dan melakukan apa yang bodoh.

Kekecewaan nabi Yeremia dan kekecewaan Kristus adalah kekecewaan yang suci. Ini kekecewaan yang patut dipuji, sebab jauh dari pementingan diri sendiri. Kapan terakhir kali kekecewaan kita seperti mereka, yaitu kekecewaan yang muncul bukan karena diri kita tidak mendapatkan apa yang baik, tetapi karena tidak dapat memberikan apa yang baik kepada orang-orang terdekat kita? 

“Ampuni kami ya Allah, kalau tingkah laku kami selama ini membuat orang-orang yang mengasihi kami menjadi kecewa. Kami menyesal dan mau berubah. Amin.”

Mengolok-olok cinta kasih?

diposkan pada tanggal 22 Jan 2015 13.39 oleh Essy Eisen

Dasar Perenungan: Yeremia 20:7-13, 2 Petrus 3:1-7

Kekuatan cinta kasih tidak dapat dihentikan. Tetapi meskipun begitu, banyak orang meragukan kuasa cinta kasih yang sudah terbukti memperbarui kehidupan. Nabi Yeremia pernah mengalami olok-olok itu. Sebagai penyampai pesan cinta Allah kepada umat-Nya, sang Nabi mengungkapkan keluhannya, karena tidak semua orang mau menerima pesan Allah. 

Namun Nabi Yeremia tidak gentar. Ia tetap berpengharapan. Begitu juga penulis surat Petrus yang kedua. Bagi mereka pesan cinta kasih Allah harus terus diberitakan dan dihidupi. Apapun hambatan dan tantangannya. Sebab hanya dengan cinta kasih sajalah, pembaruan kehidupan sungguh terjadi. 

“Saat kami mendapatkan olok-olok karena menghidupi pesan cinta kasih-Mu, 
kuatkanlah kami ya Allah. Amin.”

Didikan keras Allah!

diposkan pada tanggal 21 Jan 2015 17.40 oleh Essy Eisen

Dasar Perenungan: Yeremia 19:1-15, Wahyu 18:11-20

Seperti orang tua sangat sayang kepada anak-anaknya, demikian juga Allah kepada umat-Nya. Tanda kasih dan sayang tidak melulu berwujud dalam tindakan belaian manja saat anak-anak menurut, tetapi juga didikan tegas jika si anak melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan dirinya. Tidak ada orang tua yang girang dan bangga sewaktu melihat anaknya yang masih kecil bermain-main dengan pisau dapur yang tajam misalnya. Orang tua itu dengan tegas mengambil pisau itu dan dengan nada keras dan tegas mengingatkan si anak untuk tidak menyentuhnya lagi, sebab pisau itu dapat melukainya.

Rasanya begitu juga kita dapat memahami didikan tegas Allah yang disampaikan oleh Nabi Yeremia dan Rasul Yohanes kepada umat Allah yang sudah mengambil tindakan-tindakan yang membahayakan diri mereka pada zaman itu. Didikan keras demi kebaikan. Didikan keras yang berangkat dari cinta kasih. Jangan bermain-main dengan apa-apa yang dapat membahayakan diri. Sebab Allah, dapat mendidik kita dengan keras.

“Karena kasih-Mu, Engkau dapat saja mendidik kami dengan keras. Ampunilah kami ya Allah. Tolonglah kami untuk menjauhkan diri dari segala hal yang dapat membahayakan kehidupan anugerah-Mu ini. Amin.”

Diberkati sejak kecil

diposkan pada tanggal 20 Jan 2015 19.34 oleh Essy Eisen

Dasar Perenungan: Kejadian 16:1-14, Lukas 18:15-17

Bisa jadi orang dewasa bersikap semena-mena terhadap anak-anak. Mungkin mereka menganggap anak-anak “belum ngerti urusan”, “masih kecil”, dan lain-lain. Tetapi Allah sungguh peduli kepada anak-anak. Berkat Allah bagi Ismael yang masih kecil itu dan juga bagi anak-anak yang datang kepada Yesus adalah buktinya.

Rasanya Allah tahu benar bahwa segala nasihat baik dan kata-kata positif yang didengarkan oleh anak-anak akan menjadi dasar yang kokoh dalam proses pembentukan kepribadian mereka saat dewasa kelak. Jika Allah begitu mengasihi anak-anak dan memberkati mereka, bagaimanakah sikap kita selama ini terhadap anak-anak? 

