Kegiatan‎ > ‎

Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Jika Anda ingin berlangganan isi renungan warta melalui email, silahkan daftarkan email anda di sini.

Waktu berkualitas untuk keluarga

diposting pada tanggal 9 Okt 2017 06.05 oleh Admin Situs

Yakobus 4:13-17

Kita semua mendapat anugerah berupa durasi waktu yang sama dari Tuhan, sehari 24 jam. Jika dikurangi 8 jam untuk istirahat, sisanya 16 jam. Dikurangi 8-10 jam untuk bekerja, transportasi dan lain-lain, maka katakanlah ada kurang lebih ada 4 jam waktu yang dapat kita manfaatkan secara kuantitas dalam kebersamaan bersama keluarga di setiap hari kerja. Pada hari libur, tentu jumlah waktu bersama secara kuantitas bertambah. Waktu adalah harta yang berharga yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya! Kegagalan untuk menggunakan waktu yang ada, dapat menimbulkan kekecewaan, kesedihan dan penyesalan kelak.

Selain secara kuantitas, ada yang dinamakan “waktu berkualitas”. Artinya, walaupun tidak dijalani dalam durasi yang lama dan dengan intensitas yang banyak, hasil yang didapatkan tetap berdampak baik. Jadi, walaupun 1 jam atau bahkan 5 menit sekalipun, relasi yang hangat, komunikasi yang membangun, perhatian yang nyata, tetap dapat terjadi. Ini pasti membutuhkan latihan, keseriusan, ketulusan, kesepakatan, ketekunan dan tentu kasih yang selalu memberi supaya menjadi kenyataan. Minggu ini kita belajar dan berproses untuk mewujudkannya. Mari, pakailah waktu anugerah Tuhan dengan bijaksana.
  1. Dengan apa penulis surat Yakobus menggambarkan kehidupan?
  2. Apa yang harus dilakukan oleh seorang beriman saat merencanakan sesuatu pada masa yang akan datang
  3. Kecongkakkan dan kemegahan diri seperti apa yang harus dihindari orang beriman?
  4. Apa ciri-ciri seorang yang berdosa menurut penulis surat Yakobus?
  5. Bagaimana kita memanfaatkan waktu sehingga menjadi berkualitas dalam membangun relasi yang sehat di tengah keluarga kita?
Minggu 15 Oktober 2017
EE

Relasi yang sehat

diposting pada tanggal 6 Okt 2017 22.35 oleh Admin Situs

Kejadian 27:1-29 

Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk sosial yang hidup dalam relasi/hubungan satu sama lain. Tidak ada seorang pun yang dapat hidup tanpa kehadiran orang lain. Itulah salah satu makna kehidupan ketika Tuhan menjadikan hawa sebagai pendamping bagi Adam. Oleh sebab manusia adalah makhluk sosial maka mau tidak mau komunikasi menjadi hal yang penting bagi kehidupan manusia, termasuk di dalam kehidupan keluarga. 
  1. Apa yang Ishak minta dari Esau? 
  2. Apa yang Ribka minta dari Yakub? 
  3. Apa yang membuat Ishak memberkati Yakub? 
  4. Apakah komunikasi keluarga Ishak baik? Mengapa? 
  5. Apa dampak komunikasi buruk di keluarga kita? Bagaimana cara memperbaikinya?
Minggu 8 Oktober 2017
NS

Ibadah Keluarga

diposting pada tanggal 27 Sep 2017 10.59 oleh Admin Situs

2 Timotius 1:1-5

Selama sebulan ini, sebagaimana umumnya di lingkungan GKI Sinode Wilayah Jawa Barat, kita merayakan bulan keluarga. Bulan ini adalah waktu bagi kita untuk selalu belajar menjadi keluarga yang membiarkan Tuhan menjadi “Tamu terhormat yang tetap tinggal” di dalam rumah tangga kita. Walau hanya sebulan, tentu ini harus berlanjut pada bulan-bulan berikutnya juga, sehingga menjadi kebiasaan yang pada akhirnya menjadi karakter bagi keluarga kita.

