Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Lakukanlah!

diposkan pada tanggal 19 Des 2014 21.05 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui19 Des 2014 21.05 ]

Lukas 1: 26 – 38

PERTANYAAN PENGANTAR

  1. Berita mengejutkan seperti apakah yang pernah saudara dengar?
  2. Pernahkah saudara mendapatkan perintah untuk melakukan tugas yang sepertinya mustahil untuk dilakukan? Apakah respon saudara? 
PERTANYAAN PENDALAMAN
  1. Siapakah yang diutus Tuhan untuk menjumpai Maria?
  2. Tugas apakah yang diemban utusan tersebut? 
  3. Apakah yang menjadi dasar bagi pemberitaan kehamilan Maria? 
  4. Bagaimana reaksi saudara jika berada pada situasi seperti Maria? 
  5. Konflik apakah yang muncul dalam dialog Maria dengan Gabriel? 
  6. Bagaimanakah konflik tersebut kemudian dapat diselaraskan? 
  7. Apakah yang kemudian menjadi refleksi Maria? 
PERTANYAAN PENERAPAN
  1. Apakah mudah bagi saudara untuk memahami kehendak Allah dalam kehidupan? Mengapa?
  2. Bagaimana sikap saudara jika ternyata kehendak saudara berbeda dengan kehendak Allah?
  3. Apakah yang saudara perlukan guna mengasah kepekaan terhadap kehendak Allah? 
  4. Beranikah saudara mengambil keputusan seperti Maria? Menjadi hamba Tuhan dan bersiap atas segala resikonya?
  5. Komitmen apa yang akan saudara hidupi setelah belajar dari kisah Maria? 
Minggu Adven 4B, 21 Desember 2014
(Pnt. Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))

Kalahkanlah!

diposkan pada tanggal 15 Des 2014 06.46 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui19 Des 2014 21.06 ]

Yohanes 1: 1-10, 19-28; 12:46

Berdasarkan kalender gerejawi, saat ini umat Kristen sedang berada dalam minggu-minggu Adven. Semua warga gereja tengah mempersiapkan diri menyongsong Natal dan sekaligus menantikan kedatangan kembali Yesus Kristus. Dalam suasana penantian itu alangkah baiknya kita merenungkan kembali tentang Dia yang kita songsong. Siapakah Dia? Bagaimanakah Dia? Apa yang dilakukan-Nya?

Yohanes mengawali kitabnya dengan kesaksian bahwa Dia yang kita tunggu-tunggu itu sejak semula sudah ada bersama-sama dengan Allah. Dia adalah Sang Terang yang datang ke dunia agar manusia mendapat kehidupan. Tanpa cahaya manusia tidak dapat melihat apapun, tidak mampu mengenali apa-apa, termasuk dirinya sendiri. Karena itulah Yesus datang ke dunia, agar manusia tidak hidup dalam kegelapan (12:46). Yesus datang agar setiap orang yang menerima-Nya keluar dari kegelapan dan hidup dalam terang. Dengan hidup dalam terang, setiap orang percaya mampu mengenal Allah (beserta kehendak-Nya), dan dengan demikian sekaligus mampu mengenal dirinya sendiri yang merupakan gambar Allah.

Apa artinya hidup dalam terang?

Hidup dalam terang, sebagaimana penegasan Yohanes Pembaptis untuk hidup dalam pertobatan, adalah hidup yang dijalani sesuai dengan kehendak Allah: hidup yang menghargai Allah, diri sendiri, orang lain, dan sekaligus merawat semesta ciptaan Allah. Sebaliknya, hidup dalam kegelapan berarti hidup yang tidak peduli terhadap Allah, orang lain, semesta ciptaan, bahkan terhadap diri sendiri.

Panggilan untuk hidup dalam terang merupakan panggilan yang luar biasa sulit di tengah dunia pada saat ini. Sebagaimana kita semua tahu, dunia saat ini berjalan dengan semangat yang tidak selalu sejalan dengan kehendak Allah. Dengan kata lain, dunia berada dalam kegelapan.

Apa yang harus kita lakukan?

Alkisah, ada sebuah gua tersembunyi jauh di dalam bumi. Gua itu tidak pernah melihat cahaya. Sampai pada suatu hari matahari mengirim undangan agar sang gua berkunjung ke tempat matahari. Gua itu memenuhi undangan matahari.

Sesampainya gua di permukaan bumi, betapa terkesimanya dia melihat matahari: begitu terang, begitu indah. Sungguh menakjubkan. Dia sungguh sangat kagum dan tak mampu melupakan pengalaman itu.

Merasa berhutang budi terhadap kebaikan matahari, gua itu mengundang balik matahari agar datang ke tempatnya. Gua ingin memamerkan kegelapan kepada matahari, sebab seumur hidupnya matahari belum pernah melihat kegelapan.

Matahari pun menerima undangan itu dan pada suatu hari datang berkunjung ke gua. Matahari diantar berkeliling ke dalam gua untuk melihat kegelapan. Tapi, meskipun telah berjalan seharian penuh, matahari tak pernah bertemu gelap. Setiap tempat yang dikunjunginya menjadi terang, menjadi penuh cahaya.

PERTANYAAN REFLEKSI:
  1. Sudahkan kita hidup dalam terang? Atau kita masih nyaman bersembunyi dalam kegelapan?
  2. Dapatkah kita melihat bukti bagi diri sendiri bahwa terang Yesus Kristus ada dalam diri kita sehingga kita sudah hidup dalam terang?
Kita sungguh memerlukan terang agar kegelapan itu tidak menguasai kita (1:5). Bila kita sungguh-sungguh telah menerima Yesus Kristus sebagai juruselamat kita, terang itu ada akan dalam diri kita, dan kegelapan tidak akan mampu menguasai kita. Bila terang itu ada dalam diri kita, maka kita mampu mengalahkan kegelapan.

Minggu Adven 3B, 14 Desember 2014
(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.)

