Kegiatan‎ > ‎

Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Jika Anda ingin berlangganan isi renungan warta melalui email, silahkan daftarkan email anda di sini.

Berjuang Demi Kebenaran

diposting pada tanggal 14 Jul 2018 10.05 oleh Admin Situs

Markus 6:14-29

Banyak orang berjuang untuk melakukan sesuatu yang baik, namun perjuangan yang kadang dihindari adalah memperjuangkan kebenaran dalam beberapa situasi. Situasi yang dimaksud adalah saat kebenaran harus dinyatakan dalam lingkup keluarga, lingkup pekerjaan, dan lingkup masyarakat. Dari lingkup tersebut, muncul sebuah tantangan dalam menyampaikan kebenaran yaitu kekuasaan, ketakutan, keseganan, ketidakpedulian karena menganggap bukan urusan saya, bahkan tawaran menguntungkan (menyuap) membuat seseorang lebih memilih untuk diam. Maka, kebenaran tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan. Namun, ada juga banyak orang yang memperjuangkan kebenaran sampai nyawa menjadi taruhannya. Salah satu contohnya adalah Yohanes Pembaptis, ia mau untuk menyatakan kebenaran. Alasan utamanya bukan karena untuk mempermalukan Herodes melainkan dasarnya adalah kasih, agar orang tersebut tidak binasa. Niat baiknya dimanfaatkan oleh orang lain yaitu Herodias sehingga Yohanes pun mati karena perjuangannya.

Kita dapat merefleksikan suatu nilai yaitu berjuang demi kebenaran didasarkan pada kasih maka perjuangan itu akan sangat bernilai. Kasih yang dimaksudkan yaitu karena kita peduli kepada yang lain, mau orang lain berubah menjadi lebih baik, menyadarkan bahwa yang dilakukan adalah salah, membuktikan orang yang ditegur adalah berharga, dan meneladankan sikap keberanian dalam menyuarakan kebenaran. Kasih yang menjadi tujuannya seharusnya membuat seseorang mau untuk berjuang menyatakan kebenaran sehingga itu dapat menjadi kebiasaan yang harus dipertahankan bukan dihilangkan. Dengan begitu, ada banyak orang termotivasi untuk melakukannya.
  1. Menurut Anda, apa yang Yohanes suarakan? Apakah risiko terhadap yang disuarakan oleh Yohanes?
  2. Kapan terakhir kali Anda memperjuangkan kebenaran? Bagaimana Anda menyuarakan kebenaran? 
  3. Mengapa Anda mau berjuang menyatakan kebenaran? 
  4. Pernahkah Anda mengalami situasi diam saat terjadi ketidakbenaran? Mengapa? 
  5. Pernahkah Anda mengalami ancaman dalam memperjuangkan kebenaran? Bagaimana respons Anda?
Minggu 15 Juli 2018
RC

Ben-Adam

diposting pada tanggal 6 Jul 2018 20.22 oleh Admin Situs

Yehezkiel 2: 1 - 5

Ben – Adam [kita anak manusia] adalah makhluk yang rapuh dan lemah, frasa ini disebut 93 kali dalam keseluruhan kitab Yehezkiel. Frasa ini menarik untuk dicermati, frasa ini mengandung makna bahwa Yehezkiel, sama seperti manusia lain, adalah makhluk yang fana, lemah, rapuh dan terbatas. Allah memilihnya bukan karena kekuatan dan kehebatannya. Yehezkiel tidak perlu cemas akan keterbatasannya karena kekuaran Allah akan senantiasa menyertai.
  1. Apa kelemahan diri yang saudara anggap menjadi penghalang dalam berkarya? 
  2. Apa yang saudara lakukan ketika kelemahan/penderitaan membuat saudara merasa malu, dan rendah diri? 
  3. Apa yang menjadi kelemahan Yehezkiel? 
  4. Apa yang kemudian dilakukan Yehezkiel dalam mengerjakan panggilannya? 
  5. Apa bentuk pertolongan Allah yang meneguhkan saudara dalam menjalani kehidupan? 
Minggu 8 Juli 2018
NS

