Kegiatan‎ > ‎

Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Apabila Kamu Berdoa...

diposkan pada tanggal 19 Jul 2016 10.00 oleh Admin Situs

Lukas 11:1-13

“Berdoalah sebelum Anda didoakan!” Ungkapan ini pernah saya baca dalam sebuah artikel. Maksudnya tentu saja mengarahkan orang untuk tekun berdoa. Namun ungkapan ini punya kelemahan. Sebab seolah-olah doa menjadi sebuah kewajiban dengan akibat buruk atau menyedihkan jika tidak dilakukan.

Doa semestinya tidak terpaksa atau dipaksa. Doa adalah bagian dari hidup beriman. Semua orang beriman berdoa. Dari kerinduan dan kedalaman hati setiap orang yang dipenuhi cinta kasih Tuhan, acap kali doa mengalir deras terungkap dengan sendirinya. Kadang bahkan bukan dalam bentuk untaian kata-kata.

Kita semua perlu terus belajar berdoa. Bukan sebatas belajar isi kata-kata doa saja. Tetapi juga belajar untuk menghidupi apa yang menjadi doa-doa kita. Karakter indah dari setiap orang yang berdoa terjadi pada saat diri semakin peka untuk mencermati apa yang menjadi kehendak Allah dan apa yang merupakan kehendak pribadi. Ada yang perlu diwaspadai dalam berdoa: jangan sampai doa-doa kita menjadi basa-basi, sebab tidak dilakukan dalam relasi yang asli, asri dan rendah hati dengan Sang Maha Suci yang maha mengetahui! 

  1. Apakah Anda masih ingat isi doa Anda semasa kecil dahulu? Bagaimanakah isinya? 
  2. Apa doa terlucu yang pernah Anda dengar dari mulut seorang anak kecil? 
  3. Apa yang menjadi latar belakang murid-murid meminta Yesus mengajarkan doa kepada mereka (ay.1)? 
  4. Dalam model doa yang diajarkan Yesus (ay.2-4) hal apa saja yang terkait dengan Allah pada awal doa? Mengapa awalnya demikian? Lalu hal-hal apa saja yang terkait dengan diri? 
  5. Menurut Anda apa ada kaitan antara berdoa dengan pengampunan? Bagaimana kaitannya? 
  6. Perhatikan perumpamaan dalam ayat 5-8. Apa pesan perumpamaan itu tentang “berdoa”? 
  7. Perhatikan ayat 9-10. Apa kaitan penyataan Yesus ini dengan perumpamaan sebelumnya? 
  8. Perhatikan ayat 11-13. Apakah penyataan Yesus ini menjernihkan pemahaman kita memahami ayat 9-10? Dalam hal apa? 
  9. Memperhatikan model doa yang diajarkan Yesus ini, bagaimanakah jika dibandingkan dengan doa-doa kita selama ini? Apa persamaannya? Apa perbedaannya? 
  10. Bagaimanakah Anda berdoa selama ini? Apakah ada waktu atau tempat tertentu untuk berdoa? Atau spontan saja? 
  11. Apa saja yang Anda siapkan sebelum berdoa, apakah membaca Mazmur? Buku renungan harian? Atau menyanyikan sebuah lagu? 
  12. Apa yang menjadi bagian terbesar doa-doa Anda: Ucapan syukur? Pengakuan? Permohonan? Mengapa? Pada bagian yang manakah Anda ingin bertumbuh? 
  13. Apa yang menjadi pemberian paling berharga yang dapat diberikan oleh Allah (ay.13)? Apakah Anda membutuhkan pemberian dari Allah itu? Mengapa? 
  14. Sebutkan satu hal yang ingin Anda dapatkan dari Bapa di Sorga?