Persiapkanlah!

diposkan pada tanggal 5 Des 2014 01.29 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui19 Des 2014 21.07 ]

Markus 1:1-8

Saat kita pergi ke pusat-pusat perbelanjaan pada bulan ini, lagu-lagu natal yang riang telah diperdengarkan. Ragam hiasan dan kelap-kerlip lampu warna-warnai menambah semarak hati kita menyongsong Natal. Begitulah mal-mal mempersiapkan kita menyambut Natal. Namun rasanya persiapan yang ditawarkan oleh mal-mal itu harus kita lengkapi juga dengan menyimak karya Yohanes Pembaptis di tepi sungai Yordan. Dengan begitu, pikiran dan hati kita juga dipersiapkan dengan sempurna sesuai Firman Tuhan dalam merayakan Natal dan mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus kembali. Apa saja karya Yohanes Pembaptis?

Yohanes Pembaptis berkenan diutus Allah untuk menggenapi apa yang nabi Yesaya (Yes. 40:3) dan Maleakhi (Mal. 3:1) nubuatkan. Yohanes Pembaptis mau diutus Allah untuk berseru-seru di gurun dalam mempersiapkan umat-Nya bagi kehadiran Mesias/Kristus/Yang Diurapi Allah. 
  • Dengan memilih tepi sungai Yordan sebagai tempat khotbahnya, Yohanes mengingatkan umat Tuhan akan peristiwa peralihan saat mereka masuk ke tanah perjanjian, setelah mengembara puluhan tahun di gurun (Yos. 3:1-dst). Ingat ini, kita juga harus ingat sebuah peralihan penting dalam hidup, yaitu dari perbudakan dosa kepada hidup yang dituntun kasih Allah. Setiap masuk gerbang gereja saban minggu, ingatkah kita bahwa kita ini adalah orang yang mau dibentuk Allah untuk menghidupi kehidupan yang baru mengikuti Injil Kerajaan Allah? 

  • Dengan menggunakan ikat pinggang kulit dan jubah dari bulu, Yohanes mengingatkan umat akan nabi Elia (2 Raj. 1:8), nabi yang tegas menentang penyembahan berhala dan mengajak umat kembali menghormati Allah. Ingat ini, kita harus ingat juga, apakah masih ada berhala-berhala dalam hidup yang masih kita sembah sehingga membuat kita mengabaikan suara Allah? Makanan Yohanes Pembaptis adalah belalang dan madu hutan. Makanan sederhana. Ini menjadi semacam simbol perlawanan Yohanes Pembaptis terhadap kemapanan hidup yang acap kali membuat orang terlena dan mengabaikan sesama yang membutuhkan pertolongan. Ingat ini kita belajar. Apakah kemapanan dan rutinitas dalam hidup ini membuat kita kehilangan semangat untuk menaati kehendak Allah? 
Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan dan mengajak umat Allah untuk memberi diri dibaptis. 
  • Bertobat sederhananya ialah kapok. Kita sadar bahwa berjalan menjauhi kasih Allah adalah pilihan bodoh yang hanya akan membuat kita binasa. Sebagaimana seluruh penduduk Yudea, penduduk kota Yerusalem datang mengakui dosa-dosanya, penting juga bagi kita dalam menyambut Natal dan kedatangan Tuhan kembali, untuk mengakui dosa-dosa kita. Ingat, Tuhan Yesus adalah penyembuh jiwa kita. Jika kita tidak mau mengakui kekurangan, kelemahan dan kejahatan-kejahatan kita, bagaimanakah kita dapat menerima dengan sukacita pengampunan yang dikaruniakan Allah melalui Kristus? Akuilah dosa-dosa kita kepada Allah! Akuilah dosa-dosa kita kepada sesama kita. Ini adalah bukti bersiap diri yang kudus! 

  • Memberi diri dibaptis berarti mengambil keputusan untuk meninggalkan dosa dan masuk ke dalam kasih yang dianugerahkan Allah. Seperti saat kita mandi, segenap kotoran dan kuman-kuman rontok, saat kita memberi diri dibaptis, ini menjadi tanda bahwa pikiran, hati, perilaku kita mau dibersihkan Allah. Saat dibaptis, kita masuk dalam kumpulan orang-orang yang mau dituntun oleh kehendak Allah dan mengerjakan apa yang dikehendaki Allah di dalam pimpinan Tuhan Yesus Kristus. Ingatkah kita akan baptisan yang telah kita terima? Sadarkah bahwa kita ini sudah ditandai dan menerima pengampunan-Nya melalui baptisan kudus? Bagaimanakah sikap kita sebagai orang yang telah menerima hadiah yang besar ini dari Allah? 
Yohanes Pembaptis merendahkan dirinya dan mengarahkan orang kepada Tuhan Yesus Kristus dan karya-Nya. 
  • "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak..” Itulah kata-kata Yohanes Pembaptis. Menurutnya ia hanya sebagai jembatan saja bagi orang-orang untuk dapat merasakan kasih Kristus. Yohanes bahkan tidak berani mengambil sikap sebagai budak jika berhadapan dengan Kristus. Sikap Yohanes ini mulia. Ini boleh menjadi sikap kita juga. Apakah segala persiapan kita menyambut Natal dan kedatangan-Nya kembali telah menjadi sarana untuk mengarahkan hati kita dan orang lain kepada Tuhan Yesus Kristus? Atau semua itu hanya untuk memuaskan pikiran, hati dan indera kita semata? 

  • “..Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus." lanjut Yohanes Pembaptis. Yohanes percaya bahwa setelah umat mengakui dosa dan masuk ke dalam himpunan umat Tuhan melalui baptisan, mereka harus mau diperlengkapi oleh karya kasih Tuhan Yesus Kristus. Dibaptis dengan Roh Kudus adalah diperlengkapi dengan karunia Roh Kudus untuk mengikut Yesus dengan setia dan memberlakukan pengajaran kasih-Nya dalam hidup kita. Apakah setelah mengakui dosa-dosa kita dan dibaptis, segenap karunia rohani yang sudah Tuhan berikan kepada kita telah kita gunakan dengan baik? Apakah kelebihan-kelebihan kita sudah kita gunakan sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus inginkan? 
Selamat bersiap diri menyambut Natal dan kedatangan Tuhan kembali. Persiapkanlah dengan sungguh-sungguh!

