Kegiatan‎ > ‎

Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Komunitas Cinta Kasih

diposkan pada tanggal 11 Jun 2016 10.36 oleh Admin Situs   [ diperbarui11 Jun 2016 10.36 ]

2 Samuel 11:26-12:10, 13-15; Mazmur 32; Galatia 2:15-21; Lukas 7:36-50

Ada yang bilang bahwa manusia modern ditandai dan dinilai berdasarkan dua hal, yaitu produksi dan konsumsi. Maksudnya, seseorang di jaman sekarang dinilai dari seberapa besar uang yang dihasilkannya (produksi) dan seberapa banyak dan seberapa mahal barang-barang yang dipakainya (konsumsi). Semakin tinggi produksi dan konsumsi seseorang akan membuat dia semakin dihargai di sebuah komunitas. Sebaliknya, orang dengan tingkat produksi dan konsumsi rendah akan kurang dihargai, atau bahkan tersingkir dari komunitas.

Tidak mengherankan bila banyak orang tersingkir alias termarjinalkan dalam kehidupan sehari-hari saat ini. Dan bukan hanya faktor itu saja yang membuat banyak orang tersingkir. Seseorang bisa tersisih karena bodoh, dianggap sebagai orang kafir, najis atau orang berdosa. Singkatnya banyak orang tersingkir karena dianggap tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh orang atau sekelompok orang tertentu.

Kisah penolakan dan ketersingkiran semacam itu kita temukan juga dalam Lukas 7:36-8:3. Melalui cerita ini kita bisa belajar dari sikap Yesus sendiri terhadap mereka yang tersingkir.

Pertanyaan Pendalaman:
  1. Mengapa orang Farisi itu mengundang Yesus untuk makan di rumahnya? 
  2. Siapa nama perempuan yang datang membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi? 
  3. Apa makna tindakan perempuan itu terhadap Yesus di ayat 38? 
  4. Bagaimana reaksi orang Farisi itu melihat tindakan si perempuan terhadap Yesus? Mengapa? 
  5. Bagaimana Yesus memaknai tindakan perempuan itu terhadap diri-Nya? 
  6. Apa perbedaan sikap orang Farisi dan perempuan itu terhadap Yesus? 
Pertanyaan Penerapan:
  1. Hal apa saja yang menarik dari kisah ini bagi saudara? Mengapa? 
  2. Dengan cara apa kita mempraktekkan yang kita pelajari dari sikap Yesus terhadap mereka yang tersisih? 
Minggu 12 Juni 2016
Mathyas Simanungkalit

Sentuhan belas kasihan berbuahkan kehidupan

diposkan pada tanggal 2 Jun 2016 10.46 oleh Admin Situs   [ diperbarui2 Jun 2016 11.03 ]

1 Raja-Raja 17:17-24, Mazmur 30, Galatia 1:11-24, Lukas 7:11-17

Hati Tuhan Yesus tergerak oleh belas kasihan sewaktu melihat tangisan ibu janda yang ditinggal pergi anak satu-satunya. Dengan Firman dan sentuhan-Nya, sang anak yang mati mendapatkan kehidupan yang baru. Sang anak kembali kepada ibunya. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu memuliakan Allah. Mereka sadar bahwa melalui kehadiran, Firman, sentuhan, kuasa, kasih dari Yesus, Allah sedang melawat umat-Nya. Allah sedang mengaruniakan pemulihan hidup, memberikan penghiburan dan menjadi penopang bagi yang lemah dan berduka.

Karya pemulihan hidup oleh Tuhan Yesus ini mengingatkan kita akan kuasa Allah yang dulu sekali pernah dinyatakan melalui karya kenabian Elia (1 Raj. 17-17-24). Nabi Elia bukan saja dengan lantang memberitakan suara kenabian yang kritis, tegas dan keras kepada umat Israel, tetapi juga peduli dengan keberlangsungan hidup orang-orang yang mau dilibatkan dalam rencana penyelamatan Allah, yaitu ibu janda di Sarfat, sebuah wilayah di luar Israel. Belas kasih Elia dalam doa dan permohonannya didengarkan Allah. Anak si ibu janda, hidup kembali.

