Kegiatan‎ > ‎

Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Yesus sahabat sejati

diposkan pada tanggal oleh Admin Situs

Lukas 24:13-35

Persahabatan adalah sebuah relasi yang memberi dukungan di antara orang-orang yang bersahabat. Yang menarik, pola tersebut tidaklah berkembang dengan sendirinya di antara manusia, tetapi di dalam campur tangan Allah. Pada permulaan jaman, Allah memberikan hawa sebagai sahabat bagi Adam. Pada puncaknya, Ia mengutus Yesus Kristus menjadi sahabat bagi manusia.

Pengorbanan Yesus di kayu salib adalah cara yang dipilih Allah untuk membuka jalan bagi terjalinnya kembali relasi yang intim antara Allah dan manusia; sebuah relasi yang memberi dukungan utuh dalam menjalani hidup di dunia.

Melalui pemahaman, pemaknaan dan pengalaman berelasi dengan Allah itulah, orang percaya mempunyai landasan yang kokoh untuk berelasi dengan sesama.
  1. Kisah Emaus pun mengajarkan kepada kita tentang Yesus yang senantiasa menjadi sahabat manusia. 
  2. Apa yang dapat menyebabkan orang menjadi muram, letih atau lesu? 
  3. Kesedihan apa yang saudara lihat dalam kisah Emaus? 
  4. Apa yang Yesus lakukan untuk memulihkan semangat Kleopas? 
  5. Dalam situasi apa saudara merasakan kehadiran Tuhan sebagai sahabat? 
  6. Apa saudara telah menjadi sahabat bagi Kristus? Bagaimana caranya? 
  7. Apa kaitan menjadi sahabat bagi Kristus dengan menjadi sahabat bagi sesama? 
Minggu 30 April 2017
NS

Kristus bangkit, kerjakanlah panggilanmu

diposkan pada tanggal 25 Apr 2017 08.59 oleh Admin Situs

Kisah Para Rasul 2:14,22-32;Mazmur 16;1 Petrus 1:3-9;Yohanes 20:19-31

“Kristus bangkit!”, itulah optimisme pengikut Kristus pada periode awal hingga kini tetap berkumandang. Kebangkitan Kristus merupakan kesaksian iman orang percaya dalam masa awal hadirnya gereja dan bahkan mendorong pelayanan dan kesaksian gereja sepanjang masa.

Iman kepada Kristus yang bangkit menjadi harapan untuk mengobarkan semangat gereja untuk menjalani kehidupan dengan keberanian.

Dalam suasana sukacita di hari raya Paskah, umat percaya diingatkan ulang bahwa kematian dan kebangkitan Kristus adalah kehendak Allah dalam mendamaikan kita dengan diri-Nya, dan dengan demikian telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kita (2 Kor. 5:18).

Karya pendamaian tersebut merangkum hubungan Allah dengan manusia dan dengan alam semesta (Kol. 1:20). Artinya, keselamatan itu tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh alam semesta. Semua dilakukan-Nya dalam kasih-Nya yang tidak membiarkan manusia dan seluruh ciptaan-Nya binasa.

Paskah selalu membangkitkan pengharapan, kekuatan dan semangat baru bagi kita untuk memberikan diri kita diperdamaikan oleh Allah, oleh sebab itu kita dimampukan untuk melanjutkan perjalanan hidup secara harmonis bersama Tuhan, maupun dengan sesama dan seluruh makhluk ciptaan.

Tema di atas sangat relevan dengan pergumulan hidup kita saat ini di dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan.

Gereja berada di tengah masyarakat majemuk yang sedang mengalami perubahan yang cepat. Banyak hal menggembirakan yang telah dicapai di tengah perubahan tersebut. Namun tak sedikit juga keprihatinan yang kita hadapi.

Salah satu keprihatinan utama adalah konflik yang semakin merebak di tengah masyarakat, yang pada gilirannya merusak relasi antar manusia dan relasi manusia dengan alam.

Kecenderungan sedemikian juga terjadi di tengah-tengah kehidupan dan pelayanan gereja. Ada gereja-gereja yang mengalami ketidak-harmonisan bahkan perpecahan, karena rusaknya relasi antar jemaat yang satu dengan yang lain.