Minggu Adven 2B, 7 Desember 2014
(Pdt. Essy Eisen)

Berjaga-jagalah!

diposkan pada tanggal 2 Des 2014 01.16 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui19 Des 2014 21.09 ]

Markus 13: 24 - 37

Kedatangan Kristus yang diperingati gereja memiliki makna ganda, tidak hanya menunjuk pada kedatangan Kristus di hari natal, tetapi juga menunjuk pada kedatangan-Nya yang kedua di akhir zaman. Kedatangan Kristus yang pertama ditunjukkan pada peristiwa natal. Pada kedatangan-Nya yang pertama ini Yesus mendatangi ruang kehidupan manusia dengan segala kesederhanaan-Nya. Agar manusia yang arogan, tinggi hati, ingin menang sendiri serta berlumur dosa menjadi luruh dan luluh dalam pelukan Yesus. Ia memanggil setiap orang untuk menerima pembebasan dan penyelamatan.

Kedatangan yang kedua digambarkan dalam kemuliaan dan kemegahan. Ia datang sebagai raja yang memerintah dan berdaulat (Wahyu 21:1-8), Ia datang sebagai mempelai laki-laki bagi mempelai perempuan-Nya, yakni jemaat (Wahyu 22:6-17), Ia juga datang sebagai hakim yang adil bagi manusia dan menjemput manusia memasuki kerajaan-Nya yang abadi (Matius 25:31-46).

Kendati penggambaran kedatangan yang kedua cukup jelas, namun kapan waktunya yang tepat tidak ada yang tahu. Alkitab hanya memberi petunjuk bahwa kedatangan-Nya tidak terduga. Disinilah makna pesan Yesus dalam Markus 13:33-37 menjadi penting untuk diperhatikan, yakni agar kita tidak lengah dalam menjalani hidup, dan tetap menjalankan tanggung jawab yang diamanatkan Tuhan kepada kita sambil terus berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu Dia datang. Dalam bacaan dikisahkan, selama sang majikan belum datang, ia telah memberi tanggung jawab kepada para hamba-Nya untuk mengantikan peran di “rumah” milik-Nya (ayat 34).

Rumah (oikian dalam bahasa Yunani), bisa berarti rumah, bumi, dunia. Melalui perumpamaan ini Yesus memanggil kita untuk menggantikan peran-Nya merawat “rumah” milik-Nya. Untuk menjalankan karya pemeliharaan, Tuhan memberi tanggung jawab kepada setiap pribadi secara berbeda. Jadi, antara hamba yang satu dengan hamba yang lain tugasnya belum tentu sama. Tetapi tanggung jawabnya tetap sama, yaitu bertanggung jawab kepada sang majikan yang menjadi pemilik sah atas “rumah” yang telah dipercayakan kepada mereka.

Selain dipercaya untuk menggantikan peran majikan, ada tugas lain yang harus dikerjakan oleh hamba itu, yaitu berjaga-jaga. Tugas ini diberikan dengan alasan, kapan kepulangan sang majikan itu tidaklah diberitahukan kepada mereka. Apakah Dia datang saat menjelang, malam atau fajar?

Tidak ada yang tahu. Karena memang Dia tidak memberi tahu, dan tidak akan pernah memberi tahu. Hal ini dilakukan supaya para hamba ini tidak terlena lalu tertidur. Hamba yang kedapatan tidur ketika majikan datang pasti ia tidak akan diijinkan masuk dalam sukacita tuannya.

Jadi soal waktu kapan Dia datang, itu tidak penting. Yang paling penting disini adalah kedatangan sang majikan harus disambut. Maka para hamba tidak boleh tertidur, mereka harus berjaga sampai Ia datang. Seruan untuk berjaga-jaga sangat kuat dan mendesak untuk dilakukan. Itu sebabnya Yesus mengalihkan perhatian; dari seruan dalam sebuah kisah menjadi seruan langsung kepada para murid (ayat 37). Menjadi hamba yang berjaga-jaga sambil mengerjakan tugas yang dipercayakan kepada kita sampai Ia datang kembali adalah inti berita dari perenungan adven I.

Perenungan
  1. Gambaran majikan seperti apa yang muncul dalam kisah diatas?
  2. Mulai darimanakah kita memelihara “rumah” sang tuan?
  3. Apakah Saudara termasuk golongan hamba yang berjaga-jaga?
Penerapan
  1. Membulatkan tekad hidup benar di hadapan Tuhan.
  2. Melakukan karya sosial di tengah-tengah masyarakat.

Minggu Adven 1B, 30 November 2014

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.)) 

Renungan Warta 23 November 2014

diposkan pada tanggal 20 Nov 2014 03.00 oleh Admin Situs GKI Halimun

Ikut teladan Sang Raja yang Peduli & Gembala yang Baik

Yehezkiel 34:11-16, 20-24, Mazmur 100, Efesus 1:15-23, Matius 25:31-46

Di tengah kacau balaunya nilai-nilai hidup karena kebobrokan kepemimpinan, Allah yang penuh kasih itu berjanji. Seperti seorang gembala yang baik memelihara dengan sempurna kawanan domba gembalaannya, begitu juga tindakan Allah kepada umat yang dikasihi-Nya (Yeh. 34:11-16). Kehadiran pemeliharaan Allah yang sempurna itu nampak jelas melalui karya Mesias (Pemimpin Yang diurapi Allah), melalui keturunan Daud (Yeh. 34:20-24). Melalui kepemimpinan Sang Mesias itu, umat-Nya akan menghidupi nilai-nilai kehidupan yang dikehendaki Allah, saat mereka menyatakan tindakan yang berujung pada kedamaian, keadilan dan kebersamaan hidup yang dasarnya kasih suci.

