Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun |
diposkan pada tanggal 24 Feb 2012 07:40 oleh Admin Situs
Karya Kristus adalah bukti bahwa janji ilahi digenapi Kejadian 9:8-17, Mazmur 25:1-10, 1 Petrus 3:18-22, Markus 1:9-15 Dahulu kala Allah sudah berjanji. Tidak akan lagi pembinasaan manusia menjadi pilihan satu-satunya. Allah ternyata lebih menghendaki pendamaian bagi manusia. Pelangi membusur di langit menandakan janji itu. (Kej 9:8-17) Adalah baik bagi orang beriman untuk tetap memegang janji Allah. Sebab hanya Dialah yang berkuasa mengatasi segalanya. Kepada Allah kita boleh datang memohon penyertaan. Penyertaan-Nya jelas dalam Firman-Nya, yang antara lain tertulis dalam kitab suci. Mazmur 119 menegaskan hal itu. Dengan membaca, mengerti, mendapatkan hikmat-Nya, kita mendapatkan arah yang jelas dari Allah. Ada banyak godaan zaman yang dapat membelokan arah hidup kita. Iklan di TV, nilai-nilai hidup yang instan, bahkan nilai-nilai hidup yang mengejar kesenangan belaka. Belum lagi saat kita harus mengambil keputusan bisnis. Ingatlah, bahwa Allah sudah mengajar kita untuk tetap rendah hati. Setialah pada jalan-Nya yang memberikan makna kehidupan sejati (Mzm 25:1-10) Dalam iman kita mengaku dengan tegas, bahwa kabar baik yang Allah hadirkan dalam Kristus memberikan keselamatan. Kemenangan iman bukan saja milik para pendahulu iman kita, tetapi juga dapat kita miliki sekarang ini. Kristus berkuasa atas segala yang hidup. Kristus sudah melampaui maut. Ini memberikan kelegaan baik di kala kita hidup, maupun saat kita menghadapi kematian kita. Selagi kita hidup, kita harus manfaatkan kesempatan ini. Menyambut dan menerima Kristus berkuasa di dalam hati, pikiran dan perilaku hidup kita. Petrus menjelaskan bahwa keselamatan Nuh dari banjir besar menyimbolkan pembaptisan. Sebuah ritual suci yang melibatkan air. Dalam pembaptisan kita menyatukan, mengidentifikasikan diri dengan Yesus Kristus. Hidup lama lenyap, hidup baru diberikan. Baptisan adalah tanda perjanjian saja. Tetapi di dalamnya ada iman kita yang mengingat kematian dan kebangkitan Kristus. Kita ingat kemenangan iman yang dikaruniakan Allah. Kemenangan iman itu menyelamatkan. Dalam baptisan ada transformasi diri (Rm 6:3-5; Gal 3:27; Kol 2:12). Saat kita mengidentifikasikan diri bersama Kristus melalui pembaptisan, kita dikuatkan untuk tidak kembali kepada kehidupan lama. Kita dimampukan setia walau menghadapi tantangan. Kita kini memiliki jati diri yang baru, yang diketahui publik, melalui pembaptisan itu (1 Petrus 3:18-22).  Yohanes pembaptis memberikan baptisan sebagai tanda orang bertobat dari dosa-dosanya. Mengapa Yesus memberi diri dibaptis oleh Yohanes? Para nabi besar seperti Yesaya, Yeremia, Yehezkiel mengaku keberdosaan mereka. Tetapi Yesus tidak berdosa. Dia tidak perlu pengampunan dosa. Tetapi ia mau dibaptis di awal pelayanan-Nya. Ia mendukung dan menghargai pelayanan Yohanes. Dan yang jauh lebih tegas, Yesus mau mengidentifikasikan diri, mau menjadi sama dengan keberdosaan manusia. Sungguh sebuah kerendahan hati yang perlu kita teladani sebagai pengikut Kristus. Solidaritas kepada yang kesusahan. Perlu diingat bahwa baptisan Yohanes berbeda dengan baptisan Kristen dalam kehidupan gereja sebab, dalam kitab suci kita melihat ada murid-murid Yohanes yang mengikut Paulus, dibaptiskan lagi (Kis 19:2-5). Saat dibaptis, Roh seperti burung merpati turun kepada Yesus. Ada suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Ini adalah sebuah penegasan yang jelas dari Allah Tritungal bagi dunia. Selanjutnya Yesus meninggalkan orang banyak, pergi ke padang gurun. Dia dicobai Iblis. Pencobaan itu tidak menguasai Yesus (Mat 4:1-11). Pencobaan itu bukan hal yang buruk. Pencobaan menjadi buruk kalau kita lemah, menyerah dan kalah. Orang yang imannya dewasa berani menghadapi ujian iman. Orang itu mencari tahu apa yang ingin Allah ajarkan melalui kehidupan yang berat itu. Dalam penyertaan-Nya, orang itu dimampukan untuk menang. Kepada yang percaya, Kristus akan menyertai dalam menghadapi godaan. Dia menang atas pencobaan, dan menolong orang untuk dapat juga menang atas pencobaan (Ibr 4:15). Jelas bagi kita, pada Minggu Prapaska 1 ini, bahwa janji ilahi sudah digenapi melalui kehadiran Kristus. Melalui karya-Nya, Ia menunjukkan kuasa Allah yang memerintah sebagai Raja. Yesus datang untuk yang tertindas, tertekan, tanpa harapan, untuk menawarkan pembebasan, keadilan dan pengharapan baru. Kita pengikut-Nya sudah menerima janji itu dan dimampukan melanjutkan karya Kristus bagi dunia ini melalui karya kehidupan yang baru karena kita sudah didamaikan-Nya. (Pdt. Essy Eisen) |
