Kegiatan‎ > ‎

Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Keramahan kepada orang kecil

diposting pada tanggal 20 Jun 2017 07.29 oleh Admin Situs

Yeremia 28:5-9, Mazmur 89:1-4, 15-18, Roma 6:12-23, Matius 10:40-42

Dalam kehidupan bersama, acap kali orang tidak dapat menunjukkan keramahan kepada orang lain. Biasanya orang yang tidak mampu memberikan sumbangsih tertentu bagi orang lain, tidak mendapat keramah-tamahan. Hubungan antar pribadi yang berangkat dari transaksi untung dan rugi membuat satu sama lain mengutamakan kepentingan saja dan bukan dari kasih kepedulian. Jika ini yang terjadi maka tidak ada damai sejahtera. Kecurigaan dan pengabaian membuat masing-masing pihak hidup dalam suasana yang dingin dan kasar.

Sebagai tubuh Kristus, gereja diperlengkapi Kristus untuk berbelas kasih dan menunjukkan keramah-tamahan kepada “orang kecil”. Kepedulian dan belas kasih Kristus yang hidup di dalam diri pengikut Kristus akan membuat gereja menjadi jalan berkat Allah yang memberikan kelegaan dan kesegaran hidup bagi dunia ini.
  1. Siapa saja yang dianggap “orang kecil” di tengah masyarakat saat ini?
  2. Apakah murid-murid Yesus termasuk dalam kalangan “orang kecil” pada zaman mereka?
  3. Mengapa “orang kecil” acap kali tidak disambut dan dianggap oleh banyak orang?
  4. Apa yang terjadi dengan orang yang menyambut “orang kecil” menurut Yesus?
  5. Tindakan-tindakan apa saja yang dapat dilakukan untuk menyambut “orang kecil”?
Minggu 2 Juli 2017
EE

Setia meskipun tertekan

diposting pada tanggal 20 Jun 2017 07.19 oleh Admin Situs   [ diperbarui ]

Yeremia 20:1-18
Pergumulan batin Yeremia menunjukkan kontras dengan Pasyhur. Keberanian luar biasa dari Yeremia mengumumkan penghukuman Tuhan atas Pasyhur dan umat Yehuda (Yeremia 20:3-6) berubah total pada perikop berikutnya (Yeremia 20:7-18). Yeremia menuduh telah sangat dipaksa Tuhan untuk menyatakan penghukuman bagi bangsa yang bebal (7a). Pesan dan nubuat yang Allah percayakan untuk Yeremia sampaikan telah membuat ia menjadi olokan orang sebangsanya (7b). Pada saat tentangan dan penolakan bahkan fitnahan datang menerpanya, sepertinya Tuhan tidak membela Yeremia.

Ini membuat Yeremia seperti dalam situasi serba salah. Ingin meninggalkan pelayanan, hati nuraninya menderita (Yeremia 20:5). Setia terus melayani, ancaman dan tekanan bahaya terus harus ia tanggung. Puncak pergumulan batin ini terungkap dalam bentuk keluhan pedih ingin mati mirip yang Ayub utarakan (Yeremia 20:14, 15: bdk. Ayub ps. 3).

Di sini kita mendapat secercah gambaran seperti apa rasanya menjadi pengikut Tuhan. Bukan seperti para penguasa dunia yang menikmati kekuasaan, kelimpahan, dan kemapanan. Yeremia menunjukkan risiko menjadi orang yang hidup dekat dengan Tuhan: sebuah kehidupan yang penuh tarik-ulur, penuh kejutan, naik dan turun layaknya wahana roller coaster.

Akan tahankah hamba Tuhan apabila pemberitaannya terus-menerus ditolak bahkan dirinya diancam dengan kekerasan bila ia masih terus berbicara menyampaikan kebenaran firman Allah dengan setia. Masalah bertambah berat, bila tampaknya Tuhan juga bungkam saat si hamba Tuhan mengadu kepada-Nya akan tekanan tersebut.