Dengan tindakan Allah sebagai Raja, Gembala, yang peduli itu sepatutnyalah umat-Nya bersyukur kepada-Nya. Ungkapan syukur itu ditunjukkan dengan kesediaan mendengar dan memberlakukan perintah-Nya. Sebagaimana Allah menunjukkan kesediaan-Nya memberikan diri demi kebaikan umat-Nya, begitu juga setiap orang yang mengagumi segenap karya-Nya dengan rela memberikan diri bagi sesamanya (Mzm. 100).

Kita mengamini dan mengimani bahwa Mesias yang dimaksudkan Allah itu adalah Tuhan Yesus Kristus (Ef. 1:22-23). Melalui segenap karya-Nya baik saat berada secara fisik di bumi ini, maupun kehadiran-Nya di dalam Firman, Perjamuan Kudus dan Roh Kudus sampai sekarang ini, Tuhan Yesus Kristus menunjukkan dengan nyata sikap-Nya sebagai Raja yang peduli, Gembala yang baik.

Dalam catatan penginjil Matius 25:31-46, Tuhan Yesus menjelaskan visi ke depan Kerajaan Allah yang turut dihadirkan oleh Sang Mesias, atau dalam bahasa penginjil Matius, oleh “Anak Manusia”. Yesus menjelaskan, seperti Sang Raja yang memeriksa kehidupan orang-orang yang dipimpin-Nya, begitu juga kita diajak mengenali kembali tindakan Allah yang menunjukkan kepemimpinan-Nya kepada orang-orang yang lemah, yang membutuhkan pertolongan dalam hidup. Jika Allah begitu peduli dan berkenan ada untuk menolong orang-orang itu, bagaimana dengan umat yang mengasihi-Nya? Perhatikan bahwa Sang Raja itu ternyata begitu murka saat orang-orang yang dipimpinnya mengabaikan kehadiran orang-orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan dalam hidup! Secara tidak langsung Tuhan Yesus ingin mengajarkan bahwa “Imanuel”, kehadiran Allah bersama dengan manusia, dapat dilihat dalam diri orang-orang yang lapar, haus, tersesat, sakit, terluka, terbelenggu. Setiap orang yang mau mengikuti teladan Raja yang peduli, Gembala yang baik, dipanggil untuk peduli dan mengasihi mereka juga.

Oleh sebab itu, seperti Jemaat Efesus yang bukan saja mengimani Kristus sebagai Juruselamat, tetapi juga yang telah menunjukkan kasih yang nyata dalam hidup mereka, kita semua dipanggil Allah untuk mengenal dengan sungguh-sungguh apa yang seharusnya menjadi karya nyata kita sebagai pengikut Kristus (Ef. 1:15-17). Memang untuk menunjukkan karya kasih kepada setiap orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan itu tidak mudah. Tetapi kita telah menerima kuasa yang luar biasa! Rasul Paulus mengatakan bahwa kuasa yang membangkitkan Tuhan Yesus Kristus dari maut, kini bekerja juga dalam diri kita yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (Ef 1:18-21)!

Pertanyaan perenungan
  1. Apa artinya jika Allah digambarkan seperti seorang Raja Yang Peduli dan Gembala Yang Baik? 
  2. Kepedulian dan kebaikan seperti apakah yang Anda sudah terima dari Allah melalui karya Tuhan Yesus Kristus di sepanjang hidup Anda? Apa yang Anda lakukan setelah mengalami semua itu terhadap orang-orang yang ada di sekitar kehidupan Anda? 
  3. Apa yang menjadi tanggapan Anda jika dikatakan bahwa Allah “hadir” di dalam diri orang yang miskin, lemah, dalam kesesatan, sakit, terluka, terbelenggu? 
Praktek Iman, Pengharapan dan Kasih
  1. Berkenan dikoreksi oleh Firman Allah untuk memperbaiki pikiran, perkataan dan kelakuan. 
  2. Tidak berkeluh-kesah dan mencari-cari alasan untuk menghindar saat mendapat kesempatan untuk melayani kawanan domba gembalaan Allah. 
  3. Menolong orang yang miskin, lemah, kesusahan, sakit, terluka dengan segenap kekuatan yang Allah berikan.
(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 16 Nopember 2014

diposkan pada tanggal 14 Nov 2014 09.47 oleh Admin Situs GKI Halimun

Bila Tuhan Mengutus

(Hakim-Hakim 4:1-7 ; Mazmur 123 ; I Tesalonika 5:1-11 ; Matius 25:14-30)

"Tuhan, utus aku kemana saja, hanya sertailah aku. Letakkan beban apa saja atasku, hanya topanglah aku. Putuskan ikatan apa saja dari padaku, kecuali ikatan yang mengikatku kepada pelayanan-Mu dan kepada hati-Mu."
Ini adalah sepenggal dari untaian doa yang dipanjatkan oleh David Livingstone. Ia adalah seorang misionaris yang melayani Tuhan begitu luar biasa di Afrika. Sejak masa kecilnya, ayahnya sering membacakan kisah-kisah keteladanan iman dari Alkitab. Ketika dewasa, saat dia mengambil kuliah, David tertarik untuk mengambil kedokteran. Dia memiliki kerinduan untuk dapat pergi ke China untuk menjadi dokter di sana, tetapi kesempatan itu tidak terwujud. Lalu David Livingstone mendapat mimpi. Dia melihat benua Afrika dan dia melihat ada asap yang mengepul dari setiap desa di benua Afrika tersebut. Dan, David mendengar seperti ada suara, " Siapa yang mau Kuutus kesana?" David pun tahu bahwa kesanalah Allah telah memanggilnya. Lalu David mulai berangkat kesana, memasuki dan menerobos setiap hutan Afrika yang lebat. Berbagi ilmu pengobatan di setiap desa, membagikan kasih Kristus dan memberitakan Injil Kristus. David bersaksi bahwa yang menguatkan dan menghiburnya dalam semua pelayanan dan penderitaan yang dialaminya adalah janji dari sang Juruselamat: "….Ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20).