Minggu 24 Juli 2016
Pdt. Essy Eisen

Perjumpaan

diposkan pada tanggal 18 Jul 2016 01.10 oleh Admin Situs

Kejadian 18: 1 – 15

Libur panjang dalam rangka hari raya Idul Fitri tahun ini banyak digunakan oleh orang-orang untuk melakukan reuni dengan rekan- rekan semasa kecil atau semasa sekolah. Perjumpaan itu semakin bermakna tatkala masing-masing berbagi cerita kehidupan yang telah dijalani selama ini. Perjumpaan yang bermakna tentu saja tidak akan mudah untuk dilupakan, tapi akan terus di kenang. Dalam kehidupan ini bagaimanakah kisah perjumpaan kita dengan Tuhan? 
  1. Siapakah tokoh atau orang yang sangat ingin saudara jumpai? Bagaimana perasaan saudara seandainya hal tersebut menjadi nyata? 
  2. Dimanakah Abraham saat Tuhan menjumpainya? Bagaimana respon Abraham? 
  3. Apakah Abraham tahu identitas tamu-tamu itu? 
  4. Berita apa yang dibawa oleh para tamu? Bagaimana respon Abraham? 
  5. Apakah saudara mempunyai pengalaman perjumpaan dengan Tuhan? 
  6. Bagaimana respon saudara setelah mengalami perjumpaan dengan Tuhan? 
  7. Apakah Tuhan menjumpai manusia karena kondisi yang diciptakan manusia? 
Minggu 17 Juli 2016
Pnt. Noerman Sasono

Pergilah dan perbuatlah demikian

diposkan pada tanggal 9 Jul 2016 11.23 oleh Admin Situs

Ulangan 30:9-14; Mazmur 25:1-10; Kolose 1:1-14; Lukas 10:25-37

Seseorang tidak otomatis disebut atlit renang karena dia sudah membaca banyak buku teori renang. Dia hanya dapat disebut perenang bila dia sudah membuktikan kemampuannya berenang. Artinya, identitasnya sebagai perenang tidak dapat dibuktikan hanya dengan sejumlah pengetahuan tentang teori renang, tapi terutama oleh kemampuannya mempraktekkan pengetahuan tersebut. Caranya: masuk ke dalam air dan mulai berenang.

Hal yang sama juga berlaku bagi pengikut Yesus. Kemuridan seseorang tidak ditentukan oleh berapa banyak ajaran Yesus Kristus yang diketahuinya. Mengetahui (atau bahkan mungkin hafal) seluruh isi Alkitab tidak membuat seseorang otomatis menjadi pengikut Yesus.

Lukas 10:25-37
  1. Mengapa ahli Taurat menanyakan cara memperoleh hidup yang kekal kepada Yesus? 
  2. Yesus merespon pertanyaan itu dengan pertanyaan. Lalu Yesus menambahkan: “Jawabmu itu benar, perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup”. Apa makna respon Yesus itu? 
  3. Mengapa ahli Taurat itu bertanya kembali tentang “siapakah sesamaku manusia”? Apa makna pertanyaan itu sesungguhnya? 
  4. Yesus merespon pertanyaan ahi Taurat dengan sebuah cerita. Banyak hal menarik dalam kisah itu. Mengapa imam tidak menolong si korban? Mengapa orang Lewi tidak menolong si korban? Mengapa justru orang Samaria yang menolong si korban? 
  5. Yesus bertanya siapa sesama bagi si korban dan orang itu menjawab “orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Menurut saudara, siapa yang dimaksudkan “yang telah menunjukkan belas kasihan kepada si korban”? Dan mengapa ahli Taurat tidak memberi jawaban secara jelas dengan menyebut tokohnya? 
  6. Apa makna hidup kekal bagi saudara pada masa kini? 
  7. Apa sesungguhnya yang Yesus tekankan dalam perikop ini? 
  8. Apa tantangan terbesar yang saudara rasakan untuk mempraktekkan pesan utama Yesus dalam perikop ini? 

Minggu 10 Juli 2016
Mathyas Simanungkalit, (S.Si. Teol.)