Oleh sebab itu baiklah kita memulainya dengan menyadari pentingnya ibadah atau kebaktian yang diadakan oleh keluarga. Maksudnya, bukan kebaktian wilayah atau kebaktian sesekali di rumah, tetapi ibadah harian setiap hari, di tengah keluarga, dan diadakan oleh keluarga kita sendiri. Ini menjadi kesempatan yang perlu, supaya kita dapat bersekutu bersama di sekitar Firman Tuhan, saling mendoakan, mendukung dan membiarkan anugerah kuasa kasih Tuhan mencerahi segenap langkah hidup kita bersama keluarga.

Apa yang dapat kita lakukan di dalam ibadah keluarga? Surat Paulus kepada Timotius mencerahi kita dengan beberapa gagasan indah:

1. Sadar peran yang diberikan Tuhan bagi kita (2 Tim. 1:1)
Sebagai rasul Kristus Yesus, Paulus memperkenalkan dirinya kepada Timotius. Penegasan ini tentu bukan untuk gagah-gagahan atau menunjukkan wibawa, tetapi Paulus sadar betul akan peran yang dipercayakan Allah kepadanya, dan berupaya menjalankan peran itu dengan baik. Kita semua mendapat peran, sebagai ayah, ibu, suami, isteri, oma, opa, mertua, menantu, anak, cucu, di dalam keluarga. Sadarkah kita akan peran yang diberikan Allah untuk kita jalani dengan baik di tengah keluarga? Bagaimanakah Anda menjalankan peran Anda selama ini di tengah keluarga Anda?

2. Mengucapkan berkat dan bukan kutuk (2 Tim. 1:2)
Paulus sadar betul bahwa kata-kata berkat memiliki kuasa yang menguatkan ketimbang kata-kata berdasarkan gagasan sendiri apalagi kata-kata yang negatif. Di tengah keluarga, ucapan yang menunjukkan apresiasi, penghargaan, dukungan akan jauh lebih membangun satu sama lain ketimbang keluhan, gerutu, tuntutan, atau adu gagasan yang hanya akan melahirkan debat. Sudahkah Anda mengucapkan berkat Tuhan bagi anggota keluarga Anda? Sadarkah Anda akan pengaruh mematikan dari kata-kata negatif dan kutukan?

3. Bersyukur kepada Allah (2 Tim. 1:3)
Kekuatan kita dalam menjalankan peran kita dalam hidup ini, termasuk di dalam keluarga sumber kekuatannya dari Allah, bukan semata kekuatan kita saja. Oleh sebab itu, yang tidak boleh dilupakan atau diabaikan adalah bersyukur kepada Allah. Bersyukur di dalam doa. Bersyukur lewat nyanyian pujian. Bersyukur dalam tindakan. Kapan terakhir kali Anda bersyukur kepada Allah atas peran yang dipercayakan kepada Anda? Melalui cara apa Anda bersyukur kepada Allah?

4. Bersyukur atas kehadiran orang lain (2 Tim 1:3)
Paulus selalu mengingat Timotius dalam doanya. Bagi Paulus, kehadiran Timotius bukan kebetulan. Walau banyak tugas penginjilan, ingatan dan perhatian kepada Timotius tidak pernah hilang. Ini menjadi teladan baik yang patut kita ikuti. Di tengah kesibukan kita, apakah kita selalu mengingat setiap orang dalam anggota keluarga kita dan mendoakan mereka? Kapan terakhir kali Anda mendoakan setiap orang di dalam anggota keluarga Anda?

5. Sedih kala berpisah, senang saat bersama (2 Tim. 1:4)
Perangkat teknologi informasi dan komunikasi dapat menggoda kita menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Acap kali bahkan kita lebih senang berada dengan orang yang jauh dari kita, ketimbang keluarga sendiri. Itu bahaya! Sebaliknya, lihatlah Paulus, ia selalu rindu untuk bersama-sama dengan Timotius yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. Apakah Anda rindu untuk selalu berada di tengah-tengah keluarga dan berjumpa dengan anggota keluarga Anda? Bagaimana cara Anda melepaskan kerinduan?

