Pilihan bodoh

diposkan pada tanggal 15 Jan 2015 06.32 oleh Essy Eisen
Dasar perenungan: 1 Samuel 2:21-25, Matius 25:1-13

Dapat saja terjadi, orang-orang yang begitu dekat dengan apa yang baik, justru melakukan apa yang jahat. Demikianlah yang terjadi dalam diri anak-anak Imam Eli. Mereka menjadi begitu bodoh dan memilih untuk mati dengan hina. Segala nasihat baik ayah mereka dianggap sepi karena mereka memilih untuk memuaskan hawa nafsu diri sendiri.

Melalui perumpamaan gadis yang bijaksana dan yang bodoh, Kristus mengajar kita untuk hidup dengan cermat melalui tindakan berjaga-jaga, bertumbuh dalam iman dalam mengantisipasi tantangan hidup yang ada. Akan tiba saatnya iman kita diuji bukan sekadar melalui status beragama saja, tetapi melalui apa yang kita kerjakan dengan penuh kecermatan dalam menghadapi tantangan yang ada dengan penuh kesetiaan kepada Allah. Bukan dengan kebodohan dan tindakan yang sembrono. 

“Dengan pertolongan kuasa kasih-Mu ya Allah, mampukanlah kami terus bertumbuh dalam iman dan menghadapi segala tantangan yang ada dengan kebijaksanaan dan bukan dengan kebodohan. Amin.”
Comments