Alkitab menyodorkan satu contoh kehidupan pelayan Tuhan yang setia. Hidupnya sama sekali tak mudah, penuh pergumulan dan kejutan, tetapi di dalam kehidupan itu dan di tengah kekelamannya, Tuhan berkarya. Mari kita bercermin pada kehidupan Yeremia: bagaimana karya Kristus nyata di dalam hidup kita segamblang karya itu nyata dalam hidup Yeremia.

Hamba Allah adalah manusia biasa namun berbeda dari mereka yang tidak dalam Tuhan dan tidak dalam ketaatan kepada rencana Allah. Meski mengalami kelemahan, penderitaan, kepedihan, ketertekanan seberat apa pun, hamba-hamba Tuhan seperti Yeremia mengalami juga kekuatan, penghiburan, keberanian bahkan kemampuan menyanyikan pujian. Puncak dari pergumulan derita pelayanan ini kita jumpai dalam Yesus Kristus. Dialah model dan sumber kekuatan kita dalam pelayanan.

Renungkanlah :
  1. Peristiwa apa yang Saudara simpulkan dari Yeremia 20 : 1 – 18?
  2. Apakah Saudara mengalami kehidupan mirip dengan Yeremia?
  3. Apakah Saudara melihat kasih Allah di tengah kesesakan hidup Saudara?
  4. Apa arti pengharapan, jika Saudara berjalan bersama Tuhan ternyata kehidupan Saudara bertambah susah?
  5. Mengapa Saudara begitu yakin bahwa Tuhan menyertai Saudara walaupun hidup Saudara susah?
Minggu 25 Juni 2017
BM

Ini aku utus aku!

diposting pada tanggal 17 Jun 2017 09.37 oleh Admin Situs

Matius 9:35-10:8

“Ini aku, utus aku!
Kudengar Engkau memanggilku.
Utus aku; tuntun aku;
‘Ku prihatin akan umatMu.”

Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan lagu ini. Salah satu karya dari Daniel Schutte (1991) yang tercantum dalam Pelengkap Kidung Jemaat nomor 177. Lagu ini sering ini dipakai dalam liturgi, khususnya di bagian Pengutusan. Lalu, apakah ini hanya sekedar lagu pengutusan? Apakah pengutusan dalam setiap ibadah tersebut benar-benar telah mengutus kita? 
  1. Apa yang terlintas dalam benak saudara saat mendengar kata “Pengutusan”? 
  2. Apa tiga hal utama yang menjadi karya Yesus di tengah dunia? 
  3. Apa yang melandasi Yesus melakaukan karya-Nya di dunia? 
  4. Apakah tugas pengutusan yang Yesus berikan bagi para murid saat itu? 
  5. Apakah tugas pengutusan yang Yesus berikan bagi saudara? 
Ketika Tuhan memanggil kita dalam pelayanan karya kasih Allah di dunia, Ia pasti memperlengkapi kita dengan anugerah-Nya, maka janganlah ragu untuk terus berkarya bagi kebaikan sesama ciptaan.

Minggu 18 Juni 2017
NS

Partisipasi yang Sempurna

diposting pada tanggal 11 Jun 2017 22.30 oleh Admin Situs

Kej 1:1-2:4; Mzm 8; 2 Kor 13:11-13; Mat 28:16-20

Alkitab penuh dengan kisah Allah yang melibatkan manusia dalam karya-karya-Nya. Ini dilandasi oleh keberadaan Allah sendiri yang menyatakan diri-Nya sebagai Allah Tritunggal—Allah Esa yang menyatakan diri dalam tiga persona. Ketiga persona ini—Bapa, Putra dan Roh Kudus—saling berpartisipasi dalam karya satu sama lain. Oleh karena itu, kita sebagai umat-Nya juga ikut terhisab dalam partisipasi Ilahi.