Sentuhan belas kasihan yang berbuahkan kehidupan juga kita jumpai dalam kehidupan Paulus (Gal. 1:11-24). Oleh karena kasih karunia Allah melalui penyataan Anak-Nya, Paulus mengalami kehidupan yang baru. Ia tidak lagi menjadi penganiaya dan penghambat berita kabar baik (Injil), tetapi menjadi pengajar dan pemberi teladan bagi banyak bangsa untuk hidup mengikut Tuhan Yesus Kristus. Melihat kehidupan Paulus yang baru, banyak orang memuliakan Allah.

Jika kita cermat menangkap keadaan orang-orang di sekitar hidup kita, maka kita akan menjumpai orang-orang yang “mati”. Tentu bukan dalam arti harfiah saja. Orang yang “mati” di sini, artinya orang-orang yang bersedih, berduka, kehilangan pengharapan, kehilangan arah hidup, kekurangan cinta kasih, merindukan perhatian. Hari ini kita mendapatkan kabar baik. Mereka dapat beroleh “hidup”! Allah melawat umat-Nya, dalam kehadiran Kristus melalui Gereja-Nya. Kuasa Allah yang mendatangkan kehidupan itu sungguh memulihkan kehidupan.

Namun pertanyaannya ialah, apakah Gereja-Nya, yaitu setiap pengikut Kristus, tergerak hatinya untuk berbelas kasihan lalu mengungkapkan kata-kata yang memberikan pengharapan dan bersedia mengulurkan sentuhan kasih yang nyata kepada orang-orang yang “mati” itu?
  • Kapan terakhir kali kita mengungkapkan kata-kata positif yang memberikan dukungan kepada orang-orang yang lemah dan gagal? 
  • Kapan terakhir kali kita turut merasakan kesedihan orang-orang yang kehilangan pengharapan dan memberikan bantuan nyata yang dapat kita berikan kepadanya? 
  • Kapan terakhir kali kita menjabat erat tangan orang yang telah menyakiti kita dan mengungkapkan kepadanya pengampunan tulus kita? 
  • Kapan terakhir kali kita mendekap orang yang begitu mengasihi kita dan peduli akan kebaikan kita lalu menghaturkan kepadanya “terima kasih!”?

Minggu 5 Juni 2016
Pdt. Essy Eisen

Carilah buktinya!

diposkan pada tanggal 2 Jun 2016 10.39 oleh Admin Situs   [ diperbarui2 Jun 2016 10.39 ]

“Bagiku tidak ada hal yang lebih menggembirakan selain bertemu dengan Allah lalu sesudah itu memantulkan cahaya wajah-Nya kepada orang lain”, demikian tulis Beethoven tentang perasaannya setiap kali menghasilkan karya musik. Sepanjang hidupnya Beethoven menderita beragam penyakit tetapi ia tetap mampu merasakan kasih pemeliharaan Tuhan.

Lihatlah 1 Raja-Raja 8:22-23, 41-43
  • Apakah bukti pemeliharaan Tuhan dalam hidup Salomo? 
  • Apakah dasar Salomo meyakini bahwa Allah mengasihi orang asing? 
Lihatlah Mazmur 96:1-9
  • Mengapa pemazmur mengajak seluruh makhluk memuliakan Tuhan? 
Lihatlah Galatia 1:1-12 
  • Apakah bukti kasih Allah terhadap Paulus? 
  • Apakah bukti kasih Allah terhadap jemaat Galatia? 
Lihatlah Lukas 7:1-10
  • Apakah bukti dari kepercayaan perwira kepada Tuhan? 
  • Apakah hasilnya? 
Lihatlah kehidupan saudara
  • Apakah saudara sering melakukan refleksi pribadi untuk memantapkan iman? 
  • Temukan bukti kasih Tuhan ditengah badai hidup yang saudara alami! 
“Keyakinan akan kuasa Allah senantiasa menghasilkan pengharapan di dalam hidup” 

