Kegiatan‎ > ‎

Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Tak Mudah Jalanku

diposkan pada tanggal 11 Mar 2017 14.09 oleh Admin Situs   [ diperbarui11 Mar 2017 14.12 ]

Kejadian 12: 1-4; Mazmur 121; Roma 4: 1-5, 13-17; Yohanes 3: 1-17

Jalan hidup manusia seringkali tak terduga. Ada manusia yang awalnya kelihatan akan baik-baik saja, ternyata kemudian menempuh kehidupan yang sulit. Ada yang sekarang sangat kesusahan, tetapi kemudian menjadi sangat senang.

Dalam hidup-Nya di dunia, Tuhan Yesus juga menempuh perjalanan yang tidak senantiasa diisi dengan kebahagiaan dan kesenangan. Pengakuan Iman Rasuli merangkum kisah hidup Tuhan Yesus dengan kata-kata, “…yang menderita sengsara…”Dalam minggu-minggu Pra-Paskah, kita mengingat persiapan-Nya menempuh jalan sengsara yang mengarahkan-Nya ke Golgota. Semua itu dilalui-Nya sambil bersandar kepada Allah, Bapa-Nya. Tatkala melewati jalan kehidupan yang tidak mudah, kita dipanggil untuk tetap berpegang pada tuntutan Alkitab dan mengikuti teladan Tuhan Yesus yang bersandar kepada Allah.

Kejadian 12: 1-4
  1. Ke manakah Tuhan memanggil Abram? Mengapa Abram pergi? 
  2. Apakah jalan hidup Abram akan lebih mudah jika ia tinggal di negerinya atau jika ia pergi mengikuti Tuhan? 
Mazmur 121
  1. Siapa yang menjadi penolong bagi pemazmur saat jalan hidupnya sulit? 
  2. Apa sajakah bentuk pertolongan yang pemazmur yakini akan diterimanya? 
Roma 4: 1-5, 13-17
  1. Mengapa kepercayaan Abraham diperhitungkan sebagai kebenaran? 
  2. Apa peran kepercayaan/ iman kepada Tuhan dalam menghadapi jalan hidup yang tidak mudah? 
Yohanes 3: 1-7
  1. Apa alasan Nikodemus datang menjumpai Tuhan Yesus? 
  2. Mengapa Tuhan Yesus mengharapkan orang dilahirkan kembali? 
  3. Apakah kelahiran kembali itu menuntun pada jalan hidup yang mudah atau yang sulit?
Minggu 12 Maret 2017
ANS

Bersama Allah Dalam Pencobaan

diposkan pada tanggal 2 Mar 2017 03.20 oleh Admin Situs

Kejadian 2:15-17, 3:1-7; Mazmur 32; Roma 5:12-19; Matius 4:1-11

Tetap ada dalam kasih karunia Allah dan menolak segala godaan untuk meninggalkan-Nya adalah panggilan iman yang akan kita lakukan pada Minggu Prapaskah 1 ini. Dalam menghadapi pencobaan itu kita mendapat kekuatan dari hikmat Firman Allah. Sebagaimana Tuhan Yesus cakap dan tangguh untuk memegang Firman Allah dan tetap tinggal dalam kasih Bapa, kita pun akan dikuatkan oleh Roh-Nya untuk menang dalam pencobaan dan ujian iman di dalam hidup ini.
  1. Apa saja yang diberikan Allah kepada kepada manusia? (Kej. 2:15-17) Apa yang dikatakan Ular kepada perempuan? (Kej. 3:1) Bagaimana tanggapan perempuan? (Kej. 3:2-3) Bagaimana Ular membalas jawaban itu? (Kej. 3:4-5) Apa yang kemudian terjadi? (Kej. 3:6-7) 

  2. Apa saja yang sudah diberikan Allah kepada Anda di dalam hidup ini? Menurut Anda mengapa Allah memberikan larangan-larangan di dalam hidup ini? Mengapa manusia melanggar larangan yang diberikan Allah? 