Kej 1:1-2:4
  1. Apakah ketiga persona Allah Tritunggal dapat kita jumpai dalam kisah penciptaan (ayat 1-3)?
  2. Mengapa Allah merujuk pada dirinya dengan kata ganti “Kita” (ayat 26) dan “Aku” (ayat 29)?
  3. Bagaimanakah Allah melibatkan manusia pertama dalam karya-Nya memelihara dunia?
Mzm 8
  1. Apakah tanda bahwa Allah mengajak manusia berpartisipasi dalam karya-karya-Nya dalam Mazmur ini
  2. Bagaimanakah pemazmur menggambarkan hubungan antara Allah dengan manusia?
2 Kor 13: 11-13
  1. Perhatikanlah salam penutup Paulus di sini. Dapatkah kita jumpai ketiga persona Allah Tritunggal?
  2. Mengapa begitu penting bagi Rasul Paulus untuk memberikan salam penutup dalam nama ketiga persona Allah Tritunggal kepada jemaat Korintus?
Mat 28: 16-20
  1. Dalam kalimat penutup-Nya di dunia, Tuhan Yesus menyebut ketiga persona Allah Tritunggal. Apa maknanya bagi para murid di masa itu?
  2. Bagaimanakah Tuhan Yesus ingin kita sebagai murid-murid-Nya berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya pada masa kini menurut ayat 16-20?
Minggu 11 Juni 2017
ANS

Roh Kudus memulihkan dan mempersatukan

diposting pada tanggal 30 Mei 2017 20.02 oleh Admin Situs

Kisah Para Rasul 2:1-21; Mazmur 104:24-35; 1 Korintus 12:3-13; Yohanes 20:19-23

Hari ini kita merayakan Pentakosta, yaitu hari kelima puluh sesudah Paskah. Pentakosta mengingatkan kita sebagai pengikut Kristus, bahwa Roh Kudus memberikan kita kuasa untuk menjalankan hidup dengan iman yang berbuahkan dalam tindakan kasih.

Karya Roh Kudus dalam diri orang percaya menjadi kekuatan yang melengkapi, supaya karya-karya hidup kita bukanlah karya yang merusak dan memisahkan kasih di antara ciptaan, tetapi menjadi karya-karya yang memulihkan dan mempersatukan.
  1. Apa arti perayaan Pentakosta bagi Anda?
  2. Apa saja yang diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya yang ketakutan untuk bersaksi dalam melanjutkan kebaikan Yesus? (Yoh. 20:19, 21-23)
  3. Keajaiban apa yang terjadi pada saat murid-murid berkumpul menantikan janji Kristus melalui karya Roh Kudus di Yerusalem? (Kis. 2:4-11)
  4. Apakah keajaiban itu dipahami dan diterima oleh semua orang? Mengapa? Bagaimana sikap Petrus menyikapi itu? (Kis. 2:12-20)
  5. Apa yang menyebabkan orang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan? (1 Kor. 12:3)
  6. Apa akibatnya jika gereja mendapatkan karunia-karunia Roh Kudus? (1 Kor. 12:4-13)
  7. Tindakan apa saja yang dapat Anda kerjakan sebagai wujud memulihkan sesuatu yang tidak berjalan dengan semestinya? Bagaimana Roh Kudus berperan di dalamnya?
  8. Tindakan apa saja yang dapat Anda kerjakan sebagai wujud kerjasama untuk melakukan kebaikan bersama dalam hidup Anda? Bagaimana Roh Kudus berperan di dalamnya
Minggu Pentakosta A, 4 Juni 2017
EE

Kekuatan doa

diposting pada tanggal 27 Mei 2017 10.00 oleh Admin Situs

Yohanes 17:1-11

Hasil gambar untuk power of praySemua agama dan keyakinan memiliki satu ritual yang sama yaitu doa. Dalam pelaksanaannya patut disayangkan ketika doa hanya menjadi formalitas kegiatan agama. Doa dari sudut pandang Yesus merupakan relasi antara diri-Nya dengan Bapa. 