Gaya hidup yang semakin konsumtif tidak jarang menjauhkan pribadi yang satu dari yang lain dan merusak alam, misalnya membuang sampah sembarangan dan menggunakan air berlebihan. Keadaan inilah menjadikan relasi dengan Allah, sesama manusia dan alam menjadi rusak.

Marilah kita renungkan : Allah adalah Kasih, bagaimana respon nyata kita sebagai pengikut-Nya ?

Minggu 30 April 2017
BM

Kebangkitan-Nya menjawab keraguanku

diposkan pada tanggal 19 Apr 2017 11.39 oleh Admin Situs

Lukas 24:33-45

Ragu terhadap sesuatu adalah hal yang dapat dialami oleh siapapun. Persoalannya adalah apakah yang kemudian kita lakukan di kala berada dalam posisi yang seperti itu? Apakah kita membiarkan keraguan itu terus menguasai hidup, atau kita segera berupaya mencari jawab atas keraguan itu? Keraguan bukanlah hal yang tabu. Bahkan keraguan dapat menuntun seseorang pada kebenaran yang lebih dalam dari sebelumnya. Asalkan keraguan itu tidak dibiarkan berlarut menguasai hidup, melainkan dipakai sebagai jembatan untuk mencari jawab dan kebenaran.
  1. Pernahkah saudara meragukan karya Yesus dalam kehidupan ini? 
  2. Apa dampak keraguan tersebut bagi hidup saudara? 
  3. Bagaimana cara mengatasi keraguan yang timbul dalam hati saudara? 
  4. Langkah-langkah apa yang biasanya saudara lakukan untuk meyakinkan diri kembali? 
  5. Apa kaitan peristiwa kebangkitan Yesus dengan keraguan saudara akan karya Allah di masa kini? 
Minggu 16 April 2017
NS

Penderitaan yang memerdekakan

diposkan pada tanggal 8 Apr 2017 10.03 oleh Admin Situs

Mazmur 118:1-2, 19-29; Matius 21:1-11

Minggu ini merupakan peringatan Minggu Palmarum, yakni peristiwa masuknya Yesus Kristus ke dalam Kota Yerusalem. Di Kota dan minggu inilah, Tuhan Yesus menjalani penderitaan-Nya untuk menebus dosa umat manusia. Minggu ini juga memulai Pekan Suci yang berisi hari-hari peringatan paling penting bagi karya Yesus Kristus di dunia: Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah.

Mazmur 118: 1-2, 19-29
  1. Apakah gambaran yang terdapat di Mazmur ini bisa digolongkan sebagai nubuat dari peristiwa masuknya Yesus ke Kota Yerusalem? 
  2. Siapakah yang dimaksud dengan “Batu yang dibuang oleh tukang tukang bangunan”? 
  3. Mengapakah Pemazmur membuat ajakan untuk bersorak-sorak dan bersukacita? 
Matius 21: 1-11 
  1. Apa persiapan yang Yesus lakukan sebelum masuk ke Yerusalem? Apa peran murid-murid-Nya dalam persiapan itu? 
  2. Mengapa Ia perlu membuat persiapan itu? 
  3. Apa makna sambutan orang banyak kepada Yesus (ayat 9)? 
  4. Bagaimanakah sikap Yesus dalam menghadapi penderitaan yang pasti akan menimpa-Nya di Yerusalem? 
  5. Persiapan apa yang kita, sebagai murid-murid Yesus, perlu buat dalam rangka menyambut Pekan Suci? 
  6. Bagaimanakah sikap kita menghadapi penderitaan yang mungkin muncul dalam rangka menjadi murid Yesus Kristus? 
Minggu 9 April 2017
AS

