Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Renungan Warta 23 November 2014

diposkan pada tanggal oleh Admin Situs GKI Halimun

Ikut teladan Sang Raja yang Peduli & Gembala yang Baik

Yehezkiel 34:11-16, 20-24, Mazmur 100, Efesus 1:15-23, Matius 25:31-46

Di tengah kacau balaunya nilai-nilai hidup karena kebobrokan kepemimpinan, Allah yang penuh kasih itu berjanji. Seperti seorang gembala yang baik memelihara dengan sempurna kawanan domba gembalaannya, begitu juga tindakan Allah kepada umat yang dikasihi-Nya (Yeh. 34:11-16). Kehadiran pemeliharaan Allah yang sempurna itu nampak jelas melalui karya Mesias (Pemimpin Yang diurapi Allah), melalui keturunan Daud (Yeh. 34:20-24). Melalui kepemimpinan Sang Mesias itu, umat-Nya akan menghidupi nilai-nilai kehidupan yang dikehendaki Allah, saat mereka menyatakan tindakan yang berujung pada kedamaian, keadilan dan kebersamaan hidup yang dasarnya kasih suci.

Dengan tindakan Allah sebagai Raja, Gembala, yang peduli itu sepatutnyalah umat-Nya bersyukur kepada-Nya. Ungkapan syukur itu ditunjukkan dengan kesediaan mendengar dan memberlakukan perintah-Nya. Sebagaimana Allah menunjukkan kesediaan-Nya memberikan diri demi kebaikan umat-Nya, begitu juga setiap orang yang mengagumi segenap karya-Nya dengan rela memberikan diri bagi sesamanya (Mzm. 100).

Kita mengamini dan mengimani bahwa Mesias yang dimaksudkan Allah itu adalah Tuhan Yesus Kristus (Ef. 1:22-23). Melalui segenap karya-Nya baik saat berada secara fisik di bumi ini, maupun kehadiran-Nya di dalam Firman, Perjamuan Kudus dan Roh Kudus sampai sekarang ini, Tuhan Yesus Kristus menunjukkan dengan nyata sikap-Nya sebagai Raja yang peduli, Gembala yang baik.

Dalam catatan penginjil Matius 25:31-46, Tuhan Yesus menjelaskan visi ke depan Kerajaan Allah yang turut dihadirkan oleh Sang Mesias, atau dalam bahasa penginjil Matius, oleh “Anak Manusia”. Yesus menjelaskan, seperti Sang Raja yang memeriksa kehidupan orang-orang yang dipimpin-Nya, begitu juga kita diajak mengenali kembali tindakan Allah yang menunjukkan kepemimpinan-Nya kepada orang-orang yang lemah, yang membutuhkan pertolongan dalam hidup. Jika Allah begitu peduli dan berkenan ada untuk menolong orang-orang itu, bagaimana dengan umat yang mengasihi-Nya? Perhatikan bahwa Sang Raja itu ternyata begitu murka saat orang-orang yang dipimpinnya mengabaikan kehadiran orang-orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan dalam hidup! Secara tidak langsung Tuhan Yesus ingin mengajarkan bahwa “Imanuel”, kehadiran Allah bersama dengan manusia, dapat dilihat dalam diri orang-orang yang lapar, haus, tersesat, sakit, terluka, terbelenggu. Setiap orang yang mau mengikuti teladan Raja yang peduli, Gembala yang baik, dipanggil untuk peduli dan mengasihi mereka juga.

Oleh sebab itu, seperti Jemaat Efesus yang bukan saja mengimani Kristus sebagai Juruselamat, tetapi juga yang telah menunjukkan kasih yang nyata dalam hidup mereka, kita semua dipanggil Allah untuk mengenal dengan sungguh-sungguh apa yang seharusnya menjadi karya nyata kita sebagai pengikut Kristus (Ef. 1:15-17). Memang untuk menunjukkan karya kasih kepada setiap orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan itu tidak mudah. Tetapi kita telah menerima kuasa yang luar biasa! Rasul Paulus mengatakan bahwa kuasa yang membangkitkan Tuhan Yesus Kristus dari maut, kini bekerja juga dalam diri kita yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (Ef 1:18-21)!

Pertanyaan perenungan
  1. Apa artinya jika Allah digambarkan seperti seorang Raja Yang Peduli dan Gembala Yang Baik? 
  2. Kepedulian dan kebaikan seperti apakah yang Anda sudah terima dari Allah melalui karya Tuhan Yesus Kristus di sepanjang hidup Anda? Apa yang Anda lakukan setelah mengalami semua itu terhadap orang-orang yang ada di sekitar kehidupan Anda? 
  3. Apa yang menjadi tanggapan Anda jika dikatakan bahwa Allah “hadir” di dalam diri orang yang miskin, lemah, dalam kesesatan, sakit, terluka, terbelenggu? 
Praktek Iman, Pengharapan dan Kasih
  1. Berkenan dikoreksi oleh Firman Allah untuk memperbaiki pikiran, perkataan dan kelakuan. 
  2. Tidak berkeluh-kesah dan mencari-cari alasan untuk menghindar saat mendapat kesempatan untuk melayani kawanan domba gembalaan Allah. 
  3. Menolong orang yang miskin, lemah, kesusahan, sakit, terluka dengan segenap kekuatan yang Allah berikan.
(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 16 Nopember 2014

diposkan pada tanggal 14 Nov 2014 09.47 oleh Admin Situs GKI Halimun

Bila Tuhan Mengutus

(Hakim-Hakim 4:1-7 ; Mazmur 123 ; I Tesalonika 5:1-11 ; Matius 25:14-30)

"Tuhan, utus aku kemana saja, hanya sertailah aku. Letakkan beban apa saja atasku, hanya topanglah aku. Putuskan ikatan apa saja dari padaku, kecuali ikatan yang mengikatku kepada pelayanan-Mu dan kepada hati-Mu."
Ini adalah sepenggal dari untaian doa yang dipanjatkan oleh David Livingstone. Ia adalah seorang misionaris yang melayani Tuhan begitu luar biasa di Afrika. Sejak masa kecilnya, ayahnya sering membacakan kisah-kisah keteladanan iman dari Alkitab. Ketika dewasa, saat dia mengambil kuliah, David tertarik untuk mengambil kedokteran. Dia memiliki kerinduan untuk dapat pergi ke China untuk menjadi dokter di sana, tetapi kesempatan itu tidak terwujud. Lalu David Livingstone mendapat mimpi. Dia melihat benua Afrika dan dia melihat ada asap yang mengepul dari setiap desa di benua Afrika tersebut. Dan, David mendengar seperti ada suara, " Siapa yang mau Kuutus kesana?" David pun tahu bahwa kesanalah Allah telah memanggilnya. Lalu David mulai berangkat kesana, memasuki dan menerobos setiap hutan Afrika yang lebat. Berbagi ilmu pengobatan di setiap desa, membagikan kasih Kristus dan memberitakan Injil Kristus. David bersaksi bahwa yang menguatkan dan menghiburnya dalam semua pelayanan dan penderitaan yang dialaminya adalah janji dari sang Juruselamat: "….Ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20).