Dalam injil kita menemukan Yesus yang berdoa bagi para murid-Nya berdoa untuk pemeliharaan iman mereka. Doa menjadi pendorong bagi kita untuk mendapatkan kekuatan melakukan sesuatu. Doa menghadirkan kuasa Tuhan yang menguatkan, memotivasi dan menggerakkan kita untuk berkarya meski berada di tengah tekanan hidup.
  1. Apakah saudara rajin memelihara komunikasi dengan Tuhan melalui doa?
  2. Doa apa yang paling sering saudara panjatkan?
  3. Apakah doa berdampak dalam kehidupan pribadi saudara?
  4. Saat saudara berkomunikasi dengan Tuhan lewat doa, apa yang Ia kehendaki supaya saudara kerjakan?
Minggu 28 Mei 2017
NS

Siapa bilang Yesus hanya diam?

diposting pada tanggal 18 Mei 2017 10.44 oleh Admin Situs

Yesus yang diam dan tidak melawan kerap menjadi rujukan kita ketika menghayati pengalaman tidak menyenangkan. Surat 1 Petrus 2:23 pun kita kutip: “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” Dan, meneladani sikap-Nya, kita –para murid– memilih sikap sama: Diam saat dijahati, tidak melawan ketika diperlakukan tidak adil. Biar Tuhan yang bertindak, demikian kita menggerutu sambil mengelus dada.

Tapi, tunggu dulu. Jika cermat membaca Alkitab, kita akan tahu bahwa diam bukanlah satu-satunya pilihan sikap Yesus. Lihat saja ketika kepada-Nya diperhadapkan pelanggaran adat-istiadat oleh murid-murid-Nya, yaitu saat mereka, seperti dituturkan orang Farisi dan ahli Taurat, "… Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan." (Matius 15:2) Bukannya diam, Yesus justru berkata: "Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? … Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu…. Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.” (ayat 3-6) – Bukan sekedar membela murid-murid-Nya, melainkan Yesus menunjukkan persoalan serius yang terjadi, yaitu: pelanggaran perintah Allah demi adat-istiadat. Tentu saja hal ini tidak boleh dibiarkan!

Selain melalui kata-kata, ke-tidak-diam-an Yesus juga dinyatakan melalui tindakan. Misalnya, dalam kisah Zakheus (Lukas 19:1-10). Sebetulnya, Yesus bisa saja mengabaikan Zakheus yang berada di atas pohon. Tapi, tidak saja berhenti di bawah pohon, Yesus bahkan mengajak Zakheus berbicara. Kata-Nya, "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." (ayat 5) Hasilnya, tentu kita tahu, Zakheus bertobat! Kata Yesus dengan senang, "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.” (ayat 9) – Wah, jika Yesus melewati Zakheus begitu saja, apa yang akan terjadi? Syukurlah, Ia memilih untuk tidak berdiam diri!

Mencermati Yesus yang aktif bersuara dan bersikap dalam meresponi berbagai persoalan yang terjadi, sudah waktunya bagi kita –murid-murid-Nya– meneladani Sang Guru secara komplit. Tuhan pun tampaknya mempercayai kita, sehingga kita diperkenankan untuk mengambil bagian dalam keidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Jangan sia-siakan kepercayaan-Nya, mari bersuara dan bersikap demi Indonesia Tercinta!

Soli Deo Gloria! 

Minggu 21 Mei 2017
TCS

Pergi dalam damai

diposting pada tanggal 12 Mei 2017 06.45 oleh Admin Situs

Kisah Para Rasul 7:55-60; Mazmur 31:1-6, 15-16; 1 Petrus 2:2-10; Yohanes 14:1-14

Menghadapi kematian seringkali diwarnai oleh perasaan takut. Tidak ada kedamaian. Namun, batu-batu nisan orang Kristen seringkali ditulisi RIP: Rest in Peace atau Recquiescat in Pace, yang berarti beristirahat dalam damai. Apa yang melandasi keyakinan Kristen bahwa orang yang meninggal dalam Tuhan boleh pergi dalam damai?