Hidup dalam kasih-Nya

diposkan pada tanggal 29 Mar 2017 12.46 oleh Admin Situs

Yehezkiel 37:1-14, Mazmur 130, Roma 8:6-11, Yohanes 11:1-45

Kasih Allah itu berkuasa memulihkan kehidupan yang rusak karena kebodohan dosa. Karena kuasa kasih Kristus yang nyata melalui kehadiran Roh-Nya, setiap orang yang percaya tetap memiliki pengharapan untuk bangkit dari keterpurukan hidup. Bukan hanya itu. Roh Kristus memampukan orang yang percaya untuk cakap memilah dan memilih segenap tindakan yang berujung pada kehidupan. Orang yang mau hidup dalam kasih-Nya itu akan dianugerahkan Allah kekuatan untuk tangguh menghadapi segenap penderitaan yang datang dan tetap setia melakukan kasih. Tidak ada yang dapat menghentikan kasih Allah dinyatakan. Bahkan maut sekalipun tidak dapat menghentikan kasih Allah yang memulihkan itu.
  1. Pada waktu umat Israel berada negeri lain karena dibuang penjajah, jauh dari kampung halaman, berpotensi kehilangan pengharapan, berlarut-larut dalam kesedihan, nabi Yehezkiel mendapatkan penglihatan. Apa yang diperlihatkan Allah kepadanya? (Yeh. 37:1-10) Apa arti dari penglihatan itu? (Yeh. 37:11-14) 

  2. Saat Anda kehilangan semangat karena melihat keadaan yang menjengkelkan atau mengalami situasi yang tidak Anda harapkan, hal apa yang membuat semangat Anda bangkit kembali? Apakah Firman Allah memiliki andil dalam membangkitkan semangat Anda? Dengan cara seperti apa? 

  3. Ada yang diserukan Pemazmur saat ia mengalami kesusahan. Apa yang menjadi penyebab kesusahannya? (Mzm. 130:3-4) Apa yang akan dilakukan Pemazmur seiring permohonannya kepada Allah? (Mzm. 130:5-6) Apa pesannya kepada saudara-saudaranya saat mengalami kesusahan? (Mzm. 130:7-8) 

  4. Menurut Anda apa manfaat yang didapat dari seseorang yang memiliki pengharapan? Apa yang membedakan pengharapan dengan khayalan? 

  5. Paulus menasihatkan gereja Tuhan untuk mewaspadai tabiat manusia yang memiliki kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri dan menolak bimbingan Roh Allah (Rm. 8:6-9) Bagi Paulus, gereja Tuhan harus memilih kehidupan. Bagaimana caranya? (Rm. 8:10-11) 

  6. Apakah Anda cukup peka untuk mengendalikan keinginan yang buruk dan jahat dalam diri Anda selama ini? Bagaimana caranya? 

  7. Walaupun banyak orang yang keras hati di Yudea berhasrat untuk melenyapkan Yesus, Ia tetap datang ke sana untuk menjenguk Lazarus yang sakit. (Yoh. 11:8, Yoh. 11:1-4) 

    Karena kasih-Nya, Yesus selalu memberikan apa yang baik menurut kehendak Bapa bukan hanya untuk Lazarus dan keluarga, tetapi bagi banyak orang yang mau diajar-Nya. (Yoh. 11:9-16)

  8. Dalam duka cita yang dialami keluarga Lazarus, kepedulian Yesus nyata. Ia menghadirkan pengharapan dan kasih yang memulihkan. (Yoh. 11:17-36) Apa yang Yesus lakukan untuk memulihkan kehidupan Lazarus, Marta dan Maria? (Yoh. 11:37-44). Apa dampak dari karya Yesus bagi orang yang menyaksikan pemulihan hidup itu? (Yoh. 11:45) 

  9. Kabar baik apa yang Anda dapatkan dari kisah ini? Apa yang menjadi bekal hidup bagi Anda saat menghadapi peristiwa duka cita? Hikmat apa yang Anda dapat saat menyimak kisah ini terkait tentang bagaimana seseorang bangkit dari keterpurukan hidup? 
Minggu, 2 April 2017
EE

Melihat tetapi buta

diposkan pada tanggal 24 Mar 2017 09.54 oleh Admin Situs

1 Samuel 16:1–13; Mazmur 23; Efesus 5:8–14; Yohanes 9:1–41

Pendeta Jeremiah Steepek, mengisahkan pengalamannya pada saat dia diperkenalkan pada satu jemaat dimana dia nanti menjadi gembala jemaat di gereja itu. Satu jam lebih awal, ia datang ke gereja dengan berpura-pura berpenampilan sebagai seorang gelandangan. Ia berjalan keliling mencari tempat duduk dan mendekati umat yang mulai berdatangan, tetapi sayang hanya tiga orang yang menyapa “Hello“ kepadanya. Tidak lama setelah itu, iapun maju ke depan dan duduk dikursi paling depan, iapun segera diusir dan duduk di barisan belakang. Banyak mata yang menatapnya dengan pandangan yang sangat merendahkan dan menghakiminya.

