Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Mencermati Figur Yesus, Sang Pengantara Perjanjian Baru

diposkan pada tanggal 3 Feb 2016 15.34 oleh Admin Situs   [ diperbarui3 Feb 2016 15.55 ]

Keluaran 34:29-35, Mazmur 99, 2 Korintus 3:12-4:2, Lukas 9:28-43

Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan kata “figur” sebagai: bentuk; wujud; tokoh.

Minggu ini, gereja seluruh dunia merayakan hari Minggu “Transfigurasi”. Berbekal dari pembacaan Injil, kita kembali menyimak kesaksian rasul-rasul yang menyaksikan Yesus mengalami perubahan bentuk, wujud (trans-figur) saat mengalami kemuliaan dan diapit oleh kehadiran Musa dan Elia, dua tokoh besar perjanjian lama. Musa, kita tahu, adalah sang penerima Taurat. Elia, adalah sang penyuara kehendak Allah yang berperang menentang berhala jahat perusak fokus hubungan umat dengan Allah.

Kehadiran sekejap dari Musa & Elia yang berbicara kepada Yesus terkait tujuan-Nya untuk membarui dunia dengan kasih setia yang berkorban, yang akan digenapi di Yerusalem, lalu diikuti oleh suara dari dalam awan bahwa Yesus adalah Anak yang telah dipilih Allah dan bahwa Dia harus didengarkan, memberikan pesan jelas kepada kita, bahwa: kini telah tiba perjanjian baru dalam kehidupan umat Tuhan.

Kini, tokoh, figur sentral dari berita Alkitab adalah Yesus Kristus! Melalui firman-Nya, kehendak-Nya, cara hidup-Nya, pengajaran-Nya, kasih-Nya, setiap orang yang beriman kepada-Nya dan mengikuti-Nya dengan setia, dapat mengalami anugerah Allah yang membebaskan diri dari kuasa jahat yang membinasakan dalam sebuah perjanjian yang baru.

Oleh sebab itu, kabar baik dari minggu transfigurasi ialah: sekarang ini kita hidup di dalam perjanjian baru. Melalui firman, pengajaran dan karya Tuhan Yesus Kristus, kita akan mendapatkan pembebasan dari kuasa yang jahat! Bagaimanakah tanggapan kita akan kabar yang baik ini? Apakah pikiran, hati dan segenap indera kita bersedia untuk menerima pengajaran Kristus dan cinta anugerah-Nya yang menyelamatkan itu? Siapakah figur utama yang kita ikuti dan teladani dalam hidup ini?

Perenungan
  1. Apa yang terjadi dengan Musa setelah berbicara dengan Allah di gunung Sinai? 

  2. Pelajaran apa yang dapat diambil oleh umat melalui peristiwa yang dialami Musa ini, jika kita memperhatikan sikap umat sebelumnya yang begitu mengagumi figur binatang dengan kilau buatan (lihat Keluaran 32)? 

  3. Pesan apa yang kita dapat dari Pemazmur dari Mazmur 99 tentang cara kita memahami Allah yang berelasi dalam kehidupan kita? 

  4. Paulus menyinggung soal “selubung” dalam 2 Korintus 3:12-4:2. Apa yang dimaksudnya dengan “selubung” itu? Apakah saudara menjumpai dalam bahasannya ini, Paulus mengkritik hidup spiritualitas yang dipandangnya tidak sehat? Lalu bagaimanakah yang sehat itu? 

  5. Apa yang terjadi dengan Yesus di atas gunung itu? Apa makna kehadiran dua tokoh perjanjian lama? Apa yang menjadi tanggapan murid-murid? Apa makna suara dari dalam awan? Kejadian apa yang Yesus temukan sesudah peristiwa di gunung (Luk. 9:37-43)? Apakah ada kaitan peristiwa ini dengan peristiwa sebelumnya di atas gunung itu? 

  6. Bagaimanakah selama ini di dalam hidup, saudara mendengarkan suara dan kehendak Yesus? Apa yang saudara alami setelah taat mendengarkan kehendak Yesus? 