Kisah Para Rasul 7: 55-60
  • Apa yang Saudara ketahui tentang latar belakang Stefanus?
  • Mengapa dia rela mati demi imannya kepada Tuhan Yesus?
  • Apakah yang menjadi penghiburannya dalam menghadapi kematian?
Mazmur 31:1-6, 15-16
  • Mengapa Pemazmur dapat mengatakan nyawanya diserahkannya ke tangan Tuhan Allah?
  • Apa Saudara juga memiliki keyakinan semacam ini?
1 Petrus 2:2-10
  • Mengapa Tuhan Yesus dibandingkan dengan batu penjuru?
  • Apakah Saudara juga mau dipergunakan sebagai batu hidup dalam pembangunan rumah rohani? Apa makna perkataan ini?
  • Apa yang menjadi penghiburan Saudara jika Allah menganggap Saudara bagian dari bangsa terpilih, imamat rajani, dan umat yang kudus?
Yohanes 14:1-14
  • Bagaimanakah pengajaran tentang Rumah Bapa menolong kita mempersiapkan diri untuk kematian?
  • Apakah dalam mempersiapkan diri untuk kematian Saudara juga sudah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan?
Minggu 14 Mei 2017
AS

Merawat atau merusak kehidupan?

diposting pada tanggal 3 Mei 2017 14.02 oleh Admin Situs

Kisah Para Rasul 2:42-47; Mazmur 23; 1 Petrus 2:19-25; Yohanes 10:1-10

Kebiasaan baik yang saling terkait dan berbuahkan sukacita

Gereja yang sehat ialah gereja yang mau belajar kepada Kristus dan saling peduli satu sama lain. Di dalamnya Allah memberkati gereja itu dengan perubahan hidup anggotanya untuk menyadari betapa berkuasanya kasih Allah itu, sehingga mereka tidak ragu dan takut untuk berbagi kehidupan satu sama lain. Tentu semua itu dilakukan dengan tulus hati dan gembira karena anugerah-Nya. Gereja yang seperti itu pada akhirnya bukan saja menjadi gereja yang memberi kesegaran hidup bagi orang-orang di dalamnya, tetapi juga memberi dampak baik dan menyenangkan di tempat di mana Allah mengutus mereka.
  • Tindakan apa saja yang dilakukan gereja mula-mula sebagaimana dicatat oleh penginjil Lukas dalam Kisah Para Rasul 2:42-47? Apakah yang menyebabkan mereka melakukan hal-hal itu? Apakah tindakan-tindakan itu saling terkait satu sama lain? 