Tiba saatnya diumumkan Gembala baru yang akan bertugas di gereja tersebut, dan hal ini sangat dinanti-nantikan oleh umat yang hadir, mereka berdiri dan bertepuk tangan. Seorang yang berpenampilan gelandangan berdiri dan berjalan menuju mimbar. Semua mata terbelalak dan kaget. Orang yang maju ke depan itu tidak lain adalah seorang pendeta senior “Jerimiah Steepek“. Mereka semua tertunduk malu.

Nabi Samuel hampir terperangkap pada penampilan fisik anak-anak Isai yang lain karena tampak gagah dan berperawakan tinggi dibanding Daud yang masih muda belia. Allah menegur nabi Samuel “bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati”. Allah mengajak Samuel untuk tidak menggunakan cara pandangnya sendiri, tetapi Allah ingin Samuel menggunakan cara pandang Allah.

Orang Farisi gagal melihat karya Yesus sebagai anak Allah yang datang dari sorga atas penyembuhan orang yang buta sejak lahir, sebaliknya orang yang buta matanya melihat Yesus yang sesungguhnya dan mengakuinya sebagai Tuhannya (Yohanes 9 : 38).

Kenyataannya, kita kadang bersikap dan bertindak seperti Samuel dan orang Farisi. Dalam mengambil keputusan, kita acapkali menggunakan cara pandang kita. Benarkah demikian?

Pertanyaan :
  1. Kemana Samuel diutus oleh Allah? misinya untuk apa? 
  2. Mengapa hanya Daud, anak bungsu yang disuruh diurapi oleh Tuhan dan bukan salah seorang dari saudaranya Daud?
  3. Daud menulis pengalamannya sendiri karena dia telah menjalani tahun-tahun awalnya dengan menggembalakan domba. Mengapa Daud menggambarkan Tuhan itu sebagai gembala? 
  4. Bagaimana kita menggambarkan Yesus sebagai Gembala yang baik (Yohanes 10 : 11) dan Gembala Agung (Ibrani 13 : 20), dan kita adalah domba-domba-Nya?
  5. Mengapa Tuhan menyuruh setiap orang yang percaya harus hidup sebagai anak- anak terang ? (Efesus 5 : 8) 
  6. Ketika Yesus mengoleskan tanah yang telah diaduk di mata orang buta itu dan disuruh pergi membasuh dirinya dalam kolam Siloam, kesembuhan belum terjadi (Yohanes 9 : 6). Dan setelah membasuhkan dirinya dalam kolam, baru terjadi penyembuhan, melek matanya (Yohanes 9 : 7). Bagaimana kita memaknai peristiwa itu di dalam kehidupan kita? 
  7. Mengapa orang Farisi selalu gagal melihat Tuhan Yesus dalam karya-Nya sebagai Mesias yang dinanti-nantikan oleh segenap umat Israel? 
Minggu 26 Maret 2017
JMW

Hidup dalam anugerah Allah

diposkan pada tanggal 24 Mar 2017 09.47 oleh Admin Situs

Mazmur 95

Mazmur 95 merupakan mazmur puji-pujian dan juga undangan untuk beribadah kepada Tuhan. Mazmur ini masuk juga kedalam kumpulan mazmur 90-106 yang memberikan penekanan pada ibadah umat Allah untuk menyampaikan pujian syukur dalam bait Allah. Mazmur 95 ini menjadi panggilan beribadah dan persiapan untuk memasuki bait Allah, Mazmur ini memberikan suatu pengajaran agar tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan nenek moyang Israel.
  1. Mengapa pemazmur mengajak umat untuk menyembah Allah? 
  2. Menurut pemazmur, Apakah yang menjadi respon nenek moyang Israel terhadap karya keselamatan Allah? 
  3. Apa respon Allah terhadap reaksi nenek moyang Israel? 
  4. Apa yang menjadi respon kita terhadap karya keselamatan Allah? 
  5. Apa yang saudara pahami tentang hidup dalam anugerah Allah? 
Minggu 19 Maret 2017
NS

Tak Mudah Jalanku

diposkan pada tanggal 11 Mar 2017 14.09 oleh Admin Situs   [ diperbarui11 Mar 2017 14.12 ]

Kejadian 12: 1-4; Mazmur 121; Roma 4: 1-5, 13-17; Yohanes 3: 1-17

Jalan hidup manusia seringkali tak terduga. Ada manusia yang awalnya kelihatan akan baik-baik saja, ternyata kemudian menempuh kehidupan yang sulit. Ada yang sekarang sangat kesusahan, tetapi kemudian menjadi sangat senang.