  3. Siapa yang disebut berbahagia oleh Daud? (Mzm. 32:1-2) Apa yang terjadi saat orang melanggar perintah Allah menurut Daud? (Mzm. 32:3-4) Apa yang kemudian dilakukan Daud saat ia berdosa? (Mzm. 32:5-11) 

  4. Menurut Anda apa manfaat orang mengakui dosa dan kesalahan-kesalahannya? Kapan terakhir kali Anda mengakui dosa Anda kepada Allah dan kesalahan Anda kepada sesama? Apa yang terjadi?

  5. Bagaimana dosa ada di dalam dunia ini menurut Paulus? (Rm. 5:12-14) Apa yang Yesus Kristus lakukan terkait dosa itu? (Rm. 5:15-19) 

  6. Apakah Anda setuju jika dikatakan bahwa semua orang di dunia ini berdosa? Bagaimanakah jalan keluar supaya manusia tidak mengalami akibat buruk dari dosa menurut Anda? 

  7. Apa yang Yesus alami di padang gurun? (Mat. 4:1) Apa yang Ia kerjakan di sana? (Mat. 4:2) Apa yang dilakukan si pencoba saat Yesus lapar? (Mat. 4:3) Apa jawaban Yesus? (Mat. 4:4) Apa yang terjadi di bubungan Bait Allah? Bagaimana Iblis menggunakan Firman Allah untuk mencobai Yesus? (Mat. 4:5-6) Apa tanggapan Yesus? (Mat. 4:7) Apa ajakan Iblis kepada Yesus di atas gunung yang sangat tinggi? (Mat. 4:8-9) Bagaimana Yesus menangkalnya? (Mat. 4:10) 

  8. Hawa nafsu, kekuasaan dan kekayaan. Tiga hal ini kita jumpai dalam pencobaan yang dialami Yesus. Belajar dari apa yang Yesus lakukan dalam menangkal cobaan Iblis, bagaimana cara Anda menangkal cobaan terkait hawa nafsu, kekuasaan dan kekayaan yang akan membuat Anda menjauhi kasih karunia Allah? 
Minggu 5 Maret 2017
Pdt. EE

Kemuliaan Tuhan, Memulihkan Kehidupan

diposkan pada tanggal 2 Mar 2017 03.15 oleh Admin Situs

Keluaran 24:12-18; Mazmur 2; 2 Petrus 1:16-21; Matius 17:1-9

Pada jaman era presiden Sukarno, ada panggilan khusus untuk beliau yaitu : Paduka Yang Mulia, pada jaman sekarang istilah yang sama seperti itu kita dengar dalam persidangan-persidangan di pengadilan, dengan istilah “Yang Mulia” untuk menyebut Hakim. Apakah makna kata “Mulia” itu?. Bagi beberapa orang mengartikannya berbeda-beda. Menurut G Bromiley (1971), Mulia bisa ditujukkan ke manusia mengandung arti sesuatu yang nampaknya mengesankan dan menuntut pengakuan akan kewibawaan orang tersebut dimana kedudukannya yang penting dan mencolok. Kalau “mulia” ditujukan untuk Tuhan Allah mengandung arti kemahakuasaan, mahaindah dan maha dasyat yang bersifat kekal.

Pengakuan dan keyakinan kita, bahwa Tuhan kita mahamulia, akan mempengaruhi iman dan sikap kita. Karena dengan keyakinan seperti itu dapat merubah arah hidup, apa yang kita kejar dan kita dewa- dewakan didalam hidup ini apakah Tuhan atau kehidupan duniawi, seperti materi, kedudukan dan tingkat sosial.