Pada dasarnya setiap orang percaya dipanggil dan diutus Tuhan untuk menjadi saksiNya dalam dunia ini. Walaupun tidak harus menuju ke pedalaman Afrika seperti David. Tetapi dimanapun kita berada di sanalah kita menjadi utusan Tuhan di dunia ini. Tuhan menawarkan begitu banyak tempat pengutusan akan tetapi banyak orang yang masih memiliki keraguan untuk menerima pengutusan tersebut. Padahal setiap Tuhan mengutus Ia pasti memperlengkapi hamba-Nya.

Hakim-Hakim 4:1-7 adalah salah satu contoh penyertaan Tuhan terhadap utusan-Nya. dikisahkan bahwa Ehud menolong dan memulihkan kehidupan banga Israel yang menyimpang dari Tuhan. selama 80 tahun Israel hidup dengan takut akan Tuhan, akan tetapi setelah Ehud meninggal, Israel kembali melakukan yang jahat di mata Tuhan.

Karenanya Tuhan menghukum Israel lewat tangan Yabin raja Kanaan (ayat 2). Israel berseru kepada Tuhan dan Ia bertindak menolong umat-Nya, dengan memakai seorang perempuan bernama Debora (ayat 4). Pemilihan Allah atas Debora hendak menunjukkan bahwa Allah mampu memakai siapa saja untuk menjadi utusannya dan memperlengkapi sang utusan dengan kuat kuasa-Nya. Dalam tradisi Israel, perempuan adalah warga kelas dua dan dipandang sebagai kaum lemah. Akan tetapi ketika Tuhan memanggil (ayat 6) Ia melengkapi dengan segala sesuatu yang diperlukan. Tuhan membuka mata bangsa Israel (sekaligus mata kita), meski Debora seorang perempuan dengan segala keterbatasan dan juga statusnya, Tuhan memakainya (ayat 9). Dan kuasa Allah serta penyertaanNya akan memperlengkapi, menguatkan setiap orang yang diutusNya.

Saat ini kita masing-masingpun diutus oleh Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya kasih-Nya di dunia. Kita diminta untuk taat mengerjakan pengutusan itu. Dalam konteks pekerjaan; Ia mengutus kita agar menjadi pekerja yang menginspirasi orang lain, menunjukkan nilai-nilai kristiani dalam melakukan tugas dan karya. Dalam konteks bermasyarakat, kita diutus untuk menunjukkan kasih Kristus melalui tutur kata dan perbuatan sehari-hari. Dalam konteks keluarga, kita diutus untuk menghadirkan kasih yang hangat bagi seluruh anggota keluarga. Dalam konteks gereja, kita dipanggil untuk terlibat dalam pelayanan gerejawi (menjadi penatua, liturgos, lektor, penyambut umat, pemandu pujian dsb). Ketika Tuhan memanggil dan mengutus kita, Ia pasti memperlengkapi dengan segala yang perlu, sehingga kita dimampukan untuk melaksanakan tugas pengutusan itu. Tapi pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan adalah : “Apakah kita mendengarkan panggilan-Nya?” dan kemudian berani menjawab “Ya Tuhan ini aku, utuslah aku.”

IA memanggil banyak pekerja untuk ladang-Nya, apakah anda salah satu yang dipanggil-Nya? 

(Bpk. Noerman Sasono, S.Si.(Teol.))

Renungan Warta 9 Nopember 2014

diposkan pada tanggal 11 Nov 2014 09.48 oleh Admin Situs GKI Halimun

Mengapa Melayani?

Yosua 24:1-3, 14-25, Mazmur 78:1-7; 1 Tesalonika 4:13-18; Matius 25:1-13

Seorang ibu baru saja melahirkan anak. Setiap malam ibu tersebut harus berkali-kali bangun dari tidurnya untuk menenangkan atau menyusui bayinya yang terbangun. Hal tersebut berlangsung beratus-ratus malam. Apakah si ibu melakukan hal tersebut sebagai kewajiban? Agaknya bukan! Si ibu melakukan itu bukan sebagai kewajiban, tapi atas dasar kesadaran dan cinta. Kesadaran bahwa si bayi adalah bagian dari dirinya, yang sekaligus dicintainya. Pendasaran seperti ini juga kiranya berlaku bagi pelayanan.

Sebagai warga gereja kita semua tentu tidak asing dengan istilah pelayanan. Semua warga gereja mengaku hidup untuk melayani Tuhan dan sesama. Dan kalau ditanya alasan melakukan pelayanan, tentu jawabannya bisa banyak: mulai dari mengembangkan talenta, sebagai ucapan syukur, untuk menyatakan kasih Tuhan kepada orang lain, dan seterusnya. Semua jawaban itu tentu saja benar adanya.

Namun demikian, tidak ada salahnya sejenak kita merenungkan kembali apa sebenarnya yang melandasi pelayanan kita masing-masing. Mengapa? Sebab tidak mustahil tanpa sadar kita menjalani pelayanan sebagai suatu kewajiban. Dan karena sifatnya merupakan kewajiban, tidak mustahil pelayanan itu kita rasakan sebagai beban. Lalu, karena menjadi rutin, pelayanan juga bisa terasa membosankan. Atau jangan-jangan sebenarnya kita melakukan pelayanan dengan tujuan untuk mendapat pujian atau pengakuan dari orang lain, atau untuk menyalurkan hasrat kita untuk selalu berkuasa. Bila itu yang terjadi, yaitu bahwa yang menjadi pusat pelayanan adalah diri kita sendiri, maka apabila kita tidak mendapat yang kita maksud, kita mundur dari pelayanan.

Kalau begitu, apa dasar bagi pelayanan kita sebagai umat Tuhan?

Dalam Yosua 24 dikisahkan Yosua mengumpulkan orang Israel untuk mengingatkan kembali bahwa selama umat Israel hidup dalam perjanjian dengan Allah dan bagaimana selama itu pula Allah dengan setia memelihara mereka. Karena itulah Yosua meminta bangsa Israel untuk sejenak mempertimbangkan kembali: apakah mereka akan tetap setia terhadap perjanjian itu, atau akan memutuskan ikatan perjanjian. Yosua sungguh menegaskan bahwa Allah adalah TUHAN yang setia terhadap perjanjian-Nya.

