Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Bertobat, Percaya dan Mengikut Kristus

diposkan pada tanggal 22 Jan 2015 01.56 oleh Admin Situs GKI Halimun

Yunus 3:1-5, 10, Mazmur 62:6-13, 1 Korintus 7:29-31, Markus 1:14-20

Pengantar
Pertobatan adalah sebuah tindakan kapok yang kreatif. Artinya, pertobatan bukan saja menyesal karena telah melakukan dosa-dosa dan kejahatan, tetapi juga memilih untuk meninggalkan dosa-dosa dan kejahatan itu dengan memilih hidup yang baru. Orang Kristen percaya bahwa hidup karena anugerah pengampunan dosa dari Allah yang sudah diterima oleh karena kehadiran Yesus Kristus adalah hidup yang berharga dan tidak boleh dijalankan dengan asal-asalan. Hidup dalam anugerah adalah hidup yang harus diisi dengan karya-karya kasih sebagaimana sudah diajarkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus Kristus.

Pembuka
  1. Jika Anda diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah Anda lakukan dengan dilahirkan menjadi seorang bayi kembali di tengah keluarga yang sama dan menemui keadaan-keadaan sama yang telah lewat, apa yang akan Anda lakukan? 
  2. Apa yang akan Anda lakukan jika Anda mengetahui bahwa 40 hari ke depan adalah hari-hari terakhir kehidupan Anda di dunia ini? 
Pengamatan dan Pendalaman 

Yunus 3:1-5, 10
  1. Berapa kali Yunus menerima Firman Allah? Apa yang terjadi dengan Yunus sebelumnya? 
  2. Apa yang Yunus sampaikan kepada penduduk Niniwe? Apa yang penduduk Niniwe lakukan setelah mendengar pesan Yunus itu? Untuk apa mereka melakukan hal-hal itu? 
  3. Apa yang menjadi tanggapan Allah di ayat 10? Menurut Anda mengapa Allah menanggapi demikian? 
1 Korintus 7:29-31
  1. Perhatikan ayat 29-31. Apakah yang dimaksudkan Paulus ini harafiah atau bukan? Apa makna “seolah-olah” di sini menurut Anda? 
  2. Bagaimana Paulus memandang “waktu” dalam hidup orang percaya? Apakah ada kaitan “waktu” ini dengan pertobatan dalam diri orang percaya? 
Markus 1:14-20
  1. Apa yang diberitakan Yesus di Galilea? Kapan Yesus memberitakan hal itu? Mengapa Yesus memberitakan hal itu? 
  2. Apa arti “bertobat dan percaya kepada Injil” menurut Anda? 
  3. Apa yang sedang dilakukan Simon, Andreas, Yohanes dan Yakobus? Apa mereka mengenal satu sama lain? Ajakan seperti apa yang mereka dengar dari Yesus? Apa yang mereka lakukan setelah mendengar ajakan itu? Mengapa mereka melakukan hal itu menurut Anda? 
Penerapan
  1. Jika Anda diminta menuturkan kisah pertobatan Anda secara lisan/tulisan, bagaimanakah Anda akan mengisahkannya? 
  2. Apa yang akan Anda lakukan pada hari-hari ke depan sebagai tanda bahwa Anda sungguh-sungguh percaya dan sedang mengikuti Yesus Kristus? 
Komitmen
Mau meninggalkan kejahatan dan dosa. Mau mendengar nasihat Tuhan Yesus Kristus dan percaya bahwa Allah akan memberikan kekuatan dalam melakukan karya-karya kasih yang nyata sehari-hari.

Minggu 25 Januari 2015
Pdt. Essy Eisen

Dipanggil untuk mengikut Yesus

diposkan pada tanggal 17 Jan 2015 14.58 oleh Admin Situs GKI Halimun

1 Samuel 3: 1-10; Mazmur 139: 1-6, 13-18; 1 Korintus 6: 12-20; Yohanes 1: 43-51 

Pengantar

Siapa sajakah yang Tuhan panggil? Mungkin sampai hari ini masih ada yang menganggap bahwa panggilan itu hanya berlaku bagi pendeta dan atau majelis jemaat, atau untuk orang-orang tertentu yang diberi talenta khusus. Anggapan semacam itu mendorong banyak orang Kristen tidak menjalani hidupnya sebagai panggilan. Banyak orang Kristen yang menjalani hidupnya tanpa pernah menyadari bahwa mereka adalah orang yang dipanggil untuk mengikut Yesus.