Dari Meja Perjamuan Menuju Tempat Perutusan

diposkan pada tanggal 9 Jul 2016 11.16 oleh Admin Situs

Lukas 10:1-20

Di akhir setiap kebaktian, kita menerima perutusan. Maksudnya tentu sangat jelas. Sebagai pengikut Kristus, kita yang sudah menerima berkat kebaikan Allah di dalam persekutuan dengan Firman Allah dan saudara-saudara seiman, harus meneruskan kebaikan Allah itu melalui hidup yang telah dibaharui-Nya.

Hari ini kita mengingat kembali kebaikan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Roh Kudus menolong dan meneguhkan kita bahwa Kristus sangat dekat dalam hidup kita. Sakramen Perjamuan Kudus menjadi salah satu pemberian Allah yang mengukuhkan kita untuk ambil bagian dalam pekerjaan baik Allah bagi dunia ini, khususnya di tempat di mana kita dipercayakan Allah untuk berkarya.

Di tempat itu, dengan kekuatan kasih-Nya, kita dimampukan untuk menjadikan Allah menjadi Raja di dalamnya. Nilai-nilai hidup yang berujung pada damai sejahtera kita hidupi dan perjuangkan. Tentu kita tidak sendiri, sebab “Tuan pemilik tuaian” dan “Sang Gembala Agung” beserta dengan kita dengan kuat kasih-Nya.
  1. Seandainya, Anda diberikan kesempatan untuk berjualan dari pintu ke pintu, kira-kira produk apakah yang Anda jual? Mengapa? 
  2. Mengapa Tuhan Yesus mengutus murid-murid berdua-dua? Apa yang mereka kerjakan? (lihat ayat 2).
  3. Apa artinya jika dikatakan seorang murid Kristus yang diutus seperti “seorang pekerja dengan tuaian” dan “anak domba ke tengah-tengah serigala”? 
  4. Mengapa mereka diarahkan untuk berkelana/berjalan dengan membawa sedikit beban? (lihat ayat 4). Mengapa mereka diperintahkan untuk berdoa terlebih dahulu? (lihat ayat 2). 
  5. Apa yang harus mereka lakukan saat memasuki sebuah rumah? (lihat ayat 5). Apa alasan Tuhan Yesus menyarankan demikian? 
  6. Apa yang harus mereka lakukan saat memasuki sebuah kota? (lihat ayat 8-12). Apa pesan utama yang harus mereka sampaikan? 
  7. Renungkanlah lingkungan di sekitar kehidupan Anda. Jika diibaratkan sebagai “ladang”, apakah orang-orang di sekitar Anda sudah “matang untuk dituai”? Apa yang akan Anda lakukan untuk lebih terlibat dalam proses “penuaian” itu? 
  8. Apakah Anda pernah berada di dalam situasi seperti “anak domba di tengah-tengah serigala”? Apa yang Anda pelajari dari pengalaman itu? 
  9. Bagaimana Anda membahasakan kembali tema kebaktian hari ini “Dari Meja Perjamuan Menuju Tempat Perutusan” menurut kata-kata dan pergumulan Anda sendiri saat ini?
Minggu 3 Juli 2016
Pdt. Essy Eisen

Maukah Anda ikut berjalan dengan Sang Juruselamat?

diposkan pada tanggal 9 Jul 2016 11.10 oleh Admin Situs

Lukas 9:51-62

Jika kehidupan diibaratkan seperti sebuah perjalanan, maka Yesus Kristus adalah Juruselamat yang akan membimbing, mengarahkan, membentuk, mengubahkan kehidupan setiap orang yang mempercayakan diri kepada-Nya. Perjalanan bersama Yesus memang tidak mudah. Sebab acap kali Tuhan Yesus menantang seseorang untuk keluar dari “ruang nyaman” hidup untuk sungguh-sungguh menikmati apa yang namanya “kehidupan sejati yang abadi”. 