Pada dasarnya setiap orang percaya dipanggil dan diutus Tuhan untuk menjadi saksiNya dalam dunia ini. Walaupun tidak harus menuju ke pedalaman Afrika seperti David. Tetapi dimanapun kita berada di sanalah kita menjadi utusan Tuhan di dunia ini. Tuhan menawarkan begitu banyak tempat pengutusan akan tetapi banyak orang yang masih memiliki keraguan untuk menerima pengutusan tersebut. Padahal setiap Tuhan mengutus Ia pasti memperlengkapi hamba-Nya.

Hakim-Hakim 4:1-7 adalah salah satu contoh penyertaan Tuhan terhadap utusan-Nya. dikisahkan bahwa Ehud menolong dan memulihkan kehidupan banga Israel yang menyimpang dari Tuhan. selama 80 tahun Israel hidup dengan takut akan Tuhan, akan tetapi setelah Ehud meninggal, Israel kembali melakukan yang jahat di mata Tuhan.

Karenanya Tuhan menghukum Israel lewat tangan Yabin raja Kanaan (ayat 2). Israel berseru kepada Tuhan dan Ia bertindak menolong umat-Nya, dengan memakai seorang perempuan bernama Debora (ayat 4). Pemilihan Allah atas Debora hendak menunjukkan bahwa Allah mampu memakai siapa saja untuk menjadi utusannya dan memperlengkapi sang utusan dengan kuat kuasa-Nya. Dalam tradisi Israel, perempuan adalah warga kelas dua dan dipandang sebagai kaum lemah. Akan tetapi ketika Tuhan memanggil (ayat 6) Ia melengkapi dengan segala sesuatu yang diperlukan. Tuhan membuka mata bangsa Israel (sekaligus mata kita), meski Debora seorang perempuan dengan segala keterbatasan dan juga statusnya, Tuhan memakainya (ayat 9). Dan kuasa Allah serta penyertaanNya akan memperlengkapi, menguatkan setiap orang yang diutusNya.

Saat ini kita masing-masingpun diutus oleh Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya kasih-Nya di dunia. Kita diminta untuk taat mengerjakan pengutusan itu. Dalam konteks pekerjaan; Ia mengutus kita agar menjadi pekerja yang menginspirasi orang lain, menunjukkan nilai-nilai kristiani dalam melakukan tugas dan karya. Dalam konteks bermasyarakat, kita diutus untuk menunjukkan kasih Kristus melalui tutur kata dan perbuatan sehari-hari. Dalam konteks keluarga, kita diutus untuk menghadirkan kasih yang hangat bagi seluruh anggota keluarga. Dalam konteks gereja, kita dipanggil untuk terlibat dalam pelayanan gerejawi (menjadi penatua, liturgos, lektor, penyambut umat, pemandu pujian dsb). Ketika Tuhan memanggil dan mengutus kita, Ia pasti memperlengkapi dengan segala yang perlu, sehingga kita dimampukan untuk melaksanakan tugas pengutusan itu. Tapi pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan adalah : “Apakah kita mendengarkan panggilan-Nya?” dan kemudian berani menjawab “Ya Tuhan ini aku, utuslah aku.”

IA memanggil banyak pekerja untuk ladang-Nya, apakah anda salah satu yang dipanggil-Nya? 

(Bpk. Noerman Sasono, S.Si.(Teol.))

Renungan Warta 9 Nopember 2014

diposkan pada tanggal 11 Nov 2014 09.48 oleh Admin Situs GKI Halimun

Mengapa Melayani?

Yosua 24:1-3, 14-25, Mazmur 78:1-7; 1 Tesalonika 4:13-18; Matius 25:1-13

Seorang ibu baru saja melahirkan anak. Setiap malam ibu tersebut harus berkali-kali bangun dari tidurnya untuk menenangkan atau menyusui bayinya yang terbangun. Hal tersebut berlangsung beratus-ratus malam. Apakah si ibu melakukan hal tersebut sebagai kewajiban? Agaknya bukan! Si ibu melakukan itu bukan sebagai kewajiban, tapi atas dasar kesadaran dan cinta. Kesadaran bahwa si bayi adalah bagian dari dirinya, yang sekaligus dicintainya. Pendasaran seperti ini juga kiranya berlaku bagi pelayanan.

Sebagai warga gereja kita semua tentu tidak asing dengan istilah pelayanan. Semua warga gereja mengaku hidup untuk melayani Tuhan dan sesama. Dan kalau ditanya alasan melakukan pelayanan, tentu jawabannya bisa banyak: mulai dari mengembangkan talenta, sebagai ucapan syukur, untuk menyatakan kasih Tuhan kepada orang lain, dan seterusnya. Semua jawaban itu tentu saja benar adanya.

Namun demikian, tidak ada salahnya sejenak kita merenungkan kembali apa sebenarnya yang melandasi pelayanan kita masing-masing. Mengapa? Sebab tidak mustahil tanpa sadar kita menjalani pelayanan sebagai suatu kewajiban. Dan karena sifatnya merupakan kewajiban, tidak mustahil pelayanan itu kita rasakan sebagai beban. Lalu, karena menjadi rutin, pelayanan juga bisa terasa membosankan. Atau jangan-jangan sebenarnya kita melakukan pelayanan dengan tujuan untuk mendapat pujian atau pengakuan dari orang lain, atau untuk menyalurkan hasrat kita untuk selalu berkuasa. Bila itu yang terjadi, yaitu bahwa yang menjadi pusat pelayanan adalah diri kita sendiri, maka apabila kita tidak mendapat yang kita maksud, kita mundur dari pelayanan.