Pertanyaan Pembuka
  1. Pernahkah anda diminta ikut dalam sebuah tim (kelompok) untuk melakukan sesuatu? Silahkan memberi contoh, baik kegiatan dalam lingkungan rumah, kantor atau gereja. 
  2. Kalau saudara dipanggil ikut dalam rombongan presiden Indonesia untuk berkeliling Indonesia sambil melakukan banyak kegiatan menolong orang yang membutuhkan, apakah saudara bersedia? 
  3. Apa saja persiapan (syarat) yang diperlukan agar saudara dapat memenuhi panggilan itu? 
Pertanyaan pendalaman 

(1 Samuel 3: 1-10
  1. Siapa yang memanggil Samuel? 
  2. Mengapa Samuel tidak segera menjawab panggilan yang didengarnya? 
(Yohanes 1: 43-51)
  1. Bagaimana respon Filipus terhadap panggilan Yesus? 
  2. Apakah ada syarat khusus yang harus dipenuhi Filipus untuk memenuhi panggilan Yesus? 
  3. Siapakah Yesus menurut Filipus? 
  4. Bagaimana respon Natanael saat Filipus mengajaknya mengikut Yesus? 
  5. Apa yang membuat Natanael akhirnya bersedia mengikut Yesus? 
(1 Korintus 6: 12-20)
  1. Menurut Paulus, bagaimana seorang pengikut Yesus seharusnya hidup memenuhi panggilannya? 
  2. Apa artinya bahwa tubuh kita adalah anggota Kristus? 
Pertanyaan Penerapan
  1. Apakah saudara merasa dipanggil untuk mengikut Yesus? Kalau pernah, kapan, dimana, dan bagaimana? 
  2. Menurut saudara, apa isi panggilan yang diminta untuk saudara jalankan dalam kehidupan sehari-hari? 
  3. Menurut Saudara, mampukah saudara memenuhi panggilan itu? Kenapa? 
  4. Sudahkah kita menyampaikan kepada anak-anak kita bahwa hidup seorang Kristen adalah panggilan? 
Komitmen: Menjalani hidup dengan kesadaran baru bahwa hidupku adalah panggilan. 

Minggu, 18 Januari 2015
Bpk. Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.)

Dikasihi dan diperkenan Allah

diposkan pada tanggal 10 Jan 2015 15.15 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui10 Jan 2015 15.16 ]

Kejadian 1:1-5; Mazmur 29; Kisah Para Rasul 19:1-7; Markus 1:4-11

Pengantar

Banyak perubahan yang membawa pembaharuan di sekitar kita, namun seringkali perubahan itu hanya secara fisik semata, yakni perubahan politik, ekonomi, penguasa, budaya dan lain-lain. Kadang perubahan itu dilakukan secara terpaksa, bahkan ada yang melalui kekerasan dan tekanan. Tetapi bukan perubahan seperti itu yang diinginkan Yohanes, melainkan perubahan pribadi seutuhnya yang didorong oleh keinginan sendiri tanpa paksaan, perubahan dari pikiran sendiri yaitu perubahan karena kesetiaan kepada kristus, perubahan yang timbul karena kita mengasihi Allah.


Pertanyaan pembuka
  1. Apakah saudara pernah melakukan hal-hal tertentu agar saudara dihargai/ disayangi oleh orang lain? Apa contohnya? 
  2. Ketika saudara disayangi/ dihargai oleh orang lain, pernahkah terlintas dalam pikiran saudara : “mengapa dia melakukan hal itu kepada saya?” 
Pertanyaan pendalaman
  1. Apa yang Yohanes beritakan dalam khotbahnya? 
  2. Keteladanan apa yang Yohanes tunjukkan melalui perilakunya? (bandingkan 2 Raja-Raja 1:8)
  3. Mengapa baptisan memiliki arti penting bagi orang Yahudi? (bandingkan Imamat 11-15) 
  4. Yohanes membaptis Yesus, apakah ini berarti Yohanes lebih berkuasa dari Yesus?
  5. Apa makna baptisan yang diterima Yesus? 
Pertanyaan penerapan
  1. Tugas Yohanes sebagai perintis jalan bagi Mesias dilakukan dengan tulus, tanpa tendensi apapun. Bagaimana dengan pelayanan kita selama ini? Apakah dilakukan secara murni dan tulus ataukah ada maksud tersembunyi? 
  2. Pembaptisan Yesus sebagai tanda gerakan kembali kepada Allah. Apakah ketika saudara sudah dibaptis, hidup saudara berbalik kepada jalan Allah? 
  3. Yesus merendahkan diri-Nya dan bersiap melakukan kehendak Allah. Apa komitmen yang saudara ambil sebagai wujud melakukan kehendak Allah? 
Minggu, 11 Januari 2015
Pnt. Noerman Sasono, S.Si. (Teol.)

Terang Yang Memandu Kepada Kristus

diposkan pada tanggal 3 Jan 2015 07.30 oleh Admin Situs GKI Halimun

Yesaya 60:1-6, Mazmur 72:1-7, 11-15, Efesus 3:1-12, Matius 2:1-12

Sejak Minggu lalu dan seterusnya, renungan warta akan menggunakan metode pertanyaan-pertanyaan. Mengapa pertanyaan? Sebab dengan panduan pertanyaan ini, kita akan melatih diri untuk membaca Alkitab kita, menggalinya, menemukan Firman-Nya, memaknakannya dan memberlakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Ini tentu akan menjadi pendorong yang baik bagi kita supaya terus belajar, bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih yang aktif, tidak pasif, hanya menerima saja.