Tidak sia-sia berharap

diposting pada tanggal 28 Jun 2018 02.31 oleh Admin Situs

Markus 5:21-43

Tanpa pengharapan, walaupun kita hidup, tetapi kita tidak benar-benar hidup. Mengapa? Sebab pikiran dan perasaan kita dipenuhi oleh hal-hal buruk dan menyedihkan. Acap kali pada saat itu terjadi, yang sering kita ucapkan adalah: “bagaimana nanti jika?”, “aku harus melakukan apa lagi?”, “rasanya sudah tidak ada jalan lagi!”.

Memang tidak selalu mudah untuk berharap. Sebab mungkin bukan sekali saja kita berharap. Bisa jadi kita dahulu pernah berharap, bahkan harapan-harapan baik yang diikuti dengan semangat yang luar biasa. Tetapi pada saat apa yang kita harapkan tidak kunjung terjadi dan terlaksana, pelan-pelan kita kembali pesimis. Kita kembali pada titik nol kehampaan hidup.

Pengharapan dalam terang hikmat kitab suci, tidak dimulai dengan keinginan dan kehendak diri sendiri. Pengharapan para leluhur kita dalam hal beriman, selalu dimulai dengan iman bahwa Allah baik dan sanggup menyatakan apa yang baik sesuai dengan waktu dan kehendak-Nya. Jadi rupanya jika kita jeli, para leluhur dan teladan kita dalam beriman bukanlah orang-orang yang sekadar menghendaki apa yang baik terjadi saja. Apa yang menguasai pikiran dan perasaan mereka adalah kasih kepada Allah dan yakin bahwa pemeliharaan sempurna dalam segala keadaan. Ini yang terutama ada. Di dalam iman yang sedemikian maka mereka dapat melihat dengan cara baru apa-apa yang terjadi saat ini bukan sekadar dengan cara pandang mereka saja, tetapi juga dalam lingkup iman bahwa Allah tidak pernah meninggalkan mereka.

Oleh sebab itu mengawali segala pengharapan, mereka melakukan tindakan-tindakan iman. Mereka berdoa, mereka meminta, mereka melangkah dengan keberanian untuk mengambil langkah-langkah menuju perubahan hidup. Yairus dan seorang perempuan yang sakit pendarahan adalah salah satu bukti yang nyata dalam hal ini. Pada akhirnya mereka melihat apa yang Allah kehendaki. Ternyata rencana dan tindakan Allah melampaui apa yang mereka bayangkan dan harapkan. Dalam keberserahan dan iman yang tulus, mereka menikmati apa yang Allah sediakan sesuai dengan waktu dan rencana-Nya yang “pas” untuk setiap orang yang percaya dan mengasihi-Nya.
  1. Kapan terakhir kali Anda mengalami putus asa? Apa sebabnya? 
  2. Jika Anda putus asa, biasanya apa yang Anda lakukan? Apa yang terjadi sesudahnya? 
  3. Yairus dan Perempuan yang sakit pendarahan akhirnya mengalami pertolongan Allah. Apakah Anda pernah mengalami pertolongan Allah yang memenuhi harapan Anda? 
  4. Jika sampai saat ini apa yang Anda harapkan belum juga terpenuhi dan terlaksana, apa yang akan Anda lakukan? Mengapa?
1 Juli 2018
EE

Bila Badai Hidup Menerpamu

diposting pada tanggal 23 Jun 2018 09.23 oleh Admin Situs

2 Korintus 6:1-13

“Bila badai hidup menerpamu” merupakan kutipan lirik dari PKJ 285. Lirik lagu selanjutnya menegaskan Tuhanlah yang menjadi harapan, karena kasih dan setia Tuhan akan senantiasa melindungi kita. Itulah kenyataan hidup bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Pernyataan iman tersebut juga menjadi sebuah keyakinan dari seorang Rasul Paulus. Meskipun kenyataannya, Rasul Paulus selalu berhadapan dengan pengalaman-pengalaman yang sulit atau yang disebut sebagai “badai” hidup yaitu ia menyebutnya sebagai penderitaan, kesesakan, dalam menanggung dera, dalam penjara, kerusuhan, berjerih payah (2 Kor. 6:4-5). Pergumulan yang dialami oleh Rasul Paulus merupakan sebuah tantangan untuk dirinya. 