6. Mempertahankan tali iman dan kasih supaya tidak putus (2 Tim. 1:5)
Paulus mengingatkan Timotius supaya jalinan tali iman dan kasih yang sudah terbangun tidak putus. Ini penting bagi setiap keluarga Kristen. Walaupun sudah dewasa dan memiliki keluarga sendiri, para orang tua jangan takut untuk mengingatkan anak-anak mereka untuk selalu ikut Tuhan dan menjadi teladan yang benar dalam mewariskan iman kepada anak-anak. Kapan terakhir kali Anda mengingatkan anggota keluarga Anda untuk setia mengikut Tuhan? Bagaimana cara Anda mengingatkan mereka?

Demikianlah pencerahan spiritual yang dapat kita ambil dari penggalan surat Paulus untuk Timotius. Segeralah mengadakan ibadah keluarga. Jangan ditunda-tunda, jangan malu-malu. Kekuatan kuasa Roh Kudus akan menolong Anda untuk memulainya. Allah baik! 

Minggu 1 Oktober 2017
EE

Mensyukuri Hidup

diposting pada tanggal 22 Sep 2017 07.42 oleh Admin Situs

Yunus 3: 10 - 4: 11

Hidup yang kita jalani pada dasarnya adalah anugerah Allah. Kita senang saat menerima kemurahan Allah dalam rupa-rupa kebaikan yang kita terima. Namun tak jarang kita bersungut-sungut saat melihat orang lain mendapat anugerah yang lebih besar dari yang kita dapatkan, atau bahkan kita marah saat tidak mendapat apa yang kita harapkan. Akibatnya kita tidak bersyukur dengan berbagai kebaikan dari Allah yang kita miliki dan alami.
  1. Tugas apa yang harus Yunus kerjakan di kota Niniwe? 
  2. Apa yang membuat Yunus kesal dan marah terhadap Allah? 
  3. Hal-hal apa saja yang membuat kita sulit untuk bersyukur? 
  4. Apakah dampak ucapan syukur dalam kehidupan kita? 
Syukur adalah cara paling bijak untuk merasa lebih 
meski kita berada dalam kekurangan dan keterbatasan

Minggu 24 September 2017
NS

Melepaskan Maaf

diposting pada tanggal 14 Sep 2017 00.18 oleh Admin Situs

Kejadian 50:15-21

Tidak ada orang yang menyimpan keranjang yang penuh sampah yang sudah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun di dalam kamar tidurnya sendiri. Sebab selain berbau, sampah itu akan menimbulkan masalah kesehatan bagi yang ada di dalam kamar itu. Demikian juga kekesalan, amarah, kebencian, sakit hati, apalagi dendam, tidak boleh disimpan di dalam pikiran dan hati berlarut-larut. Apa-apa yang tidak memberikan damai dan sejahtera itu harus dilepaskan, harus dibuang.

Melepaskan maaf, atau tepatnya memberikan pengampunan adalah bentuk yang paling nyata dari kasih yang berkorban. Kasih yang suci. Ini bukan perkara yang mudah, tetapi bukan mustahil untuk dilakukan. Orang yang sudah mengalami “perjumpaan” dengan Tuhan, menikmati kuasa kasih, berkat dan pengampunan dari Tuhan, biasanya tidak sulit untuk memberikan pengampunan. Orang-orang yang sedemikian tidak hidup di masa lampau, tetapi hidup pada masa kini dan berpengharapan untuk “membangun jembatan damai sejahtera” ketimbang “meninggikan tembok dendam” yang hanya akan menyusahkan dirinya sendiri dan orang lain.