Kalau begitu, apa dasar bagi pelayanan kita sebagai umat Tuhan?

Dalam Yosua 24 dikisahkan Yosua mengumpulkan orang Israel untuk mengingatkan kembali bahwa selama umat Israel hidup dalam perjanjian dengan Allah dan bagaimana selama itu pula Allah dengan setia memelihara mereka. Karena itulah Yosua meminta bangsa Israel untuk sejenak mempertimbangkan kembali: apakah mereka akan tetap setia terhadap perjanjian itu, atau akan memutuskan ikatan perjanjian. Yosua sungguh menegaskan bahwa Allah adalah TUHAN yang setia terhadap perjanjian-Nya.

Dari Yosua 24 ini kita belajar bahwa kita pun adalah umat yang terikat perjanjian dengan Allah. Dengan mengikatkan diri dalam perjanjian, maka dalam arti tertentu kedua pihak saling memiliki satu dengan yang lain: Allah memiliki kita sebagai umat, dan kita memiliki TUHAN sebagai Allah kita. Dalam kasih dan kuasa-Nya Allah memberi kita pengampunan. Kita menerima pengampunan bukan karena Allah wajib mengampuni kita, tapi karena kasih setia Allah.

Dalam semangat yang sama pelayanan kepada Tuhan dan sesama kita lakukan bukan lagi berdasar kewajiban, tapi merupakan buah kesadaran dan cinta. Kita sadar bahwa kita adalah umat Allah, umat yang telah mengalami pengampunan dan menerima anugerah untuk ikut mengambil bagian dalam melakukan pekerjaan Allah di dunia ini. Dengan dasar seperti ini pelayanan tidak terasa membebani, tapi merupakan bagian yang wajar dari hidup kita. Pelayanan itu menjadi sesuatu yang melekat, yang tidak bisa tidak dilakukan. Kita melakukannya sebagaimana kita bernafas. Kita tidak bisa berhenti melayani sebagaimana kita tidak bisa berhenti bernafas, karena dengan bernafaslah kehidupan menjadi berjalan.

Karena itu, sambil menantikan janji akan kedatangan-Nya kembali, kita menjalani hidup sebagai teman sekerja Allah. Kita hidup dalam pelayanan yang dilandasi cinta, yaitu cinta yang semula kita terima dari Allah. Hal itu digambarkan dengan indah dalam Matius 25:1-13. Dalam cinta lima gadis bijaksana berjaga dan tetap setia menunggu mempelai laki-laki dengan lampu terus menyala.

(Bpk. Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 2 Nopember 2014

diposkan pada tanggal 31 Okt 2014 19.18 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui31 Okt 2014 19.18 ]

Allah mengaruniakan keleluasaan hidup

Yosua 3:7-17, Mazmur 107:1-7, 33-37, 1 Tesalonika 2:9-13, Matius 23:1-12

Sebuah pesawat mengalami kerusakan mesin dan harus mendarat darurat di laut luas. Beruntung saat itu siang hari dan pesawat berhasil didaratkan di dekat sebuah pulau kecil. Ratusan penumpang yang terdiri dari orang tua dan anak-anak selamat, walaupun beberapa mengalami luka-luka akibat benturan, khususnya pilot dan ko-pilot. Walaupun semua berhasil menuju ke pulau kecil, banyak yang panik dan menangis. Beberapa malah hanya duduk terdiam memegangi luka-lukanya. “Inilah akhir hidup kita!” kata seorang pemuda. “Ah, berisik kau! Nanti juga ada regu penyelamat menolong kita!” Kata seorang bapak sambil asyik tidur-tiduran di dekat pohon. “Tolong, anak saya haus apakah ada air di sekitar sini?” Keluh seorang ibu sambil berupaya menenangkan anaknya yang masih kecil. Penumpang lain yang mendengar itu hanya terdiam saja membisu mendengar permintaan si ibu yang kebingungan itu.

Semua penumpang itu mengalami pengalaman buruk yang sama. Tetapi dengan berbagai tanggapan. Banyak yang merasakan betapa sesaknya kesusahan yang mereka alami saat itu. Tidak ada penduduk di pulau itu. Betapa sempitnya peluang mereka untuk bertahan dan selamat menunggu bantuan yang tidak dapat dipastikan kehadirannya kapan. Di tengah suasana yang sesak itu, seorang anak muda berteriak dengan suara lantang. “Bapak-bapak, ibu-ibu semua. Sambil menunggu bantuan, mari kita bertahan hidup! Adakah yang dapat membantu saya mencari sungai kecil di pulau ini? Adakah yang dapat mengumpulkan kayu-kayu untuk membuat api untuk nanti malam? Lihat, pesawat kita masih utuh, pasti ada beberapa barang atau persediaan makanan yang dapat kita gunakan untuk menolong anak-anak!” Beberapa orang mulai mengarahkan pandangan kepada si anak muda itu, dan mereka mulai bergerak. “Saya akan ikut kamu cari air!” Kata si bapak yang tadinya asyik tidur-tiduran. “Aku akan ambil beberapa barang di pesawat”, teriak seorang muda di ujung sana. “Ayo kita cari tempat yang aman untuk membangun tenda darurat!” Kata seorang bapak di pojok yang lain. Para pramugari sibuk mengumpulkan persediaan makanan di pesawat. Beberapa orang merobek celana panjangnya untuk membalut luka-luka penumpang lainnya.

Semua bekerja. Semua kini menjadi yakin bahwa mereka akan mampu bertahan. Ternyata suasananya tidak sesempit kekhawatiran mereka pada awalnya. Masih ada begitu banyak kesempatan yang dapat mereka kerjakan. Masih ada keleluasaan dalam hidup mereka, dalam keadaan yang genting itu. Semua diawali oleh kepemimpinan seorang muda yang berani mengambil langkah-langkah penting dan segera dalam menggerakkan banyak orang untuk melakukan apa yang dapat mereka kerjakan.

Kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir menuju Kanaan adalah kisah perjuangan iman, pengharapan dan kasih. Kisah mereka juga adalah kisah pembaruan hidup yang mempertanyakan ketaatan. Juga kisah kerja sama, kepemimpinan, keberanian untuk melangkah bersama. Ada perubahan hidup yang terjadi karena banyak pribadi yang mau diperbarui Tuhan dan menjadi jembatan pembaruan bagi yang lain. Yosua mendapat anugerah untuk menggantikan Musa sebagai pemimpin dan koordinator perjalanan umat Israel. Menghadapi tantangan dan kendala perjalanan umat, Allah mengaruniakan keleluasaan hidup bagi umat-Nya untuk mengambil langkah-langkah yang perlu menuju pada kebaruan hidup di depan mata (Yosua 3:7-17).

Kita tidak dibiarkan sendirian dalam mengambil keputusan dalam hidup. Ada orang-orang di sekitar kita yang memberikan kepemimpinan dalam bentuk arahan, nasihat, keteladanan. Tetapi ada saatnya bukan saja kita berkenan dipimpin, kita juga harus memimpin. Ini kesempatan baik, sebab kita dipercayakan Tuhan untuk memberikan pengaruh yang baik kepada orang lain. Kita menjadi jembatan pembaruan hidup bagi orang lain.

Saat Tuhan mempercayakan kita untuk memimpin, kita memimpin dengan keteladanan, mengarahkan dengan jelas orang yang kita pimpin dan berani mempercayakan tugas-tugas untuk dibagi. Pemimpin yang baik mengutamakan perintah Tuhan. Pemimpin yang bijak, akan menolong orang mengenali bahwa mereka adalah rekan kerja Tuhan dalam mengupayakan apa yang baik bagi sesamanya. Pemimpin yang cakap akan menolong orang mengelola sumber daya karunia Tuhan untuk kebaikan bersama. Pemimpin yang cermat akan menolong orang untuk mencermati apa-apa yang akan membinasakan hidup, dan menasihatkan orang untuk menghindarinya.

Kita belajar dari Firman-Nya bahwa memimpin, memberikan pengaruh bagi orang lain tidak boleh membebani tetapi meringankan beban yang lain. Bukan menambah masalah, tetapi menjadi solusi bagi masalah. Nasihat, dorongan, dan ajakan untuk hidup sesuai nilai-nilai kasih Kristus penting untuk diberikan oleh orang-orang yang menjalankan kepemimpinan yang meneladan kepada Kristus. Dalam pertolongan hikmat Allah, perkataan seorang pemimpin menjadi suara Allah yang mengubahkan kehidupan (1 Tesalonika 2:9-13).

Kita juga menjadi waspada untuk menghindari kepemimpinan yang buruk, yaitu kepemimpinan yang ingin dilihat baik tetapi enggan bekerja, ingin penghormatan dan penghargaan, tetapi dengan menindas dan tinggi hati. Seumur hidup kita belajar bersama kepada Bapa yang penuh kasih ditolong oleh Tuhan Yesus sebagai pemimpin kita menuju kasih Bapa yang sempurna. Yang terbesar, terkuat, menolong yang lemah. Merendahkan hati adalah modalnya (Matius 23:1-12). Selamat memimpin, dan lihatlah betapa Allah mengaruniakan keleluasaan dalam hidup yang acap kali sesak dan pengap ini! (Mazmur 107:1-7, 33-37).

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 26 Oktober 2014

diposkan pada tanggal 23 Okt 2014 02.19 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui23 Okt 2014 10.56 ]

Aku Berkorban

Kidung Agung 8:6-7, Mazmur 139, Markus 10:42-45, Kolose 3:13

"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. (Yohanes 15:9-10)

Setiap bulan Oktober GKI Halimun menyelenggarakan bulan keluarga. Tujuannya, supaya pertumbuhan dan tindakan iman nyata di keluarga. Oleh sebab itu, tema khotbah selama bulan Oktober mengangkat tentang keluarga. Tema tahun ini adalah : “Kekuatan Cinta” dengan pengertian, cinta yang dijalankan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati dan dengan jiwa yang tulus, yang akan memberikan pengaruh luar biasa. Kita menyadari bahwa semua makhluk hidup membutuhkan cinta. Tanpa cinta semua sia-sia. Tanpa cinta tidak akan ada pembaruan hidup di dunia ini.

Tahap pertama untuk berproses mengerahkan kekuatan cinta ialah berkenan untuk dibentuk. Kita sadar bahwa penyebab awal orang tidak melakukan apa yang seharusnya ialah karena tidak tahu dan tidak mengerti. Oleh sebab itu, sebagai pribadi yang mau menghidupi kekuatan cinta, kita berkomitmen untuk menjalin hubungan dengan “Guru Besar” ilmu kasih kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Semakin hari, kita semakin serupa Kristus.

Tahap kedua untuk berproses mengerahkan kekuatan cinta ialah rendah hati. Sikap nyata yang menandakan rendah hati itu ialah mengakui kesalahan. Tidak ada orang yang sempurna, tanpa salah. Tetapi orang yang berani mengakui kesalahan dan mengampuni kesalahan adalah orang yang memiliki cinta yang sempurna. Konflik tidak akan berkepanjangan, kalau ada pribadi-pribadi yang mau mengakui kesalahan. Kebencian akan berhenti, kalau ada pribadi-pribadi yang mau mengampuni kesalahan.

Tahap ketiga untuk berproses mengerahkan kekuatan cinta ialah menghidupi perubahan. Iman sejati ditandai dengan perbuatan yang bertobat. Hidup beriman sejati selalu menghadirkan perubahan perilaku sesuai dengan nilai-nilai Firman Allah. Perubahan yang sehat dimulai dari diri sendiri, dimulai dari tindakan-tindakan yang kecil dan lama-lama juga tindakan-tindakan yang besar dan tindakan-tindakan perubahan itu tidak pernah ditunda tetapi dinyatakan sesegera mungkin.

Tahap keempat untuk berproses mengerahkan kekuatan cinta ialah dengan menunjukkan kasih yang berkorban. Apa itu kasih yang berkorban? Kasih yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus. Kasih yang terus dinyatakan walau kita mungkin mendapatkan apa yang tidak baik/enak. Kasih yang habis-habisan diberikan karena kita tahu dengan memberikan kasih, orang yang kita berikan kasih itu mendapatkan pertolongan nyata bagi hidupnya. Kasih yang tidak mengharapkan balasan kasih, sebab kalau kita mengharapkan balasan kasih, kita tidak akan pernah memberikan nilai lebih pada kasih kita.