Minggu 29 Mei 2016
Pnt. Noerman Sasono

Jangan abaikan tuntunan Allah!

diposkan pada tanggal 25 Mei 2016 11.17 oleh Admin Situs   [ diperbarui25 Mei 2016 11.17 ]

Amsal 8:1-4, 22-31, Mazmur 8, Roma 5:1-5, Yohanes 16:12-15

Yohanes 16:12-15
Murid-murid Yesus dapat saja ragu dan salah mengerti tentang karya yang dilakukan Yesus dalam kaitan-Nya dengan karya Allah, yang dipanggil Yesus dengan sebutan Bapa. Apakah sebuah karya yang terpisah atau berbeda? Oleh sebab itu, Kristus menegaskan bahwa saat Roh Kudus datang dan menguasai kehidupan murid-murid-Nya, maka mereka akan dimampukan untuk memahami seluruh kebenaran. Kebenaran dalam pengertian seperti apa? Yaitu bahwa pengajaran yang mereka dengarkan dari Kristus Sang Anak, termasuk juga peristiwa kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya, itu semua adalah wujud nyata dari kasih Allah, Bapa yang hendak menyelamatkan dunia ini. Itulah seluruh kebenaran yang membawa hidup baru. Itulah yang diberitakan Kristus melalui Roh Kudus bagi murid-murid-Nya dan bagi kita juga saat ini.
  • Kebenaran apa yang akan anda pegang sampai mati dan sangat memengaruhi cara anda hidup saat ini? 
  • Menurut anda, apa yang menjadi kesamaan dari karya Bapa, Anak dan Roh Kudus?
Amsal 8:1-4, 22-31
Hikmat adalah pengertian yang bijaksana karena mengasihi Allah dan sesama. Hikmat adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Allah. Ia diciptakan Allah bahkan disebut sebagai “anak kesayangan Allah”. Hikmat menghasilkan daya cipta, daya hidup, kekuatan, ketertiban, harmoni dan kehidupan. Rasul Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 1:30 bahwa Allah menghadirkan Kristus supaya kita mendapat hikmat-Nya menjalani kehidupan yang terselamatkan (Lihat juga Mat. 13:54, Luk. 2:52). Karena hikmat-Nya, kita dapat menjalankan sebuah kehidupan yang baru dalam hubungan kasih yang memulihkan dan mendamaikan.
  • Apakah keuntungan yang diperoleh saat orang memiliki hikmat di dalam hidup? 
  • Bagaimanakah cara kita mendapatkan hikmat? 
Mazmur 8
Daud kagum melihat bagaimana Allah menciptakan semesta. Terlebih lagi saat manusia dihadirkan di dalam ciptaan itu. Sebab jika dibandingkan dengan ciptaan Allah lainnya, manusia memiliki kelemahan-kelemahan dan keterbatasan. Tetapi manusia “dimahkotai dengan kemuliaan dan rahmat” bahkan dibuat “hampir sama seperti Allah”. Manusia mendapat tugas-tugas untuk mengelola ciptaan Allah yang lain menjadi daya guna pendukung kehidupan ciptaan yang lainnya. Mengingat ini, tentu kita juga mengingat kehadiran Kristus, Sang Anak Manusia yang mengutus kita untuk mengabarkan karya kebaikan-Nya dalam mengelola dunia dengan rahmat dan keselamatan dari-Nya.
  • Apa yang dimiliki manusia yang tidak dimiliki oleh ciptaan Allah yang lain? 
  • Bagaimanakah caranya supaya manusia dapat menjalankan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya dengan baik? 
Roma 5:1-5
Kalau kita mengimani Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka kita menjadi orang yang hidup dalam kedamaian dengan Allah. Kita menjadi sadar betapa sesungguhnya Allah sangat mengasihi kita dan ingin kita bahagia. Bahkan di dalam kesengsaraan yang dialami saat mengikuti kehendak Allah, kita tetap tabah, tekun, tahan uji serta berharap apa-apa yang baik. Semua dimungkinkan karena hati dan pikiran kita dipenuhi kasih yang diberikan oleh Roh Kudus.
  • Bagaimanakah anda menjelaskan makna “pengharapan” kepada orang lain? 
  • Bagaimanakah orang Kristen seharusnya bersikap saat mengalami kesengsaraan karena setia di dalam iman? 