Oleh sebab itu, perjalanan bersama Yesus harus dijalankan dengan kerendahan hati serta bersedia dipimpin oleh Roh Kudus, sehingga apapun alasan-alasan yang mungkin muncul di dalam perjalanan kita bersama-Nya tidak membuat kita mundur dan menyerah, tetapi terus maju bersamanya dalam perubahan hidup yang berisi damai sejahtera sesuai janji-Nya.

  1. Apakah yang menjadi alasan favorit Anda dalam menolak ajakan untuk mengerjakan sebuah pekerjaan? Apa alasannya? 
  2. Perhatikan alasan-alasan yang diberikan tiga orang yang hendak mengikut Yesus (Ada di dalam ayat 57, ayat 59, ayat 61). Bagaimana Yesus menanggapi alasan mereka? 
  3. Jika Anda membahasakan kembali tanggapan-tanggapan Yesus terhadap alasan-alasan orang itu, bagaimanakah Anda membahasakannya dengan kalimat Anda sendiri? 
  4. Apa yang menjadi inti dari tanggapan Yesus sebenarnya? 
  5. Dari alasan-alasan yang diberikan orang-orang yang hendak mengikut Yesus itu (kenyamanan, kewajiban sosial, kepedulian kepada keluarga) adakah di antaranya yang mirip dengan alasan Anda untuk tidak setia dalam mengikut Yesus? 
  6. Apa sebabnya orang-orang pada zaman sekarang ini menolak pengajaran dan kehadiran kasih Yesus di dalam hidup mereka? Apa yang menyebabkan Anda setia ikut berjalan mengikuti Yesus menjadi Juruselamat hingga saat ini?

Minggu 26 Juni 2016
Pdt. Essy Eisen

Menembus batas

diposkan pada tanggal 9 Jul 2016 11.06 oleh Admin Situs

Lukas 8:26-39

“Dua ribu tahun lalu civis Romanus sum (saya adalah warga Roma) adalah sebuah pernyataan paling membanggakan, sekarang, di dunia yang merdeka ini pernyataannya adalah `Ich bin ein Berliner (saya adalah warga Berlin), semua orang merdeka, dimanapun mereka tinggal, adalah penduduk Berlin.” Kutipan diatas merupakan bagian dari pidato terkenal John F Kennedy pada tahun 1963 sebagai sebuah bentuk penentangan atas berdirinya tembok Berlin, yang dibangun oleh Jerman timur sebagai pemisah wilayah dengan Jerman barat. Tembok ini menjadi simbol “tirai besi” yang memisahkan Eropa barat dengan blok timur selama perang dingin. Saat ini tembok Berlin telah runtuh akan tetapi masih banyak tembok-tembok “tak terlihat” yang menjadi pembatas antar manusia.

  1. Batasan-batasan apa yang dibuat manusia dalam hidupnya? 
  2. Mengapa manusia senang membuat batasan? 
  3. Siapakah tokoh-tokoh dalam kisah ini dan dimana kisah ini terjadi? 
  4. Apakah ada batasan budaya, nilai-nilai keyakinan dan aturan hidup antara wilayah Gerasa dengan wilayah Galilea? Jelaskan! 
  5. Lukas melukiskan dengan detail tentang kerasukan setan, pekuburan, kawanan babi. Apa maksudnya?
  6. Apa makna pembebasan yang Yesus lakukan terhadap orang yang kerasukan? 
  7. Dalam kehidupan saudara adakah batasan yang menjadi penghalang kasih karunia Allah tercurah untuk orang lain? 
Minggu 19 Juni 2016
Pnt. Noerman Sasono

Komunitas Cinta Kasih

diposkan pada tanggal 11 Jun 2016 10.36 oleh Admin Situs   [ diperbarui11 Jun 2016 10.36 ]

2 Samuel 11:26-12:10, 13-15; Mazmur 32; Galatia 2:15-21; Lukas 7:36-50

Ada yang bilang bahwa manusia modern ditandai dan dinilai berdasarkan dua hal, yaitu produksi dan konsumsi. Maksudnya, seseorang di jaman sekarang dinilai dari seberapa besar uang yang dihasilkannya (produksi) dan seberapa banyak dan seberapa mahal barang-barang yang dipakainya (konsumsi). Semakin tinggi produksi dan konsumsi seseorang akan membuat dia semakin dihargai di sebuah komunitas. Sebaliknya, orang dengan tingkat produksi dan konsumsi rendah akan kurang dihargai, atau bahkan tersingkir dari komunitas.