Memang, memberikan pengampunan tidak berarti menerima dan mengabaikan tindakan kejahatan. Keadilan dan kebenaran selalu harus ditegakkan. Orang yang memberi pengampunan tentu sadar akan hal ini. Tetapi di dalam memberikan pengampunan, ia “melampaui” apa yang biasa dilakukan orang kebanyakan. Dengan memberikan pengampunan, ia sedang menolong orang yang bersalah kepadanya untuk turut merasakan pengampunan dari Tuhan dan memberikan kesempatan yang baru untuk sungguh-sungguh bertobat dalam menjalani masa depan yang baru dengan mental dan sikap hidup yang baru, sebagaimana yang Tuhan Yesus ajarkan dan teladankan.
  1. Apa yang dikhawatirkan saudara-saudara Yusuf? (Kej. 50:15) Jalan apa yang kemudian mereka tempuh? (Kej. 50:16-18) 
  2. Jika Anda sudah melakukan kesalahan kepada orang lain, apa-apa saja yang akan Anda tempuh untuk berbaikan dengan orang yang telah Anda sakiti itu? 
  3. Apa yang kemudian dilakukan Yusuf kepada saudara-saudaranya? (Kej. 50:19-21) 
  4. Jika orang yang sudah bersalah kepada Anda memohonkan maaf dan ampunan kepada Anda, apakah yang Anda lakukan terhadapnya? 
  5. Menurut Anda sendiri, apakah Anda itu termasuk orang yang pemaaf dan pengampun atau pembenci dan pendendam? Mengapa demikian?
Minggu 17 September 2017
EE

Menolak diam

diposting pada tanggal 14 Sep 2017 00.14 oleh Admin Situs

Yehezkiel 33:1-20 

Banyak orang memilih diam terhadap kejahatan, pilihan untuk diam mungkin terjadi karena takut dan tidak mau repot, apalagi mengambil resiko akan memiliki musuh dan mendapat tekanan. Sementara itu pada saat yang sama, mereka membicarakan perbuatan jahat tersebut, sembari tidak jarang mengutukinya.

Kita membutuhkan lebih banyak lagi orang yang peka terhadap kejahatan/dosa. Bukan hanya menegur, tetapi juga memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, meski jalan itu tidak mudah dan beresiko. Indonesia tidak kekurangan orang baik. Persoalannya, banyak orang baik hanya berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa. Menjadi orang baik saja, ternyata tidak cukup. Kita harus menolak kejahatan, termasuk menegur dan bertindak atas para pelaku kejahatan.
  1. Tugas apa yang TUHAN berikan kepada Yehezkiel? 
  2. Apa makna dari perumpamaan penjaga kota bagi umat saat itu? 
  3. Apakah peringatan TUHAN melalui Yehezkiel berarti berita tentang penghukuman? Atau justru berita pengampunan dosa? 
  4. Di tengah kondisi Indonesia yang saat ini dipenuhi “silent majority” apa tindakan konkrit menolak diam terhadap kejahatan yang dapat saudara lakukan? 
Minggu 10 September 2017
NS

Memahami Allah?

diposting pada tanggal 6 Sep 2017 08.34 oleh Admin Situs

Yeremia 15:15-21

Apakah kita dapat memahami Allah? Jawabannya tidak sederhana. Tentu saja dapat. Allah telah memperkenalkan diri-Nya melalui kehadiran Anak-Nya, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat Dunia. Jika kita ingin memahami-Nya, maka lihatlah apa yang dikerjakan, dikatakan dan diajarkan Tuhan Yesus.

Tetapi meskipun demikian, sejatinya kita tidak dapat dengan penuh memahami Allah. Allah memiliki rencana-Nya sendiri. Allah memiliki kehendak-Nya sendiri juga. Lalu apakah kita menjumpai jalan buntu dalam memahami Allah sepenuhnya? Melalui pengalaman nabi Yeremia, kita tahu, bahwa memahami Allah sangat amat mungkin.