Minggu 22 Mei 2016
Pdt. Essy Eisen

Mengapresiasi perbedaan

diposkan pada tanggal 25 Mei 2016 11.09 oleh Admin Situs   [ diperbarui25 Mei 2016 11.09 ]

Kisah Para Rasul 2: 1 - 13

Persatuan kadang diidentikkan dengan penyeragaman, atau kadang dasar dari persatuan adalah kesamaan. Setiap pihak yang hendak bergabung harus mau menjadi sama / seragam, bagi yang tidak sama maka akan “dipaksa” untuk menjadi sama, jika tetap tidak mau / tidak bisa maka dikeluarkan dari ikatan kebersamaan.

Peristiwa Pentakosta mengingatkan kita bahwa di tengah kebersamaan dan kesatuan sebagai murid Yesus, ternyata tidak ada “pemaksaan” untuk menjadi seragam (satu model saja). Justru karunia Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta menunjukkan semangat penghargaan atas setiap perbedaan. Perbedaan tidak dianggap sebagai ancaman, justru sebaliknya, merupakan peluang untuk menyatakan pekerjaan Allah, memberitakan keselamatan bagi seluruh manusia.

Roh Kudus mengapresiasi dan menghargai perbedaan. Itulah panggilan bagi setiap orang percaya di tengah hidup bergereja dan bermasyarakat. Perbedaan bahkan diterima sebagai suatu kenyataan yang tidak mungkin disangkal, dan perbedaan justru menjadi peluang untuk hidup bersama saling melengkapi.

Pendalaman
  1. Menurut pemahaman saudara, apakah satu itu harus seragam? Mengapa? 
  2. Bagaimana cara menyikapi perbedaan yang ada dalam kehidupan bersama sebagai gereja?
  3. Bagaimana cara menyikapi perbedaan yang ada dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat?
  4. Apa saja tantangan dan hambatan untuk dapat menghargai orang lain yang berbeda? 
  5. Bagaimana cara kita mensyukuri perbedaan yang ada di tengah kehidupan? 

Minggu 15 Mei 2016
Pnt. Noerman Sasono

Semua adalah satu

diposkan pada tanggal 25 Mei 2016 10.33 oleh Admin Situs   [ diperbarui25 Mei 2016 11.10 ]

Kisah Para Rasul 16:16-34; Mazmur 97; Wahyu 22:12-21; Yohanes 17:20-26

Ada banyak denominasi gereja di Indonesia dan di dunia. Keberagaman itu di satu sisi merupakan kekayaan kekristenan yang sangat berharga. Namun, tidak bisa dipungkiri, sebagaimana sering kita saksikan dan alami, keberagaman itu dapat menjadi sumber perpecahan. Tidak jarang gereja-gereja lebih disibukkan oleh perpecahan daripada memusatkan diri untuk melakukan aksi bersama sebagai kesaksian kepada dunia bahwa semua gereja adalah satu.