Minggu 7 Februari 2016
Pdt. Essy Eisen

Menghadirkan Kristus dan kasih-Nya bersama-sama

diposkan pada tanggal 29 Jan 2016 05.36 oleh Admin Situs

Yeremia 1:4-10; Mazmur 71:1-6; Korintus 13:1-13; Lukas 4:21-30

Gereja di dalam dunia memiliki tugas dan panggilan yang dikenal dengan tritugas gereja, yaitu: bersekutu (koinonia), bersaksi (marturia), dan melayani (diakonia). Dalam rangka menjalankan tugas itu gereja hadir di tengah-tengah masyarakat dalam wujud ritual-ritual dan berbagai kegiatan aksi sosial. Berbagai tantangan menghadang gereja dalam mewujudnyatakan panggilannya tersebut di jaman modern ini. Salah satunya, kita dapat melihat bagaimana perkembangan teknologi mempengaruhi hubungan di antara umat (seperti slogan: mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat). Selain itu, semangat individualisme dan kompetisi dunia modern pun tidak mustahil merasuki persekutuan dan pelayanan gereja, sehingga terkadang menjadi tidak jelas: siapa yang sesungguhnya sedang kita beritakan: Kristus atau diri sendiri? Belum lagi kita melihat banyaknya kegiatan sosial yang juga dilakukan badan-badan atau organisasi di luar gereja, yang dalam beberapa hal dilakukan secara lebih baik dan dalam skala lebih besar. Hal ini menjadi tantangan serius bagi gereja. Masihkan gereja memiliki peran di tengah dunia? Kalau masih, apa perannya? Dan, bagaimana gereja selayaknya melakukan perannya itu?

Bacaan minggu ini, khususnya Lukas 4:21-30 dan 1 Korintus 13:1-13, menolong kita melihat bagaimana gereja selayaknya bersikap dalam menjalankan tugas panggilannya di dunia.

Pertanyaan Interpretasi

Lukas 4:21-30
  1. Mengapa orang-orang dalam rumah ibadat heran akan perkataan Yesus? (Lukas 4:22)
  2. Apa makna perkataan Yesus: “…sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya”? Dan apa maksud keseluruhan perkataan Yesus di Lukas 4:23-27? 
  3. Mengapa semua orang di rumah ibadah marah mendengar perkataan Yesus? (Lukas 4:28-29) 
  4. Apakah penolakan orang banyak menyurutkan semangat pelayanan Yesus? Mengapa? 
1 Korintus 13:1-13
  1. Apa intisari pesan Paulus dalam 1 Korintus 13:1-13? 
Pertanyaan Aplikasi
  1. Pernahkah saudara merasakan atau melihat orang lain mengalami seperti apa yang dialami Yesus dalam Lukas 4:21-30? Di dalam gereja? Di dalam keluarga? Di tengah masyarakat? Ceritakan! 
  2. Dalam hal apa perkataan Paulus dalam 1 Korintus 13:1-13 dapat berguna bagi saudara dan bagi pelayanan gerejawi? 
  3. Apa yang membedakan antara tindakan atau kegiatan atau program yang menghadirkan Kristus dengan yang tidak menghadirkan Kristus? 

Minggu 31 Januari 2016
Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.)

Bacalah dan dengarlah

diposkan pada tanggal 23 Jan 2016 09.23 oleh Admin Situs   [ diperbarui23 Jan 2016 09.23 ]