Selain itu, perenungan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan ini juga akan melatih kita untuk kelak masuk dan berdinamika di dalam kelompok-kelompok kecil pada Jemaat kita untuk berbagi makna hidup berangkat dari terang hikmat Firman-Nya. Pertanyaan-pertanyaan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: pembuka, yang menolong kita untuk masuk ke dalam pesan utama bacaan, lalu pendalaman, yang menolong kita untuk mencermati bacaan dengan seksama, serta penerapan, yang menolong kita untuk menerapkan pesan Firman Allah dalam kehidupan kita sehari-hari. Selamat membaca, menggali, merenungkan dan memberlakukan Firman Allah.

Pertanyaan Pembuka
  1. Setelah kemeriahan natal berakhir, apa yang akan Anda lakukan terkait kehidupan iman Anda untuk tetap menghadirkan kemeriahan natal yang berdampak bagi sesama ciptaan Allah? Dengan cara seperti apakah? 
  2. Apakah Anda memiliki orang-orang yang Anda anggap bijaksana untuk dimintakan saran terhadap keputusan-keputusan yang Anda akan ambil? Siapa orang-orang itu? 
Pertanyaan Pendalaman
  1. Yesus dilahirkan di Betlehem. Mengapa harus di Betlehem? Apa yang penting dari kota ini?
  2. Orang-orang Majus berasal dari sisi timur daerah yang jauh dari Israel. Mereka dikenal sebagai ahli perbintangan pada zaman itu. Mereka orang-orang cerdas dan bijaksana. Mengapa mereka mau bersusah-susah untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai kemunculan bintang terang yang mereka lihat?
  3. Perhatikan tanggapan orang-orang Majus setelah bertemu Yesus. Apakah tanggapan semacam itu pernah Anda jumpai juga dalam diri orang-orang Kristen pada zaman sekarang? Dalam bentuk apakah? 
  4. Pada saat kita memperhatikan kemunculan: bintang terang, persembahan para Majus (yang adalah “orang asing” bagi orang Yahudi), kekerasan Herodes dan tuntunan Allah kepada para Majus serta Yusuf dan Maria pada Matius 2:1-12, apa yang dapat kita katakan tentang Yesus Kristus? Apa kaitan hal-hal itu semua dengan karya Kristus setelah Ia dewasa? 
  5. Perhatikan Yesaya 60:1-6. Apa yang menjadi perintah Allah bagi umat-Nya dalam bagian ini? 
  6. Apakah karya yang dilakukan Tuhan Yesus Kristus hanya untuk orang Yahudi saja? Bacalah Efesus 3:1-12. 
Pertanyaan Penerapan
  1. Dalam perjalanan kita menuju kepada kekekalan surgawi, pelajaran apakah yang dapat kita ambil dari sikap orang-orang Majus?
  2. Jika orang-orang Majus mendapat petunjuk Allah melalui bintang terang, petunjuk apakah yang Allah berikan bagi Anda untuk datang kepada-Nya? (Baca Yohanes 14:5-14) 
  3. Apakah yang menjadi “Emas, Kemenyan dan Mur” dalam hidup Anda, yang Anda berikan kepada Tuhan Yesus? 
  4. Di dalam Matius 5:16 dituliskan: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga." Apakah yang akan Anda lakukan supaya kehidupan Anda menjadi terang yang memandu orang untuk datang kepada Kristus? 
Komitmen Kasih
  • Menyadari bahwa hidup membutuhkan tuntunan kuasa terang (kasih, keadilan dan kebenaran) dalam menghadapi kuasa gelap (kebencian, pementingan diri sendiri dan kebohongan) 
  • Menerima Yesus Kristus sebagai terang hidup, dengan mengikuti pengajaran dan teladan-Nya 
  • Mendayagunakan talenta dan kemampuan yang Allah berikan untuk memberikan manfaat dan kebaikan bagi orang lain
Minggu 4 Januari 2015
(Pdt. Essy Eisen)

Memuliakan Tuhan dengan hidup taat kepada-Nya

diposkan pada tanggal 27 Des 2014 08.42 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui27 Des 2014 08.57 ]

Lukas 2:21-40

Ketaatan orang tua Yesus pada Allah dalam mengerjakan hukum taurat nampak dalam peristiwa Yesus disunat. Imamat 12:3 mengundang setiap orang tua menyunatkan anaknya sebagai tanda perjanjian berkat antara Allah dan manusia, yang diawali oleh Abraham (Kejadian 17:11). Menyunatkan anak laki-laki adalah peraturan dari taurat yang didasarkan pada rasa syukur atas kasih Allah. demikian juga ketika tiba saatnya pentahiran bagi Maria (Imamat 12:4-8), keluarga Yesus pergi ke Yerusalem untuk bersyukur di bait Allah dan menyerahkan Yesus kepada Allah seperti perintah Tuhan (Keluaran 13:2, 12). Ini artinya Maria taat bukan karena takut akan hukuman Tuhan melainkan karena bersyukur atas kasih karunia-Nya. Maria menjadi seorang pribadi yang bersedia dengan sadar, berpartisipasi dalam rencana Allah. (Lukas 2:22-24).