Tahap kelima ialah menghidupi semua tahapan proses dengan melibatkan segenap hati, pikiran, jiwa dan yang terutama melalui perbuatan nyata. Renungkanlah pertanyaan-pertanyaan ini sebagai pembantu bagi kita untuk menyatakan komitmen hidup baru di bulan keluarga ini: 
  • Dari mana dan dari siapakah Anda belajar tentang kasih dan mengasihi? Mengapa Anda memilih belajar di situ dan kepadanya?
     
  • Mengapa banyak orang enggan untuk mengakui kesalahan? Apa yang membuat orang mampu mengakui kesalahan? Menurut Anda manakah yang lebih mudah, mengakui kesalahan atau mengampuni kesalahan? Mengapa demikian? Apakah Anda pernah mengakui kesalahan? Apa akibatnya? Apakah Anda pernah mengampuni orang yang berbuat salah kepada Anda? Apa akibatnya?
     
  • Apakah ada dalam hidup Anda sekarang ini hal-hal yang menurut Anda tidak bisa diubah lagi? Mengapa demikian? Apakah Anda pernah bertemu dengan orang yang mengalami perubahan hidup? Mengapa ia dapat mengalami perubahan hidup seperti itu? Apa makna bertobat bagi Anda? Menurut Anda, pertobatan itu merugikan atau menguntungkan? Mengapa demikian? 

  • Pengorbanan apakah yang sudah Anda lakukan dalam hidup Anda selama ini? Menyesalkah Anda dengan pengorbanan itu? Apa dampak dari pengorbanan yang sudah Anda lakukan bagi Anda dan orang lain yang ada di sekitar Anda?
(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 19 Oktober 2014

diposkan pada tanggal 18 Okt 2014 09.09 oleh Admin Situs GKI Halimun

Aku Berubah

Amsal 11:19-29 ; Mazmur 139 ; Matius 3:1-8 ; Roma 12:2 

"Kalau mau perubahan kecil dalam hidup, ubahlah perilaku. Tapi kalau menghendaki perubahan besar, ubahlah paradigma". Itulah salah satu kutipan menarik dari Stephen Covey. Si penulis buku best seller “The 7 Habits of Highly Effective People”. Perubahan paradigma menggerakkan kita dari satu cara melihat dunia ke cara yang lain. perubahan paradigma menghasil perubahan yang kuat. Paradigma kita, benar atau salah, adalah sumber dari sikap dan perilaku kita, dan akhirnya sumber dari hubungan kita dengan orang lain. Perubahan paradigma membuat orang melihat dengan cara berbeda, berpikir dengan cara berbeda, serta berperilaku dengan cara berbeda.

Bagi Covey, perubahan paradigma itu menentukan manusia untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Paradigma negatif diubah menjadi paradigma positif. Jika paradigma diubah maka secara otomatis sikap seseorang dalam menjalani kehidupan juga berubah. Bicara tentang perubahan hidup, ulat adalah salah satu binatang yang paling mengagumkan dalam menjalani proses perubahan kehidupan.

Perubahan dari seekor ulat menjadi kupu-kupu, atau yang dikenal dengan metamorfosa ini adalah sebuah proses alam yang sungguh menakjubkan. Awalnya dimulai dari telur yang menetas dan melahirkan larva (ulat) yang bagi banyak orang dianggap geli bahkan menjijikkan. Geliat ulat ini akan dengan mudah membuat banyak orang bergidik geli melihatnya. Lalu ulat akan berubah wujud menjadi kepompong, dan kemudian dari kepompong itu akan keluar kupu-kupu yang indah, gemulai menari menunggang angin, anggun, puitis baik dari segi keindahan fisiknya hingga gerakannya. Selain masalah bentuk, ada pula perbedaan-perbedaan kasat mata lainnya. Ulat merangkak, kupu-kupu terbang. Ulat lambat, kupu-kupu aktif dan atraktif geraknya. Benar-benar sebuah perubahan total.

Metamorfosa yang terjadi pada kupu-kupu bisa kita pakai sebagai analogi/model sederhana dari sebuah perubahan kita dari manusia lama menjadi manusia baru. Sesungguhnya perubahan yang terjadi kita pun tidak kalah menakjubkan. Ketika kita menerima Yesus, kita mengalami proses perdamaian dengan Tuhan. Kita yang tadinya berlumur dosa dan tidak layak untuk selamat, kini dilayakkan untuk memperoleh keselamatan yang besar itu semata- mata lewat kemurahan dan kasih karunia Allah, lewat karya penebusan agung Kristus di atas kayu salib. Dengan demikian, ketika kita bersatu dengan Kristus, kita pun mengalami metamorfosa, menjadi manusia baru sama sekali, karena siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan ini semua, sekali lagi, berasal dari Allah melalui Kristus. Kita yang tadinya seperti ulat atau larva yang menjijikkan, kini mendapat kesempatan untuk diubahkan menjadi seindah kupu-kupu. Menerima Kristus memungkinkan kita untuk memiliki hidup yang lebih baik lagi.

Sebagai manusia baru yang telah mengalami transformasi, atau dalam analogi di atas digambarkan sebagai metamorfosa, kita seharusnya mampu menghargai anugerah menakjubkan yang telah diberikan Tuhan itu kepada kita dengan menjalani hidup sebagai ciptaan baru. Firman Tuhan “janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2). Artinya, sebagai orang yang sudah diselamatkan kita harus memiliki perilaku yang lebih baik, memiliki tutur kata yang lebih santun, memiliki kepedulian terhadap sekitar kita. Sikap kita harus jauh lebih baik dibanding waktu kita belum mengenal kasih Kristus. Bulan keluarga adalah momentum bagi kita untuk berefleksi, apakah selama mengikut Kristus, ada perubahan sikap hidup ke arah yang baik dari hari ke hari?

Dalam hidup ini, semua (akal budi, hati nurani) telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Sekarang tinggal keputusan kita sendiri, apakah kita mau berproses hingga menjadi kupu-kupu atau berhenti hanya sebagai larva atau kepompong saja.

“Perubahan tidak mengenal berhenti. Saat kau menghentikan perubahanmu sendiri, 
itu sama artinya dengan hidupmu sudah berakhir” 

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 12 Oktober 2014

diposkan pada tanggal 11 Okt 2014 08.21 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui11 Okt 2014 09.20 ]

Aku juga salah!

