Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Renungan Warta 31 Agustus 2014

diposkan pada tanggal 29 Agt 2014 18.20 oleh Admin Situs GKI Halimun

Mengasihi itu yang paling penting! Jangan takut! Terus Maju bersama Kristus!

Keluaran 3:1-15, Mazmur 105:1-6, 23-26, 45, Roma 12:9-21, Matius 16:21-28

Kita senang dan rindu hari ke hari hidup kita bersama dengan orang lain menjadi lebih baik. Tetapi acap kali kerinduan kita itu terhambat oleh masalah-masalah. Hampir selalu kita beranggapan, bahwa orang lainlah yang menjadi penyebab dari masalah itu. Memang adakalanya orang lain bisa saja menjadi penyebab apa-apa yang kita anggap sebagai masalah. Tetapi kita juga harus mengakui bahwa ada andil diri kita, tentang bagaimana terselesaikannya masalah itu. Terkadang keras hatinya kita karena memperjuangkan kepentingan diri sendiri, enggan mengasihi dan melupakan kasih membuat kita tidak pernah menjadi orang yang berani mengambil langkah-langkah suci bagi penyelesaian masalah-masalah hidup kita.

Kita cinta damai, tetapi kita tidak mau menjadi pelaku damai. Kita tahu tentang kasih. Kasih itu terarah kepada tindakan untuk Allah dan orang lain. Tetapi yang kita lakukan bukan memberikan kasih, melainkan menuntut dikasihi. Kita tahu bahwa perubahan apapun dalam hidup ini membutuhkan pengorbanan, tetapi kita malah mengorbankan orang lain dan enggan melupakan kepentingan diri sendiri. Kita tahu bahwa apa yang diajarkan Tuhan Yesus itu adalah nasihat yang paling baik, yang harus ditaati dengan serius tetapi kita malah mengikuti pikiran dan pendapat kita saja. Kita tidak mau dipimpin oleh Tuhan Yesus.

Dalam Injil Minggu ini, kita mengenali misi yang dijalankan Tuhan Yesus. Ia membarui dunia ini dengan cara-Nya. Bagi-Nya, dunia ini tidak boleh menjadi tempat di mana Setan menjadi Raja. Allah saja yang harus menjadi Raja dalam dunia ini. Ada penolakan dari pemimpin dan pemuka agama yang keras hatinya waktu itu. Yesus tahu, misi-Nya akan mengakibatkan Ia terbunuh. Petrus tidak nyaman dengan perjuangan Tuhannya itu. Secara manusiawi, pikiran Petrus biasa terjadi pada banyak orang.

Tetapi bagi Tuhan Yesus, Petrus dan para pengikut-Nya harus melihat perkara surgawi juga. Mereka harus tahu bahwa kasih itu yang paling penting. Kasih selalu berkorban. Mereka harus mau terus maju bersama Yesus. Kalau ikut pikiran dan kepentingan diri sendiri saja bahaya. Tetapi Kalau ikut Yesus, selamat! Sebab Tuhan Yesus mendobrak struktur yang menindas dengan kasih dan pengorbanan. Ini tindakan yang jauh lebih berkuasa ketimbang penggunaan kekerasan. Hidup baru bersama Yesus tentu jauh lebih berharga dari kepemilikan barang. Di dalam kasih ada kehidupan baru dengan sukacita surgawi.

Menjadi perenungan bagi kita untuk menghidupi Injil-Nya ini pada hari-hari ke depan. Apakah kita berkenan untuk berjalan mengikuti Yesus dan cara-Nya dalam membarui dunia ini? Apakah kita berkenan mengikuti teladan Musa, yang bukan sekadar kagum akan kuasa Allah, tetapi juga mau datang kepada Allah, mendengar nasihat Allah dan menjadi rekan kerja Allah dalam pembebasan umat-Nya yang tertindas? Apakah kita mau menerima janji-Nya yang menolong ketidakmampuan kita dalam proses pembaruan hidup kita untuk mendobrak struktur-struktur hidup yang menindas?

Nasihat Rasul Paulus sangat terang, jelas dan praktis, terkait misi pembaruan hidup kita sebagai pengikut Kristus. Dalam semangat menyangkal kepentingan diri, berkorban dan mengikuti cara Kristus, mari kita lakukan hal-hal ini dengar serius di sepanjang hidup kita:
  • Mengasihi dengan ikhlas. 
  • Membenci dan menjauhi perbuatan jahat.
  • Memegang nasihat yang baik. 
  • Melihat sesama kita seperti saudara sendiri. 
  • Lebih banyak menghargai orang lain. 
  • Tidak menyerah dalam melakukan kasih dan mau dibimbing Roh Allah.
  • Sabar waktu menghadapi kesusahan. 
  • Tekun berdoa. 
  • Menolong orang yang mengalami kesusahan. 
  • Menyambut dengan hangat orang yang butuh perlindungan. 
  • Mendoakan orang yang kejam kepada kita supaya Allah berkenan memberkatinya/mereka. 
  • Tidak menggunakan kata-kata kasar/kutukan kepada orang lain. 
  • Menggunakan kata-kata positif/berkat kepada orang lain. 
  • Berupaya memahami pikiran dan perasaan orang lain juga/empati. 
  • Mengupayakan kerukunan. 
  • Tidak sombong. 
  • Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. 
  • Sebanyak mungkin melakukan kebaikan kepada orang lain.
(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 24 Agustus 2014

diposkan pada tanggal 22 Agt 2014 01.57 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui22 Agt 2014 09.18 ]

Pengabdian dengan Cinta, Sukacita dan dalam Kenyataan

Keluaran 1:8-2:10, Mazmur 124, Roma 12:1-8, Matius 16:13-20

Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi (Mzm 124:8). Ini menjadi rumusan “votum” (artinya “pengakuan keberserahan”) yang mengawali kebaktian kita. Acapkali juga digunakan “Kebaktian ini berlangsung di dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Begitulah pengakuan kita. Kita datang dalam kebaktian untuk berbakti, mengabdi. Kita ini hamba, abdi Tuhan. Atas segala kebaikan dan cinta kasih Allah, kita bersyukur dan mengakui tuntunannya. Inilah alasan yang sehat saat kita berbakti, beribadah kepada Allah.