Bagi Rasul Paulus, sulit tidak selamanya menjadi sulit, jika dalam setiap tugas atau pelayanan yang sulit itu dapat dilalui dengan baik. Sebab, kesulitan adalah dinamika yang dibutuhkan dalam hidup. Jika tidak ada kesulitan, kita akan merasa hidup ini biasa-biasa saja dan kita tidak perlu meminta pertolongan, kemungkinan kita bisa jadi seseorang yang tidak butuh siapa-siapa dan apa-apa untuk hidup. Padahal, saat ada kesulitan atau pergumulan hidup sebenarnya kita diajak untuk naik level, dalam arti bertumbuh lebih dewasa dan berhikmat di dalam Tuhan.

Jelas, Rasul Paulus telah naik level, sebab tantangan itu dapat ia lewati. Itu semua bukan karena ia hebat dan dapat menuntaskan persoalan hidup melainkan Tuhan yang menjadi pegangan hidupnya. Ia sangat bergantung dengan Roh Allah yang menjadi sumber pertolongannya. Itulah sumber pengharapan hidup Rasul Paulus, keoptimisannya membawanya kepada pengakuan bahwa meskipun ia dianggap tidak terkenal tetapi ia dikenal oleh semua orang, ia disangka mati tetapi nyatanya masih hidup, ia dianiaya tetapi tidak mati (2 Kor. 6:9). Oleh sebab itu, badai hidup tidak selamanya menjadi badai, jika kita berpengharapan kepada Tuhan “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (Roma 15:13). Rasul Paulus juga tidak sendirian, persekutuan menjadi salah satu cara untuk dapat melewati “badai” hidup karena kita dapat saling menguatkan satu dengan yang lain. Untuk itu, berpengharapanlah bila badai hidup menerpamu karena kamu tidak sendirian!
  1. Apakah Anda pernah mengalami “badai” hidup di dalam lingkup apapun baik di rumah, sekolah, kuliah, kantor, gereja, masyarakat? Jika pernah, apa yang Anda lakukan?
  2. Bagaimana Anda melihat kehadiran Tuhan dalam “badai” hidup yang Anda alami?
  3. Apakah kehadiran persekutuan di gereja telah berhasil menguatkan Anda dalam melewati “badai” hidup?
  4. Setujukah Anda jika “badai” hidup disebut sebagai warna atau dinamika kehidupan? Mengapa?
Minggu 24 Juni 2018
RC

Bertumbuh dan berproses karena kasih-Nya

diposting pada tanggal 6 Jun 2018 08.56 oleh Admin Situs

Markus 4:26-34; Yehezkiel 17:22-24; Mazmur 92:1-4, 12-15; 2 Kor 5:6-17

Kerajaan Allah adalah sebuah istilah yang sering digunakan Yesus dalam karya pekabaran Injil-Nya. Sederhananya, Kerajaan Allah itu dapat diartikan sebagai sebuah suasana hidup yang dipimpin dan dipelihara oleh Allah. Di dalamnya kuasa kasih Allah sungguh nyata terasa dan mengubahkan kehidupan orang yang percaya menjadi semakin lebih baik dan lebih berguna kian harinya.

Perubahan hidup itu dimulai dari hal-hal yang paling kecil dalam lingkup yang kecil. Tetapi apabila seseorang mau terus dipelihara oleh hikmat Allah maka perubahan hidup yang dimulai dari lingkup kecil itu akan memberi dampak yang lebih besar dalam cakupan yang semakin luas. Tentu dalam proses bentukan Allah itu kita akan tiba pada kesadaran bahwa ternyata ada hal-hal dalam diri yang harus dibuang. Sebaliknya, ada juga hal-hal yang harus dipelajari dan ditambahkan dengan tekun dan tulus.