Daftar Pertanyaan :
  1. Mengapa kemuliaan Tuhan dilambangkan dalam bentuk awan dan api yang menghanguskan dipuncak-puncak gunung, oleh bangsa Israel ? (Keluaran 24:16.17) 
  2. Apa beda raja-raja dari dunia dangan raja-raja yang diurapi Tuhan (Mazmur 2) 
  3. Atas dasar apa Petrus mengatakan : Yesus Kristus sebagai Raja dengan segala kehormatan dan kemuliaanNya? (2 Petrus 1: 17, 19) 
  4. Apa maksud Petrus berkata : ”Tuhan betapa bahagianya kami berada ditempat ini, jika Engkau mau.......(Matius 17: 4). 
  5. Mengapa murid-murid tersungkur dan sangat ketakutan, ketika mendengar :”Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Matius 17: 5, 6) 
  6. Menurut saudara kalau dikatakan Tuhan mahamulia, secara pribadi artinya apa? 
  7. Kalau kita memiliki keyakinan bahwa Tuhan itu mahamulia, dapatkah keyakinan tersebut merubah perilaku dan sikap kita terhadap kehidupan ini ? Coba jelaskan bila dapat karena apa? Kalau tidak dapat karena apa? 
Minggu 26 Februari 2017
Pnt. PT

Balas Dendam

diposkan pada tanggal 18 Feb 2017 21.07 oleh Admin Situs

Matius 5: 38 - 48

Menyerang total adalah falsafah sepak bola yang diusung Zinedine Zidane saat menukangi Real Madrid. Dia mengubah citra sepakbola Madrid di era pelatih sebelumnya yang gemar bertahan dan mengandalkan serangan balik. Bagi Zidane, pertahanan terbaik adalah ketika menyerang. Jika tim serasa tertekan akibat serangan lawan maka cara tercepat untuk mengatasinya adalah dengan sesegera mungkin mengambil kontrol permainan, dan itu hanya bisa dicapai dengan cara menyerang pertahanan lawan.

Menariknya, sejak zaman Yesus pun cara-cara pertahanan diri dengan menyerang, menuntut atau membalas orang lain pun sudah lazim dilakukan. Dan mereka yang melakukan itu menemukan pembenarannya lewat kitab suci. Yesus hadir memutarbalikkan sikap orang-orang terhadap kitab suci. Bagi Yesus yang penting bukan semata-mata yang tertulis secara harafiah, melainkan memahami jiwa dari apa yang tertulis itu. Yesus membongkar ulang esensi hukum taurat, sehingga orang akan memahami bahwa moralitas kerajaan Allah yang diajarkan Yesus itulah yang mampu memberikan jawaban tuntas terhadap persoalan yang dihadapi manusia. 

Sebagai pengikut Kristus, apa sikap saudara saat berhadapan dengan peristiwa: 
  1. Seseorang menyerang dan menghina saudara 
  2. Seseorang menuntut saudara atas hak miliknya 
  3. Seseorang memaksa saudara melakukan sesuatu 
  4. Seseorang meminta sesuatu terhadap saudara 
  5. Setiap orang akan menjadi segambar dengan Allah, apabila ia di dalam hidupnya memberlakukan kebajikan dan kasih yang serupa dengan kasih-Nya. 
Minggu 19 Februari 2017
Pdt. NS

Kesalehan Kristen Yang Sejati

diposkan pada tanggal 9 Feb 2017 09.18 oleh Admin Situs

Ulangan 30:15-20; Mazmur 119:1–8; 1 Korintus 3:1–9; Matius 5:21–37

Siapa orang yang paling saleh yang pernah Anda kenal? Dapatkah saudara hidup sesaleh dia? Kebanyakan orang akan bilang sulit, sulit sekali hidup saleh. Dalam Matius 5, Tuhan Yesus mengajar bahwa kehidupan murid-murid-Nya harus lebih baik daripada kehidupan orang Farisi dan ahli Taurat. Demikian kita dengar di khotbah minggu sebelumnya. “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (ayat 20).”

Ajaran ini tentunya sulit. Orang Farisi dan Ahli Taurat barangkali adalah orang yang berperilaku paling saleh di muka bumi pada zamannya. Mereka menaati setiap titik dan koma dari Hukum Taurat. Hidup mereka diatur begitu rupa supaya tidak bisa melanggar isi Hukum Taurat. Bahkan perkakas makan, minum, masak mereka ditempatkan dan diatur sedemikian rupa supaya tidak melanggar aturan kosher, yakni hukum makanan haram-halal seperti yang diatur oleh Hukum Taurat. Dapatkah murid-murid Tuhan Yesus hidup lebih saleh daripada para ahli Taurat dan orang Farisi?