Tidak mengherankan bila banyak orang tersingkir alias termarjinalkan dalam kehidupan sehari-hari saat ini. Dan bukan hanya faktor itu saja yang membuat banyak orang tersingkir. Seseorang bisa tersisih karena bodoh, dianggap sebagai orang kafir, najis atau orang berdosa. Singkatnya banyak orang tersingkir karena dianggap tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh orang atau sekelompok orang tertentu.

Kisah penolakan dan ketersingkiran semacam itu kita temukan juga dalam Lukas 7:36-8:3. Melalui cerita ini kita bisa belajar dari sikap Yesus sendiri terhadap mereka yang tersingkir.

Pertanyaan Pendalaman:
  1. Mengapa orang Farisi itu mengundang Yesus untuk makan di rumahnya? 
  2. Siapa nama perempuan yang datang membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi? 
  3. Apa makna tindakan perempuan itu terhadap Yesus di ayat 38? 
  4. Bagaimana reaksi orang Farisi itu melihat tindakan si perempuan terhadap Yesus? Mengapa? 
  5. Bagaimana Yesus memaknai tindakan perempuan itu terhadap diri-Nya? 
  6. Apa perbedaan sikap orang Farisi dan perempuan itu terhadap Yesus? 
Pertanyaan Penerapan:
  1. Hal apa saja yang menarik dari kisah ini bagi saudara? Mengapa? 
  2. Dengan cara apa kita mempraktekkan yang kita pelajari dari sikap Yesus terhadap mereka yang tersisih? 
Minggu 12 Juni 2016
Mathyas Simanungkalit

Sentuhan belas kasihan berbuahkan kehidupan

diposkan pada tanggal 2 Jun 2016 10.46 oleh Admin Situs   [ diperbarui2 Jun 2016 11.03 ]

1 Raja-Raja 17:17-24, Mazmur 30, Galatia 1:11-24, Lukas 7:11-17

Hati Tuhan Yesus tergerak oleh belas kasihan sewaktu melihat tangisan ibu janda yang ditinggal pergi anak satu-satunya. Dengan Firman dan sentuhan-Nya, sang anak yang mati mendapatkan kehidupan yang baru. Sang anak kembali kepada ibunya. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu memuliakan Allah. Mereka sadar bahwa melalui kehadiran, Firman, sentuhan, kuasa, kasih dari Yesus, Allah sedang melawat umat-Nya. Allah sedang mengaruniakan pemulihan hidup, memberikan penghiburan dan menjadi penopang bagi yang lemah dan berduka.

Karya pemulihan hidup oleh Tuhan Yesus ini mengingatkan kita akan kuasa Allah yang dulu sekali pernah dinyatakan melalui karya kenabian Elia (1 Raj. 17-17-24). Nabi Elia bukan saja dengan lantang memberitakan suara kenabian yang kritis, tegas dan keras kepada umat Israel, tetapi juga peduli dengan keberlangsungan hidup orang-orang yang mau dilibatkan dalam rencana penyelamatan Allah, yaitu ibu janda di Sarfat, sebuah wilayah di luar Israel. Belas kasih Elia dalam doa dan permohonannya didengarkan Allah. Anak si ibu janda, hidup kembali.

Sentuhan belas kasihan yang berbuahkan kehidupan juga kita jumpai dalam kehidupan Paulus (Gal. 1:11-24). Oleh karena kasih karunia Allah melalui penyataan Anak-Nya, Paulus mengalami kehidupan yang baru. Ia tidak lagi menjadi penganiaya dan penghambat berita kabar baik (Injil), tetapi menjadi pengajar dan pemberi teladan bagi banyak bangsa untuk hidup mengikut Tuhan Yesus Kristus. Melihat kehidupan Paulus yang baru, banyak orang memuliakan Allah.