Tidak ada kata terlambat untuk mengalami perubahan dalam hidup dalam bentukan Allah itu. Mereka yang dengan sukacita berkenan dibentuk Allah akan mengalami damai sejahtera yang dapat dilihat dengan mata iman di sepanjang usia hidup dan dalam berbagai peristiwa yang ada. Usia menjadi usia yang indah, sebab berada dalam bimbingan kasih Allah.

Memang akan ada saatnya proses itu berhenti, manakala Allah menyatakan tugas seseorang selesai di dunia ini. Tetapi dampak karya-karya kehidupan yang telah dimulai, dikerjakan dan ditinggalkan oleh orang-orang yang mau berproses bersama kasih Allah, akan terus berlanjut pada generasi berikutnya.

Jadi sungguh benar apa yang dikatakan Rasul Paulus: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Kor. 5:17). Lalu, apakah kita mau bertumbuh dan berproses karena dan di dalam kuasa kasih-Nya?
  1. Dalam bentuk dan cara yang seperti apakah Anda mengalami pimpinan dan tuntunan Allah dalam hidup sehari-hari? 
  2. Perubahan apa yang telah terjadi dalam hidup Anda baik dari segi spiritualitas (kerohanian), jasmani (fisik) dan psikologis (keadaan hati, mental, batin), sejak Anda mengikut Kristus sampai sekarang ini? 
  3. Apakah perubahan dalam hidup Anda itu mempengaruhi keadaan lingkungan di mana Anda berkarya setiap hari? (Keluarga, Gereja, Masyarakat) 
  4. Hal-hal apakah yang telah Anda rencanakan supaya generasi berikut mengalami dampak baik dari karya-karya hidup Anda yang telah dipimpin Allah? 
  5. Kendala apa yang Anda alami saat menempuh proses pertumbuhan spiritualitas saat ini? Apa yang telah Anda lakukan untuk menyiasati hal itu, supaya prosesnya berjalan dengan baik?
Minggu 17 Juni 2018
EE

Menyalahkan orang lain

diposting pada tanggal 6 Jun 2018 08.48 oleh Admin Situs

Kejadian 3: 8 - 15 

Dalam praktek kehidupan setiap orang mengalami pasang surut dalam relasi. Semula kita dikasihi, tetapi kemudian dibenci. Dahulu diperlakukan sebagai sahabat, tetapi kini dianggap sebagai musuh. Umumnya orang akan mengalami kesedihan apabila di lukai orang-orang dekat, entah saudara atau sahabat. Teks hari ini melukiskan sikap anggota keluarga yang menyudutkan anggota keluarga lainnya. Kiranya kita dapat berefleksi dari kisah keluarga Adam dan Hawa.
  1. Pernahkah saudara dipersalahkan orang lain atas sebuah peristiwa yang terjadi? Bagaimana perasaan saudara? 
  2. Bagaimana sikap Adam saat menghadapi kesalahan di hadapan Tuhan? 
  3. Apa yang membuat Adam merasa patut menyalahkan Hawa? 
  4. Bagaimana pandangan saudara tentang kisah keluarga Adam dan Hawa? Apa kisah serupa juga muncul dalam kehidupan kita? 
  5. Menurut saudara, sikap seperti apa yang harus dikembangkan dalam kehidupan keluarga?
Minggu 10 Juni 2018
NS

Sabat untuk semua

diposting pada tanggal 31 Mei 2018 00.52 oleh Admin Situs

Markus 2:23-3:6; Mazmur 81:1-10; 2 Korintus 4:5-12; Ulangan 5:12-15

Dari Tuhan Yesus Kristus kita belajar untuk memahami Perjanjian Lama dengan segenap hukum-hukum keagamaan yang ada di dalamnya secara bijaksana. Sejatinya setiap hukum keagamaan bertujuan bukan untuk membebani, tetapi untuk mendidik dan mengajar setiap orang pada kebaikan bagi diri dan sesama. Oleh sebab itu, jika pemberlakuan hukum agama malah membuat orang kehilangan kasih yang nyata bagi Allah, diri sendiri dan sesama, maka ada sesuatu yang mesti diperbaiki.