Dalam bacaan Injil kita hari ini, Tuhan Yesus memberikan contoh bagaimana kehidupan keagamaan para pengikut-Nya harus lebih baik daripada kehidupan orang Farisi dan ahli Taurat yang diatur oleh Taurat. Misalnya dalam 21-22, Tuhan Yesus mengutip Taurat tentang jangan membunuh. Lalu Ia menambahkan bahwa membenci orang sebetulnya sama saja dengan membunuh. Di Halimun kita boleh yakin tidak ada anggota jemaat yang pernah membunuh orang lain. Maka kalau kita pakai standar ahli Taurat dan Farisi, kita semua aman dalam hal kesalehan—kita bukan pembunuh. Namun tentang membenci orang, rasanya kita semua pernah sebel atau benci pada orang lain. Menurut Yesus ini pun salah besar. Tidakkah tuntutan Tuhan lebih tinggi daripada tuntutan hidup orang Farisi dan ahli Taurat di sini?

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini berulang kali memberikan contoh bagaimana bukan saja perilaku yang harus benar, tetapi juga motivasi dan hati dari pengikut-Nya harus benar. Dan tentunya ini menjadi masalah bagi kita yang mengaku pengikut Dia. Dapatkah kita lepas dari membenci orang lain, misalnya? Dari memiliki motivasi dan hati yang kurang tulus? Lebih sulit lagi, dalam penutup Matius 5, Tuhan Yesus berkata, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna (ayat 48). Mustahil bukan? Lebih mudah ikut ahli Taurat dan orang Farisi—cukup buat perilaku yang mengikuti Hukum Taurat, daripada ikut Tuhan Yesus yang menuntut motivasi dan hati yang benar, kalau begitu.

Agaknya ada salah anggapan bahwa Tuhan Yesus menaikkan tuntutan Hukum Taurat dalam bacaan kita. Namun, memang sejak awalnya Hukum Taurat itu bukan sekedar perilaku yang saleh. Sejak awalnya Hukum Taurat menuntut hati dan motivasi yang benar tatkala menaati perintah Allah, yakni kasih kepada Allah (bdk. Ul.30:20 “dengan mengasihi TUHAN, Allahmu”). Maka sejak awalnya, tuntutan Tuhan Allah sudah sedemikian tingginya. Manusia harus menunjukkan perilaku yang benar bersumber dari hati dan motivasi yang benar—mengasihi Tuhan Allah, bukan suatu kepura-puraan supaya terlihat saleh di hadapan sesama manusia.

Dengan jujur saya mengaku tidak dapat memenuhinya. Rasanya saya tidak berlebihan kalau mengklaim bahwa kita semua juga tidak dapat memenuhi tuntutan Taurat dan Tuhan Yesus sebagaimana tertulis dalam Matius 5: 21-37.

Hanya ada satu manusia yang pernah menggenapi semua tuntutan Taurat—Tuhan Yesus. “Aku datang… untuk menggenapinya” (Mat 5: 17). Dia dengan jelas menunjukkan penggenapan tuntutan Taurat dengan mati di atas kayu salib—mengorbankan diri-Nya sebagai Anak Domba Allah yang tak bercacat untuk menghapus dosa dunia. Karena menerima kebenaran-Nya dan korban-Nya, kita mengenakan kebenaran-Nya, bukan kebenaran kita sendiri karena sanggup memenuhi tuntutan Taurat.

Apa maknanya? Kita bergantung pada kasih karunia Allah untuk menjalani kehidupan yang benar. Setiap kali kita tergoda untuk membenci orang lain, atau melakukan hal lain yang tidak disukai Tuhan, kita diingatkan untuk bertanya dalam hati kita, “Apakah ini perilaku yang bersumber dari kasih karunia Allah yang telah saya terima?” Demikianlah seharusnya cara hidup Kristen. Kita senantiasa diundang untuk menyadari bahwa tingkah laku kita sepatutnya didorong oleh kasih karunia Allah yang nyata dalam Tuhan Yesus Kristus.