Dalam hidup-Nya di dunia, Tuhan Yesus juga menempuh perjalanan yang tidak senantiasa diisi dengan kebahagiaan dan kesenangan. Pengakuan Iman Rasuli merangkum kisah hidup Tuhan Yesus dengan kata-kata, “…yang menderita sengsara…”Dalam minggu-minggu Pra-Paskah, kita mengingat persiapan-Nya menempuh jalan sengsara yang mengarahkan-Nya ke Golgota. Semua itu dilalui-Nya sambil bersandar kepada Allah, Bapa-Nya. Tatkala melewati jalan kehidupan yang tidak mudah, kita dipanggil untuk tetap berpegang pada tuntutan Alkitab dan mengikuti teladan Tuhan Yesus yang bersandar kepada Allah.

Kejadian 12: 1-4
  1. Ke manakah Tuhan memanggil Abram? Mengapa Abram pergi? 
  2. Apakah jalan hidup Abram akan lebih mudah jika ia tinggal di negerinya atau jika ia pergi mengikuti Tuhan? 
Mazmur 121
  1. Siapa yang menjadi penolong bagi pemazmur saat jalan hidupnya sulit? 
  2. Apa sajakah bentuk pertolongan yang pemazmur yakini akan diterimanya? 
Roma 4: 1-5, 13-17
  1. Mengapa kepercayaan Abraham diperhitungkan sebagai kebenaran? 
  2. Apa peran kepercayaan/ iman kepada Tuhan dalam menghadapi jalan hidup yang tidak mudah? 
Yohanes 3: 1-7
  1. Apa alasan Nikodemus datang menjumpai Tuhan Yesus? 
  2. Mengapa Tuhan Yesus mengharapkan orang dilahirkan kembali? 
  3. Apakah kelahiran kembali itu menuntun pada jalan hidup yang mudah atau yang sulit?
Minggu 12 Maret 2017
ANS

Bersama Allah Dalam Pencobaan

diposkan pada tanggal 2 Mar 2017 03.20 oleh Admin Situs

Kejadian 2:15-17, 3:1-7; Mazmur 32; Roma 5:12-19; Matius 4:1-11

Tetap ada dalam kasih karunia Allah dan menolak segala godaan untuk meninggalkan-Nya adalah panggilan iman yang akan kita lakukan pada Minggu Prapaskah 1 ini. Dalam menghadapi pencobaan itu kita mendapat kekuatan dari hikmat Firman Allah. Sebagaimana Tuhan Yesus cakap dan tangguh untuk memegang Firman Allah dan tetap tinggal dalam kasih Bapa, kita pun akan dikuatkan oleh Roh-Nya untuk menang dalam pencobaan dan ujian iman di dalam hidup ini.
  1. Apa saja yang diberikan Allah kepada kepada manusia? (Kej. 2:15-17) Apa yang dikatakan Ular kepada perempuan? (Kej. 3:1) Bagaimana tanggapan perempuan? (Kej. 3:2-3) Bagaimana Ular membalas jawaban itu? (Kej. 3:4-5) Apa yang kemudian terjadi? (Kej. 3:6-7) 

  2. Apa saja yang sudah diberikan Allah kepada Anda di dalam hidup ini? Menurut Anda mengapa Allah memberikan larangan-larangan di dalam hidup ini? Mengapa manusia melanggar larangan yang diberikan Allah? 

  3. Siapa yang disebut berbahagia oleh Daud? (Mzm. 32:1-2) Apa yang terjadi saat orang melanggar perintah Allah menurut Daud? (Mzm. 32:3-4) Apa yang kemudian dilakukan Daud saat ia berdosa? (Mzm. 32:5-11) 

  4. Menurut Anda apa manfaat orang mengakui dosa dan kesalahan-kesalahannya? Kapan terakhir kali Anda mengakui dosa Anda kepada Allah dan kesalahan Anda kepada sesama? Apa yang terjadi?