Minggu ini kita menyimak kisah awal hidup Musa. Di Mesir, keturunan Yakub, ditindas dengan perbudakan. Kehadiran mereka dibatasi dengan seleksi keji berupa pembantaian bayi-bayi entah langsung dibunuh atau dilemparkan ke sungai Nil. Allah baik. Ia peduli. Allah memihak kehidupan orang yang teraniaya. Orang-orang yang berkenan mengabdi kepada-Nya menjadi rekan kerja-Nya dalam menghadirkan Musa. Mulai dari bidan-bidan yang takut kepada Tuhan, putri Firaun yang berbelas kasih, juga kakak perempuan Musa yang telaten memelihara adiknya, hingga ibu Musa yang tekun mengasuh bayi itu dalam kehangatan dekapan pelukannya sendiri. Keliru jika kita menganggap hamba-hamba Tuhan yang setia itu terbatas pada laki-laki saja! Lihatlah peran besar para perempuan di sini.

Berbakti, mengabdi kepada Allah selalu harus lahir dari cinta, sukacita dan di dalam kenyataan hidup. Musa lahir dari keturunan Lewi. Kelak keturunan Lewi diberikan tanggung jawab untuk mengelola peribadatan umat Allah dalam diri imam-imam. Jika kita melihat kisah awal kehidupan Musa ini, dan peran-peran hamba-hamba Allah di dalam bakti mereka, kita menyimak bahwa tindakan ibadah, bakti, ternyata tidak sesempit urusan ritus dan kultus belaka, tetapi juga dalam tindakan nyata yang berujung pada perubahan sosial komunitas! Bakti dan ibadah kita adalah tanda sukacita kita ikut serta dalam menjalankan misi penyelamatan Allah bagi dunia.

Kota Kaisarea Filipi dapat dikatakan sebuah kota yang narsistik. Mengapa demikian? Sebab kota ini dibangun oleh Herodes-Filipus, diabadikan untuk kejayaan Kaisar Roma dan dirinya. Ia adalah suami Herodias, yang masih terbilang keponakannya sendiri. Herodias adalah keponakan perempuan Herodes-Antipas, saudara laki-laki Herodes-Filipus. Akibat skandal syahwat yang dibuatnya, Yohanes pembaptis meregang nyawa.

Saat Tuhan Yesus masuk kota ini, ia mengajukan pertanyaan penting kepada murid-murid-Nya tentang bagaimana orang-orang mengenali “Anak Manusia”, sosok yang diurapi Allah untuk membebaskan umat-Nya. Murid-murid menanggapi dengan apa-apa yang memang menjadi dugaan banyak orang tentang sosok itu. Tuhan Yesus kembali menegaskan pertanyaan-Nya. “Tetapi apa katamu, siapa Aku ini?” Pertanyaan ini penting dan bermakna. Seolah-olah di tengah kota yang diwarnai dengan egosentrisme dan penyanjungan nafsu berkuasa manusia itu, murid-murid ditantang untuk menyatakan iman mereka! Petrus menjawab. “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Ini adalah sebuah penyataan iman yang lahir dari pertolongan kasih Bapa. Petrus dengan tegas menyatakan apa arti kehadiran Yesus bagi dirinya. Bukankah di tengah dunia kita sekarang ini, saat begitu banyak orang yang masih dikungkung oleh pementingan diri sendiri dan kejahatan kepada Allah dan sesama manusia, pertanyaan Tuhan Yesus ini juga untuk kita? Siapakah Yesus bagi kita? Dalam bakti dan ibadah kita, apakah yang menjadi fokus utama kita?

Larangan Yesus kepada murid-murid untuk tidak memberitahukan kepada orang-orang tentang status Mesias itu penting. Mengapa? Sebab bagi Yesus Mesias itu bukan sekadar jabatan. Mesias itu adalah karya hidup yang utuh. Karya kemesiasan Yesus satu paket dengan salib dan kebangkitan, yang saat itu belum utuh dijalani-Nya. Selain itu, rasanya Yesus tidak ingin orang mengakui kemesiasan-Nya hanya dari kata orang saja. Yesus ingin agar setiap orang menyatakan pengakuan itu berangkat dari cinta dan pengenalan yang tulus dalam pertolongan Bapa. Ini menjadi teladan yang baik buat kita! Tidak cukup kita menggembar-gemborkan identitas kekristenan kita kepada khalayak. Sebab bukankah kekaryaan kasih kita sebagai pengikut Kristus, jauh lebih berbicara banyak kepada dunia ketimbang kata-kata belaka? Setiap orang pada akhirnya mengakui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, saat menyaksikan salib dan kebangkitan. Bagaimanakah kita sebagai gereja-Nya dalam setiap bakti dan ibadah kita telah meneladankan Kristus untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti karya kasih-Nya bagi Indonesia?

Paulus mengingatkan kita. Ibadah sejati ialah saat tubuh kita seutuhnya menjadi persembahan yang: hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Mengaku Yesus sebagai Mesias/Kristus berarti mau dituntun Bapa di Sorga supaya kita berani menyatakan bahwa Yesus Kristus saja yang akan menuntun dan mempengaruhi bagaimana cara kita hidup di dunia ini. Dalam pertolongan Roh Kudus, pola pikir dan sikap hati kita terus menerus diperbarui sehingga kita mampu memilih dengan bijaksana pilihan-pilihan hidup yang dilandaskan oleh kasih. Tidak hanya itu, dengan mengakui Yesus sebagai Mesias/Kristus, Raja Penyelamat kita, maka dalam hidup bersama kita dimampukan-Nya untuk menguasai diri, mampu bekerja sama dengan baik di tengah perbedaan yang ada, dengan menggunakan segenap kemampuan yang kita miliki berangkat dari kasih dan dalam sukacita. Perilaku yang demikianlah, yang menjadi ibadah/pengabdian yang pantas kepada Allah, penuntun hidup kita.

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 17 Agustus 2014

diposkan pada tanggal 22 Agt 2014 01.53 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui22 Agt 2014 01.54 ]

Merdesa

(Kej 45:1-15 ; Mzm 133 ; Rm 11:1-2, 29-32 ; Mat 15:21-28)

MERDESA, kata ini mungkin masih cukup asing ditelinga kita. Menurut KBBI (kamus besar bahasa indonesia) arti kata MERDESA adalah layak, patut, sopan (beradab). Apa hubungan MERDESA dengan MERDEKA?

Sebelum tahun 1945 bangsa ini dijajah oleh bangsa asing, tetapi setelah merdeka justru penjajahan dilakukan oleh sesama anak bangsa. Jadi pada intinya sampai saat ini kita belum sepenuhnya bebas dari kuasa penjajahan. Karena masih ada arogansi atau superioritas setiap kelompok atau orang yang merasa dirinya “mayoritas” terhadap mereka yang “minoritas”.