“Ya Allah, Engkau mengenal kami dan mengasihi kami sejak kecil. Mampukanlah kami mengasihi anak-anak seperti Engkau sudah mengasihi mereka. Amin.”

Dusta berujung malapetaka

diposkan pada tanggal 20 Jan 2015 07.09 oleh Essy Eisen

Dasar Perenungan: 1 Samuel 15:10-31, Kisah Para Rasul 5:1-11

Saul lupa diri. Ia tidak memperhatikan perintah Allah dengan seksama. Mirisnya, ia malah membanggakan kecerobohannya dengan membangun monumen keunggulan diri sendiri tanpa mengingat Allah. Penghormatannya kepada Allah hanya sebatas ritual belaka. Jiwanya jauh dari keterikatan batin dengan Allah. Ada didikan yang tegas dari Allah karena tinggi hati dari Saul itu. Begitu juga terjadi dengan pasangan suami istri Ananias dan Safira di dalam Perjanjian Baru. Memang benar. Setiap dusta hanya akan berujung pada malapetaka. 

“Berikanlah kekuatan kepada kami ya Allah, untuk tetap menghidupi kejujuran dalam segala perkara. Amin.”

Kerja bareng Allah

diposkan pada tanggal 18 Jan 2015 23.38 oleh Essy Eisen

Dasar Perenungan : 1 Samuel 9:27-10:8, 2 Korintus 6:14-7:1

Penahbisan Saul sebagai Raja Israel yang dilakukan secara terpisah, jauh dari keramaian publik tentu memberikan pelajaran tersendiri bagi Saul bahwa, Allah sajalah yang memilih dia dan bukan rakyat Israel. Pelajaran ini harus mendorong Saul untuk menjalankan karyanya sebagai Raja dengan rendah hati dan penuh hormat dan takut kepada Allah. Samuel yang dipanggil Allah untuk menjadi hamba-Nya, tidak melakukan karyanya seorang diri. Dalam tuntunan Allah, Saul dipanggil untuk melakukan karya tersendiri demi kebaikan umat Israel.

Panggilan dan penetapan Saul menjadi Raja mengingatkan kita akan panggilan kita juga dalam keseharian hidup untuk melakukan karya-karya baik bersama dengan Allah. Berkarya bersama dengan Allah tentu memberikan kebahagiaan tersendiri, sebab bukan saja kita akan mengalami transformasi kehidupan, kitapun dimampukan untuk menghasilkan pembaruan hidup bagi banyak orang. Perhatikan nasihat Paulus dalam kepada gereja Korintus. Persahabatan dengan Allah sungguh berujung kepada sukacita. Sebab Ia menjadi Bapa kita. Bapa yang setia mengasihi dan membentuk kita.

Terima kasih ya Allah, karena Engkau mempercayakan kepada kami karya-karya baik yang dapat kami kerjakan sebagai anak-anak-Mu yang selalu Engkau kasihi dan pelihara.”

Penasaran yang mengubahkan hidup

diposkan pada tanggal 15 Jan 2015 06.35 oleh Essy Eisen

Dasar perenungan: Yohanes 1:43-51

Natanael sobat Filipus, tidak habis pikir jika Mesias, yaitu Orang yang diurapi Allah sebagaimana dijanjikan oleh para nabi dan yang ia dengar dari nenek moyang spiritualnya berasal dari Nazaret. Natanael yang penasaran ini pergi menjumpai Yesus.

Natanael bukanlah orang yang cepat menilai tanpa menyidiki lebih lanjut dengan objektif. Apa yang terjadi kemudian? Yesus ternyata mengenal Natanael dengan sangat baik. Entah apa yang dilakukan Natanael di bawah pohon ara sebelumnya. Tetapi pengenalan yang baik dari Yesus tentang diri-Nya, menjadi pengalaman spiritual tersendiri bagi Natanael, untuk kemudian tidak ragu mengikut Yesus sepanjang hidupnya.

Penasaran adalah langkah awal yang baik untuk belajar banyak hal. Tetapi cepat menyimpulkan dan tinggi hati adalah penghalang yang paling manjur untuk menjadi kerdil dan bodoh. Kapan terakhir kali rasa penasaran kita pada Yesus berakhir di dalam perjumpaan dengan-Nya yang kemudian berdampak dalam pembaruan hidup kita? 

“Tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Mu ya Allah. Engkau mengenali kami dengan sangat baik. Kami akan mengikuti-Mu ya Kristus. Tuntunlah hidup kami selama-lamanya. Amin.”