Tetapi kita memang harus berproses. Proses yang dijalani dengan serius dan penuh pemaknaan. Proses yang ditempuh melalui peristiwa kehidupan yang kita alami. Pada saat-Nya, Allah akan menyatakan dengan jelas bagaimana Ia harus dipahami dan betapa bahagianya kita bahwa saat itu terjadi ternyata semuanya berujung pada apa yang baik di dalam hidup kita.
  1. Apa yang terjadi dengan Yeremia di dalam bacaan kita hari ini? Apa yang menjadi kegelisahan dalam dirinya? (Yer. 15:15) 
  2. Bagaimana Yeremia menjalankan kehidupannya selama ini? (Yer. 15:16-17) Tetapi apa yang Yeremia rasakan? (Yer. 15:18) 
  3. Apa jawaban Tuhan kepada Yeremia? (Yer. 15:19-21) 
  4. Dalam keseharian hidup, bagaimana Anda menjalankan proses untuk memahami Allah? 
  5. Adakah peristiwa hidup yang membuat Anda semakin memahami cara Allah bekerja? 
  6. Bagaimanakah Anda menjelaskan kepada orang lain tentang bagaimana cara memahami Allah dan bagaimana cara Ia bekerja dalam kehidupan manusia?
Minggu 3 September 2017
EE

GKI Berkarya Dalam Keberagaman

diposting pada tanggal 26 Agt 2017 10.58 oleh Admin Situs

Roma 12: 1 - 8

Gereja Kristen Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Konteks GKI adalah konteks Indonesia, kita hidup bertumbuh dan berkarya di Indonesia karena kita adalah bagian dari Indonesia. Karena itu hal yang tak bisa dipungkiri adalah keragaman. 

Indonesia dianugerahi oleh Tuhan dengan keragaman yang mewujud dalam kebudayaan, bahasa dan nilai-nilai hidup yang khas di masing-masing tempat. Demikian pula dengan GKI, meskipun awalnya adalah gereja berbasis Tionghoa, namun seiring berjalannya waktu GKI melebar melampaui batasan basis satu etnis, keragaman menjadi sesuatu yang niscaya dalam GKI. 

Di ulang tahun penyatuan GKI yang ke 29, GKI harus semakin berdampak terhadap Indonesia dalam keberagamannya. DIRGAHAYU GEREJA KRISTEN INDONESIA

  1. Perbedaan-perbedaan apa yang biasanya muncul di gereja dan menjadi sumber konflik?
  2. Konflik apa yang nampak dalam Roma 12: 1 - 8?
  3. Bagaimanakah tanggapan Paulus tentang keragaman yang ada di jemaat Roma?
  4. Di tengah kondisi Indonesia yang semakin retak akibat lunturnya pluralitas, hal apakah yang dapat gereja lakukan untuk memperkokoh persatuan bangsa? 
Minggu 27 Agustus 2017
NS

Indonesia Bersyukur

diposting pada tanggal 19 Agt 2017 11.08 oleh Admin Situs


Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat kaya. Bangsa ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat berlimpah baik di laut dan daratan. Selain itu, keragaman suku, etnis, budaya, bahasa, keyakinan, dan sebagainya menambah kekayaan bangsa Indonesia.

Namun, rasa syukur tersebut belum cukup jika kita melupakan panggilan utama gereja di tengah dunia untuk mempersaksikan cinta kasih Allah di tengah-tengah dunia. Indonesia, yang menjadi tempat Tuhan menempatkan kita, merupakan tempat bagi kita mempersaksikan cinta kasih Allah. Maka sudah sepatutnya kehadiran kita sebagai gereja membuat warga Indonesia bersyukur atas cinta kasih Allah yang mereka rasakan lewat kehadiran kita.

Refleksi atas Mazmur 67 justru menyadarkan kita mengenai rasa syukur. Ketika kita sudah merasakan berkat Allah atas bangsa Indonesia, maka ungkapan syukur kita seharusnya diwujudkan ketika kita mengerjakan segala hal yang bermanfaat bagi negara ini, termasuk bagi masyarakat yang tinggal di tanah Indonesia. Rasa syukur kita seharusnya mendorong diri untuk bekerja dan berkontribusi memperbaiki dan membenahi kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki bangsa ini. Dengan demkian, kehadiran kita sebagai anak-anak Tuhan membuat Indonesia semakin menyatakan syukurnya kepada Allah. Inilah ungkapan syukur yang sejati.

