Anak Manusia

diposting pada tanggal 12 Nov 2013 13.59 oleh Essy Eisen   [ diperbarui13 Nov 2013 08.14 ]
Bildad, salah satu teman Ayub, dengan serampangan mengatasnamakan Allah. Bildad mengatakan bahwa manusia tidak berharga di hadapan Allah (Ayb.25:6). Ayub mengenali kecerobohan Bildad dalam upayanya menjelaskan tindakan Allah. Ayub menolak pengajaran Bildad (Ayb. 26:1-4). Tetapi Bildad terus saja memaksakan pendapatnya. Bildad berupaya mendorong Ayub untuk mengakui kesalahan dan dosa-dosanya, yang bagi Bildad menjadi penyebab dari kesusahannya itu (Ayb. 26:5-14).

Dalam berita Injil Yohanes (Yoh. 5:19-29), Yesus menyatakan diri-Nya sebagai "Anak Manusia" (Yoh. 5:27). Dalam terang tulisan apokaliptis, sebutan "Anak Manusia" ini menjadi gambaran yang jelas betapa Allah menghargai kemanusiaan manusia. Jika dalam tradisi apokaliptis Daniel, penguasa-penguasa keji acapkali digambarkan dengan binatang-binatang, maka akan tiba saat-Nya kala Allah membarui dunia dengan mengambil jalan pembaruan hakikat kemanusiaan dengan mengutus Yang Diurapi-Nya, Mesias/Kristus, dalam kehadiran Yesus bagi dunia ini. Di dalam relasi kasih yang intim dengan Yesus Kristus, Sang Anak Bapa, melalui iman, setiap orang akan mengalami kebangkitan hidup. Hidup yang bermakna dengan nilai-nilai kasih yang abadi.

Perenungan:
  • Apa yang paling berharga dari manusia? Mengapa itu menjadi yang paling berharga?
  • Apa hidup hanya sekadar bernafas saja? Apa yang membuat hidup menjadi bermakna dan berharga?
  • Dengan cara apa Tuhan Yesus Kristus, Sang Anak Manusia, Anak Bapa memberikan kehidupan yang berharga bagi orang yang mati dan "mati"?
--
Terinspirasi dari: Ayub 25:1-26:14, Yohanes 5:19-29
Comments