Ini tidak berarti kehidupan saya dan Saudara serta-merta lebih bermoral, lebih saleh daripada orang-orang lain. Ini, sebaliknya, berarti kita harus selalu bersandar kepada Tuhan Yesus—Tuhan dan Guru kita—untuk menjalani kehidupan keagamaan yang lebih benar, yang lebih jujur pada kelemahan manusiawi kita dan kebergantungan kita yang menyeluruh pada kasih karunia-Nya, alih-alih pamer kesalehan.

Puisi yang ditulis oleh Maya Angelou berikut, menurut saya menunjukkan kesalehan Kristen yang sejati—yang jujur pada kelemahan diri sendiri dan bergantung kepada kasih karunia Allah yang nyata dalam Tuhan Yesus Kristus.

"I Am A Christian" 
“Saya Seorang Kristen” 

When I say ... "I am a Christian"  
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not shouting "I'm clean livin'.
" Saya tidak berseru “Hidup saya benar.”

I'm whispering "I was lost, 
 Saya berbisik, “Saya dahulu terhilang,

Now I'm found and forgiven." 
Sekarang saya ditemukan dan diampuni.”

When I say ... "I am a Christian" 
 Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I don't speak of this with pride. 
 Saya tidak mengucapkannya dengan kebanggaan.

I'm confessing that I stumble 
 Saya mengaku saya terjatuh

and need Christ to be my guide. 
Dan butuh Kristus sebagai pandu saya.

When I say ... "I am a Christian" 
 Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not trying to be strong. 
Saya tidak berupaya menjadi kuat.

I'm professing that I'm weak 
Saya menyatakan saya lemah

And need His strength to carry on. 
Dan membutuhkan kekuatan-Nya untuk melanjutkan hidup.

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not bragging of success. 
Saya tidak menyombongkan keberhasilan.

I'm admitting I have failed 
Saya mengaku saya telah gagal

And need God to clean my mess 
Dan membutuhkan Allah untuk membereskan kekacauan saya

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not claiming to be perfect, 
Saya tidak mengklaim diri sempurna,

My flaws are far too visible 
Kecacatan saya terlalu kasat mata

But, God believes I am worth it. 
Tetapi, Allah yakin saya layak.

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen” 
  
I still feel the sting of pain. 
Saya masih merasakan sengatan sakit.

I have my share of heartaches 
Saya memiliki sakit hati

So I call upon His name. 
Jadi saya memanggil Nama-Nya.

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not holier than thou, 
Saya tidak lebih suci dari kamu,

I'm just a simple sinner 
Saya hanya pendosa sederhana

Who received God's good grace, somehow. 
Yang menerima kasih karunia Allah, entah bagaimana. 

Minggu, 12 Februari 2017
Agustian N. Sutrisno

Hidup Keagamaan = Memberikan Pengaruh Yang Baik

diposkan pada tanggal 31 Jan 2017 11.14 oleh Admin Situs

Yesaya 58:1-12, Mazmur 112:1-10, 1 Korintus 2:1-16, Matius 5:13-20

Semakin bertumbuh dan berbuah kehidupan beriman seseorang, semakin besar juga kasih-Nya kepada sesama ciptaan Allah. Ada pengaruh baik yang ia berikan kepada sesamanya, berangkat dari kekuatan kasih Allah yang sudah ia alami dan terima. Orang seperti itu tentu berbahagia, sebab pikiran dan hatinya dipenuhi kebaikan. Tidak ada pikiran negatif, amarah berkepanjangan dan permusuhan yang berlarut-larut. Sebab bukankah yang menjadi fokus utama dalam hidupnya ialah menerima kebaikan Allah yang memampukannya memberikan pengaruh baik kepada sekitarnya? Bukankah demikianlah sejatinya hidup keagamaan itu seharusnya?
  1. Apa yang harus diserukan kuat-kuat oleh nabi Yesaya? (Yes. 58:1) Apa yang terjadi dengan umat Allah saat itu? (Yes. 58:2-3) Apa yang Allah lihat keliru dari sikap umat-Nya? (Yes. 58:3-5) Tindakan iman yang seperti apa yang seharusnya dihidupi oleh umat-Nya? (Yes. 58:6-7) Apa yang terjadi jika umat melakukan tindakan imannya dengan benar? (Yes. 58:9-12) 

  2. Menurut Anda, apakah hidup beriman itu terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan yang ilahi saja? Mengapa? Apakah pengalaman tindakan umat yang keliru pada zaman nabi Yesaya juga Anda temukan dalam pengalaman umat Allah pada zaman sekarang? Dalam bentuk seperti apakah? 