Ada sebuah semboyan yang terkenal di lingkungan gereja dan kekristenan di seluruh dunia. Dalam bahasa Latin bunyinya: Ut omnes unum sint ( Inggris: “That they all may be one”). Dalam bahasa Indonesia, sebagaimana tertulis dalam Yohanes 17:21 “supaya mereka semua menjadi satu”. Apa maksud Yesus dengan kata “menjadi satu”? Ada beberapa pertanyaan seputar kata ini:
  • Apakah gereja memang belum “menjadi satu” sehingga masih perlu diusahakan untuk “menjadi satu”? 
  • Apakah “menjadi satu” berarti semua gereja harus seragam dalam ajaran dan ekspresi ritualnya?
Dalam Yohanes 17:11 dikatakan “... supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita”. Teks ini menjelaskan bahwa kesatuan itu bukanlah sesuatu yang masih harus diusahakan, melainkan sesuatu yang sudah ada. Hal ini dipertegas dengan pernyataan pada ayat 22 “...sama seperti Kita adalah satu”. Dengan kata lain, sejak semula semua murid Yesus adalah satu dan harus mempertahankan kesatuan itu.

Kesatuan itu dapat kita lihat dalam praktek hidup rasul Paulus dan Silas saat menghadapi penganiayaan dari penguasa-penguasa wilayah yang mereka datangi (Kis. 16:16-34). Dalam situasi sulit tersebut, Rasul Paulus dan Silas tidak lagi belajar untuk bersatu, melainkan tetap mempertahankan kesatuan yang sudah ada sambil tetap mempertahankan keunikan masing-masing pribadi. Dengan demikian mereka bisa menanggung beban bersama dan saling memberi penghiburan serta dukungan satu terhadap yang lain. Kesatuan tidak berarti Paulus dan Silas menjadi seragam. Demikian juga komunitas Kristen mula-mula tidak merasa perlu harus menjadi seragam.

Minggu ini kita kembali mendengar panggilan untuk mempertahankan kesatuan semua anggota tubuh Kristus (gereja-gereja). Kita diingatkan bahwa kesatuan itu sudah ada sejak semula dan harus kita pertahankan sebagai bukti bahwa kita semua pengikut Yesus Kristus.

Pendalaman:
  1. Dalam pengalaman hidup saudara selama ini, apa saja yang dapat merusak kesatuan gereja? Hal apa yang memperkuat kesatuan gereja? 
  2. Dalam beberapa kasus kita kadang melihat ada anggota jemaat yang memaksakan ajaran dan ekspresi iman dari gereja lain untuk diberlakukan di gerejanya. Bagaimana kita menyikapinya, bila dikaitkan dengan kesatuan sebagai anggota tubuh Kristus? 
  3. Dalam hal apa saja gereja-gereja dapat bekerja sama sebagai bentuk kesaksian kepada dunia tentang kesatuan gereja? 

Minggu 8 Mei 2016
Mathyas Simanungkalit

Kasih Kristus: Kekuatan Yang Baru Dalam Melaksanakan Visi Yang Baru

diposkan pada tanggal 28 Apr 2016 02.35 oleh Admin Situs

Kisah Para Rasul 16:9-15, Mazmur 67, Wahyu 21:10, 22- 22:5, Yohanes 14:23-29

Visi adalah apa yang dibayangkan dan direncanakan untuk terwujud pada masa mendatang. Visi pengikut Kristus adalah visi yang baru, yaitu visi yang diajarkan oleh Allah sendiri. Jika karena dosa dahulu kala visi seseorang hanya berpusat pada dirinya sendiri saja, maka pada visi yang baru, dengan pertolongan kuasa kasih Kristus, setiap orang percaya memiliki cara pandang dan pola sikap yang baru. Dengan berpegang pada janji penyertaan Tuhan yang setia, setiap orang percaya ditolong-Nya untuk menghadirkan dirinya sebagai kabar baik bagi sesama ciptaan Allah, hingga pada saatnya Allah menyempurnakan pembaruan alam semesta, kelak.