Pertanyaan pembuka
  1. Apakah saudara selalu menjalankan peraturan yang telah ditetapkan dalam kehidupan sehari-hari? (misal peraturan lalu lintas, peraturan kantor, dll) 
  2. Menurut saudara, apakah peraturan-peraturan yang ada itu membatasi / mengekang kehidupan pribadi saudara? 
Pertanyaan pendalaman 
  1. Pada usia berapa tahunkah Yesus disunatkan?
  2. Mengapa Maria dan Yusuf harus menyunatkan Yesus?
  3. Siapakah hamba-hamba Tuhan yang bertemu dengan Yusuf dan Maria di Yerusalem?
  4. Adakah kemiripan antara kehidupan ibadah Maria dengan kehidupan ibadah Simeon dan Hana? Dalam hal apakah itu? 
Pertanyaan penerapan
  1. Apa motivasi beribadah yang saudara jalani selama ini?
  2. Apakah bayang-bayang mengerikan tentang neraka dan semaraknya suasana sorgawi mempengaruhi ibadah saudara? 
  3. Selain melalui ibadah, apa tindakan memuliakan Allah yang telah saudara lakukan selama ini?
  4. Apa komitmen yang saudara akan ambil setelah belajar dari kisah Maria? 
Minggu 1 Sesudah Natal, 28 Desember 2014
Noerman Sasono, S.Si. (Teol.)

Lakukanlah!

diposkan pada tanggal 19 Des 2014 21.05 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui19 Des 2014 21.05 ]

Lukas 1: 26 – 38

PERTANYAAN PENGANTAR

  1. Berita mengejutkan seperti apakah yang pernah saudara dengar?
  2. Pernahkah saudara mendapatkan perintah untuk melakukan tugas yang sepertinya mustahil untuk dilakukan? Apakah respon saudara? 
PERTANYAAN PENDALAMAN
  1. Siapakah yang diutus Tuhan untuk menjumpai Maria?
  2. Tugas apakah yang diemban utusan tersebut? 
  3. Apakah yang menjadi dasar bagi pemberitaan kehamilan Maria? 
  4. Bagaimana reaksi saudara jika berada pada situasi seperti Maria? 
  5. Konflik apakah yang muncul dalam dialog Maria dengan Gabriel? 
  6. Bagaimanakah konflik tersebut kemudian dapat diselaraskan? 
  7. Apakah yang kemudian menjadi refleksi Maria? 
PERTANYAAN PENERAPAN
  1. Apakah mudah bagi saudara untuk memahami kehendak Allah dalam kehidupan? Mengapa?
  2. Bagaimana sikap saudara jika ternyata kehendak saudara berbeda dengan kehendak Allah?
  3. Apakah yang saudara perlukan guna mengasah kepekaan terhadap kehendak Allah? 
  4. Beranikah saudara mengambil keputusan seperti Maria? Menjadi hamba Tuhan dan bersiap atas segala resikonya?
  5. Komitmen apa yang akan saudara hidupi setelah belajar dari kisah Maria? 
Minggu Adven 4B, 21 Desember 2014
(Pnt. Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))

Kalahkanlah!

diposkan pada tanggal 15 Des 2014 06.46 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui27 Des 2014 08.58 ]

Yohanes 1: 1-10, 19-28; 12:46

Berdasarkan kalender gerejawi, saat ini umat Kristen sedang berada dalam minggu-minggu Adven. Semua warga gereja tengah mempersiapkan diri menyongsong Natal dan sekaligus menantikan kedatangan kembali Yesus Kristus. Dalam suasana penantian itu alangkah baiknya kita merenungkan kembali tentang Dia yang kita songsong. Siapakah Dia? Bagaimanakah Dia? Apa yang dilakukan-Nya?

Yohanes mengawali kitabnya dengan kesaksian bahwa Dia yang kita tunggu-tunggu itu sejak semula sudah ada bersama-sama dengan Allah. Dia adalah Sang Terang yang datang ke dunia agar manusia mendapat kehidupan. Tanpa cahaya manusia tidak dapat melihat apapun, tidak mampu mengenali apa-apa, termasuk dirinya sendiri. Karena itulah Yesus datang ke dunia, agar manusia tidak hidup dalam kegelapan (12:46). Yesus datang agar setiap orang yang menerima-Nya keluar dari kegelapan dan hidup dalam terang. Dengan hidup dalam terang, setiap orang percaya mampu mengenal Allah (beserta kehendak-Nya), dan dengan demikian sekaligus mampu mengenal dirinya sendiri yang merupakan gambar Allah.