Nehemia 8:1-10

Membaca Alkitab sudah menjadi hal yang rutin bagi orang percaya. Namun membaca Alkitab acapkali menjadi sebuah kesalehan pribadi yang belum secara otomatis membawa orang kepada pendalaman dalam perjumpaan dengan Tuhan. Membaca Alkitab seharusnya membawa orang semakin hari semakin memahami kehendak Tuhan, serta mewujudnyatakan kebenaran dan keadilan Tuhan melalui laku hidup sehari-hari.
  1. Apa yang mendorong orang Israel berkumpul di depan pintu gerbang air? 
  2. Siapa saja orang-orang yang hadir? 
  3. Hal apa saja yang menunjukkan keseriusan orang Israel dalam menerima firman? 
  4. Apa yang dilakukan pemimpin agama untuk menolong orang Israel mengerti hukum yang dibacakan bagi mereka? 
  5. Mengapa umat Israel menangis saat mendengar firman Tuhan dibacakan? 
  6. Apakah saudara merasakan sukacita saat menaati firman Tuhan? 
  7. Apakah kendala saudara dalam mendalami alkitab?
  8. Apakah firman yang dibaca senantiasa “berbicara” bagi kehidupan saudara? 
  9. Apakah saudara juga membagikan firman kepada sesama? Apa bentuknya? 
Kegiatan pembacaan Alkitab memperhadapkan kita dengan Allah sendiri di dalam Kristus dan menuntut respons kita atas kasih karunia-Nya dalam tindakan nyata yang dirasakan sesama ciptaan.

Minggu 24 Januari 2016
Pnt. Noerman Sasono, S.Si. (Teol.)

Tempayan Kosong Menjadi Penuh

diposkan pada tanggal 16 Jan 2016 05.25 oleh Admin Situs

Yohanes 2:1-11

“Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau `kan kagum oleh kasih-Nya;
Berkat Tuhan mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasih-Nya.” 

Adalah refrain dari Kidung Jemaat 439 `Bila Topan K`ras Melanda Hidupmu` Lagu ini menggambarkan ungkapan sukacita umat karena memiliki Tuhan yang senantiasa memberi berkat dalam hidup. Dalam kehidupan sehari-hari sudahkah kita menyadari bahwa berkat Tuhan begitu melimpah? Atas kesadaran tersebut sudahkah kita juga membagi sukacita dengan orang lain?
  1. Dimanakah pesta perkawinan itu diadakan? 
  2. Peristiwa apakah yang kemudian terjadi dalam pesta tersebut? 
  3. Mengapa Maria meminta Yesus bertindak? Apa respon Yesus? 
  4. Apa karya Yesus di tempat itu? Apa reaksi pemimpin pesta? 
  5. Apakah makna mujizat di Kana bagi para murid Yesus? 
  6. Bagaimana saudara memahami “mujizat” Tuhan di masa kini? 
  7. Apa yang menjadi kesulitan saudara untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain? 
  8. Pada waktu Tuhan memberi berkat kepada kita, tentu Dia punya misi melalui kita. Misi-Nya ialah supaya kita menjadi saluran berkat bagi sesama. 
Minggu 17 Januari 2016
Pnt. Noerman Sasono

Ketika Yesus juga dibaptiskan

diposkan pada tanggal 9 Jan 2016 12.31 oleh Admin Situs   [ diperbarui9 Jan 2016 12.33 ]

Yesaya 33:1-7; Mazmur 29; Kisah Para Rasul 8:14-17; Lukas 3:15-17, 21-22

Allah seperti apakah yang disembah oleh manusia? Barangkali banyak orang beranggapan bahwa Allah yang mereka sembah itu adalah Allah yang sangat tinggi dan jauh di sorga, sehingga hampir tidak ada interaksi antara Allah dan manusia? Bagi mereka, mustahil Allah hadir dalam kehidupan manusia.

Lalu, Allah yang bagaimana yang kita (orang Kristen) sembah? Alkitab memperkenalkan Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang melulu jauh, tapi Allah yang sangat dekat dengan manusia. Lebih dari itu, Alkitab menegaskan bahwa Allah pencipta semesta itu adalah Allah yang bersedia memasuki kehidupan kita yang penuh dosa. Penegasan tentang kepedulian dan keterlibatan Allah dalam kehidupan manusia itulah yang kita lihat dalam peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan (Lukas 3:21-22).