Yohanes 14:23-29
Dengan jelas kita dapat menjumpai karya Allah Tritunggal dalam bacaan ini. Sang Bapa dan Sang Anak akan tinggal di dalam hidup orang yang mengasihi dan menuruti Firman-Nya, begitulah janji Kristus. Roh Kudus adalah Penolong yang diutus Sang Bapa di dalam nama Sang Anak. Roh itu akan mengajar setiap orang untuk menerima kebenaran Firman Tuhan dan mengingatkan apa yang diajarkan Yesus tentang Firman, melalui kata-kata dan perbuatan-Nya. Selain itu, damai sejahtera Yesus juga diberikan untuk tinggal dalam diri orang percaya. Damai-Nya melampaui damai yang diberikan dunia. Damai-Nya melenyapkan gelisah dan gentar.
  • Apa perbedaan dari orang yang menuruti Firman Tuhan karena cinta kasih dan karena alasan-alasan lain yang bukan cinta kasih? 
  • Dapatkah seseorang memahami Firman Tuhan tanpa pertolongan Roh Kudus? 
  • Apa perbedaan damai yang diberikan dunia dengan damai yang diberikan Kristus? 
Kisah Para Rasul 16:9-15
Allah memberikan hikmat kepada setiap orang untuk merencanakan tindakan kebaikan sesuai Firman-Nya, supaya sebanyak mungkin orang mengalami kabar baik Allah di dalam Yesus Kristus. Upaya penyampaian kabar baik adalah upaya yang dilakukan bersama dengan kuasa Tuhan. Dengan pertolongan Tuhan, orang yang rindu untuk mendapat kebaikan Allah dibuka hatinya untuk cakap menyimak kebenaran yang dari Tuhan. Orang yang menerima kabar baik dari Tuhan, percaya kepada kuasa-Nya, akan memberi diri dengan utuh untuk dilibatkan dalam kelanjutan upaya penyampaian kabar baik bagi orang lain.
  • Kapan terakhir kali Anda memberitakan kebaikan Tuhan Yesus melalui hidup Anda kepada orang lain?Bagaimana tanggapan orang itu? 
  • Siapa yang memperkenalkan Anda kepada Tuhan Yesus? Apa yang menyebabkan Anda menerima Injil Tuhan Yesus Kristus? 
Mazmur 67
Berkat yang diberikan Allah akan memampukan sang penerima berkat untuk memperkenalkan kebaikan Allah bagi sesama ciptaan Allah yang lainnya. Berkat dari Allah bukan untuk kesenangan dan kenikmatan diri sendiri. Pada saatnya, berkat itu berujung pada pemuliaan Allah, supaya segala ujung bumi, takut akan Dia!
  • Bagaimana Anda mengartikan “berkat dari Allah” selama ini? 
  • Apakah ada orang yang tidak diberkati oleh Allah di dunia ini? 
Wahyu 21:10, 22 - 22:5
Visi suci yang diterima Yohanes dari Allah mengungkapkan apa yang akan Allah kerjakan pada masa mendatang kepada setiap orang yang mengasihi-Nya. Akan tiba saatnya Allah menjadi begitu sangat akrab dan dekat dengan manusia sebab tiada sekat-sekat yang menghalangi. Kemuliaan Allah menjadi terang dalam hidup sehingga setiap orang yang percaya mendapatkan air kehidupan yang menyegarkan jiwa dan pohon kehidupan yang menyembuhkan segala penyakit yang membinasakan.
  • Apa yang akan Anda lakukan kepada orang yang melakukan kekejian dan dusta di dalam hidupnya? Bagaimana Anda dapat menolongnya? 
  • Penghiburan iman apa yang Anda dapatkan saat membaca bagian wahyu yang didapat dan dituliskan oleh Yohanes untuk gereja Tuhan Yesus ini? 