Pilihan bodoh

diposkan pada tanggal 15 Jan 2015 06.32 oleh Essy Eisen

Dasar perenungan: 1 Samuel 2:21-25, Matius 25:1-13

Dapat saja terjadi, orang-orang yang begitu dekat dengan apa yang baik, justru melakukan apa yang jahat. Demikianlah yang terjadi dalam diri anak-anak Imam Eli. Mereka menjadi begitu bodoh dan memilih untuk mati dengan hina. Segala nasihat baik ayah mereka dianggap sepi karena mereka memilih untuk memuaskan hawa nafsu diri sendiri.

Melalui perumpamaan gadis yang bijaksana dan yang bodoh, Kristus mengajar kita untuk hidup dengan cermat melalui tindakan berjaga-jaga, bertumbuh dalam iman dalam mengantisipasi tantangan hidup yang ada. Akan tiba saatnya iman kita diuji bukan sekadar melalui status beragama saja, tetapi melalui apa yang kita kerjakan dengan penuh kecermatan dalam menghadapi tantangan yang ada dengan penuh kesetiaan kepada Allah. Bukan dengan kebodohan dan tindakan yang sembrono. 

“Dengan pertolongan kuasa kasih-Mu ya Allah, mampukanlah kami terus bertumbuh dalam iman dan menghadapi segala tantangan yang ada dengan kebijaksanaan dan bukan dengan kebodohan. Amin.”

Cinta yang tidak kadaluwarsa

diposkan pada tanggal 15 Jan 2015 06.27 oleh Essy Eisen

Dasar perenungan: Hakim-Hakim 2:16-23, Kisah Para Rasul 13:16-25

Apa bukti cinta kasih yang sejati? Cinta sejati terbukti melalui tindakan yang diberikan kepada orang lain untuk membangun dan memunculkan segenap potensi baik dalam dirinya/ mereka, walaupun orang yang mendapatkan cinta kasih itu belum/ tidak menyadarinya.

Demikianlah cinta kasih Allah kepada umat-Nya. Walaupun berulang kali umat-Nya tidak mau dibimbing dan dibentuk untuk menjadi apa yang baik, Allah setia menunjukkan perhatian dan kasih-Nya. Ia mengutus, memperlengkapi para hamba-Nya bahkan Anak-Nya sendiri untuk membawa setiap orang kepada apa yang baik dalam pandangan-Nya.

Apa yang terjadi jika orang menolak untuk dikasihi dengan cinta sejati? Yang terjadi ialah kehancuran karena kebencian dan pengabaian. Janganlah kita menolak cinta kasih sejati yang Allah berikan. Sebab cinta kasih dan bimbingan-Nya mengarah kepada kehidupan, bukan kehancuran! 

“Terima kasih ya Allah, untuk cinta kasih sejati yang Engkau selalu berikan untuk membawa kami kepada kehidupan yang damai sejahtera dan indah. Amin.”

Jauh di mata, semau-maunya

diposkan pada tanggal 14 Jan 2015 13.55 oleh Essy Eisen   [ diperbarui14 Jan 2015 14.05 ]

Dasar perenungan : Hakim-Hakim 2:6-15, 2 Korintus 10:1-11

Setelah Yosua, pemimpin besar pengganti Musa yang memimpin umat menuju kepada apa yang baik di Kanaan mati, umat Israel hidup kembali dalam keangkuhan. Seolah-olah pikiran mereka menjadi tumpul untuk menyadari apa yang sudah Allah perbuat bagi hidup mereka sehingga mereka dapat menjadi ada sebagaimana ada mereka saat itu. Allah dianggap jauh dan tidak memiliki dampak bagi hidup mereka.

Demikian juga terjadi dalam kehidupan gereja di Korintus. Saat surat demi surat Paulus mereka dapatkan, namun hal itu ternyata tidak cukup menggetarkan pikiran dan hati mereka untuk menyimak dengan sungguh pesan Injil dan menghidupinya dengan ketulusan. Gereja Korintus menjadi seperti anak-anak yang menjadi taat jika dekat orang tua dan semau-maunya jika tidak terlihat.

Jauh di mata, dan hidup semau-maunya bukanlah sikap iman yang dewasa. Bukankah cinta sejati itu tampak dalam pendirian yang walaupun jauh di mata, tetapi dekat di hati? 

“Ampunilah kami ya Allah, jika pikiran dan hati kami tidak cukup peka menyadari betapa Engkau dekat dan berkuasa menuntun hidup kami yang fana ini.”

1-10 of 32