Tirus dan Sidon adalah wilayah di luar Yahudi, dan dianggap sebagai area bangsa kafir. Seorang perempuan Kanaan yang anaknya kerasukan setan dan sangat menderita karenanya, mengikuti Yesus dan berseru meminta belas kasihan-Nya. Para murid yang merasa sebagai golongan mayoritas (karena mereka Yahudi) merasa terganggu dan meminta Yesus untuk mengusir dia (perempuan minoritas). Tetapi Yesus justru berdialog dengan perempuan “kafir” tersebut. Setidaknya ada 3 tahap dari percakapan Yesus dengan perempuan itu.

Pertama, Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (ayat 24). Perempuan Kanaan: “Tuhan, tolonglah aku” (ayat 25).

Kedua, Yesus: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (ayat 26).

Perempuan Kanaan: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”. (ayat 27).

Ketiga, Yesus: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang engkau kehendaki” (ayat 28).

Bercermin dari kisah ini, bukankah Tuhan juga mengingatkan kita sebagai murid-murid-Nya untuk melakukan pelayanan melampaui dinding-dinding pemisah: agama, suku, status sosial dan sebagainya. Betapa indahnya jika umat Tuhan hidup saling peduli. Peduli kepada sesama anggota jemaat, peduli kepada orang di luar jemaat, juga peduli terhadap seluruh ciptaan Tuhan. Gereja dipanggil untuk menjadi berkat bagi sekitarnya: memancarkan karya ilahi yang memerdekakan mereka dari belenggu ketakutan, keputusasaan, ketidakadilan dan juga keegoisan. Tanpa mempersoalkan perbedaan yang ada.

Mengutip pidato kenegaraan SBY sabtu kemarin: “Di zaman penjajahan, para pemimpin serta warga berjuang mempertahankan kemerdekaan hingga titik darah terakhir. Tapi untuk saat ini, tugas seluruh warga negara dan pemerintah adalah menjaga agar keindonesiaan bisa dipertahankan”. Keindonesiaan yang dimaksud adalah Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, toleransi, pluralisme, kesantunan serta kemanusiaan.

Jadikan momentum peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke-69 sebagai titik tolak kita membagikan kasih kepada setiap ciptaan tanpa terkecuali. Yesus sudah memberikan teladan nyata ketika Dia menerobos sekat-sekat penghalang dan memberikan kemerdekaan bagi perempuan Kanaan. Saatnya kita melakukan apa yang sudah Yesus teladankan bagi kita, membagikan kemerdekaan bagi semua orang agar mereka bisa merdesa. Karena kemerdekaan itu terwujud ketika kita mampu hidup bersama dengan menghormati hak setiap orang dan tidak pernah memperlakukan orang lain secara diskriminatif dalam bidang apapun juga. Merdeka untuk Merdesa!

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 10 Agustus 2014

diposkan pada tanggal 12 Agt 2014 07.28 oleh Admin Situs GKI Halimun

Iri Hati Memadamkan Cinta

Kejadian 37:1-4, 12-28; Mazmur 105:1-6, 16-22; Roma 10:5-15; Matius 14:22-33

Pernahkah kita merasa iri hati? Mungkin pernah, entah disadari ataupun tidak. Kita mungkin pernah menyaksikan bagaimana, karena iri hati, seorang anak kecil berusaha merebut mainan temannya. Atau kita melihat bagaimana seorang remaja iri hati terhadap barang temannya, entah itu handphone, jam tangan, sepeda motor atau mobil. Tidak hanya itu, kita juga mungkin pernah menemui orang dewasa yang iri hati terhadap kemajuan bisnis temannya.

Iri hati memang bisa menghinggapi siapa saja. Iri hati itu bisa ada dalam diri setiap orang. Namun demikian, perasaan iri hati sebaiknya tidak kita pelihara sebab iri hati menimbulkan banyak hal yang tidak baik. Dalam 1 Korintus 3:3 dan Kisah Para Rasul 17:5 dikatakan bahwa iri hati menimbulkan perselisihan dan keributan.

Apa yang meyebabkan timbulnya iri hati? Iri hati bisa muncul karena ketidakadilan. Dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya dikatakan bahwa Yakub lebih mengasihi Yusuf daripada anak-anaknya yang lain: “Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain....” (Kej. 37:3) . Perlakuan yang tidak adil itu menumbuhkan iri hati dalam diri saudara-saudara Yusuf. “Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.” (Kej.37:4).

Selain oleh perlakuan yang tidak adil, iri hati juga bisa disebabkan rasa tidak puas atau tidak bersyukur terhadap kenyataan hidup yang dialami.

Alkisah, ada seorang tukang batu yang setiap hari pergi ke gunung untuk memotong batu. Setiap hari dia melakukan pekerjaannya sambil bernyanyi riang, pertanda dia puas dengan kehidupannya.

Pada suatu hari dia diminta bekerja di rumah seorang bangsawan. Selama bekerja di sana, si tukang batu tersebut tak habis-habisnya mengagumi keindahan rumah dan kekayaan sang bangsawan. Si tukang batu diam-diam berkata dalam hatinya: “seandainya aku kaya seperti bangsawan ini, tentu hidupku akan sangat menyenangkan. Aku tak perlu kerja keras lagi.”

Tiba-tiba tukang batu itu mendengar suara yang berkata: “keinginanmu sudah dikabulkan. Dan, mulai sekarang, apapun yang kau inginkan akan dikabulkan.” Benar saja, saat si tukang batu sampai di rumahnya, dia melihat keajaiban. Gubugnya berubah menjadi bangunan megah, lengkap dengan perabotan yang indah dan mahal. Sejak itu si tukang batu berhenti mencari batu serta menikmati hidup sebagai orang kaya.