Minggu 1 Mei 2016
Pdt. Essy Eisen

Kasih Kristus, Kekuatan Yang Baru Bagi Komunitas Yang Baru

diposkan pada tanggal 21 Apr 2016 01.51 oleh Admin Situs   [ diperbarui21 Apr 2016 09.36 ]

Kisah Para Rasul 11:1-18, Mazmur 148, Wahyu 21:1-6, Yohanes 13:31-35

Yohanes 13:31-35
Karya cinta kasih yang berkorban adalah merupakan tindakan mulia oleh Kristus dan mulia bagi Allah. Jalan derita demi cinta yang Tuhan Yesus lakukan awalnya tidak dapat dimengerti dan diikuti oleh murid-murid-Nya. Tetapi pada saatnya, murid-murid-Nya mampu mengikuti-Nya. Arahan untuk mengasihi sebagaimana Kristus mengasihi adalah bentuk pembelajaran melalui keteladanan. Pengikut Kristus dikenali dengan nyata saat mereka hidup saling mengasihi dengan kasih yang berkorban.
  • Menurut Anda, apa yang menjadi ciri khas gereja jika dibandingkan dengan organisasi kemanusiaan pada umumnya? 
  • Apa wujud nyata dari tindakan saling mengasihi yang harus dihidupi oleh gereja? Oleh keluarga? 
Kisah Para Rasul 11:1-18
Awalnya para pengikut Kristus hanyalah orang Yahudi. Tetapi ternyata kasih Allah yang membarui hidup melalui Kristus merembes dan menginspirasi banyak orang. Tidak mudah bagi para pengikut Kristus yang mula-mula untuk memahami kenyataan kasih Allah yang tak terbatas ini. Tetapi kemudian melalui pengalaman spiritual Petrus, nyata terlihat bahwa pemberitaan Injil adalah sebuah upaya membangun “jembatan kasih” bukan “tembok diskriminasi dan kecurigaan”. Pembaruan hidup melalui iman kepada Kristus terbuka bagi banyak orang. Injil adalah untuk semua makhluk.
  • Menurut Anda, apa yang menyebabkan iman kepada Kristus (kekristenan) dapat diterima oleh orang dengan beragam latar belakang? 
  • Saat Anda mengikut Kristus, kasih yang Anda nyatakan kepada orang lain yang memiliki perbedaan dengan Anda menjadi semakin kuat atau lebih lemah? Mengapa?
Mazmur 148
Pujian kepada Allah harus dilakukan oleh semesta alam. Demikian jelas itu terlihat dalam Mazmur ini. Memuji Allah berarti mengakui bahwa hanya Allah yang berkuasa dan kuasa-Nya adalah kuasa kasih yang membuat semesta alam mengalami damai sejahtera.
  • Apa bentuk nyata dari pengakuan diri Anda bahwa Allah adalah yang utama dan pertama dalam hidup Anda yang layak dipuji dan diagungkan? 
Wahyu 21:1-6
Visi suci yang dibagikan Yohanes bagi gereja menegaskan bahwa pada saatnya kelak, pembaruan yang dikerjakan Allah akan terjadi dengan sempurna. Kuasa kebaikan pada akhirnya akan menang. Segala kesusahan hidup akan berakhir. Kebaruan hidup ini adalah pemberian Allah. Ini memberikan pengharapan dan semangat yang baru bagi gereja untuk tetap setia hidup di dalam kasih walaupun mengalami rupa-rupa penderitaan. Sebab pada akhirnya, kuasa kasih akan menang.
  • Apa yang menjadi kekuatan Anda untuk tetap mengasihi, padahal saat menyatakan kasih itu, Anda mengalami kesusahan dan penderitaan? 

