Skandal Endor

diposting pada tanggal 14 Nov 2013 00.26 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 1 Jun 2014 12.55 oleh Admin Situs ]
Saul sebagai Raja Israel kelimpungan. Apa sebabnya? Rakyat yang dipimpinnya mengalami tekanan musuh, dan pikirannya menjadi buntu dalam mencari solusi. Samuel, sang nabi Allah, sebagai penasihat spiritualnya, sudah meninggal. Upayanya mencari jawaban entah melalui mimpi, urim dan tumim, atau nasihat nabi tidak menemui hasil. Saul berada pada titik nadir. (1 Sam. 28:3-19)

Jika kita jeli mencermati kisah hidup Saul sebelumnya, kita akan menemukan kenyataan bahwa apa yang ia alami ini terkait dengan pilihannya sendiri. Beberapa kali kebijakan yang ditempuhnya acapkali melulu berangkat dari kehendak pribadinya belaka. Entahkah itu upaya menyingkirkan Daud atau "keberpihakan"nya pada Amalek semuanya menunjukkan keegoisan dirinya, berjalan sendiri tanpa tuntunan hikmat Allah.

Jadi jika kini Saul berada pada titik nadir dan terjepit sendiri, itu menjadi akibat tidak langsung dari pilihannya yang keliru. Parahnya, dalam titik nadir hidupnya itu, ia memilih untuk "menelan ludahnya" sendiri. Saul mendatangi perempuan peramal. Padahal, spiritisme subjektif seperti itu amat menyesatkan dan bukan menjadi kaidah sehat dari umat Allah.

Apa respons Allah? "Cukup sudah Saul!" kurang lebih demikian. Bagi Allah, kepemipinan Saul berakhir karena kebodohannya sendiri. Walaupun berbicara melalui peramal bukan menjadi pilihan yang biasa bagi Allah, tetapi untuk memberikan didikan bagi Saul dan segenap umat-Nya, dalam kasus khusus ini, Allah mengizinkan skandal Endor untuk memberikan penghakiman-Nya yang unik kepada Saul. Kehadiran Samuel yang bangkit dari alam kubur, yang dinanti-nantikannya itu justru bukan membawa kabar baik, tetapi kabar tragis tentang akhir hidupnya.

Kepada Jemaat di Roma, (Rm.1:18-25) Paulus menasihatkan, supaya sebagai pengikut Kristus, mereka tetap berpegang pada hikmat Allah dan bukan memilih kelaliman. Acapkali hati para pengikut Kristus dapat menjadi bodoh dan gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka dapat secara keliru menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. Hati-hati!

Perenungan:
  • Apa yang membuat orang tidak setia berpegang pada kebenaran? Mengapa demikian?
  • Bagaimana kita menjalani akibat dari kesalahan yang telah kita buat selama ini? Langkah apa yang kita ambil sesudahnya?
  • Apa yang akan kita lakukan pada titik nadir hidup?
--
Terinspirasi dari: 1 Samuel 28:3-19, Roma 1:18-25
Comments