Pada suatu siang yang panas dari jendela rumahnya dia melihat kereta raja lewat lengkap dengan rombongan pengawal dan budak-budaknya. Si tukang batu berpikir alangkah enaknya berada dalam kereta kerajaan itu dan tiba-tiba dia ingin menjadi raja. Dalam sekejap keinginannya terwujud. Dia menjadi raja dan berada dalam kereta kerajaan. Namun, ternyata, udara dalam kereta begitu panas pengap. Dia merasa tidak nyaman. Lalu dia melihat keluar dan mulai mengagumi kekuatan matahari yang panasnya sanggup menembus setiap dinding tebal kereta kerajaan. “Aku mau jadi matahari”, katanya dalam hati. Sekali lagi keinginannya terkabul. Dia menjadi matahari dan memancarkan sinarnya ke segenap penjuru alam semesta. Tapi, ketika tiba musim hujan, langit dipenuhi awan tebal dan sinarnya tak mampu menembus. Lalu dia ingin menjadi awan dan segera saja keinginannya terpenuhi. Setiap hari dia turun menjadi hujan dan mengalir dengan bebasnya tanpa ada yang bisa menghalangi. Sampai suatu hari dia terganjal oleh sebuah batu raksasa. Bagaimanapun kuatnya dia mengalir, tetap tak mampu melewati batu raksasa tersebut. Dia pun segera berubah menjadi batu raksasa, sesuai dengan keinginannya. Dan sejak itu dia selalu membanggakan kekuatannya. Namun, itupun tak bertahan lama. Pada suatu hari dia melihat seorang tukang batu bekerja mencungkilinya sebongkah demi sebongkah. Perlahan-lahan batu itu menjadi semakin kecil. Saat itu dia menyadari bahwa seorang tukang batu kurus kering bisa lebih kuat dari sebuah batu raksasa. “Aku mau jadi tukang batu”, teriaknya dalam hati. Maka kembalilah dia menjadi seorang tukang batu. Setiap hari dia pergi ke gunung untuk bekerja keras memecahkan batu. Dia masih tetap bernyanyi selama memecah batu, tapi sekarang nyanyiannya dipenuhi rasa bangga dan rasa syukur. Sekarang dia tahu, bahwa keadaan yang dia jalani sekarang layak dibanggakan dan pantas untuk disyukuri.

Rasa syukur membuat tukang batu itu dapat mencintai pekerjaannya, menghargai keadaannya, mencintai diri dan sesamanya dan bersyukur kepada Penciptanya.

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 3 Agustus 2014

diposkan pada tanggal 31 Jul 2014 22.57 oleh Admin Situs GKI Halimun

Ditolong Allah Supaya Berdamai Dengan Diri Sendiri

Kejadian 32:22-31

Setiap orang punya kekuatan dan kebaikan dalam dirinya. Jika ini disadari dan dikelola dengan bijaksana, hidupnya dipenuhi dengan damai sejahtera. Bahkan ia pun dapat membagi kebahagiaan itu melalui kehadiran dirinya di mana saja kepada sesamanya. Tetapi setiap orang juga punya kelemahan dan keterbatasan yang dapat membuatnya menjadi jahat. Jika tidak dikelola dengan bijaksana, kelemahan dan keterbatasan itu dapat melemahkan potensi baik dalam dirinya.

Oleh sebab itu menjadi penting supaya orang berdamai dengan dirinya. Apa artinya? Artinya secara dewasa dan bijaksana ia mampu mengenali potensi baik maupun potensi jahat yang dapat keluar dari dirinya. Setelah menyadari itu semua, maka dengan rendah hati ia bersedia mengakui kelemahan diri yang dapat menyakiti sesama, sehingga ia menjadi hati-hati untuk tidak mengulangi kejahatan yang sama kemudian hari. Juga dengan rendah hati ia mengakui segala kekuatan dan kebaikan yang ada di dalam dirinya, sehingga kehadiran dari segala yang baik dalam dirinya itu pun tetap menghasilkan damai sejahtera bagi orang lain.

Untuk berdamai dengan diri sendiri, setiap orang harus mau dibentuk oleh kasih Allah. Proses bentukan Allah dalam diri itu acap kali disebut sebagai “pergumulan dengan Allah”. Mengapa begitu? Sebab memang ada sebuah proses memberi dan menerima, menghancurkan dan membangun, sebuah pergulatan untuk mengikis kecenderungan jahat dalam diri, untuk pada akhirnya menjadi pribadi yang terus menerus diperbarui oleh Allah. Kita menyadari dengan sungguh melalui kebenaran Firman Allah, bahwa kita perlu ditolong-Nya supaya dapat berdamai dengan diri sendiri.

Minggu ini, perjumpaan kita dengan cerita Yakub menolong kita menjumpai proses berdamai dengan diri sendiri. Pergulatan Yakub dengan “Seseorang” di tepi sungai Yabok menghasilkan pengalaman spiritual yang kemudian mengubah cara pandang hidupnya. Kala itu ia hendak berjumpa dengan Esau, kakaknya yang pernah ditipunya. Sebuah pengalaman besar tentunya. Tetapi sebenarnya bukan hanya itu saja. Sejak perseteruan dengan kakaknya itu, dapat kita katakan ia “melarikan” diri dari rumah ayahnya. Di kemudian hari, di rumah pamannya, Laban, ia mengalami proses pembentukan diri juga. Yakub membangun sebuah keluarga dan memiliki banyak harta. Tetapi sepertinya tetap ada semacam “ganjalan” dalam hati dan pikiran Yakub. Sebab sepertinya Yakub belum mengenali dengan baik keberadaan dirinya dalam lingkup janji suci Allah yang pernah ia dengarkan baik melalui berkat kesulungan yang diberikan ayahnya, maupun pengalaman mimpi suci di Betel.

Di tepi sungai Yabok itulah hidupnya sepertinya tidak sama lagi. Rupanya “Seseorang” yang bergumul dengannya sampai pagi itu dihayati sebagai simbol kehadiran Allah sendiri, Allah yang berkenan membentuk pribadi Yakub. Dikisahkan dalam pergulatan itu, keduanya sama “kuat”. Tetapi pada akhirnya, Yakub dipukul di sendi pangkal paha. Dalam kelemahannya itu, dikisahkan ia memohon berkat dari “Orang” itu. “Orang” itu menanyakan namanya. Pertanyaan ini menjadi sebuah gambaran tegas tentang proses mengenali diri. Seolah-olah Yakub diajak Allah untuk berpikir, “apakah kamu mengenali siapa dirimu?” Tentu Yakub mengenali siapa dirinya! Bukankah ia Yakub? (artinya “yang memegang tumit, si penipu). Tetapi pengenalan Yakub belum sempurna. Allah berkenan menyempurnakannya.

Pergantian nama menjadi “Israel” dan penegasan bahwa ia “menang” dalam “pergumulan” bersama dengan “Allah dan manusia” ini menjadi sebuah titik penting dalam hidup Yakub melengkapi semua proses berjalannya Yakub bersama dengan Allah pada peristiwa-peristiwa sebelumnya. Kita menghayati di sini bahwa Allah mengakui ketekunan Yakub dalam berproses mengenali dirinya sendiri, sekaligus kesediaannya untuk mau diubahkan oleh Allah, mengingat permohonan berkat yang keluar dari mulutnya dalam kelemahan karena kakinya terpelecok. Yakub pada akhirnya ditolong oleh Allah untuk mengerti sumber kekuatannya bukan pada dirinya, atau kehebatannya sendiri, tetapi dari Allah saja. Mungkin pukulan di sendi pangkal paha itu juga bukan tanpa maksud. Itu menjadi semacam “peringatan” dari Allah supaya Yakub tidak lagi “melarikan diri” atau merasa benar sendiri saja, tetapi kini ia harus mau mengakui pertolongan Allah dalam proses pembentukan segala yang baik dalam hidupnya.