Minggu 24 April 2016
Pdt. Essy Eisen

Kebutuhan Pokok

diposkan pada tanggal 16 Apr 2016 08.28 oleh Admin Situs

MAZMUR 23

Bagi kita istilah sembako tentu tidaklah asing, sembako alias sembilan bahan pokok merupakan kebutuhan dasar yang diperlukan manusia untuk menjamin kelangsungan hidup sehari-hari. Kesulitan memenuhi salah satu diantaranya, entah karena stok yang terbatas atau ketiadaan daya beli tentu saja cukup untuk membuat kepala pening. Jika kasih dan penyertaan Allah kita anggap sebagai kebutuhan pokok yang didapat secara cuma-cuma, sudahkah kita merasakan dampaknya selama ini?
  1. Metafora apa yang pemazmur gunakan untuk menggambarkan penyertaan Tuhan? 
  2. Apa bentuk pemeliharaan Tuhan yang pemazmur rasakan? 
  3. Mengapa pemazmur berani menjamin bahwa kemurahan Tuhan ada di dalam sepanjang kehidupannya? 
  4. Apa bentuk penyertaan Allah dalam kehidupan saudara? 
  5. Apakah penyertaan Tuhan itu memampukan saudara untuk berani “hidup” di tengah pergumulan?
Minggu 17 April 2016
Pnt. Noerman Sasono

Perjumpaan yang menumbuhkan iman dan pertobatan

diposkan pada tanggal 9 Apr 2016 01.42 oleh Admin Situs   [ diperbarui9 Apr 2016 01.43 ]

Kisah Para Rasul 9:1-20; Mazmur 30; Wahyu 5:11-14; Yohanes 21:1-19

Perjumpaan awal dengan seseorang bisa jadi penentu bagi hubungan selanjutnya dan kesan pertama seringkali menjadi momentum untuk tindakan berikutnya. Ketika perjumpaan dengan seseorang tidak meninggalkan kesan apapun, dan juga dalam perjumpaan-perjumpaan selanjutnya, maka perjumpaan itu hanya sekedar sebuah perjumpaan sambil lalu, tidak punya arti apa-apa. Memang, tidak semua pertemuan memiliki makna mendalam bagi kita. Walau setiap hari kita berjumpa dengan banyak orang dan peristiwa, tapi tidak semua peristiwa itu berkesan. Karena itu kita bisa dengan mudah melupakannya.

Bagaimana dengan perjumpaan dengan yang ilahi? Apakah selalu berkesan dan membawa dampak? Atau hanya sekedar sebuah perjumpaan sambil lalu yang segera dilupakan seperti perjumpaan-perjumpaan dengan yang lain? Melalui bacaan Minggu ini kita belajar dari para tokoh yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan serta dampak yang ditimbulkannya.

KISAH PARA RASUL 9:1-20
  1. Bagaimana sikap Saulus sebelum berjumpa dengan Tuhan? Apa saja yang dilakukannya? 
  2. Apa yang dialami Saulus dalam perjalanan ke Damsyik dan apa akibatnya bagi Saulus? 
YOHANES 21:1-19
  1. Apa yang dilakukan para murid setelah kematian Yesus? Mengapa? 
  2. Peristiwa apa yang membuat para murid sadar bahwa mereka berjumpa dengan Tuhan? 
  3. Apa dampak perjumpaan itu bagi para murid, khususnya bagi Petrus? 
Pendalaman dan Penerapan
  1. Apa yang paling berkesan bagi saudara dari cerita perjumpaan Saulus dan para murid dengan Tuhan? Mengapa? 
  2. Perbedaan apa yang sangat jelas terlihat dari sikap para tokoh sebelum dan sesudah berjumpa dengan Tuhan? 
  3. Menurut saudara, kapan dan dimana saja umumnya orang Kristen mengaku mengalami perjumpaan dengan Tuhan? 
  4. Dalam pengalaman saudara, hal apa saja yang membuat perjumpaan dengan Tuhan tidak berdampak apapun bagi pertumbuhan kehidupan beriman seseorang? 

Minggu 10 April 2016
Mathyas Simanungkalit

1-10 of 307