Peristiwa Yesus dibaptis memang terasa luar biasa. Bagaimana tidak? Dalam pemikiran orang awam, Yesus tidak perlu menjalani ritual baptisan itu sebab Dia adalah Anak Allah. Bagaimana mungkin Anak Allah dibaptis oleh manusia yang bernama Yohanes Pembaptis. Tapi, justru cara inilah yang Allah pilih untuk menyatakan kasih dan kuasa-Nya. Kita bisa melihat beberapa hal yang ingin disampaikan melalui peristiwa ini:
  1. Baptisan Yohanes, sebagaimana kita baca di ayat-ayat sebelumnya, merupakan baptisan untuk pertobatan. Baptisan ini diberikan bukan kepada orang asing, melainkan kepada umat Allah. Dengan ini Yohanes menyatakan bahwa Allah tidak melihat status seseorang, melainkan dari buah yang dihasilkan sesuai pertobatan. Dengan kata lain, hidup sebagai umat Allah tidak ditunjukkan oleh status dan ritual, melainkan melalui perubahan batin yang diwujudkan dalam tindakan yang sesuai dengan kehendak Allah. 

  2. Peristiwa pembaptisan Yesus itu memperlihatkan kesudian Allah untuk datang ke dalam dunia yang cemar oleh dosa. Allah dalam diri Yesus bersedia menjalani hidup manusiawi (dibaptis, salah satunya) untuk menyatakan solidaritas-Nya kepada manusia. Melalui peristiwa pembaptisan ini Allah menyatakan bahwa sesungguhnya Yesus merupakan wujud pemenuhan janji Allah untuk menyelamatkan manusia. 
Keselamatan itu Allah berikan tidak terbatas kepada mereka yang punya status sebagai “anak Allah”, melainkan kepada semua orang yang mau menerima. Dalam Kisah para Rasul 8:14-18 kita melihat bahwa Roh Kudus diberikan juga kepada orang Samaria, yang oleh orang Israel selama ini dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Para rasul menyampaikan solidaritas Allah itu, yang salah satunya terlihat dalam peristiwa pembaptisan Yesus, dengan cara memberitakan Injil kepada semua orang, tanpa terkecuali.

Pertanyaan refleksi:
  1. Bagaimana saudara memahami baptisan yang sudah saudara terima? 
  2. Menurut saudara, dalam hal apa (atau dengan cara bagaimana) saudara dapat memberitakan solidaritas Allah kepada manusia? 

Minggu, 10 Januari 2016
Mathyas Simanungkalit

Tidak lagi gelap!

diposkan pada tanggal 31 Des 2015 20.37 oleh Admin Situs   [ diperbarui31 Des 2015 20.44 ]

Yeremia 31:7-14, Mazmur 147:12-20, Efesus 1:3-14, Yohanes 1:1-9

Kata-kata menjadi kenyataan. Firman menjadi manusia. Allah, Bapa yang baik itu, menyatakan solidaritasnya dengan ciptaan yang dikasihi-Nya. Memang benar bahwa kegelapan ada di dunia ini. Kuasa yang gelap itu membuat ciptaan binasa. Tetapi adalah juga benar bahwa ada terang yang membawa kepada hidup. Terang itu ada di dunia ini. Kegelapan dan segala kuasanya tidak mampu membinasakan Terang itu.

Terang itu adalah Kristus. Ia nyata hadir di dalam dunia ini melalui Firman dalam kuasa Roh Kudus. Sehingga setiap orang yang berjalan dalam Terang itu, tidak lagi mencaci Allah, melainkan memuji-Nya. Ada sebuah pengharapan dan kuasa yang besar dalam menjalani hidup sebagai orang yang dikasihi sebagai anak-anak-Nya. Sebab ada kesempatan untuk memulai segala sesuatunya dalam kebaruan hidup. Seperti pada mulanya, dan sungguh tidak gelap lagi!

Untuk penggalian dan perenungan:

  1. Yeremia 31:7-14 mengungkapkan apa yang Allah kerjakan bagi umat Israel setelah mereka mengalami pengalaman hidup yang berat sebagai bangsa terbuang. 
    1. Apa saja yang Allah kerjakan bagi Israel? 
    2. Siapa saja yang beroleh kebaikan melalui pekerjaan Allah itu? 
    3. Apa yang harus didengar oleh bangsa-bangsa? 