Setelah peristiwa ini, perjumpaan dengan Esau kakaknya yang pernah disakitinya tentu terjadi dengan cara pandangnya yang baru. Yakub menyadari bahwa Allah telah menolongnya untuk berdamai dengan diri sendiri. Tanda dari perubahan hidup Yakub antara lain terlihat dari ucapannya kala berjumpa dengan Esau kakaknya. “..karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkaupun berkenan menyambut aku.” (Kej. 33:10). Sungguh menjadi sebuah ucapan yang manis, dari seseorang yang sudah berdamai dengan diri sendiri, karena ditolong oleh Allah!

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 27 Juli 2014

diposkan pada tanggal 31 Jul 2014 22.54 oleh Admin Situs GKI Halimun

Ikatan Perjanjian Allah Dengan Manusia

Kejadian 29:15-28, Mazmur 105:1-11, 45, Roma 8:26-39, Matius 13:31-33, 44-52

Komitmen adalah kesetiaan untuk memegang janji yang sudah diucapkan. Komitmen diuji oleh waktu dan keadaan. Biasanya komitmen dapat hilang jika seseorang mengalami apa yang buruk dalam kehidupannya, sehingga ia menjadi putus asa. Komitmen juga dapat hilang jika seseorang mengalami apa yang menyenangkan dan baik dalam hidup, tetapi apa yang menyenangkan dalam hidup itu justru terjadi bila ia melanggar komitmen. Pada saat itu terjadi, ia tidak lagi memiliki integritas, kesesuaian antara apa yang diucapkan dan dihidupi. Komitmen ia anggap sepi.

Hidup tanpa komitmen dan kesetiaan adalah hidup yang ujungnya kesusahan. Bayangkan jika seorang pekerja tidak melakukan pekerjaannya sesuai dengan apa yang disepakati. Bayangkan jika suami dan istri memandang remeh komitmen kesetiaan untuk saling mencintai seumur hidup. Bayangkan jika seorang anak muda hidup semaunya tanpa memiliki kesetiaan kepada nasihat orang tuanya. Bayangkan jika seorang pejabat publik yang berjanji melayani orang banyak, tetapi melanggar janji karena ingin menikmati kesenangan sendiri dan kelompoknya saja. Kita semua harus menghidupi komitmen dan kesetiaan. Hidup tanpa integritas adalah hidup yang rapuh.

Minggu lalu kita mencermati kehidupan Yakub dalam “pelarian”. Dalam “pelarian” itu Yakub mengalami perjumpaan dengan Allah melalui pengalaman spiritual yang akhirnya mengubahkan kehidupannya. Kini dalam bacaan Minggu ini, kita kembali melihat kehidupan Yakub selanjutnya. Dalam pimpinan Allah, ia membangun keluarga bersama Rahel yang dicintainya, sekalipun untuk itu ia harus bekerja 14 tahun bersama dengan Laban. Berkat Allah menolong Yakub bekerja dengan tekun dan menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Berkat Allah juga yang menjadikan Yakub memiliki banyak ternak, dan bahkan ia berhasil melepaskan diri dari jeratan Laban setelah bekerja total selama 21 tahun bersamanya.

Demikianlah Allah setia dengan janji-Nya yang diikat bersama dengan anak-anak-Nya. Paulus menjelaskan bahwa ikatan perjanjian dengan Allah ialah ikatan cinta kasih, yang akan mendatangkan kedamaian dan kebaikan. Allah selalu dapat diandalkan dalam perjanjian karena Allah selalu memegang teguh perjanjian-Nya. Penderitaan bahkan maut sekalipun tidak akan melepaskan ikatan tersebut. Tidak akan sia-sia setiap orang yang meyakini rancangan Allah yang baik dan mau taat kepada Firman Allah.

Perjanjian dengan Allah itu enak. Sebab Allah tidak pernah sekalipun bermaksud buruk terhadap anak-anak yang dikasihi-Nya. Memang perjanjian itu tidak mudah. Tetapi justru di sinilah letak kekuatannya. Apa-apa yang mudah biasanya tidak berkualitas. Kualitas selalu lahir dari kerja keras dan ketekunan untuk mengerjakan sebaik-baiknya apa yang seharusnya dan bukan sekadar apa yang diinginkan. Selain itu perjanjian dengan Allah itu indah. Mengapa indah? Sebab Allah mendasarkan perjanjian-Nya dengan cinta kasih dan bukan dengan amarah dan kekerasan. Ada ketegasan tentunya, tetapi ketegasan Allah selalu untuk kebaikan manusia. Ketegasan yang berangkat dari cinta kasih selalu berujung pada kesembuhan. Seperti obat yang pahit, tetapi memberikan kesehatan.

Minggu ini bangsa kita mendapatkan Presiden dan Wakil Presiden yang baru. Ini menjadi momen bagi kita juga untuk bersama-sama dengan mereka beserta para wakil kita di parlemen yang telah kita pilih untuk membangun bangsa yang kita cintai ini. Minggu ini juga tidak terasa kita sudah melewati paruh kedua tahun 2014. Masih ingatkah kita akan janji perubahan hidup di awal tahun lalu? Atau bagi yang sudah berkeluarga, masih ingatkah saudara akan janji-janji saudara di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya saat menikah dahulu?

Karena kasih-Nya, Allah tidak pernah akan memutuskan ikatan perjanjian yang sudah dibuat-Nya dengan kita yang percaya. Jangan pernah melarikan diri dari kasih sayang Allah dan menyerahkan diri kita kepada kejahatan dan kebodohan dosa. Perbaruilah terus komitmen, janji, kesetiaan kita kepada Allah yang dapat kita lakukan setiap hari dalam waktu teduh kita. Saat Firman-Nya kita baca, hidupilah kebenaran-kebenaran yang ada di dalamnya dalam setiap karya hidup kita. Dalam ikatan perjanjian dengan Allah yang terus kita hidupi dan ingat itu, kita akan dimampukan-Nya juga untuk menghidupi komitmen yang kita bangun dengan sesama kita. Nantikanlah karya indah yang Allah sediakan pada waktu-Nya, sebab Allah setia!