Jika kita cermat menangkap keadaan orang-orang di sekitar hidup kita, maka kita akan menjumpai orang-orang yang “mati”. Tentu bukan dalam arti harfiah saja. Orang yang “mati” di sini, artinya orang-orang yang bersedih, berduka, kehilangan pengharapan, kehilangan arah hidup, kekurangan cinta kasih, merindukan perhatian. Hari ini kita mendapatkan kabar baik. Mereka dapat beroleh “hidup”! Allah melawat umat-Nya, dalam kehadiran Kristus melalui Gereja-Nya. Kuasa Allah yang mendatangkan kehidupan itu sungguh memulihkan kehidupan.

Namun pertanyaannya ialah, apakah Gereja-Nya, yaitu setiap pengikut Kristus, tergerak hatinya untuk berbelas kasihan lalu mengungkapkan kata-kata yang memberikan pengharapan dan bersedia mengulurkan sentuhan kasih yang nyata kepada orang-orang yang “mati” itu?
  • Kapan terakhir kali kita mengungkapkan kata-kata positif yang memberikan dukungan kepada orang-orang yang lemah dan gagal? 
  • Kapan terakhir kali kita turut merasakan kesedihan orang-orang yang kehilangan pengharapan dan memberikan bantuan nyata yang dapat kita berikan kepadanya? 
  • Kapan terakhir kali kita menjabat erat tangan orang yang telah menyakiti kita dan mengungkapkan kepadanya pengampunan tulus kita? 
  • Kapan terakhir kali kita mendekap orang yang begitu mengasihi kita dan peduli akan kebaikan kita lalu menghaturkan kepadanya “terima kasih!”?

Minggu 5 Juni 2016
Pdt. Essy Eisen

Carilah buktinya!

diposkan pada tanggal 2 Jun 2016 10.39 oleh Admin Situs   [ diperbarui2 Jun 2016 10.39 ]

“Bagiku tidak ada hal yang lebih menggembirakan selain bertemu dengan Allah lalu sesudah itu memantulkan cahaya wajah-Nya kepada orang lain”, demikian tulis Beethoven tentang perasaannya setiap kali menghasilkan karya musik. Sepanjang hidupnya Beethoven menderita beragam penyakit tetapi ia tetap mampu merasakan kasih pemeliharaan Tuhan.

Lihatlah 1 Raja-Raja 8:22-23, 41-43
  • Apakah bukti pemeliharaan Tuhan dalam hidup Salomo? 
  • Apakah dasar Salomo meyakini bahwa Allah mengasihi orang asing? 
Lihatlah Mazmur 96:1-9
  • Mengapa pemazmur mengajak seluruh makhluk memuliakan Tuhan? 
Lihatlah Galatia 1:1-12 
  • Apakah bukti kasih Allah terhadap Paulus? 
  • Apakah bukti kasih Allah terhadap jemaat Galatia? 
Lihatlah Lukas 7:1-10
  • Apakah bukti dari kepercayaan perwira kepada Tuhan? 
  • Apakah hasilnya? 
Lihatlah kehidupan saudara
  • Apakah saudara sering melakukan refleksi pribadi untuk memantapkan iman? 
  • Temukan bukti kasih Tuhan ditengah badai hidup yang saudara alami! 
“Keyakinan akan kuasa Allah senantiasa menghasilkan pengharapan di dalam hidup” 

Minggu 29 Mei 2016
Pnt. Noerman Sasono

Jangan abaikan tuntunan Allah!

diposkan pada tanggal 25 Mei 2016 11.17 oleh Admin Situs   [ diperbarui25 Mei 2016 11.17 ]