  2. Mazmur 147:12-20 menasihatkan umat untuk memegahkan Allah. Apa alasannya? 

  3. Efesus 1:3-14 mengungkap kabar baik yang dihadirkan Kristus bagi setiap orang percaya. 
    1. Apa saja yang diberikan Allah melalui kehadiran Kristus? 
    2. Apa yang dapat dilakukan oleh orang yang sudah mendapatkan pemberian itu? 

  4. Yohanes 1:1-9 mirip dengan bagian awal kisah penciptaan dalam Kejadian 1. Apa kemiripannya? 
    1. Bagaimanakah penulis Injil Yohanes memperkenalkan Kristus kepada para pembacanya? 
    2. Mengapa penulis Injil Yohanes menggunakan istilah “terang” dan “gelap”? 
    3. Apa makna “hidup” menurut penulis Injil Yohanes? 

  5. Apakah Anda setuju bahwa kata-kata itu berkuasa? Mengapa? 

  6. Kapan Yesus Kristus menjadi terang bagi hidup Anda? Melalui hal apa Anda merasakan kehadiran-Nya? 

  7. Apa yang dapat Anda kerjakan jika Kristus menjadi terang bagi dunia ini? 
Doa:
Ya Allah, Bapa yang baik, karena cahaya kuasa kasih Kristus dan hikmat Roh-Mu yang kudus, kegelapan tidak akan menguasai kami lagi. Bimbinglah selalu kami anak-anak-Mu dengan terang-Mu. Amin.

Minggu 3 Januari 2016
(Pdt. Essy Eisen)

Bertumbuh sebagai manusia baru

diposkan pada tanggal 22 Des 2015 20.05 oleh Admin Situs

1 Samuel 2:18-20,26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52

Kita seringkali tenggelam dalam rutinitas kerja untuk mengambil bagian dalam hiruk pikuk metropolis. Situasi Ini kemudian menyeret kita ke dalam kehidupan tanpa makna. Lalu yang tersisa adalah manusia-manusia usang yang gelisah, cemas, dan ketakutan akan masa depan.

Pertanyaan yang patut kita ajukan bagi orang beriman saat ini adalah bagaimana kita memberi diri untuk ikut berproses dan bertumbuh menjadi manusia baru? Suasana natal saat ini menawarkan jalan untuk kembali pada jati diri kita sebagai orang percaya. Bukan dengan pesta pora atau bersemadi, melainkan dengan mewujudkan kasih dalam keseharian; menyingkapkan diri melalui tindakan-tindakan nyata, bermanfaat, dan tepat sasaran. 

Dengan demikian, orang percaya diundang untuk memikirkan dan berpartisipasi aktif dalam perbuatan kasih terhadap masalah kerusakan lingkungan dan masalah keretakan hubungan antara sesama manusia. Hal ini mengingatkan kita tentang keselamatan yang Allah telah anugerahkan kepada kita dengan tujuan untuk membangun kehidupan yang harmonis dan damai dengan seluruh ciptaan.

  1. Setelah membaca 1 Samuel 2:18-20, 26, apa yang dilakukan Samuel sejak ia masih kecil? 
  2. Apakah yang patut dilakukan oleh orang percaya ketika ia melihat Allah seperti yang pemazmur gambarkan dalam Mazmur 148? 
  3. Ketika membaca Kolose 3:12-17, atas dasar apa jemaat Kolose mengambil bagian dalam kehidupan baru (ayat 12)? Lalu bagaimana orang percaya merespon hidup baru yang dikatakan dalam surat Kolose tersebut? 
  4. Dalam Lukas 2:41-52 diceritakan bahwa Yesus telah melakukan pelayanannya sejak ia masih kecil, sama seperti Samuel. Bagaimana Yesus tampil menjadi orang yang berbeda dari anak kebanyakan diusianya (ayat 47-48)?. 
Pertanyaan Reflektif 
  1. Bagaimana Saudara mewujudkan makna hidup baru dalam menumbuhkan iman yang teguh di hadapan Tuhan dalam merespon kerusakan alam dan pemanasan global yang kita alami saat ini? 
  2. Pedulikah Saudara dengan populasi ikan hiu yang semakin menurun bahkan hampir punah karena siripnya diambil dan dihidangkan dalam mangkok sup di restoran-restoran di Indonesi? Setujukah Saudara bahwa tindakan seperti ini harus dihentikan? 