Yakobus 5:16

Ada sebuah keluarga dengan tiga orang anak: dua laki-laki dan yang bungsu perempuan. Sang ayah sangat menyayangi si sulung, sementara si ibu, menyayangi si bungsu. Si ayah tidak pernah melarang atau marah kepada si sulung, sebagaimana si ibu tidak pernah melarang atau marah kepada si bungsu. Sebagai orangtua, ayah dan ibu tentu saja selalu memberi saran-saran yang baik dan menerapkan aturan di rumah. Sayangnya penerapan aturan itu tidak disertai konsistensi. Bila yang melanggar aturan adalah si sulung, maka si ibu akan memarahi, tapi si ayah segera membela. Bila yang melanggar si bungsu, maka si ayah akan marah, tapi pada saat itu juga si ibu langsung membela. Lain persoalan bila si tengah yang bersalah, maka dia akan menerima kemarahan ayah dan ibu tanpa ada yang membela.

Demikianlah tahun demi tahun berlalu, anak-anak mereka bertambah besar. Si sulung sudah kuliah, sementara dua adiknya di SMA. Mereka bertiga tumbuh menjadi anak-anak yang sulit diatur, mau menang sendiri dan hampir selalu bermasalah. Mereka bertiga tidak pernah akur di rumah, selalu berkelahi soal apa saja: mulai dari rebutan remote TV sampai adu keras menyetel musik. Keributan itu bertambah parah bila kebetulan kedua orangtua mereka pulang dari kantor dengan membawa masalah ke rumah.

Keadaan rumah yang tak nyaman membuat masing-masing anggota keluarga berusaha mencari “ketenangan” di luar rumah. Singkat cerita, si sulung akhirnya terlibat kasus narkotika, si tengah masuk penjara karena kasus perkelahian, sementara si bungsu tidak naik kelas karena jarang masuk sekolah. Kedua orangtua mereka kalut setengah mati, lalu mulai saling menyalahkan. Ibu menuduh ayah terlalu otoriter dan sekaligus gagal memberi teladan yang baik lewat tingkah laku, sementara ayah menuding ibu terlalu serba membolehkan sehingga anak-anak tidak bisa diatur.

Mereka berdua terus bertengkar dan tidak mau mengakui sebagai pihak yang menyebabkan semua peristiwa yang menimpa anak mereka. Karena tak menemui jalan keluar, mereka sepakat minta pendapat pendeta.

Setelah percakapan yang cukup panjang dengan pak pendeta, akhirnya suami istri itu mulai bisa melihat persoalan dengan lebih jernih. Sebagai orangtua, mereka hanya pintar menasehati, tapi tidak konsisten menjalankan aturan serta gagal memberi teladan melalui perbuatan. Di satu sisi mereka mengatakan bahwa anak-anak harus rajin ke gereja dan saling mengasihi, tapi di sisi lain ayah ibu ternyata pilih kasih. Anak-anak diperintahkan untuk hidup jujur, tapi betapa sering mereka menyaksikan kedua orang tua mereka saling membohongi. Anak-anak diajar untuk menghargai sesama anggota keluarga, tapi ayah ibu hampir selalu bertindak mau menang sendiri. Akibatnya anak-anak bingung menetapkan nilai-nilai mana yang seharusnya dianut. Tidak heran bila kemudia anak-anak hidup tanpa pegangan nilai-nilai yang benar. Ketiadaan nilai itulah yang membuat mereka terjerumus ke dalam pergaulan yang buruk.

Ayah ibu akhirnya menyadari bahwa semua itu diakibatkan kesalahan mereka berdua. Kini mereka tidak lagi saling menyalahkan, melainkan saling mengakui kesalahan dan saling memaafkan.

Di akhir pertemuan dengan pendeta, mereka bersama-sama membaca Yakobus 5:16 : “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”

Setelah berdoa, mereka berdua pulang dengan komitmen akan memulai hidup dengan menjadikan kebenaran Firman Tuhan sebagai ukuran dan arah keluarga. Mereka bertekad tidak lagi menjadikan keinginan dan kebenaran pribadi sebagai penentu arah keluarga. Mereka percaya, sebagaimana tertulis dalam Yakobus 5:16, Tuhan mau dan mampu memulihkan keluarga mereka. Selamat menjalani bulan keluarga.

(Mathyas Simanungkalit)

Renungan Warta 5 Oktober 2014

diposkan pada tanggal 4 Okt 2014 08.53 oleh Admin Situs GKI Halimun

Aku mau dibentuk

Yesaya 42:6-7

"Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.”


“Hamba” yang dimaksudkan dalam paparan mengenai hamba Tuhan dalam Yesaya 42:6-7 ini, boleh dimengerti ditujukan kepada empat pihak, yaitu: bangsa Israel, nabi Yesaya, Mesias dan setiap orang yang membaca bagian ini, yang percaya kepada janji Allah. Entah dari sudut pandang yang manapun kita mengertinya, dengan jelas kita menangkap pesannya, yaitu bahwa: Tuhan Allah, menginginkan apa yang baik bagi banyak orang dan mempercayakan orang yang dipanggilnya untuk dikuatkan, dibentuk, sehingga memberikan pengaruh yang baik bagi sekitarnya. Bukan hanya itu, orang yang dipercaya oleh Allah ini juga akan menjadi pelenyap kegelapan hidup orang-orang di dalam komunitasnya.

Minggu ini, kita memasuki bulan keluarga. Tema tahun ini ialah “Kekuatan Cinta”. Sungguh nyata di dalam kehidupan kita, bahwa hanya dengan kekuatan cinta saja, kita dapat mengalami segala yang baik dalam hidup ini. Minggu ini, kita berproses dalam kebenaran Firman Allah, sekaligus merayakan Perjamuan Kudus sedunia. Kita bertumbuh untuk menjadi pribadi yang mau dibentuk oleh Tuhan, dalam menjalankan peran kita di tengah keluarga dengan baik. Dengan sedikit imajinasi yang tetap bertanggungjawab, kita bisa membaca kembali Yesaya 42:6-7 dalam kaitan kerinduan diri yang mau dibentuk oleh Tuhan, menjadi seperti ini:

"Aku ini, TUHAN, telah memanggil (nama anda di sini) untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah      membentuk (nama anda di sini) dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi (keluarga-keluarga), menjadi terang untuk (tetangga-tetangga), untuk (melenyapkan kebencian), untuk (melakukan apa yang menjadi kebaikan bagi orang-orang yang sedang kesusahan).”