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 20 Juli 2014

diposkan pada tanggal 31 Jul 2014 22.50 oleh Admin Situs GKI Halimun

Tuhan Maha Tahu

Kejadian 28:10-19; Mazmur 139:1-12, 23-24; Roma 8:12-25; Matius 13:24-30, 36-43

Menurut Johari Window, pengenalan akan di dapat di kategorikan dalam empat bidang. Pertama (bidang A), bidang yang terbuka, yaitu apa yang kita dan siapa saja bisa lihat mengenai diri ini. (Saya tahu, orang lain pun tahu). Kedua (bidang B), bidang yang kita buta, yaitu apa yang orang lain lihat tentang diri ini, tetapi kita sendiri tidak bisa melihatnya. (Saya tidak tahu, orang lain tahu). Ketiga (bidang C), bidang yang tersembunyi, yaitu apa yang kita bisa lihat namun orang lain tidak bisa melihatnya. (Saya tahu, orang lain tidak tahu). Keempat (bidang D), bidang yang tidak disadari, yaitu apa yang kita dan orang lain tidak bisa lihat dalam diri ini (Saya tidak tahu, orang lain pun tidak tahu).

Jadi, dari empat bidang dalam kategori Jendela Johari, ada dua bidang yang kita bisa lihat dan ada dua bidang yang kita tidak bisa lihat. Dari kedua bidang yang kita tidak bisa lihat itu, hanya satu bisa dilihat orang lain. Sisa satu bidang yang semua orang tidak bisa lihat. Meskipun demikian, Tuhan bisa melihat semua bidang, dan Dia mengenal seluruh keberadaan kita.

Mazmur 139:1-6 menunjukkan pengakuan iman yang penuh ketakjuban dari pemazmur kepada Tuhan yang Maha Tahu. Tuhan mengetahui semua yang pemazmur lakukan. Bahkan Tuhan sudah tahu isi hati manusia sebelum diucapkan. Jadi, Tuhan mengetahui sedalam- dalamnya dan sebenar-benarnya pikiran, hati, perkataan dan perbuatan manusia, yang baik maupun yang jahat. Pengetahuan Tuhan itu membuat pemazmur kagum sekaligus percaya kepada-Nya.

Mazmur 139:7-12 menunjukkan Tuhan yang Maha Tahu adalah Tuhan yang Maha Ada. Ia ada di segala tempat. Manusia tidak dapat lari dari Tuhan, walaupun mendaki ke langit yang tertinggi atau dunia orang mati. Walau manusia terbang dengan kecepatan fajar, ataupun masuk ke dalam kegelapan malam, Tuhan tetap dapat menjangkaunya.

Pemazmur tidak hanya sadar bahwa Tuhan sungguh-sungguh mengenal dirinya, tetapi Ia mau datang ke hadapan Tuhan Yang Maha Tahu. Ia memohon agar Tuhan mengenal dan menguji hati dan pikirannya, serta memberi bimbingan kepadanya.

Demikian dalam kehidupan kita, setiap peristiwa yang ada tidak ada yang luput dari hadapan Tuhan. Termasuk segala persoalan kehidupan dan beban pergumulan yang saat ini kita rasakan. Selama ini kemanakah kita membawa beban kehidupan yang kita tanggung? Biarlah kita bisa belajar seperti pemazmur, yaitu senantiasa mau datang ke hadapan Tuhan yang Mahatahu, sambil berseru: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:23-24). Pemazmur menginspirasi kita untuk berani mempercayakan kehidupan kita kepada Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang Maha Tahu. Beranikah kita meneladani pemazmur?

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.)

Renungan Warta 13 Juli 2014

diposkan pada tanggal 31 Jul 2014 22.44 oleh Admin Situs GKI Halimun

Tuhan dan Persaingan

Kejadian 25:19-34; Mazmur 119:105-112; Roma 8:1-11; Matius 13:1-9, 18-23

Banyak hal yang membuat takjub di jaman modern ini. Salah satunya adalah pencapaian teknologi yang membuat manusia di seluruh dunia dapat saling terhubung dalam satu ketika. Dengan adanya satelit, telepon dan berbagai hasil teknologi lain kita dapat melihat dan berbicara dengan orang-orang yang ada di belahan lain bumi. Kita dapat mengirim dan menerima pesan, baik dalam bentuk suara maupun gambar, kepada dan dari berbagai orang di seluruh dunia. Idealnya, semua itu membuat kita sadar adanya keterhubungan umat manusia sejagad dan saling ketergantungan satu dengan yang lain. Dan kesadaran itu selayaknya juga mendorong setiap orang untuk hidup dalam semangat kerjasama atau solidaritas.

Tapi fakta yang sering kita saksikan dan rasakan sangatlah berbeda. Meskipun manusia sadar adanya “keterhubungan semesta”, yang kita saksikan terjadi bukanlah solidaritas melainkan persaingan antar manusia atau antar kelompok manusia. Sehari-hari kita dapat menyaksikan semangat saling-mengalahkan itu dilakukan, baik di televisi, di sekolah, bahkan dalam dunia agama. Kita bisa melihat bagaimana agama yang satu berusaha “menghabisi” agama lain untuk membuktikan keunggulannya. Bahkan persaingan itu juga terjadi dalam satu rumpun agama, dimana gereja yang satu menganggap dirinya lebih unggul dibanding gereja lain. Dan tak jarang persaingan itu mengatasnamakan Tuhan. Keadaan ini seperti membenarkan pendapat Plautus(195 SM):lupus est homo homini. Menurut Plautus, manusia adalah serigalanya manusia sebab manusia sering menikam sesama manusia lainnya.

Lalu, apakah manusia tidak boleh bersaing? Apakah persaingan memang terlarang dilakukan?

Dalam Kejadian 25:19-34 dikisahkan tentang persaingan Esau dan Yakub. Sekilas, persaingan ini seolah berasal dari Allah sendiri. Di ayat 23 dikatakan: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda."Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dalam kisah ini:
  1. Kita perlu mencatat bahwa kisah ini terjadi setelah peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kejadian 3). Keadaan berdosa ini membuat manusia tidak mampu lagi bertindak sebagaimana yang Allah kehendaki. Manusia kehilangan solidaritas terhadap sesamanya, manusia kehilangan “ikatan kesemestaan” 

  2. Esau dan Yakub dibesarkan dalam lingkungan yang serba pilih kasih. Ishak mengasihi Esau, sedangkan Ribka menyayangi Yakub. Keadaan pilih kasih ini mendorong kedua anak tersebut untuk bersaing. Semangat persaingan itu sampai ke tingkat saling mengalahkan, bahkan membinasakan (Kejadian 27:41), sehingga melupakan kenyataan bahwa mereka berdua sebenarnya tumbuh dalam rahim yang sama. 
Bila kita simak lebih seksama, sumber persaingan dalam kisah Esau dan Yakub adalah manusia sendiri. Persaingan yang mengarah kepada permusuhan itu bersumber dari kedua orangtua mereka sendiri, yang bila ditelusuri lebih jauh disebabkan karena keberdosaan manusia. Keberdosaan manusia itu tidak saja membuat manusia melawan sesamanya, tapi juga melawan Allah. Itulah sebabnya kisah Esau dan Yakub ini dapat kita pahami sebagai kisah persaingan manusia yang hidup dalam keinginan daging (Roma 8:6-7). Persaingan yang didasari keinginan daging semata-mata hanya mengejar kemenangan dan kepuasan diri. Kemenangan itu diperoleh dengan menghalalkan segala cara, bahkan dengan menghancurkan saingannya.