Minggu, 27 Desember 2015
Melny Nova Katuuk

Rendah hati dan peduli

diposkan pada tanggal 19 Des 2015 14.32 oleh Admin Situs

Lukas 1:39-55

Natal identik dengan kemeriahan dan keindahan. Gaung natal telah bergema di seluruh dunia. Wajah kegembiraan dan kesederhanaan telah berganti menjadi mahal, megah dan mewah. Kisah kasih natal tergenangi kubangan pesta pora tanpa kepedulian dengan sesama. Manusia merayakan natal demi mencapai kepuasan pribadi, dan tidak lagi menghiraukan dampaknya bagi sesama. Natal seperti inikah yang ingin kita rayakan? Tanpa kerendahhatian juga kepedulian? Semoga tidak.
  1. Kepada siapakah Maria pergi dan apa tujuannya? 
  2. Mengapa Maria mendapat pujian Elisabet? 
  3. Apakah respon Maria atas pujian tersebut? 
  4. Apakah makna penggunaan kata “hamba Tuhan” dalam ayat 38 dan 48 oleh Maria? 
  5. Di manakah wujud kerendahan hati dan kepedulian Maria? 
  6. Apakah natal yang saudara rayakan menunjukkan unsur kepedulian dan kerendahan hati? 
  7. Apa contoh nyata dari kepedulian dan kerendahan hati saudara dalam kehidupan ini? 
Minggu 20 Desember 2015
Pnt. Noerman Sasono

Mengoreksi diri dan berkontribusi

diposkan pada tanggal 12 Des 2015 07.09 oleh Admin Situs

Zefanya 3:14-20; Yesaya 12:2-6; Filipi 4:4-7; Lukas 3: 7-18

Pengantar
Semua manusia berdosa dan harus dihukum. Kisah-kisah penghukuman manusia oleh sebab keberdosaannya dapat kita temukan dalam kisah-kisah Alkitab. Namun, Alkitab juga menegaskan bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang selalu rindu untuk menyelamatkan umatNya. Dalam kitab Yesaya dikatakan bahwa “murka Allah telah surut” (Yesaya 12:10). TUHAN ALLAH telah berkenan memberi keselamatan. Dia telah menyingkirkan hukuman dari umatNya (Zefanya 3:15). Hal ini membuat kita selayaknya bersukacita, sebagaimana dikatakan rasul Paulus dalam Filipi 4:4-7: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”

Keselamatan yang telah TUHAN berikan, dan yang telah kita terima, memungkinkan kita menghasilkan buah, yaitu hidup dengan cara yang berkenan kepada Allah serta memberi kontribusi yang baik kepada sesama dan semesta ciptaan Allah (Lukas 3:8). Agar dapat berbuah, kita diminta secara aktif menerima keselamatan tersebut, yaitu dengan cara terus menerus melihat apakah kita semua sudah hidup selaras dengan nilai-nilai yang TUHAN kehendaki.

LUKAS 3:7-18

Pengamatan
  1. Apa yang Yohanes Pembaptis katakan kepada orang banyak yang datang untuk dibaptis? 
  2. Apa saja yang ditanyakan orang-orang setelah mendengar perkataan Yohanes Pembaptis? 
  3. Bagaimana Yohanes Pembaptis menggambarkan Yesus? 
Pendalaman
  1. Dalam Lukas 3:7-9 kita membaca perkataan yang sangat keras. Mengapa Yohanes Pembaptis berkata demikian? 
  2. Mengapa orang-orang bertanya kepada Yohanes Pembaptis tentang apa yang mereka harus lakukan (ayat 10-14)? 
  3. Apa inti anjuran Yohanes Pembaptis kepada orang-orang yang bertanya kepadanya itu? 
  4. Apa arti perkataan Yohanes Pembaptis di ayat 17? 
Penerapan
  1. Apakah perkataan-perkataan Yohanes Pembaptis masih relevan dengan kita saat ini? Dalam hal apa?
  2. Pada masa lalu, orang-orang bertanya kepada Yohanes Pembaptis agar mereka dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah. Bagaimana caranya kita melakukan introspeksi diri pada masa kini? 