Amsal 8:1-4, 22-31, Mazmur 8, Roma 5:1-5, Yohanes 16:12-15

Yohanes 16:12-15
Murid-murid Yesus dapat saja ragu dan salah mengerti tentang karya yang dilakukan Yesus dalam kaitan-Nya dengan karya Allah, yang dipanggil Yesus dengan sebutan Bapa. Apakah sebuah karya yang terpisah atau berbeda? Oleh sebab itu, Kristus menegaskan bahwa saat Roh Kudus datang dan menguasai kehidupan murid-murid-Nya, maka mereka akan dimampukan untuk memahami seluruh kebenaran. Kebenaran dalam pengertian seperti apa? Yaitu bahwa pengajaran yang mereka dengarkan dari Kristus Sang Anak, termasuk juga peristiwa kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya, itu semua adalah wujud nyata dari kasih Allah, Bapa yang hendak menyelamatkan dunia ini. Itulah seluruh kebenaran yang membawa hidup baru. Itulah yang diberitakan Kristus melalui Roh Kudus bagi murid-murid-Nya dan bagi kita juga saat ini.
  • Kebenaran apa yang akan anda pegang sampai mati dan sangat memengaruhi cara anda hidup saat ini? 
  • Menurut anda, apa yang menjadi kesamaan dari karya Bapa, Anak dan Roh Kudus?
Amsal 8:1-4, 22-31
Hikmat adalah pengertian yang bijaksana karena mengasihi Allah dan sesama. Hikmat adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Allah. Ia diciptakan Allah bahkan disebut sebagai “anak kesayangan Allah”. Hikmat menghasilkan daya cipta, daya hidup, kekuatan, ketertiban, harmoni dan kehidupan. Rasul Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 1:30 bahwa Allah menghadirkan Kristus supaya kita mendapat hikmat-Nya menjalani kehidupan yang terselamatkan (Lihat juga Mat. 13:54, Luk. 2:52). Karena hikmat-Nya, kita dapat menjalankan sebuah kehidupan yang baru dalam hubungan kasih yang memulihkan dan mendamaikan.
  • Apakah keuntungan yang diperoleh saat orang memiliki hikmat di dalam hidup? 
  • Bagaimanakah cara kita mendapatkan hikmat? 
Mazmur 8
Daud kagum melihat bagaimana Allah menciptakan semesta. Terlebih lagi saat manusia dihadirkan di dalam ciptaan itu. Sebab jika dibandingkan dengan ciptaan Allah lainnya, manusia memiliki kelemahan-kelemahan dan keterbatasan. Tetapi manusia “dimahkotai dengan kemuliaan dan rahmat” bahkan dibuat “hampir sama seperti Allah”. Manusia mendapat tugas-tugas untuk mengelola ciptaan Allah yang lain menjadi daya guna pendukung kehidupan ciptaan yang lainnya. Mengingat ini, tentu kita juga mengingat kehadiran Kristus, Sang Anak Manusia yang mengutus kita untuk mengabarkan karya kebaikan-Nya dalam mengelola dunia dengan rahmat dan keselamatan dari-Nya.
  • Apa yang dimiliki manusia yang tidak dimiliki oleh ciptaan Allah yang lain? 
  • Bagaimanakah caranya supaya manusia dapat menjalankan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya dengan baik? 
Roma 5:1-5
Kalau kita mengimani Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka kita menjadi orang yang hidup dalam kedamaian dengan Allah. Kita menjadi sadar betapa sesungguhnya Allah sangat mengasihi kita dan ingin kita bahagia. Bahkan di dalam kesengsaraan yang dialami saat mengikuti kehendak Allah, kita tetap tabah, tekun, tahan uji serta berharap apa-apa yang baik. Semua dimungkinkan karena hati dan pikiran kita dipenuhi kasih yang diberikan oleh Roh Kudus.
  • Bagaimanakah anda menjelaskan makna “pengharapan” kepada orang lain? 
  • Bagaimanakah orang Kristen seharusnya bersikap saat mengalami kesengsaraan karena setia di dalam iman? 

Minggu 22 Mei 2016
Pdt. Essy Eisen

1-10 of 313