Apa artinya hidup dalam terang?

Hidup dalam terang, sebagaimana penegasan Yohanes Pembaptis untuk hidup dalam pertobatan, adalah hidup yang dijalani sesuai dengan kehendak Allah: hidup yang menghargai Allah, diri sendiri, orang lain, dan sekaligus merawat semesta ciptaan Allah. Sebaliknya, hidup dalam kegelapan berarti hidup yang tidak peduli terhadap Allah, orang lain, semesta ciptaan, bahkan terhadap diri sendiri.

Panggilan untuk hidup dalam terang merupakan panggilan yang luar biasa sulit di tengah dunia pada saat ini. Sebagaimana kita semua tahu, dunia saat ini berjalan dengan semangat yang tidak selalu sejalan dengan kehendak Allah. Dengan kata lain, dunia berada dalam kegelapan.

Apa yang harus kita lakukan?

Alkisah, ada sebuah gua tersembunyi jauh di dalam bumi. Gua itu tidak pernah melihat cahaya. Sampai pada suatu hari matahari mengirim undangan agar sang gua berkunjung ke tempat matahari. Gua itu memenuhi undangan matahari.

Sesampainya gua di permukaan bumi, betapa terkesimanya dia melihat matahari: begitu terang, begitu indah. Sungguh menakjubkan. Dia sungguh sangat kagum dan tak mampu melupakan pengalaman itu.

Merasa berhutang budi terhadap kebaikan matahari, gua itu mengundang balik matahari agar datang ke tempatnya. Gua ingin memamerkan kegelapan kepada matahari, sebab seumur hidupnya matahari belum pernah melihat kegelapan.

Matahari pun menerima undangan itu dan pada suatu hari datang berkunjung ke gua. Matahari diantar berkeliling ke dalam gua untuk melihat kegelapan. Tapi, meskipun telah berjalan seharian penuh, matahari tak pernah bertemu gelap. Setiap tempat yang dikunjunginya menjadi terang, menjadi penuh cahaya.

PERTANYAAN REFLEKSI:
  1. Sudahkan kita hidup dalam terang? Atau kita masih nyaman bersembunyi dalam kegelapan?
  2. Dapatkah kita melihat bukti bagi diri sendiri bahwa terang Yesus Kristus ada dalam diri kita sehingga kita sudah hidup dalam terang?
Kita sungguh memerlukan terang agar kegelapan itu tidak menguasai kita (1:5). Bila kita sungguh-sungguh telah menerima Yesus Kristus sebagai juruselamat kita, terang itu ada akan dalam diri kita, dan kegelapan tidak akan mampu menguasai kita. Bila terang itu ada dalam diri kita, maka kita mampu mengalahkan kegelapan.

Minggu Adven 3B, 14 Desember 2014
(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.)

Persiapkanlah!

diposkan pada tanggal 5 Des 2014 01.29 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui19 Des 2014 21.07 ]

Markus 1:1-8

Saat kita pergi ke pusat-pusat perbelanjaan pada bulan ini, lagu-lagu natal yang riang telah diperdengarkan. Ragam hiasan dan kelap-kerlip lampu warna-warnai menambah semarak hati kita menyongsong Natal. Begitulah mal-mal mempersiapkan kita menyambut Natal. Namun rasanya persiapan yang ditawarkan oleh mal-mal itu harus kita lengkapi juga dengan menyimak karya Yohanes Pembaptis di tepi sungai Yordan. Dengan begitu, pikiran dan hati kita juga dipersiapkan dengan sempurna sesuai Firman Tuhan dalam merayakan Natal dan mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus kembali. Apa saja karya Yohanes Pembaptis?

Yohanes Pembaptis berkenan diutus Allah untuk menggenapi apa yang nabi Yesaya (Yes. 40:3) dan Maleakhi (Mal. 3:1) nubuatkan. Yohanes Pembaptis mau diutus Allah untuk berseru-seru di gurun dalam mempersiapkan umat-Nya bagi kehadiran Mesias/Kristus/Yang Diurapi Allah. 
  • Dengan memilih tepi sungai Yordan sebagai tempat khotbahnya, Yohanes mengingatkan umat Tuhan akan peristiwa peralihan saat mereka masuk ke tanah perjanjian, setelah mengembara puluhan tahun di gurun (Yos. 3:1-dst). Ingat ini, kita juga harus ingat sebuah peralihan penting dalam hidup, yaitu dari perbudakan dosa kepada hidup yang dituntun kasih Allah. Setiap masuk gerbang gereja saban minggu, ingatkah kita bahwa kita ini adalah orang yang mau dibentuk Allah untuk menghidupi kehidupan yang baru mengikuti Injil Kerajaan Allah? 