Tentu apa yang dituliskan bukan untuk mengganti Alkitab kita, atau menafsirkan seenaknya, tetapi hanya sebagai metode bagi kita untuk lebih mengenali betapa Tuhan berkenan memberikan yang baik bagi keluarga kita, dan Ia memanggil dan mempercayakan kita, untuk berada di dalam peran yang kita jalani sekarang ini (sebagai ayah, ibu, suami, istri, anak, sahabat, kakak, adik) dalam bentukan-Nya yang penuh cinta kasih.

“Padi semakin berisi, semakin menunduk”. “Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar”. “Belajar membutuhkan pengorbanan.” “Sebelum membentuk, kita harus mau dibentuk”. Mungkin sudah lebih dari sekali kita mendengar jargon-jargon itu. Semuanya baik. Jika kita serius menjalankannya, sebagai seorang pribadi yang mau dibentuk kita menjadi pribadi yang menjadi teladan dalam menghasilkan kebaikan dan bukan menuntut kebaikan melulu.

Pada satu malam seorang ayah pulang dengan keadaan letih luar biasa. Istrinya menyambutnya dengan muka muram karena perseteruan beberapa hari dengan si suami belum menemui solusi. Mereka tidak berbicara, dan istrinya beranjak pergi meninggalkannya sendirian. Anak-anak tidak ada di rumah. Ada yang sibuk mengerjakan tugas sekolah. Ada yang pergi asyik bermain dengan kawan-kawannya sejak pagi. Dengan lunglai ia merebahkan diri di kursi kesayangannya. Ia menerawangi seisi rumahnya, begitu banyak hasil jerih lelahnya berbuahkan banyak materi. Tetapi malam itu hatinya sepi dan pedih sekali.

Sayup-sayup terdengar alunan radio kristen mengalunkan lagu “Jadilah Tuhan.. kehendak-Mu, Kaulah penjunan, `ku tanah-Nya. Bentuklah aku sesuka-Mu.. `kan kunantikan dan berserah...” “Bentuklah aku sesuka-Mu..” kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga, hati dan pikirannya. Sambil merebahkan badannya, ia memejamkan matanya. Air matanya mengalir deras. Sudah bertahun-tahun ia lupa akan satu hal penting. Ia lupa apa yang menjadi kesukaan Tuhan! Perlahan-lahan ia sadar. Konflik berkepanjangan dengan istrinya, pengabaian anak-anaknya terhadap wibawanya, musnahnya canda tawa di ruang keluarga, semua terjadi karena ia terlalu memaksakan apa yang ia sukai saja, dan jarang sekali membiarkan apa-apa yang disukai Tuhan ia kerjakan. Dalam keheningan malam itu ia berdoa lirih: “Bentuklah aku sesuka-Mu, ya Tuhan..”

Kekuatan cinta terbukti mengubahkan dunia. Apakah kita pun mau dibentuk untuk melakukan apa yang menjadi kesukaan Tuhan, dalam menjalankan peran kita di tengah-tengah keluarga kita?

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 28 September 2014

diposkan pada tanggal 24 Sep 2014 18.25 oleh Admin Situs GKI Halimun

Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?

(Keluaran 17:1-7, Mazmur 78:1-4, 12-16, Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32)

Jika kita jeli untuk mencermati bacaan-bacaan Alkitab saban Minggu, maka sudah beberapa minggu ini pada bacaan-bacaan pertama, kita diajak melihat suka duka perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir yang kembali “pulang kampung” ke negeri Kanaan. Ada banyak yang dapat dipelajari untuk hidup kita sekarang ini saat menyimak perjalanan umat yang disayangi Allah ini. Sebab tidakkah hidup kita juga dapat diumpamakan seperti sebuah perjalanan yang di dalamnya iman kita diuji, entah untuk menjadi semakin bertumbuh atau malah menjadi kerdil dan berujung pada malapetaka dan kesusahan yang kita pilih sendiri?

Sebuah tempat yang bernama “Rafidim”, diganti namanya menjadi “Masa dan Meriba” oleh Musa (Masa dan Meriba adalah bahasa Ibrani yang artinya mencobai, mengomel). Pemberian nama baru dalam kisah-kisah Perjanjian Lama selalu menjadi semacam monumen yang penting. Sepertinya Musa ingin mengingatkan mereka dan generasi berikut bahwa: pernah terjadi, orang Israel bertengkar dengannya dan secara tidak langsung melalui sikap tinggi hati itu, mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?"

"Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?" Pertanyaan emosional ini keluar dari mulut orang-orang yang saat itu sedang haus berat karena diterpa teriknya hawa panas menyengat Padang Gurun. Biasanya memang begitu. Gara-gara kelemahan fisik, atau gara-gara haus kekuasaan, haus harta, haus kasih sayang, maka akal budi dan hati nurani tidak lagi bekerja dengan baik. Iman sepertinya lalu kalah oleh hawa nafsu yang bergelora untuk memuaskan kesenangan diri.

Jauh hari sesudah pengalaman Rafidim itu, Asaf, seorang penyanyi dan pemusik pada era Raja Daud menggubah Mazmur 78. Ini adalah sebuah nyanyian pengajaran. Pesannya supaya umat Tuhan belajar dari sejarah perjalanan iman para leluhurnya. Asaf bijaksana. Dalam nyanyiannya, secara positif ia mengajak umat untuk melihat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya yang kesusahan. Pemeliharaan Allah sungguh ajaib! Walaupun ada begitu banyak kasus umat Israel itu begitu menjengkelkan, Allah tetap membimbing, mengajar, mengarahkan umat-Nya dengan kasih. Di Rafidim pun kita membaca, umat yang keras kepala itu pada akhirnya minum. Allah mengetahui apa yang mereka butuhkan. Dari bukit batu yang keras, keluar air yang segar. Tongkat Musa tidak diperintahkan Allah memukuli kepala orang-orang yang lambat bertumbuh dalam iman itu. Allah sungguh baik. Pertanyaan "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?" dijawab Allah dengan tindakan pemeliharaan-Nya yang ajaib.