Dari Yosua 24 ini kita belajar bahwa kita pun adalah umat yang terikat perjanjian dengan Allah. Dengan mengikatkan diri dalam perjanjian, maka dalam arti tertentu kedua pihak saling memiliki satu dengan yang lain: Allah memiliki kita sebagai umat, dan kita memiliki TUHAN sebagai Allah kita. Dalam kasih dan kuasa-Nya Allah memberi kita pengampunan. Kita menerima pengampunan bukan karena Allah wajib mengampuni kita, tapi karena kasih setia Allah.

Dalam semangat yang sama pelayanan kepada Tuhan dan sesama kita lakukan bukan lagi berdasar kewajiban, tapi merupakan buah kesadaran dan cinta. Kita sadar bahwa kita adalah umat Allah, umat yang telah mengalami pengampunan dan menerima anugerah untuk ikut mengambil bagian dalam melakukan pekerjaan Allah di dunia ini. Dengan dasar seperti ini pelayanan tidak terasa membebani, tapi merupakan bagian yang wajar dari hidup kita. Pelayanan itu menjadi sesuatu yang melekat, yang tidak bisa tidak dilakukan. Kita melakukannya sebagaimana kita bernafas. Kita tidak bisa berhenti melayani sebagaimana kita tidak bisa berhenti bernafas, karena dengan bernafaslah kehidupan menjadi berjalan.

Karena itu, sambil menantikan janji akan kedatangan-Nya kembali, kita menjalani hidup sebagai teman sekerja Allah. Kita hidup dalam pelayanan yang dilandasi cinta, yaitu cinta yang semula kita terima dari Allah. Hal itu digambarkan dengan indah dalam Matius 25:1-13. Dalam cinta lima gadis bijaksana berjaga dan tetap setia menunggu mempelai laki-laki dengan lampu terus menyala.

(Bpk. Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 2 Nopember 2014

diposkan pada tanggal 31 Okt 2014 19.18 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui31 Okt 2014 19.18 ]

Allah mengaruniakan keleluasaan hidup

Yosua 3:7-17, Mazmur 107:1-7, 33-37, 1 Tesalonika 2:9-13, Matius 23:1-12

Sebuah pesawat mengalami kerusakan mesin dan harus mendarat darurat di laut luas. Beruntung saat itu siang hari dan pesawat berhasil didaratkan di dekat sebuah pulau kecil. Ratusan penumpang yang terdiri dari orang tua dan anak-anak selamat, walaupun beberapa mengalami luka-luka akibat benturan, khususnya pilot dan ko-pilot. Walaupun semua berhasil menuju ke pulau kecil, banyak yang panik dan menangis. Beberapa malah hanya duduk terdiam memegangi luka-lukanya. “Inilah akhir hidup kita!” kata seorang pemuda. “Ah, berisik kau! Nanti juga ada regu penyelamat menolong kita!” Kata seorang bapak sambil asyik tidur-tiduran di dekat pohon. “Tolong, anak saya haus apakah ada air di sekitar sini?” Keluh seorang ibu sambil berupaya menenangkan anaknya yang masih kecil. Penumpang lain yang mendengar itu hanya terdiam saja membisu mendengar permintaan si ibu yang kebingungan itu.

Semua penumpang itu mengalami pengalaman buruk yang sama. Tetapi dengan berbagai tanggapan. Banyak yang merasakan betapa sesaknya kesusahan yang mereka alami saat itu. Tidak ada penduduk di pulau itu. Betapa sempitnya peluang mereka untuk bertahan dan selamat menunggu bantuan yang tidak dapat dipastikan kehadirannya kapan. Di tengah suasana yang sesak itu, seorang anak muda berteriak dengan suara lantang. “Bapak-bapak, ibu-ibu semua. Sambil menunggu bantuan, mari kita bertahan hidup! Adakah yang dapat membantu saya mencari sungai kecil di pulau ini? Adakah yang dapat mengumpulkan kayu-kayu untuk membuat api untuk nanti malam? Lihat, pesawat kita masih utuh, pasti ada beberapa barang atau persediaan makanan yang dapat kita gunakan untuk menolong anak-anak!” Beberapa orang mulai mengarahkan pandangan kepada si anak muda itu, dan mereka mulai bergerak. “Saya akan ikut kamu cari air!” Kata si bapak yang tadinya asyik tidur-tiduran. “Aku akan ambil beberapa barang di pesawat”, teriak seorang muda di ujung sana. “Ayo kita cari tempat yang aman untuk membangun tenda darurat!” Kata seorang bapak di pojok yang lain. Para pramugari sibuk mengumpulkan persediaan makanan di pesawat. Beberapa orang merobek celana panjangnya untuk membalut luka-luka penumpang lainnya.

Semua bekerja. Semua kini menjadi yakin bahwa mereka akan mampu bertahan. Ternyata suasananya tidak sesempit kekhawatiran mereka pada awalnya. Masih ada begitu banyak kesempatan yang dapat mereka kerjakan. Masih ada keleluasaan dalam hidup mereka, dalam keadaan yang genting itu. Semua diawali oleh kepemimpinan seorang muda yang berani mengambil langkah-langkah penting dan segera dalam menggerakkan banyak orang untuk melakukan apa yang dapat mereka kerjakan.

Kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir menuju Kanaan adalah kisah perjuangan iman, pengharapan dan kasih. Kisah mereka juga adalah kisah pembaruan hidup yang mempertanyakan ketaatan. Juga kisah kerja sama, kepemimpinan, keberanian untuk melangkah bersama. Ada perubahan hidup yang terjadi karena banyak pribadi yang mau diperbarui Tuhan dan menjadi jembatan pembaruan bagi yang lain. Yosua mendapat anugerah untuk menggantikan Musa sebagai pemimpin dan koordinator perjalanan umat Israel. Menghadapi tantangan dan kendala perjalanan umat, Allah mengaruniakan keleluasaan hidup bagi umat-Nya untuk mengambil langkah-langkah yang perlu menuju pada kebaruan hidup di depan mata (Yosua 3:7-17).