  • Dengan menggunakan ikat pinggang kulit dan jubah dari bulu, Yohanes mengingatkan umat akan nabi Elia (2 Raj. 1:8), nabi yang tegas menentang penyembahan berhala dan mengajak umat kembali menghormati Allah. Ingat ini, kita harus ingat juga, apakah masih ada berhala-berhala dalam hidup yang masih kita sembah sehingga membuat kita mengabaikan suara Allah? Makanan Yohanes Pembaptis adalah belalang dan madu hutan. Makanan sederhana. Ini menjadi semacam simbol perlawanan Yohanes Pembaptis terhadap kemapanan hidup yang acap kali membuat orang terlena dan mengabaikan sesama yang membutuhkan pertolongan. Ingat ini kita belajar. Apakah kemapanan dan rutinitas dalam hidup ini membuat kita kehilangan semangat untuk menaati kehendak Allah? 
Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan dan mengajak umat Allah untuk memberi diri dibaptis. 
  • Bertobat sederhananya ialah kapok. Kita sadar bahwa berjalan menjauhi kasih Allah adalah pilihan bodoh yang hanya akan membuat kita binasa. Sebagaimana seluruh penduduk Yudea, penduduk kota Yerusalem datang mengakui dosa-dosanya, penting juga bagi kita dalam menyambut Natal dan kedatangan Tuhan kembali, untuk mengakui dosa-dosa kita. Ingat, Tuhan Yesus adalah penyembuh jiwa kita. Jika kita tidak mau mengakui kekurangan, kelemahan dan kejahatan-kejahatan kita, bagaimanakah kita dapat menerima dengan sukacita pengampunan yang dikaruniakan Allah melalui Kristus? Akuilah dosa-dosa kita kepada Allah! Akuilah dosa-dosa kita kepada sesama kita. Ini adalah bukti bersiap diri yang kudus! 

  • Memberi diri dibaptis berarti mengambil keputusan untuk meninggalkan dosa dan masuk ke dalam kasih yang dianugerahkan Allah. Seperti saat kita mandi, segenap kotoran dan kuman-kuman rontok, saat kita memberi diri dibaptis, ini menjadi tanda bahwa pikiran, hati, perilaku kita mau dibersihkan Allah. Saat dibaptis, kita masuk dalam kumpulan orang-orang yang mau dituntun oleh kehendak Allah dan mengerjakan apa yang dikehendaki Allah di dalam pimpinan Tuhan Yesus Kristus. Ingatkah kita akan baptisan yang telah kita terima? Sadarkah bahwa kita ini sudah ditandai dan menerima pengampunan-Nya melalui baptisan kudus? Bagaimanakah sikap kita sebagai orang yang telah menerima hadiah yang besar ini dari Allah? 
Yohanes Pembaptis merendahkan dirinya dan mengarahkan orang kepada Tuhan Yesus Kristus dan karya-Nya. 
  • "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak..” Itulah kata-kata Yohanes Pembaptis. Menurutnya ia hanya sebagai jembatan saja bagi orang-orang untuk dapat merasakan kasih Kristus. Yohanes bahkan tidak berani mengambil sikap sebagai budak jika berhadapan dengan Kristus. Sikap Yohanes ini mulia. Ini boleh menjadi sikap kita juga. Apakah segala persiapan kita menyambut Natal dan kedatangan-Nya kembali telah menjadi sarana untuk mengarahkan hati kita dan orang lain kepada Tuhan Yesus Kristus? Atau semua itu hanya untuk memuaskan pikiran, hati dan indera kita semata? 

  • “..Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus." lanjut Yohanes Pembaptis. Yohanes percaya bahwa setelah umat mengakui dosa dan masuk ke dalam himpunan umat Tuhan melalui baptisan, mereka harus mau diperlengkapi oleh karya kasih Tuhan Yesus Kristus. Dibaptis dengan Roh Kudus adalah diperlengkapi dengan karunia Roh Kudus untuk mengikut Yesus dengan setia dan memberlakukan pengajaran kasih-Nya dalam hidup kita. Apakah setelah mengakui dosa-dosa kita dan dibaptis, segenap karunia rohani yang sudah Tuhan berikan kepada kita telah kita gunakan dengan baik? Apakah kelebihan-kelebihan kita sudah kita gunakan sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus inginkan? 
Selamat bersiap diri menyambut Natal dan kedatangan Tuhan kembali. Persiapkanlah dengan sungguh-sungguh!