Kisah Injil hari ini mengungkapkan contoh kasus di mana Tuhan Yesus mengajarkan kita semua untuk memahami hukum ke-4 dari 10 hukum Allah yang terkenal itu, yaitu untuk mengingat dan menguduskan Sabat. Jelas, melalui pengajaran Yesus kita belajar bahwa Sabat bukan semata-mata sebagai sebuah hari di mana orang tidak melakukan apa-apa saja. Tetapi jauh lebih dalam dan penting lagi, yaitu saat kita juga mau berhenti dari segala pementingan diri sendiri dan berani melangkah keluar dari kekakuan diri karena pertolongan Roh Kudus, untuk mengasihi segenap ciptaan Allah, mulai dari diri sendiri, kemudian meluas untuk semakin menjernihkan relasi kasih kita dengan sesama ciptaan lain yang membutuhkan pertolongan.

Sejak Kristus dibangkitkan pada hari Minggu, maka sebagai pengikut-Nya kita tidak lagi merayakan Sabat tepat pada hari keenam (Sabtu). Kita lebih merayakan kebangkitan Kristus di hari Minggu. Sabat pun lebih kita hayati sebagai sebuah momen (suasana yang tidak terikat waktu yang baku) karena memang yang terpenting dari setiap hukum keagamaan adalah prinsip, inti dan tujuan dari hukum itu, bukan tata cara teknisnya. Ada yang merayakan momen Sabat di hari Minggu, ada yang pada momen lain. Kapan pun itu, intinya ialah bagaimana kasih Allah di dalam Kristus disadari, dialami, dan kita terus mengalami pembebasan dari perbudakan kebodohan dosa untuk melakukan tindakan-tindakan kasih yang memuliakan Allah. Momen Sabat membuat kita tersadar bahwa karena pengudusan kita akan setiap waktu anugerah Allah yang boleh kita jalani dengan segala karya hidup, kita pun mesti “berhenti, beristirahat, berefleksi” dari segala pementingan diri, bersyukur kepada Allah dan mau dikuatkan Roh-Nya untuk berbagi segala yang baik kepada sesama ciptaan Allah, demi kemuliaan nama-Nya.
  1. Mengapa orang-orang Farisi mengomentari tindakan murid-murid Yesus saat mereka berjalan di ladang gandum bersama Yesus? Apakah yang dilakukan orang-orang Farisi itu wajar menurut Anda?

  2. Apa yang terjadi di rumah ibadat pada hari yang sama itu? Apa yang Yesus lakukan dengan orang yang mati sebelah tangannya? Bagaimana tanggapan orang-orang yang mendengarkan pertanyaan Yesus dan melihat apa yang Yesus lakukan itu? 

  3. Apakah Anda pernah melanggar peraturan demi melakukan tindakan kebaikan? Bagaimana tanggapan orang-orang yang menyaksikan tindakan Anda itu? 

  4.  Jika Sabat kita rayakan sebagai sebuah “momen” ketimbang sebuah “hari”, bagaimanakah Anda akan merayakannya? Kapan waktunya?
Minggu 3 Juni 2018
EE

Misteri Trinitas yang membebaskan

diposting pada tanggal 26 Mei 2018 02.38 oleh Admin Situs   [ diperbarui26 Mei 2018 09.59 ]


Selalu ada misteri dalam agama. Salah satu misteri pada kekristenan adalah paham tentang Allah Trinitas. Telah banyak hal yang dilakukan untuk menguak misteri itu. Namun, misteri tetap berada dalam selubung karena ketidakmampuan dan 
keterbatasan manusia. 