Kalau begitu, apakah orang Kristen boleh bersaing? Tentu saja boleh, dengan minimal dua syarat:
  1. Persaingan itu merupakan sarana pendorong tiap orang mengeluarkan potensi yang Tuhan anugerahkan kepadanya 
  2. Persaingan itu dilandasi semangat kesetiakawanan dan kerjasama, sehingga semua pihak ––baik yang lebih unggul maupun yang diungguli––menyumbangkan potensinya untuk kebaikan bersama. Hal ini selaras dengan perkataan Paulus dalam Roma 8: 6 “...keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” 
(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.)

Renungan Warta 6 Juli 2014

diposkan pada tanggal 4 Jul 2014 02.40 oleh Admin Situs GKI Halimun

Rendah Hati, Mau Berubah dan Setia Mengasihi

Kejadian 24:34-38, 42-49, 58-67, Mazmur 45:11-18, Roma 7:15-25, Matius 11:16-19, 25-30

“Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga”. Sebagai ciptaan Allah, walaupun kita dikaruniakan begitu banyak kekuatan dan kemampuan, kita tetap memiliki keterbatasan dan kelemahan. Kita bisa salah mengambil pilihan. Kita bisa salah menetapkan falsafah hidup kita. Bisa saja apa yang kita anggap benar selama ini, justru adalah kekeliruan terbesar yang harus kita tinggalkan demi kebaikan hidup kita dan orang lain. Oleh sebab itu kerendahan hati, kemauan untuk berubah dan kesediaan untuk setia menghidupi kasih kepada Allah dan kepada sesama ciptaan Allah, harus selalu menjadi sikap yang kita perjuangkan dalam hidup ini.

Apa saja sikap yang buruk saat kita harus memilih? Pertama, sikap “potong kompas”. Sikap ini buruk sebab terburu-buru dalam mengambil pilihan. Sering kali sikap seperti ini tidak memikirkan sebab akibat dengan matang. Kedua, mengambil keputusan untuk memilih dengan mendengarkan pilihan solusi yang salah. Mirip dengan “potong kompas”, sikap ini adalah sikap yang menggampangkan semua hal. Misalnya, hutang diselesaikan dengan hutang lagi. Disakiti diselesaikan dengan menyakiti lagi. Sungguh bukan merupakan solusi yang matang dan benar. Ketiga, tidak berbuat apa-apa karena takut mengambil risiko demi perubahan hidup. Sikap ini sebenarnya sikap yang akan memperparah masalah. Orang yang keras kepala dan pendendam acap kali tidak mudah mengambil alternatif-alternatif pilihan yang terpampang dengan begitu jelas di depan mata.

Allah berjanji menjadikan Abraham bangsa yang besar. Keturunannya akan diberkati dan menjadi berkat bagi banyak bangsa. Dalam proses “menjadikan” apa-apa yang baik itu, Abraham mau diajar dan dibimbing Allah. Abraham tetap menjaga kesetiaan hati dan pikiran kepada Allah. Kesetiaan Abraham itu tampak sewaktu ia mengalami masalah. Ishak anaknya belum memiliki istri. Dapat saja Ishak beristrikan perempuan Kanaan. Tetapi pilihan itu mengandung risiko, sebab Ishak bisa saja mengikuti kepercayaan orang-orang Kanaan sebagai penyembah berhala. Dalam pergumulan memilih itu, Abraham ditolong dan dituntun oleh Allah.

Allah menghadirkan rekan dan sahabat yang baik bagi Abraham, yaitu hambanya. Apa yang Abraham pesankan, dilakukan oleh hambanya itu dengan setia. Bukan hanya itu, hamba Abraham itu juga berdoa kepada Allah dan Allah menjawab doa hamba Abraham karena hamba Abraham itu menggunakan kriteria/syarat-syarat yang sesuai dengan kehendak Allah terkait pemilihan istri bagi Ishak. Allah menyediakan kesempatan-kesempatan bagi hamba Abraham dalam upayanya. Usahanya itu diberkati Allah, karena hati dan pikirannya takut kepada Allah.

Hamba Abraham itu pada akhirnya bersyukur kepada Allah karena tuntunan-Nya. Ia mengalami jalan yang benar karena pertolongan Allah. Kesempatan-kesempatan yang ia alami untuk berjumpa Ribka adalah bukti pertolongan Allah. Hamba Abraham mendapatkan solusi terbaik dari usahanya karena kasihnya kepada Abraham dan kepada Allah.

Sepanjang hidup ini, kita akan berhadapan dengan pilihan antara ikut Tuhan atau ikut setan. Mengikuti Tuhan, berarti percaya kepada janji Tuhan dan mau memberlakukan apa yang Tuhan ajarkan dengan ketulusan dan cinta kasih. Sedangkan mengikuti setan, berarti kita membiarkan diri kita dibodohi dengan beranggapan bahwa kita dapat melakukan semuanya dengan kekuatan dan hikmat diri kita sendiri saja. Tuhan Yesus berjanji bahwa Dia akan memberikan kelegaan kepada setiap orang yang datang kepada-Nya. Ini bukti kasih-Nya. Seiring dengan kasih-Nya itu, tanggapan kita adalah “memikul kuk” yang dipasang Kristus. Artinya, kita memberlakukan ajaran Kristus dengan serius. Namun jangan salah duga. Kita melakukan ajaran Kristus bukan supaya kita dikasihi Allah, tetapi karena kita sudah dikasihi oleh Allah, maka kita memberlakukan apa yang diajarkan Kristus. Roh Kudus yang dikaruniakan Allah di dalam pikiran dan hati kita, akan memampukan kita meninggalkan kebodohan dosa. Kita harus waspada, supaya tidak mengulangi kebodohan orang-orang Farisi dan ahli taurat yang enggan menempuh perubahan hidup.