Minggu Adven 2B, 7 Desember 2014
(Pdt. Essy Eisen)

Berjaga-jagalah!

diposkan pada tanggal 2 Des 2014 01.16 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui19 Des 2014 21.09 ]

Markus 13: 24 - 37

Kedatangan Kristus yang diperingati gereja memiliki makna ganda, tidak hanya menunjuk pada kedatangan Kristus di hari natal, tetapi juga menunjuk pada kedatangan-Nya yang kedua di akhir zaman. Kedatangan Kristus yang pertama ditunjukkan pada peristiwa natal. Pada kedatangan-Nya yang pertama ini Yesus mendatangi ruang kehidupan manusia dengan segala kesederhanaan-Nya. Agar manusia yang arogan, tinggi hati, ingin menang sendiri serta berlumur dosa menjadi luruh dan luluh dalam pelukan Yesus. Ia memanggil setiap orang untuk menerima pembebasan dan penyelamatan.

Kedatangan yang kedua digambarkan dalam kemuliaan dan kemegahan. Ia datang sebagai raja yang memerintah dan berdaulat (Wahyu 21:1-8), Ia datang sebagai mempelai laki-laki bagi mempelai perempuan-Nya, yakni jemaat (Wahyu 22:6-17), Ia juga datang sebagai hakim yang adil bagi manusia dan menjemput manusia memasuki kerajaan-Nya yang abadi (Matius 25:31-46).

Kendati penggambaran kedatangan yang kedua cukup jelas, namun kapan waktunya yang tepat tidak ada yang tahu. Alkitab hanya memberi petunjuk bahwa kedatangan-Nya tidak terduga. Disinilah makna pesan Yesus dalam Markus 13:33-37 menjadi penting untuk diperhatikan, yakni agar kita tidak lengah dalam menjalani hidup, dan tetap menjalankan tanggung jawab yang diamanatkan Tuhan kepada kita sambil terus berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu Dia datang. Dalam bacaan dikisahkan, selama sang majikan belum datang, ia telah memberi tanggung jawab kepada para hamba-Nya untuk mengantikan peran di “rumah” milik-Nya (ayat 34).

Rumah (oikian dalam bahasa Yunani), bisa berarti rumah, bumi, dunia. Melalui perumpamaan ini Yesus memanggil kita untuk menggantikan peran-Nya merawat “rumah” milik-Nya. Untuk menjalankan karya pemeliharaan, Tuhan memberi tanggung jawab kepada setiap pribadi secara berbeda. Jadi, antara hamba yang satu dengan hamba yang lain tugasnya belum tentu sama. Tetapi tanggung jawabnya tetap sama, yaitu bertanggung jawab kepada sang majikan yang menjadi pemilik sah atas “rumah” yang telah dipercayakan kepada mereka.

Selain dipercaya untuk menggantikan peran majikan, ada tugas lain yang harus dikerjakan oleh hamba itu, yaitu berjaga-jaga. Tugas ini diberikan dengan alasan, kapan kepulangan sang majikan itu tidaklah diberitahukan kepada mereka. Apakah Dia datang saat menjelang, malam atau fajar?

Tidak ada yang tahu. Karena memang Dia tidak memberi tahu, dan tidak akan pernah memberi tahu. Hal ini dilakukan supaya para hamba ini tidak terlena lalu tertidur. Hamba yang kedapatan tidur ketika majikan datang pasti ia tidak akan diijinkan masuk dalam sukacita tuannya.

Jadi soal waktu kapan Dia datang, itu tidak penting. Yang paling penting disini adalah kedatangan sang majikan harus disambut. Maka para hamba tidak boleh tertidur, mereka harus berjaga sampai Ia datang. Seruan untuk berjaga-jaga sangat kuat dan mendesak untuk dilakukan. Itu sebabnya Yesus mengalihkan perhatian; dari seruan dalam sebuah kisah menjadi seruan langsung kepada para murid (ayat 37). Menjadi hamba yang berjaga-jaga sambil mengerjakan tugas yang dipercayakan kepada kita sampai Ia datang kembali adalah inti berita dari perenungan adven I.

Perenungan
  1. Gambaran majikan seperti apa yang muncul dalam kisah diatas?
  2. Mulai darimanakah kita memelihara “rumah” sang tuan?
  3. Apakah Saudara termasuk golongan hamba yang berjaga-jaga?
Penerapan
  1. Membulatkan tekad hidup benar di hadapan Tuhan.
  2. Melakukan karya sosial di tengah-tengah masyarakat.

Minggu Adven 1B, 30 November 2014

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.)) 