Tidak salah untuk mempertanyakan sesuatu yang penting terkait hidup kita kepada Allah. Ini acap kali dinamakan sebagai pergumulan iman. Bukankah setiap pertanyaan akan menolong kita untuk mencari jawab, untuk belajar, untuk bertumbuh menjadi lebih baik? Kita mungkin memiliki pertanyaan-pertanyaan seperti: “Mengapa Tuhan diam saja?”, “Di manakah pertolongan-Mu yang ajaib itu Tuhan?”, “Sampai kapan saya harus mengalami ini Tuhan?”, “Mengapa dia membuat saya mengalami kepahitan ini, Tuhan?”

Walaupun pertanyaan-pertanyaan itu tidak salah, tetapi hati-hati! Tanpa kita sadari, acap kali pertanyaan-pertanyaan itu dapat berubah menjadi gugatan-gugatan sepihak kepada Allah. Jika menjadi gugatan, kita telah memilih untuk menjadi orang yang tinggi hati, keras kepala dan tidak lagi terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru yang sebenarnya sedang Allah sediakan. Kita menjadi tidak bertumbuh dalam iman. Bisa-bisa kita malah menjadikan Allah sebagai objek pemuas keinginan kita dan bukan sebagai subjek yang kita hormati dan yang membimbing kita.

Bukankah pertanyaan-pertanyaan yang sehat kepada Allah sepantasnya berjiwa permohonan? Jika jiwanya permohonan, maka kita sedang memosisikan diri kita dengan kerendahan hati dan kesediaan untuk mau dibentuk oleh Allah. Bayangkanlah sebuah situasi saat seseorang yang lemah dan perlu ditolong malah menghardik dengan kasar penolong yang lebih kuat dan dengan sabar berkenan menolongnya. Sungguh tidak elok bukan? Jadi memang kita mesti hati-hati untuk tidak mengarahkan permohonan kita menjadi gugatan sepihak kepada Allah.

Simaklah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi dalam Matius 21:23-28. Menurut anda apa yang menjadi jiwa dari pertanyaan mereka? Apakah anda menemukan sebuah pembenaran diri dan hasrat untuk berkuasa di balik pertanyaan mereka? Tuhan Yesus mengajar mereka yang keras hati itu dengan perumpamaan yang akhirnya menyadarkan tinggi hati mereka (Mat. 21:28-32).

Tepatlah nasihat Paulus kita simak juga terkait hal ini. Paulus menuliskan: “Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tanpa mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri;” (Flp. 2:2-3). Pada bagian selanjutnya Paulus memaparkan bahwa sikap rendah hati itu telah ditunjukkan Kristus Yesus, sebagai sebuah teladan bagi para pengikut-Nya. Kerendahan hati Kristus ditunjukkan dengan tindakan nyata, mati di kayu salib, berujung pada pemuliaan Allah!

Kerendahan hati! Itu kata kuncinya. Lalu pertanyaan untuk kita jawab sekarang ini: sewaktu mengalami krisis-krisis yang mungkin terjadi dalam hidup kita, sewaktu diri kita menjadi begitu penat karena terpaan terik masalah-masalah yang menyengat, apakah kita tetap rendah hati memohon pertolongan-Nya? Apakah kita tetap percaya kepada pemeliharaan-Nya yang ajaib? Apakah kita menyadari kehadiran-Nya di tengah-tengah hidup kita?

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 21 September 2014

diposkan pada tanggal 23 Sep 2014 01.13 oleh Admin Situs GKI Halimun

Hidup adalah anugerah 

Keluaran 16:2-15; Mazmur 105:1-6, 37-45; Filipi 1:21-30; Matius 20:1-16

Tak ada manusia yang terlahir sempurna, jangan kau sesali segala yang telah terjadi 
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat, seakan hidup ini tak ada artinya lagi 
Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah, Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. 

Tak ada manusia yang lahir sempurna, jangan kau sesali segala yang telah terjadi Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah 
Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik, Tuhan pasti menunjukkan kebesaran dan KuasaNya 
Bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa 
Jangan menyerah…jangan menyerah…jangan menyerah… 

Di atas adalah sebuah lirik lagu yang berjudul “Jangan Menyerah” dinyanyikan oleh De Masiv. Lagu tersebut mengajak kita untuk tetap semangat dalam menjalani kehidupan yang sudah Tuhan anugerahkan bagi kita. Kata orang, hidup ini bagaikan sebuah roda yang sedang berputar, kadang posisi di atas, terkadang posisi di bawah. Posisi roda di atas sebagai gambaran keadaan hidup yang nyaman dan menyenangkan. Sedangkan posisi roda di bawah adalah gambaran keadaan yang dirasa menyakitkan dan membuat putus asa.

Sebagai manusia tentu kita bisa saja merasakan semua putaran tersebut, dan De Masiv mengingatkan bahwa setiap keadaan harus dilihat sebagai anugerah Allah yang patut disyukuri. Karena rasa syukur inilah yang akan menjadi kekuatan bagi kita untuk terus melanjutkan kehidupan. Suka atau duka, gagal atau sukses, di atas atau di bawah, semua adalah anugerah yang memiliki maksud dan tujuan, yakni mendatangkan kebaikan bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita. Tak ada satu keadaan pun dari hidup kita yang diluar kuasa Tuhan, sebab itu kita jangan menyerah atau bersungut-sungut dalam hidup, terutama saat menghadapi situasi pelik.

Keluaran 16:2-15, merupakan bagian dari kisah Israel di padang gurun. Dalam lindungan-Nya, Israel mendapat kekuatan, makanan juga minuman. Perlindungan Tuhan ini menunjukkan bahwa Ia setia dengan janji-Nya. Bagaimana dengan Israel?

Di gurun, perasaan putus asa sering melanda Israel. Dalam keputusasaan itu mereka mudah bersungut-sungut dan marah (ayat 3). Memang Israel adalah bangsa yang mudah marah, bersungut-sungut kepada Musa, Harun, bahkan Allah, tetapi Allah tidak membuat sungut- sungut itu sebagai alasan untuk memutuskan cinta kasih-Nya. Perkataan Tuhan “… maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu” (ayat 12), menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang berlimpah anugerah. Anugerah-Nya tampak melalui kesediaan-Nya memberikan makanan setiap hari bagi umat-Nya, baik bagi umat Israel di padang gurun Sin, maupun bagi kita di gurun persoalan masing-masing. Bagaimana dengan kehidupan kita sekarang? Apakah hidup sebagi anugerah kita jalani dengan syukur atau malah dengan sungut-sungut?

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))

1-10 of 226