Agustinus, seorang Bapa Gereja, mengatakan: “si comprehendis, non est Deus” yang berarti jika Anda memahaminya, itu pasti bukan Allah. 
Merayakan misteri makin membawa manusia pada kesadaran keterbatasan dirinya. 

Gambaran tentang misteri Allah juga sedikit terkuat dalam dialog relasional Nikodemus dan Yesus. Bagi Nikodemus, kuasa yang Yesus perlihatkan dalam karya-Nya berasal dari Allah, “Sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya” (Yoh. 3 : 2). Jelas, Nikodemus mempercayai Allah.

Mengamini apa yang dikatakan Nikodemus, Yesus menegaskan perlunya orang dilahirkan kembali atau dalam bahasa populer lahir baru. Tetapi bagaimana mungkin? Begitu lebih lanjut pertanyaan Nikodemus. Yesus menjelaskan pemahaman tentang 2 tahap penciptaan manusia. Tahapan pertama manusia dibentuk dari debu tanah. Tahapan kedua manusia dihembuskan napas kehidupan atau diberi roh sehingga menjadi mahluk hidup. Bagian ini dapat disebut kelahiran dari bawah.

Tahap pertama, memang tidak mungkin dilakukan kembali. Inilah yang menjadi pertanyaan Nikodemus selanjutnya, bagaimana mungkin orang yang sudah tua masuk lagi ke rahim ibunya. Tahap kedua mungkin dilakukan. Karena itu karya Roh Kudus. 

Tahap ini dapat disebut kelahiran dari atas. Dari sini kita menemukan konsep Trinitarian: Allah Bapa mengasihi dunia dan datang dalam rupa manusia, Yesus. Melalui penyaliban Yesus, umat manusia yang percaya diselamatkan. Penyelamatan ini menghasilkan manusia yang dilahirkan kembali oleh karya Roh Kudus. Nampaklah, penuturan Injil Yohanes yang memadukan Allah (Bapa), Anak (Yesus Kristus), dan Roh Kudus dalam satu bingkai narasi menunjukkan persekutuan ilahi yang tak terpisahkan. Hal ini membuat kita bisa mengatakan: Di dalam diri Allah Trinitas kita melihat kesatuan dan persekutuan ilahi yang sempurna, di mana masing-masing berada di dalam yang lainnya. Inilah yang disebut perichoresis dalam ugkapan Yunani yang secara harfiah berarti bahwa satu pribadi mengandung dua pribadi yang lain, atau setiap pribadi meresapi yang lain, dan dengan itu saling resap secara timbal balik. 

Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa pembebasan yang dirasakan umat dari belenggu dosa adalah karya Allah Trinitaris. Pembebasan yang dikerjakan oleh Allah Trinitas menjadikan kita, dalam bahasa Paulus, anak-anak Allah. Sebutan anak-anak Allah menjadikan adanya nilai keilahian dalam diri kita. Yaitu persekutuan yang tak terpisahkan, saling mengisi, dan menopang, sebagaimana yang terlihat melalui karya 
Allah Trinitas. 

Di sini, nasihat Leonardo Boff, teolog Amerika Latin menarik untuk diperhatikan. Boff mengatakan: "Kekristenan yang terlampau berfokus pada Bapa tanpa persekutuan dengan Anak dan Roh Kudus dapat menghasilkan gambaran Allah penindas. Sedangkan kekristenan yang terpaku pada Anak tanpa mengacu pada Bapa dan tanpa menyatu dengan Roh Kudus dapat mengantar kepada rasa puas diri dan sikap otoriter dalam diri para pemimpin dan gembala. Kekristenan yang terlampau terkonsentrasi pada Roh Kudus tanpa hubungan dengan Anak dan Bapa, dapat memberi peluang bagi munculnya anarkisme dan hilangnya aturan.” 

Semoga gereja tak hanya mempercayai Allah Trinitas, tetapi menghidupi Allah Trinitas melalui persekutuan yang membebaskan. Tuhan mencintai kita. Amin.