Minggu, 13 Desember 2015
Mathyas Simanungkalit

Menjalankan fungsi kenabian masa kini

diposkan pada tanggal 3 Des 2015 12.52 oleh Admin Situs

Maleakhi 3:1-4, Lukas 1:68-79, Filipi 1:3-11, Lukas 3:1-6

Pesan utama
Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Ia berkarya sepanjang sejarah umat-Nya. Kasih-Nya setia untuk menyelamatkan manusia dari dahulu, sekarang dan selamanya. Allah mengutus nabi-nabi-Nya untuk mencermati karya-Nya pada masa silam sehingga para nabi-Nya berani menyatakan apa yang benar pada masa kini dan dengan penuh pengharapan menantikan penyempurnaan penyataan kehendak Allah untuk masa depan yang penuh damai sejahtera. Pengikut Kristus diundang untuk menjalankan fungsi-fungsi kenabian pada masa kini. Menilik kehidupan Maleakhi, Zakharia, Paulus dan Yohanes Pembaptis, kita dicerahkan untuk tidak enggan berkarya bersama Allah dalam penyataan kehendak-Nya di tengah keseharian hidup kita, sebagai nabi-nabi-Nya.

Pengamatan
  1. Diibaratkan seperti apakah karya Allah pada hari kedatangan-Nya? (Maleakhi 3:2-3) 
  2. Apa karya anak dari Zakharia kelak yang dapat kita simak dalam Lukas 1:76-79? 
  3. Apa isi doa dari Paulus? (Filipi 1:9-11) 
  4. Kapan dan di mana Yohanes Pembaptis menerima Firman Allah? (Lukas 3:1-2) 
Pendalaman
  1. Dalam Maleakhi 3:2-4 apa makna kata “akan” dalam pernyataan sang nabi? 
  2. Bagaimana Zakharia memahami pekerjaan Allah dari dahulu sampai saat di mana anaknya lahir, hingga kelak anaknya melakukan pekerjaannya sebagai seorang nabi? (Lukas 1:68-79) 
  3. Dalam bagian awal surat Paulus dan Timotius untuk jemaat Filipi, apa yang mereka lihat sedang terjadi dalam kehidupan jemaat dan apa harapan bagi jemaat itu kelak? (Filipi 1:3-11) 
  4. Apa makna dari “Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan,” pada Lukas 3:5? 
Penerapan
  1. Allah berkarya sejak dahulu, sekarang dan selamanya. Umat-Nya diajak untuk melihat waktu dalam hidupnya melalui sudut pandang masa lalu, sekarang dan kelak. Perjanjian-Nya untuk menyelamatkan manusia adalah kekal. Berangkat dari karya Allah yang baik sedari dahulu, apa yang anda yakini sebagai karya-Nya pada masa kini, yang harus Anda hidupi senyata-nyatanya supaya masa depan Anda tidak berakhir dalam kebinasaan? 
  2. Apa saja di dalam lingkup hidup Anda (keluarga, pekerjaan dan kehidupan bergereja) yang Anda lihat tidak berkenan kepada Allah dan peran apa yang akan Anda lakukan terhadap hal-hal itu? 
  3. Apakah risiko yang akan Anda alami jika Anda berperan seperti nabi, yaitu berani menyatakan apa yang benar sesuai Firman Allah, bagi hidup Anda dan orang-orang di sekitar Anda? Apa yang akan Anda lakukan setelah mengetahui risiko itu? 
Doa:
Terima kasih ya Allah, Engkau setia menyertai perjalanan kami selama-lama-Nya. Mampukan kami supaya tidak putus asa, tidak tinggi hati, tidak cari-cari alasan dalam menyatakan kehendak-Mu dalam penantian kedatangan-Mu. Amin.

Minggu 6 Desember 2015
Pdt. Essy Eisen

1-10 of 289