Renungan Warta 23 November 2014

diposkan pada tanggal 20 Nov 2014 03.00 oleh Admin Situs GKI Halimun

Ikut teladan Sang Raja yang Peduli & Gembala yang Baik

Yehezkiel 34:11-16, 20-24, Mazmur 100, Efesus 1:15-23, Matius 25:31-46

Di tengah kacau balaunya nilai-nilai hidup karena kebobrokan kepemimpinan, Allah yang penuh kasih itu berjanji. Seperti seorang gembala yang baik memelihara dengan sempurna kawanan domba gembalaannya, begitu juga tindakan Allah kepada umat yang dikasihi-Nya (Yeh. 34:11-16). Kehadiran pemeliharaan Allah yang sempurna itu nampak jelas melalui karya Mesias (Pemimpin Yang diurapi Allah), melalui keturunan Daud (Yeh. 34:20-24). Melalui kepemimpinan Sang Mesias itu, umat-Nya akan menghidupi nilai-nilai kehidupan yang dikehendaki Allah, saat mereka menyatakan tindakan yang berujung pada kedamaian, keadilan dan kebersamaan hidup yang dasarnya kasih suci.

Dengan tindakan Allah sebagai Raja, Gembala, yang peduli itu sepatutnyalah umat-Nya bersyukur kepada-Nya. Ungkapan syukur itu ditunjukkan dengan kesediaan mendengar dan memberlakukan perintah-Nya. Sebagaimana Allah menunjukkan kesediaan-Nya memberikan diri demi kebaikan umat-Nya, begitu juga setiap orang yang mengagumi segenap karya-Nya dengan rela memberikan diri bagi sesamanya (Mzm. 100).

Kita mengamini dan mengimani bahwa Mesias yang dimaksudkan Allah itu adalah Tuhan Yesus Kristus (Ef. 1:22-23). Melalui segenap karya-Nya baik saat berada secara fisik di bumi ini, maupun kehadiran-Nya di dalam Firman, Perjamuan Kudus dan Roh Kudus sampai sekarang ini, Tuhan Yesus Kristus menunjukkan dengan nyata sikap-Nya sebagai Raja yang peduli, Gembala yang baik.

Dalam catatan penginjil Matius 25:31-46, Tuhan Yesus menjelaskan visi ke depan Kerajaan Allah yang turut dihadirkan oleh Sang Mesias, atau dalam bahasa penginjil Matius, oleh “Anak Manusia”. Yesus menjelaskan, seperti Sang Raja yang memeriksa kehidupan orang-orang yang dipimpin-Nya, begitu juga kita diajak mengenali kembali tindakan Allah yang menunjukkan kepemimpinan-Nya kepada orang-orang yang lemah, yang membutuhkan pertolongan dalam hidup. Jika Allah begitu peduli dan berkenan ada untuk menolong orang-orang itu, bagaimana dengan umat yang mengasihi-Nya? Perhatikan bahwa Sang Raja itu ternyata begitu murka saat orang-orang yang dipimpinnya mengabaikan kehadiran orang-orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan dalam hidup! Secara tidak langsung Tuhan Yesus ingin mengajarkan bahwa “Imanuel”, kehadiran Allah bersama dengan manusia, dapat dilihat dalam diri orang-orang yang lapar, haus, tersesat, sakit, terluka, terbelenggu. Setiap orang yang mau mengikuti teladan Raja yang peduli, Gembala yang baik, dipanggil untuk peduli dan mengasihi mereka juga.

Oleh sebab itu, seperti Jemaat Efesus yang bukan saja mengimani Kristus sebagai Juruselamat, tetapi juga yang telah menunjukkan kasih yang nyata dalam hidup mereka, kita semua dipanggil Allah untuk mengenal dengan sungguh-sungguh apa yang seharusnya menjadi karya nyata kita sebagai pengikut Kristus (Ef. 1:15-17). Memang untuk menunjukkan karya kasih kepada setiap orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan itu tidak mudah. Tetapi kita telah menerima kuasa yang luar biasa! Rasul Paulus mengatakan bahwa kuasa yang membangkitkan Tuhan Yesus Kristus dari maut, kini bekerja juga dalam diri kita yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (Ef 1:18-21)!

Pertanyaan perenungan
  1. Apa artinya jika Allah digambarkan seperti seorang Raja Yang Peduli dan Gembala Yang Baik? 
  2. Kepedulian dan kebaikan seperti apakah yang Anda sudah terima dari Allah melalui karya Tuhan Yesus Kristus di sepanjang hidup Anda? Apa yang Anda lakukan setelah mengalami semua itu terhadap orang-orang yang ada di sekitar kehidupan Anda? 
  3. Apa yang menjadi tanggapan Anda jika dikatakan bahwa Allah “hadir” di dalam diri orang yang miskin, lemah, dalam kesesatan, sakit, terluka, terbelenggu? 
Praktek Iman, Pengharapan dan Kasih
  1. Berkenan dikoreksi oleh Firman Allah untuk memperbaiki pikiran, perkataan dan kelakuan. 
  2. Tidak berkeluh-kesah dan mencari-cari alasan untuk menghindar saat mendapat kesempatan untuk melayani kawanan domba gembalaan Allah. 
  3. Menolong orang yang miskin, lemah, kesusahan, sakit, terluka dengan segenap kekuatan yang Allah berikan.
(Pdt. Essy Eisen)

1-10 of 235