  3. Siapa yang disebut berbahagia oleh Pemazmur? (Mzm. 112:1) Apa yang akan dialami oleh orang yang berbahagia menurut Pemazmur itu? (Mzm. 112:2-3) Apa yang akan diterima oleh orang-orang benar? (Mzm. 112:4-9) Apa yang terjadi dengan orang-orang fasik? (Mzm. 112:10) 

  4. Menurut Anda, apakah ada kaitan antara takut kepada Allah dengan berbuat baik kepada sesama? 

  5. Apa yang menurut Paulus penting untuk diketahuinya dalam menjalankan tugas kerasulannya? (1 Kor. 2:1-2) Apa yang menjadi kekuatan bagi Paulus dalam karya penginjilannya? (1 Kor. 2:3-4) Mengapa demikian? (1 Kor. 2:5) Menurut Paulus, apa perbedaan hikmat dunia dengan hikmat Allah? (1 Kor. 2:6-12) Apa manfaat dari hikmat yang diberikan Allah itu? (1 Kor. 2:13-16) 

  6. Menurut Anda apakah ada perbedaan motivasi dari perbuatan baik yang dilakukan oleh orang yang tidak mengenal Kristus dan orang yang mengikut Kristus? 

  7. Apa simbol-simbol yang digunakan Tuhan Yesus untuk menegaskan bagaimana pengikut-Nya harus berperilaku di dunia? (Mat. 5:13-16) Bagaimana sikap Tuhan Yesus terhadap hukum Taurat dan kitab para nabi? (Mat. 5:17-20) Bagaimana kehidupan keagamaan para pengikut Kristus seharusnya? (Mat. 5:20) 

  8. Pengaruh-pengaruh baik apa yang akan Anda lakukan pada hari-hari ke depan sebagai pengikut Kristus bagi orang-orang lain dan sesama ciptaan Allah dalam hidup Anda? 
Minggu 5 Februari 2017
Pdt. EE

Bahagiakah Kamu

diposkan pada tanggal 27 Jan 2017 14.23 oleh Admin Situs

Matius 5:1-12

Setiap orang mendefinisikan kebahagiaan itu dalam berbagai versi. Beberapa mungkin akan menjawab bahwa kebahagiaan itu adalah “kondisi hati yang disebabkan oleh tercapainya setiap apa yang kita inginkan”. Yang lain akan mengatakan kebahagiaan itu adalah “rasa cukup dan rasa syukur setiap waktu”. Sementara yang lain mengkaitkan kebahagiaan dengan kepemilikan harta benda. Lalu apa definisi bahagia menurut Yesus?
  1. Apa maksud Yesus mengatakan bahwa orang yang miskin di hadapan Allah (ayat 3) dan orang yang berdukacita (ayat 4) disebut berbahagia? 
  2. Mengapa orang yang lapar dan haus akan kebenaran (ayat 6) disebut berbahagia oleh Yesus? 
  3. Orang yang lembut hatinya (ayat 5), yang murah hatinya (ayat 7) juga disebut berbahagia. Mengapa demikian? 
  4. Paling akhir Yesus menegaskan, bahwa yang suci hatinya adalah orang yang berbahagia (ayat 8). Adakah manusia yang demikian? 
  5. Apakah dalam kehidupan ini, kita termasuk orang-orang yang memiliki kebahagiaan versi Yesus? Apakah refleksi saudara?
Minggu 29 Januari 2017
Pdt. NS

Jadilah Pembawa Kabar Baik

diposkan pada tanggal 27 Jan 2017 14.16 oleh Admin Situs   [ diperbarui27 Jan 2017 14.18 ]