Oleh karena itu, moment peringatan HUT RI ke-72 ini mengajak kita untuk menyadari bahwa ungkapan syukur terhadap Indonesia diwujudkan dengan kehadirannya yang dapat memberi dampak bagi Indonesia, termasuk bagi masyarakat yang ada di sekitar. Seperti para pahlawan yang menempatkan kehadirannya di Indonesia supaya berguna untuk segenap rakyat Indonesia, kita pun diajak untuk memiliki spirit yang serupa. Kita dapat mewujudkannya melalui dua sikap.
  1. Pertama, menyatakan keadilan. Menyatakan keadilan dapat dilakukan ketika kita tidak membeda-bedakan orang lain, tidak mem-bully orang yang berbeda dari kita, tidak memilih-milih rekan karena perbedaan etnis, budaya, agama, dan sebagainya. Kita perlu belajar untuk menjadi kita yang tidak mudah merendahkan atau menyalahkan orang lain tetapi justru tampil sebagai kita yang mau menolong orang lain. 

  2. Kedua, menuntun kehidupan bangsa dengan cara membantu pembangunan bangsa ini. Hal ini dapat kita lakukan dengan cara bangga menggunakan produk-produk dalam negeri, menyekolahkan anak ke luar negeri bukan karena ingin “gaya” tetapi karena ingin mereka membawa pulang ilmu yang lebih luas ke Indonesia dan menggunakannya untuk membangun negeri. Kita juga dapat membantu masyarakat yang ada di sekitar kita (tetangga, orang-orang yang sering kita temu sesehari, dan sebagainya.) supaya mereka dapat merasakan hidup yang lebih damai dan sejahtera. 
Jika hal-hal tersebut telah dan sedang kita lakukan, maka dengan bangga kita akan dapat berteriak: “DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA”

Minggu 20 Agustus 2017
NS

Harmoni dalam keberagaman

diposting pada tanggal 12 Agt 2017 08.25 oleh Admin Situs

Yesaya 11: 1 - 10

Tuhan Allah menciptakan manusia dengan beragam keunikannya. Tidak ada manusia yang kepribadiannya sama persis, sekalipun mereka kembar. Dalam peristiwa Menara Babel (Kejadian 11:1-9), tercatat Tuhan mengacaukan bahasa manusia dan menyerakkan mereka ke seluruh bumi. Keberagaman suku, bangsa, dan bahasa dipandang oleh penulis Alkitab awal sebagai suatu akibat ketidakpatuhan manusia. Namun, dalam tulisan nabi- nabi Israel kemudian hari (seperti Yesaya), keberagaman tersebut dipandang lebih positif. Bahkan suatu hari nanti mereka yakin segala bangsa akan dapat hidup rukun kembali dan inilah yang sebetulnya dikehendaki Tuhan.
  1. Siapakah tunas dari tunggul Isai yang dibicarakan dalam ayat 1? 
  2. Bagaimanakah tunas tersebut bertindak dalam menghadapi orang lemah dan orang fasik (ayat 4)
  3. Apakah dampak dari tindakan sang tunas bagi segala ciptaan (ayat 6-8)? 
  4. Apakah gambaran dalam ayat 6-8 tersebut merupakan suatu kiasan ataukah suatu deskripsi kenyataan? Jika merupakan suatu kiasan, apa kira-kira maknanya? Jika suatu deskripsi kenyataan, apa maksudnya? 
  5. Apa yang dimaksudkan oleh Yesaya dengan, “seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN”? Apakah itu sudah mulai terjadi atau sudah semakin jauh dari kenyataan? 
  6. Apakah perbedaan peran dari “taruk Isai” pada ayat 10 dengan peran yang dicatat dalam ayat 4? Mengapa ada perbedaan itu?
Minggu 13 Agustus 2017
AS

1-10 of 377