Kita tidak dibiarkan sendirian dalam mengambil keputusan dalam hidup. Ada orang-orang di sekitar kita yang memberikan kepemimpinan dalam bentuk arahan, nasihat, keteladanan. Tetapi ada saatnya bukan saja kita berkenan dipimpin, kita juga harus memimpin. Ini kesempatan baik, sebab kita dipercayakan Tuhan untuk memberikan pengaruh yang baik kepada orang lain. Kita menjadi jembatan pembaruan hidup bagi orang lain.

Saat Tuhan mempercayakan kita untuk memimpin, kita memimpin dengan keteladanan, mengarahkan dengan jelas orang yang kita pimpin dan berani mempercayakan tugas-tugas untuk dibagi. Pemimpin yang baik mengutamakan perintah Tuhan. Pemimpin yang bijak, akan menolong orang mengenali bahwa mereka adalah rekan kerja Tuhan dalam mengupayakan apa yang baik bagi sesamanya. Pemimpin yang cakap akan menolong orang mengelola sumber daya karunia Tuhan untuk kebaikan bersama. Pemimpin yang cermat akan menolong orang untuk mencermati apa-apa yang akan membinasakan hidup, dan menasihatkan orang untuk menghindarinya.

Kita belajar dari Firman-Nya bahwa memimpin, memberikan pengaruh bagi orang lain tidak boleh membebani tetapi meringankan beban yang lain. Bukan menambah masalah, tetapi menjadi solusi bagi masalah. Nasihat, dorongan, dan ajakan untuk hidup sesuai nilai-nilai kasih Kristus penting untuk diberikan oleh orang-orang yang menjalankan kepemimpinan yang meneladan kepada Kristus. Dalam pertolongan hikmat Allah, perkataan seorang pemimpin menjadi suara Allah yang mengubahkan kehidupan (1 Tesalonika 2:9-13).

Kita juga menjadi waspada untuk menghindari kepemimpinan yang buruk, yaitu kepemimpinan yang ingin dilihat baik tetapi enggan bekerja, ingin penghormatan dan penghargaan, tetapi dengan menindas dan tinggi hati. Seumur hidup kita belajar bersama kepada Bapa yang penuh kasih ditolong oleh Tuhan Yesus sebagai pemimpin kita menuju kasih Bapa yang sempurna. Yang terbesar, terkuat, menolong yang lemah. Merendahkan hati adalah modalnya (Matius 23:1-12). Selamat memimpin, dan lihatlah betapa Allah mengaruniakan keleluasaan dalam hidup yang acap kali sesak dan pengap ini! (Mazmur 107:1-7, 33-37).

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 26 Oktober 2014

diposkan pada tanggal 23 Okt 2014 02.19 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui23 Okt 2014 10.56 ]

Aku Berkorban

Kidung Agung 8:6-7, Mazmur 139, Markus 10:42-45, Kolose 3:13

"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. (Yohanes 15:9-10)

Setiap bulan Oktober GKI Halimun menyelenggarakan bulan keluarga. Tujuannya, supaya pertumbuhan dan tindakan iman nyata di keluarga. Oleh sebab itu, tema khotbah selama bulan Oktober mengangkat tentang keluarga. Tema tahun ini adalah : “Kekuatan Cinta” dengan pengertian, cinta yang dijalankan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati dan dengan jiwa yang tulus, yang akan memberikan pengaruh luar biasa. Kita menyadari bahwa semua makhluk hidup membutuhkan cinta. Tanpa cinta semua sia-sia. Tanpa cinta tidak akan ada pembaruan hidup di dunia ini.

Tahap pertama untuk berproses mengerahkan kekuatan cinta ialah berkenan untuk dibentuk. Kita sadar bahwa penyebab awal orang tidak melakukan apa yang seharusnya ialah karena tidak tahu dan tidak mengerti. Oleh sebab itu, sebagai pribadi yang mau menghidupi kekuatan cinta, kita berkomitmen untuk menjalin hubungan dengan “Guru Besar” ilmu kasih kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Semakin hari, kita semakin serupa Kristus.

Tahap kedua untuk berproses mengerahkan kekuatan cinta ialah rendah hati. Sikap nyata yang menandakan rendah hati itu ialah mengakui kesalahan. Tidak ada orang yang sempurna, tanpa salah. Tetapi orang yang berani mengakui kesalahan dan mengampuni kesalahan adalah orang yang memiliki cinta yang sempurna. Konflik tidak akan berkepanjangan, kalau ada pribadi-pribadi yang mau mengakui kesalahan. Kebencian akan berhenti, kalau ada pribadi-pribadi yang mau mengampuni kesalahan.

Tahap ketiga untuk berproses mengerahkan kekuatan cinta ialah menghidupi perubahan. Iman sejati ditandai dengan perbuatan yang bertobat. Hidup beriman sejati selalu menghadirkan perubahan perilaku sesuai dengan nilai-nilai Firman Allah. Perubahan yang sehat dimulai dari diri sendiri, dimulai dari tindakan-tindakan yang kecil dan lama-lama juga tindakan-tindakan yang besar dan tindakan-tindakan perubahan itu tidak pernah ditunda tetapi dinyatakan sesegera mungkin.

Tahap keempat untuk berproses mengerahkan kekuatan cinta ialah dengan menunjukkan kasih yang berkorban. Apa itu kasih yang berkorban? Kasih yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus. Kasih yang terus dinyatakan walau kita mungkin mendapatkan apa yang tidak baik/enak. Kasih yang habis-habisan diberikan karena kita tahu dengan memberikan kasih, orang yang kita berikan kasih itu mendapatkan pertolongan nyata bagi hidupnya. Kasih yang tidak mengharapkan balasan kasih, sebab kalau kita mengharapkan balasan kasih, kita tidak akan pernah memberikan nilai lebih pada kasih kita.