Minggu 27 Mei 2018
NS

Pewarta kasih Allah

diposting pada tanggal 19 Mei 2018 10.38 oleh Admin Situs

Yohanes 15:26-27; Yoh 16:4-15

Dalam ikatan kasih Allah Bapa dengan Yesus Kristus Anak-Nya, Roh Kudus telah diutus hadir dalam kehidupan Gereja. Itulah yang kita ingat dalam Pentakosta. Roh Kudus membuat orang menjadi sadar dan semangat untuk keluar dari kebodohan dosa serta mengikuti Firman yang diajarkan Kristus sewaktu menghadapi masa mendatang. Roh Kudus menolong orang percaya untuk berurusan dengan kelemahan hidupnya dan mengelolanya menjadi kekuatan yang berdampak bagi segenap ciptaan.

Saat merayakan Pentakosta, kita tahu bahwa kita diperlengkapi untuk mengabarkan kasih Allah. Kasih yang nampak dalam persahabatan yang mengubahkan. Acap kali Gereja terlalu sibuk, tetapi sibuk yang tidak jelas. Kita bersyukur bahwa Roh Kudus akan mengubahkan hati kita. Dalam pembaruan itu, pikiran kita menjadi jernih untuk mengupayakan dengan nyata apa yang harus dikerjakan sebagai Gereja di tengah keadaan zaman yang putus asa, kehilangan makna hidup dan suka yang instan dan cepat tanpa relasi yang hangat. Kita mewartakan kasih Allah. Kasih yang membebaskan. Kasih yang berujung pada keramahan hidup di tengah keberagaman. Kasih yang adil dan mau memahami. Kasih yang mau membangun kerja sama yang sehat. Semoga citra diri kita sebagai Gereja, semakin menampakkan citra Allah yang menyapa dan membawa kabar baik bagi Dunia.
  1. Apa yang akan dikerjakan Roh Kudus bagi dunia ini? Apa yang akan dikerjakan murid-murid juga?
  2. Apa yang membuat orang insaf akan dosa-dosanya? Apa yang harus dilakukan oleh orang itu setelah ia insaf
  3. Dosa-dosa apa yang Anda cermati nampak jelas di dalam kehidupan sehari-hari kita saat ini?
  4. Bagaimana peran Gereja, termasuk Anda di dalamnya untuk menjadi pewarta kasih Allah di tengah kenyataan dosa-dosa yang ada itu? 
  5. Bagaimana dan dalam bentuk apakah Anda mengalami peran Roh Kudus di dalam kehidupan Anda pada masa yang silam? Pada masa yang akan datang?
Minggu 20 Mei 2018
EE

Dikuduskan dan diutus

diposting pada tanggal 19 Mei 2018 10.32 oleh Admin Situs

Yohanes 17: 1 - 26

Dalam rangka berkarya di tengah dunia inilah orang kristen diperlengkapi, dikuduskan dan dikuatkan oleh Roh Kudus. Upaya itu dilakukan melalui persekutuan, seperti gereja Tuhan. Orang kristen tidak bisa hidup sendiri. Ia hidup bersama dengan sesama orang percaya dalam gereja-Nya. Yohanes 17: 1 - 26 adalah bagian dari doa syafaat yang Yesus panjatkan. Doa ini boleh dikatakan menyerupai Doa Bapa Kami dalam Injil sinoptik. Hanya isinya luas
dan berada sebelum peristiwa salib.
  1. Relasi apa yang Yesus bicarakan dalam ay. 1 - 5?
  2. Relasi apa yang Yesus bicarakan dalam ay. 6 - 19?
  3. Apa yang digambarkan dalam ay. 20 - 26?
  4. Apa tujuan keberadaan murid Kristus di dunia?
  5. Tugas perutusan apa yang sudah saudara kerjakan bagi dunia?
Minggu 13 Mei 2018
NS

1-10 of 416