  5. Bagaimana dosa ada di dalam dunia ini menurut Paulus? (Rm. 5:12-14) Apa yang Yesus Kristus lakukan terkait dosa itu? (Rm. 5:15-19) 

  6. Apakah Anda setuju jika dikatakan bahwa semua orang di dunia ini berdosa? Bagaimanakah jalan keluar supaya manusia tidak mengalami akibat buruk dari dosa menurut Anda? 

  7. Apa yang Yesus alami di padang gurun? (Mat. 4:1) Apa yang Ia kerjakan di sana? (Mat. 4:2) Apa yang dilakukan si pencoba saat Yesus lapar? (Mat. 4:3) Apa jawaban Yesus? (Mat. 4:4) Apa yang terjadi di bubungan Bait Allah? Bagaimana Iblis menggunakan Firman Allah untuk mencobai Yesus? (Mat. 4:5-6) Apa tanggapan Yesus? (Mat. 4:7) Apa ajakan Iblis kepada Yesus di atas gunung yang sangat tinggi? (Mat. 4:8-9) Bagaimana Yesus menangkalnya? (Mat. 4:10) 

  8. Hawa nafsu, kekuasaan dan kekayaan. Tiga hal ini kita jumpai dalam pencobaan yang dialami Yesus. Belajar dari apa yang Yesus lakukan dalam menangkal cobaan Iblis, bagaimana cara Anda menangkal cobaan terkait hawa nafsu, kekuasaan dan kekayaan yang akan membuat Anda menjauhi kasih karunia Allah? 
Minggu 5 Maret 2017
Pdt. EE

Kemuliaan Tuhan, Memulihkan Kehidupan

diposkan pada tanggal 2 Mar 2017 03.15 oleh Admin Situs

Keluaran 24:12-18; Mazmur 2; 2 Petrus 1:16-21; Matius 17:1-9

Pada jaman era presiden Sukarno, ada panggilan khusus untuk beliau yaitu : Paduka Yang Mulia, pada jaman sekarang istilah yang sama seperti itu kita dengar dalam persidangan-persidangan di pengadilan, dengan istilah “Yang Mulia” untuk menyebut Hakim. Apakah makna kata “Mulia” itu?. Bagi beberapa orang mengartikannya berbeda-beda. Menurut G Bromiley (1971), Mulia bisa ditujukkan ke manusia mengandung arti sesuatu yang nampaknya mengesankan dan menuntut pengakuan akan kewibawaan orang tersebut dimana kedudukannya yang penting dan mencolok. Kalau “mulia” ditujukan untuk Tuhan Allah mengandung arti kemahakuasaan, mahaindah dan maha dasyat yang bersifat kekal.

Pengakuan dan keyakinan kita, bahwa Tuhan kita mahamulia, akan mempengaruhi iman dan sikap kita. Karena dengan keyakinan seperti itu dapat merubah arah hidup, apa yang kita kejar dan kita dewa- dewakan didalam hidup ini apakah Tuhan atau kehidupan duniawi, seperti materi, kedudukan dan tingkat sosial.

Daftar Pertanyaan :
  1. Mengapa kemuliaan Tuhan dilambangkan dalam bentuk awan dan api yang menghanguskan dipuncak-puncak gunung, oleh bangsa Israel ? (Keluaran 24:16.17) 
  2. Apa beda raja-raja dari dunia dangan raja-raja yang diurapi Tuhan (Mazmur 2) 
  3. Atas dasar apa Petrus mengatakan : Yesus Kristus sebagai Raja dengan segala kehormatan dan kemuliaanNya? (2 Petrus 1: 17, 19) 
  4. Apa maksud Petrus berkata : ”Tuhan betapa bahagianya kami berada ditempat ini, jika Engkau mau.......(Matius 17: 4). 
  5. Mengapa murid-murid tersungkur dan sangat ketakutan, ketika mendengar :”Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Matius 17: 5, 6) 
  6. Menurut saudara kalau dikatakan Tuhan mahamulia, secara pribadi artinya apa? 
  7. Kalau kita memiliki keyakinan bahwa Tuhan itu mahamulia, dapatkah keyakinan tersebut merubah perilaku dan sikap kita terhadap kehidupan ini ? Coba jelaskan bila dapat karena apa? Kalau tidak dapat karena apa? 
Minggu 26 Februari 2017
Pnt. PT

1-10 of 353