Tahap kelima ialah menghidupi semua tahapan proses dengan melibatkan segenap hati, pikiran, jiwa dan yang terutama melalui perbuatan nyata. Renungkanlah pertanyaan-pertanyaan ini sebagai pembantu bagi kita untuk menyatakan komitmen hidup baru di bulan keluarga ini: 
  • Dari mana dan dari siapakah Anda belajar tentang kasih dan mengasihi? Mengapa Anda memilih belajar di situ dan kepadanya?
     
  • Mengapa banyak orang enggan untuk mengakui kesalahan? Apa yang membuat orang mampu mengakui kesalahan? Menurut Anda manakah yang lebih mudah, mengakui kesalahan atau mengampuni kesalahan? Mengapa demikian? Apakah Anda pernah mengakui kesalahan? Apa akibatnya? Apakah Anda pernah mengampuni orang yang berbuat salah kepada Anda? Apa akibatnya?
     
  • Apakah ada dalam hidup Anda sekarang ini hal-hal yang menurut Anda tidak bisa diubah lagi? Mengapa demikian? Apakah Anda pernah bertemu dengan orang yang mengalami perubahan hidup? Mengapa ia dapat mengalami perubahan hidup seperti itu? Apa makna bertobat bagi Anda? Menurut Anda, pertobatan itu merugikan atau menguntungkan? Mengapa demikian? 

  • Pengorbanan apakah yang sudah Anda lakukan dalam hidup Anda selama ini? Menyesalkah Anda dengan pengorbanan itu? Apa dampak dari pengorbanan yang sudah Anda lakukan bagi Anda dan orang lain yang ada di sekitar Anda?
(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 19 Oktober 2014

diposkan pada tanggal 18 Okt 2014 09.09 oleh Admin Situs GKI Halimun

Aku Berubah

Amsal 11:19-29 ; Mazmur 139 ; Matius 3:1-8 ; Roma 12:2 

"Kalau mau perubahan kecil dalam hidup, ubahlah perilaku. Tapi kalau menghendaki perubahan besar, ubahlah paradigma". Itulah salah satu kutipan menarik dari Stephen Covey. Si penulis buku best seller “The 7 Habits of Highly Effective People”. Perubahan paradigma menggerakkan kita dari satu cara melihat dunia ke cara yang lain. perubahan paradigma menghasil perubahan yang kuat. Paradigma kita, benar atau salah, adalah sumber dari sikap dan perilaku kita, dan akhirnya sumber dari hubungan kita dengan orang lain. Perubahan paradigma membuat orang melihat dengan cara berbeda, berpikir dengan cara berbeda, serta berperilaku dengan cara berbeda.

Bagi Covey, perubahan paradigma itu menentukan manusia untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Paradigma negatif diubah menjadi paradigma positif. Jika paradigma diubah maka secara otomatis sikap seseorang dalam menjalani kehidupan juga berubah. Bicara tentang perubahan hidup, ulat adalah salah satu binatang yang paling mengagumkan dalam menjalani proses perubahan kehidupan.

Perubahan dari seekor ulat menjadi kupu-kupu, atau yang dikenal dengan metamorfosa ini adalah sebuah proses alam yang sungguh menakjubkan. Awalnya dimulai dari telur yang menetas dan melahirkan larva (ulat) yang bagi banyak orang dianggap geli bahkan menjijikkan. Geliat ulat ini akan dengan mudah membuat banyak orang bergidik geli melihatnya. Lalu ulat akan berubah wujud menjadi kepompong, dan kemudian dari kepompong itu akan keluar kupu-kupu yang indah, gemulai menari menunggang angin, anggun, puitis baik dari segi keindahan fisiknya hingga gerakannya. Selain masalah bentuk, ada pula perbedaan-perbedaan kasat mata lainnya. Ulat merangkak, kupu-kupu terbang. Ulat lambat, kupu-kupu aktif dan atraktif geraknya. Benar-benar sebuah perubahan total.

Metamorfosa yang terjadi pada kupu-kupu bisa kita pakai sebagai analogi/model sederhana dari sebuah perubahan kita dari manusia lama menjadi manusia baru. Sesungguhnya perubahan yang terjadi kita pun tidak kalah menakjubkan. Ketika kita menerima Yesus, kita mengalami proses perdamaian dengan Tuhan. Kita yang tadinya berlumur dosa dan tidak layak untuk selamat, kini dilayakkan untuk memperoleh keselamatan yang besar itu semata- mata lewat kemurahan dan kasih karunia Allah, lewat karya penebusan agung Kristus di atas kayu salib. Dengan demikian, ketika kita bersatu dengan Kristus, kita pun mengalami metamorfosa, menjadi manusia baru sama sekali, karena siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan ini semua, sekali lagi, berasal dari Allah melalui Kristus. Kita yang tadinya seperti ulat atau larva yang menjijikkan, kini mendapat kesempatan untuk diubahkan menjadi seindah kupu-kupu. Menerima Kristus memungkinkan kita untuk memiliki hidup yang lebih baik lagi.

Sebagai manusia baru yang telah mengalami transformasi, atau dalam analogi di atas digambarkan sebagai metamorfosa, kita seharusnya mampu menghargai anugerah menakjubkan yang telah diberikan Tuhan itu kepada kita dengan menjalani hidup sebagai ciptaan baru. Firman Tuhan “janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2). Artinya, sebagai orang yang sudah diselamatkan kita harus memiliki perilaku yang lebih baik, memiliki tutur kata yang lebih santun, memiliki kepedulian terhadap sekitar kita. Sikap kita harus jauh lebih baik dibanding waktu kita belum mengenal kasih Kristus. Bulan keluarga adalah momentum bagi kita untuk berefleksi, apakah selama mengikut Kristus, ada perubahan sikap hidup ke arah yang baik dari hari ke hari?

Dalam hidup ini, semua (akal budi, hati nurani) telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Sekarang tinggal keputusan kita sendiri, apakah kita mau berproses hingga menjadi kupu-kupu atau berhenti hanya sebagai larva atau kepompong saja.

“Perubahan tidak mengenal berhenti. Saat kau menghentikan perubahanmu sendiri, 
itu sama artinya dengan hidupmu sudah berakhir” 

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))

1-10 of 230