Yesaya 9:1–4; Mazmur 27:1, 4-9; 1 Korintus 1:10-18; Matius 4:12-23

Injil merupakan kabar baik yang diberikan Allah melalui perantaraan Tuhan Yesus yang turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Allah menyelamatkan manusia karena kasih-Nya yang begitu besar. Untuk itu Tuhan menginginkan setiap orang yang percaya menjadi pribadi yang sungguh-sungguh merasakan karya keselamatan Allah dalam hidupnya dan memiliki hati untuk memberitakan karya keselamatan itu kepada sesama. Memberitakan injil merupakan misi dari Tuhan yang tertanam dalam diri setiap orang percaya untuk memancarkan terang-Nya. (Yesaya 9 :1-2)

Kerinduan memberitakan Injil akan terus nampak jika karya keselamatan Allah dirasakan dan meresap dalam kehidupan umat- Nya, yang senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah untuk mampu menghadapi tantangan hidup dan tidak mudah digoyahkan oleh berbagai hal yang tidak sesuai kehendak Tuhan.

Sehingga pengalaman hidup kita bersama Tuhan menjadi daya tarik orang lain yang ingin merasakannya juga. Memberitakan Injil menjadi bagian dari sikap dan tindakan orang percaya di sepanjang hidupnya. Apakah Saudara rindu menjadi pembawa kabar baik dari Allah?
  1. Tuhan senantiasa mengerjakan karya keselamatan bagi umat-Nya, apakah Saudara merasakannya? 
  2. Daud begitu merasakan penyertaan Tuhan sebagai Terang, Keselamatan dan Benteng Hidup. (Mazmur 27:1). Apa arti penyertaan Tuhan dalam kehidupan Saudara? 
  3. Rasul Paulus menegaskan bahwa karya keselamatan Allah merupakan sumber kekuatan bagi pemberitaan Injil. (1 Korintus 1 : 18). Allah senantiasa melakukan karya yang terbaik bagi kehidupan Saudara, apa tanggapan Saudara? Apakah Saudara ingin melakukan seperti yang Allah kerjakan? Jika ya, apa motivasi Saudara? 
  4. Kedatangan Tuhan Yesus ke Galilea memberitakan Injil dan membawa pemulihan bagi banyak orang. (Matius 4 : 12 – 23). Di samping itu Tuhan Yesus memanggil Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes untuk menjadi murid-Nya memberitakan Injil. Jika Tuhan Yesus berkenan memanggil Saudara untuk menjadi murid-Nya untuk memberitakan Injil pada masa kini, sudah siapkah Saudara ? Apa respon Saudara terhadap panggilan tersebut?
Minggu 22 Januari 2017
Pnt. BVM

Setia Ikut Tuhan

diposkan pada tanggal 14 Jan 2017 10.26 oleh Admin Situs

Yesaya 49:1-7, Mazmur 40:1-11, 1 Korintus 1:1-9, Yohanes 1:29-42

Sejatinya Tuhan selalu setia melayani manusia dengan kasih yang penuh rahmat dan pengorbanan. Ia tidak ingin manusia dan segenap ciptaan mengalami kehancuran karena kuasa dosa. Kasih Tuhan adalah kasih yang berkorban. Kuasa kasih Tuhan itu diberikan kepada kita dengan rela. Kepada mereka yang menyambut kasih itu dan dengan tulus menghidupinya, akan mengalami pembaruan hidup. Bahkan bukan hanya pembaruan hidup diri sendiri saja, tetapi akan dikuatkan dan diperlengkapi Tuhan untuk membaharui kehidupan banyak orang dan segenap ciptaan. Pertanyaannya, apakah kita cukup peka untuk menyimak panggilan-Nya dan setia mengikuti-Nya?
  1. Israel sering disebut sebagai Hamba Tuhan. Begitu juga para Raja, Nabi, Imam, pada Perjanjian Lama. Pada bacaan ini, sebutan “Hamba” ditujukan baik kepada Nabi maupun Israel sebagai sebuah bangsa. Kapan Sang Hamba ini menerima panggilan dari Tuhan? (Yes. 49:1) Apa yang Tuhan berikan kepada Sang Hamba itu? (Yes. 49:2-3) Apa tanggapan Nabi menerima janji Tuhan itu? (Yes. 49:4) Apa jawaban Tuhan kemudian? (Yes. 49:5-7) 