  • Kebiasaan-kebiasaan apa yang ada di keluarga/rumah Anda yang menurut Anda akan menjadikan keluarga/rumah Anda dipenuhi dengan ketulusan dan kegembiraan serta menyenangkan bagi setiap orang yang ada di dalamnya? 
Allah Sang pemelihara, pembimbing, penjaga dan penyambut
Gambaran Allah sebagai seorang gembala yang baik tidak asing bagi orang Kristen. Pada mulanya, gambaran ini merupakan perenungan iman dan kehidupan dari Daud (Mazmur 23:1-4). Gambaran itu mengungkapkan betapa tenteramnya hidup yang berangkat dari pengakuan bahwa Allah itu memelihara, memberikan apa yang dibutuhkan dan memberikan pencerahan budi dan nurani. Saat suasana pikiran dan hati dilanda kemelut dan kesedihan sekalipun, iman kepada Allah yang menjaga dan membimbing akan memberikan kekuatan yang baru untuk terus melangkah dalam cinta kasih dan pengharapan. Gambaran lain yang Daud ungkapkan ialah kehadiran-Nya sebagai seorang penjamu di sebuah pesta yang menyenangkan (Mazmur 23:5-6) Gambaran ini menyadarkan setiap orang percaya akan kepedulian dan keramahtamahan Allah yang merangkul dan menyambut semua orang untuk menikmati kebaikan-Nya yang setia.
  • Kuasa kasih Allah bagi Daud digambarkan mirip dengan seorang gembala yang baik dan penjamu di sebuah pesta yang menyenangkan. Bagi Anda sendiri, bagaimanakah Anda menggambarkan tindakan kasih Allah yang telah dinyatakan dalam kehidupan Anda? Seperti apakah Allah bagi hidup Anda? 
Mengikuti teladan Kristus
Perbuatan baik selalu disertai dengan tindakan yang berkurban. Kerelaan berkurban itu datang-Nya dari Allah, yang memampukan seseorang untuk terus mengupayakan apa yang baik walau harus mengalami kesusahan dan penderitaan sekalipun (1 Petrus 2:19-20). Tuhan Yesus Kristus menjadi teladan yang nyata terkait hal ini (1 Petrus 2:21). Kejahatan tidak dikalahkan dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan. Ada sebuah pembaruan hidup karena cara pandang yang baru akibat mengimani Kristus yang sudah memberikan kasih yang besar itu (1 Petrus 2:23-25).
  • Apa yang dapat membuat Anda memperbarui cara pandang dalam hidup Anda? Apakah Anda setuju jika dikatakan bahwa perbuatan baik itu selalu disertai dengan tindakan yang berkurban? Mengapa? 
Yang membinasakan dan yang menghidupkan
Kita tidak dapat menutup mata bahwa di dalam kehidupan komunitas beragama pun, dapat dijumpai motivasi yang tidak baik. Hal itu dapat ditemukan dalam sikap-sikap yang lebih mencari keuntungan bagi diri sendiri ketimbang memberikan apa yang terbaik yang dapat diberikan bagi orang lain (Yohanes 10:1,5,8). Sikap mencari keuntungan itu sama saja dengan tindakan pencurian. Yang dicuri adalah sukacita dan kedamaian. Pada akhirnya sikap merusak ini hanya akan melahirkan perpecahan. Sebaliknya, motivasi yang sehat berangkat dari kepedulian akan yang lain dan mengenali apa yang menjadi kebutuhan yang lain serta dengan rela hati memenuhinya, ketimbang menuntut dan mengambilnya (Yohanes 10:9-10).
  • Apa-apa saja yang menurut Anda telah Yesus lakukan dan berikan bagi kehidupan Anda selama ini? Lalu apa-apa saja yang telah Anda lakukan dan berikan bagi kehidupan orang lain selama ini dalam lingkup keluarga, gereja dan masyarakat?
Minggu 7 Mei 2017
EE

Yesus sahabat sejati

diposting pada tanggal 29 Apr 2017 09.45 oleh Admin Situs   [ diperbarui3 Mei 2017 14.07 ]

Lukas 24:13-35

Persahabatan adalah sebuah relasi yang memberi dukungan di antara orang-orang yang bersahabat. Yang menarik, pola tersebut tidaklah berkembang dengan sendirinya di antara manusia, tetapi di dalam campur tangan Allah. Pada permulaan jaman, Allah memberikan hawa sebagai sahabat bagi Adam. Pada puncaknya, Ia mengutus Yesus Kristus menjadi sahabat bagi manusia.

Pengorbanan Yesus di kayu salib adalah cara yang dipilih Allah untuk membuka jalan bagi terjalinnya kembali relasi yang intim antara Allah dan manusia; sebuah relasi yang memberi dukungan utuh dalam menjalani hidup di dunia.

Melalui pemahaman, pemaknaan dan pengalaman berelasi dengan Allah itulah, orang percaya mempunyai landasan yang kokoh untuk berelasi dengan sesama. Kisah Emaus pun mengajarkan kepada kita tentang Yesus yang senantiasa menjadi sahabat manusia. 
  1. Apa yang dapat menyebabkan orang menjadi muram, letih atau lesu? 
  2. Kesedihan apa yang saudara lihat dalam kisah Emaus? 
  3. Apa yang Yesus lakukan untuk memulihkan semangat Kleopas? 
  4. Dalam situasi apa saudara merasakan kehadiran Tuhan sebagai sahabat? 
  5. Apa saudara telah menjadi sahabat bagi Kristus? Bagaimana caranya? 
  6. Apa kaitan menjadi sahabat bagi Kristus dengan menjadi sahabat bagi sesama? 
Minggu 30 April 2017
NS

1-10 of 362