Apa yang Abraham dan hambanya tempuh saat harus mengambil pilihan dalam hidup dapat menjadi inspirasi bagi kita. Apa saja? Pertama, kesadaran bahwa diri kita terbatas dan memiliki kelemahan sehingga kita harus senantiasa berpijak pada apa yang Allah perintahkan. Kedua, kita mau menetapkan kriteria pilihan yang sesuai dengan kebenaran yang Allah tegaskan. Ketiga, kita mau menempuh proses yang Allah berikan dengan setia di jalan yang benar dan tidak kehilangan pengharapan untuk menerima apa yang dijanjikan Allah.

Saat kita diperhadapkan dengan pilihan-pilihan yang penting dalam hidup, apakah kita mau mengakui kelemahan-kelemahan diri kita? Apakah perintah kasih Allah tetap menjadi yang terutama saat kita menentukan kriteria-kriteria dalam pilihan hidup? Apakah kita mau berproses dalam kesetiaan cinta kasih kepada Allah dan sesama, di jalan yang benar, dalam menantikan jawaban terhadap pergumulan hidup kita?

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 29 Juni 2014

diposkan pada tanggal 25 Jun 2014 01.50 oleh Admin Situs GKI Halimun

“Secangkir Air Sejuk”

Kejadian 22:1-14, Mazmur 13, Roma 6:12-23, Matius 10:40-42

Kasih yang berkorban dan bukan mengorbankan
Kasih yang berasal dari sorga, menolak dengan tegas tindakan kekerasan yang mengorbankan sesama. Sebab, kasih tidak pernah mengorbankan. Kasih itu sejatinya berkorban. Kasih yang sejati selalu memberi dan bukan melulu ingin mendapatkan. Oleh sebab itu jelas sekali, di tengah bangsa-bangsa yang waktu itu dengan begitu mudahnya mengorbankan anak-anak demi mendapat berkah, Allah menyetop tindakan Abraham, sewaktu ia hendak menyembelih Ishak, darah dagingnya sendiri. Apakah di dalam hidup kita sekarang ini, pikiran dan hati kita mau dibanjiri oleh kasih yang berasal dari sorga itu? Kasih yang tidak pernah mengorbankan orang lain, tetapi berkorban demi orang lain.

Tuhan menyediakan pilihan-pilihan

Sebagi ciptaan-Nya, kita diberikan Allah akal budi, hati nurani dan hikmat suci dalam mengambil pilihan-pilihan hidup. Saat mengalami kesusahan dan seolah-olah menjumpai jalan buntu, dengan hikmat suci Allah akan menolong kita untuk menjumpai pilihan-pilihan lain yang dapat kita tempuh. Orang yang serius menghidupi imannya dengan sungguh, tidak cepat menilai keadaan sulit yang dihadapinya sebagai jalan buntu. Sebab dengan iman ia menyadari bahwa pertolongan Tuhan datang dalam bentuk yang tidak terduga. Abraham mengalami itu. Keterbukaannya kepada perintah dan bimbingan Allah, menolong dia untuk melihat seekor domba jantan yang diimaninya disediakan Allah, sebagai pengganti Ishak yang hendak dikorbankan olehnya. Apakah sekarang ini mata, telinga, pikiran dan hati kita cukup peka kepada Firman Allah, sehingga kita dimampukan-Nya menjumpai alternatif-alternatif pilihan yang dapat kita ambil saat sedang mengalami kesusahan?

Iman yang bertumbuh, berkembang dan berbuah
Dengan cara apakah iman dapat bertumbuh, berkembang dan berbuah? Dengan dihidupi dalam berbagai kondisi hidup nyata. Situasi yang menyenangkan dan menyakitkan hati, keberlimpahan dan kekurangan, sukacita dan duka cita, semuanya dapat menjadi sarana bagi pertumbuhan iman. Mengapa Abraham acap kali disebut sebagai bapa orang beriman? Karena di dalam berbagai peristiwa hidup yang ia hadapi, Abraham tidak pernah melepaskan pengharapannya kepada Allah. Abraham mau dituntun dan dibentuk Allah. Apakah dalam situasi hidup nyata iman kita teruji kebenarannya? Apakah kita berkenan untuk dibentuk dan diarahkan hikmat Firman Allah?

Allah hadir memberikan kelegaan
Pemazmur (Mzm 13:1) mempertanyakan kehadiran kuasa Allah saat ia susah. Di mana Allah? Allah setia dengan kasih-Nya. Allah ada. Tetapi memang membutuhkan iman, pengharapan dan kasih untuk menyadari kehadiran-Nya. Kehadiran Allah tidak selalu melenyapkan kesusahan, tetapi Allah juga sering kali hadir dalam bentuk solidaritas, kesediaan-Nya berjalan bersama kita di dalam kesusahan itu. Bukankah itu yang kita imani di dalam kehadiran Tuhan Yesus Kristus di dunia ini? Ia merasakan apa yang dirasakan manusia. Ia menempuh sengsara dan derita untuk menunjukkan keberpihakan-Nya dalam mengangkat kita dari kebodohan dosa. Di dalam Tuhan Yesus Kristus, Allah hadir memberikan kelegaan bagi kita. Apakah sekarang ini kita merasakan Allah begitu jauh? Atau jangan-jangan kita yang terlalu keras hati untuk menyadari kehadiran-Nya yang begitu dekat?

Hidup dalam kelegaan karunia Allah
Sebagai umat perjanjian baru, kita hidup di dalam suasana baru. Kita mengimani bahwa pikiran, hati dan tindakan kita bukanlah hanya milik kita saja, tetapi juga dengan kerelaan, mau menerima intervensi suci karunia cinta kasih Tuhan yang kita amini hadir dalam setiap pembacaan Firman Tuhan. Dalam kelegaan yang diberikan oleh Allah itu kita dimampukan untuk menunjukkan solidaritas, mendukung orang-orang yang sedang berjuang untuk menghadirkan suasana baru yang dipenuhi kasih sebagaimana dikehendaki Allah di tengah dunia ini. “Secangkir air sejuk” (Mat. 10:42), tentu bukan sekadar kita pahami secara harfiah saja. “Secangkir air sejuk”, dapat hadir juga dalam bentuk perhatian, tindakan nyata, dukungan, kerja keras, keterlibatan diri kita untuk menghadirkan kelegaan kepada orang-orang yang mengupayakan kebaikan bagi dunia ini. Kapan terakhir kali anda menyambut pesan sekaligus orang yang membawa pesan demi kebaikan anda sesama? Apa yang menjadi tanggapan anda?

(Pdt. Essy Eisen)


1-10 of 214