  2. Kapan Anda memutuskan untuk mengikut Tuhan? Apa penyebabnya? Bagaimana keadaan waktu itu jika dibandingkan dengan keadaan yang Anda alami saat ini? Apa yang menguatkan Anda untuk terus setia mengikut Tuhan? 

  3. Daud menaikan syukur dan doanya. Apa yang menjadi kerinduan Daud? (Mzm. 40:2) Apa jawaban Tuhan? (Mzm. 40:3-4) Bagaimana nasihat Daud kepada pembaca Mazmur kemudian? (Mzm. 40:5) Bagaimana pengalaman Daud bersama dengan Tuhan? (Mzm. 40:6-7) Apa yang menjadi komitmen Daud kemudian? (Mzm. 40:8-11) 

  4. Apa yang menjadi isi doa-doa Anda selama ini? Apa komitmen yang Anda buat setelah berdoa?

  5. Sebagai apa Paulus memperkenalkan dirinya kepada Gereja Korintus? (1 Kor. 1:1) Bagaimana Paulus menggambarkan Gereja Korintus itu? (1 Kor. 1:2) Apa saja yang sudah diberikan Allah kepada Gereja Korintus? (1 Kor. 1:4-9) 

  6. Kapan terakhir kali Anda berbagi pengalaman iman Anda kepada orang lain? Apa saja yang sudah Anda terima dari Allah selama ini? Menurut Anda, apakah ada maksud dari Allah saat Ia memberikan itu semua kepada Anda? 

  7. Apa yang dipahami Yohanes mengenai Yesus? Bagaimana Yohanes menggambarkan Yesus dan karya-Nya? Sebuatan apa yang digunakan Yohanes kepada Yesus? (Yoh. 1:29-34) Apa yang terjadi dengan kedua murid Yohanes setelah menjumpai Yesus? (Yoh. 1:35-37) Bagaimana tanggapan Yesus kepada dua murid Yohanes itu? Bagaimana juga tanggapan mereka kepada Yesus? (Yoh. 1:38-39) Siapa yang pada akhirnya mengikut Yesus? (Yoh. 1:40) Apa yang kemudian dilakukannya? (Yoh. 1:41-42) 

  8. Siapakah Yesus menurut Anda? Apa yang terjadi sehingga Anda mengenal Yesus dan karya-Nya? Apakah ada perubahan yang terjadi dalam diri orang-orang yang ada di sekitar kehidupan Anda akibat Anda mengikut Yesus? Perubahan seperti apakah? 
Minggu 15 Januari 2017
Pdt. EE

Baptisan

diposkan pada tanggal 14 Jan 2017 10.19 oleh Admin Situs


Baptisan merupakan tanda dan meterai bahwa seseorang dengan hidup lamanya "diselamkan" ke dalam kematian Kristus dan dibangkitkan bersama kebangkitan Kristus sebagai manusia baru (Rm. 6:4). Artinya, baptisan itu menyatukan setiap orang percaya yang menerimanya dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Rm. 
6:3-5). Air baptisan merupakan lambang (tanda) darah Kristus yang menyucikan manusia dari dosa (I Ptr. 3:21). 
  1. Apakah yang membuat Yohanes terkejut saat Yesus datang dan meminta dibaptis? 
  2. Apakah dengan dibaptisnya Yesus, menunjukkan bahwa Ia juga manusia berdosa? 
  3. Apa tanda yang muncul setelah pembaptisan Yesus? 
  4. Jika saudara sudah dibaptis, apakah ada perubahan dalam kehidupan saudara?
  5. Jika saudara belum dibaptis, apakah ada hal yang menjadi ganjalan untuk menerima baptisan?
Minggu 8 Januari 2017
Pdt. NS

1-10 of 346