diposkan pada tanggal 24 Feb 2012 07:38 oleh Admin Situs
[
diperbarui24 Feb 2012 07:38
]
Dengarkanlah Yesus Kristus! 2 Raja-Raja 2:1-15, Mazmur 50:1-6, 2 Korintus 4:3-6, Markus 9:2-9 Pernahkah anda melihat sesuatu yang mengejutkan, yang indah, yang menyenangkan sehingga anda sendiri ragu akan apa yang anda lihat? Tentu ada banyak keindahan di alam raya ciptaan Allah ini. Pelangi, matahari pagi, kicauan burung, embun yang menerpa rumput, senyuman di wajah orang yang kita kasihi dan masih banyak lagi. Keindahan itu bahkan acapkali diabadikan dengan menggunakan lensa kamera, supaya lebih banyak lagi orang dapat menikmatinya. Saat Yesus berkarya di bumi, Ia mengajak tiga orang murid-Nya ke gunung untuk sementara waktu meninggalkan keramaian. Saat Ia berada di atas gunung, Yesus berubah rupa. Pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. Murid-murid-Nya ketakutan. Mereka hampir tidak mempercayai apa yang mereka lihat. Lalu datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Itu adalah suara Allah sendiri. Apa yang mereka lihat sungguh mengejutkan, sungguh indah, bahkan ditegaskan oleh Allah sendiri: “Ini Anak-Ku. Dengarkanlah Dia!” Ini adalah nasihat yang jelas bagi kita juga saat ini. Inilah Yesus. Dengarkanlah Dia! Sebagaimana dalam peristiwa berubah rupa (transfigurasi), Allah berkenan menyatakan kemuliaan-Nya di dalam Yesus Kristus, Allah juga akan menyatakan kemuliaan-Nya melalui kehadiran murid-murid Kristus yang bersedia hidup berpadanan dengan kehendak Allah. Di atas gunung itu, tampak di samping Yesus: Musa dan Elia. Dua tokoh besar dalam sejarah Israel ini menunjukkan bahwa karya Yesus adalah karya yang berdampak bagi umat Allah. Musa menjadi alat penyampai hukum Allah. Elia, adalah nabi yang terkenal kritis, peduli dan tekun memperjuangkan kebenaran dan keadilan sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Jika demikian, karya Yesus bagi dunia ini mirip, bahkan jauh lebih besar dari kedua tokoh yang dikenal itu. Murid-murid yang menyaksikan kemuliaan Allah dalam Yesus Kristus saat itu, belajar untuk menyadari bahwa kemuliaan Allah nyata saat kehendak Allah diberlakukan dalam karya hidup yang nyata. Kasih kepada sesama harus nyata sebagaimana yang sudah Allah ajarkan melalui kehadiran Yesus Kristus, Anak-Nya yang dikasihi-Nya. Kristus tidak hanya naik ke gunung yang tinggi itu, tetapi Ia juga naik ke atas bukit Kalvari, untuk menunjukkan betapa besar kasih Allah bagi dunia. Kasih yang berkorban ialah kekuatan yang telah terbukti untuk memperbarui tatanan kehidupan yang buruk. Tidak akan ada perubahan yang abadi kalau orang menggunakan kekerasan, amarah dan benci. Walaupun melakukan pembaruan dunia melalui jalan sengsara dan derita, kebangkitan Kristus telah membuktikan bahwa, orang yang tekun, setia berproses dalam suka dan duka kehidupan dengan menunjukkan kasih-Nya akan beroleh kemenangan dari Allah pada waktu yang ditentukan-Nya.  Setelah murid-murid Kristus menyaksikan kemuliaan Yesus Kristus di atas gunung itu, kelak sesudah kebangkitan Kristus, mereka melihat dengan utuh, bahwa sungguhlah benar Yesus berkuasa memberikan hidup yang sejati dan abadi. Mereka melanjutkan karya Kristus bagi dunia ini. Sebagaimana Elia memberikan kepada Elisa kepercayaan untuk melanjutkan tugasnya, saat ini, kitapun sebagai murid Kristus juga telah diberikan kuasa untuk berjalan dalam kehendak Allah. Allah berkenan menyatakan kemuliaan-Nya melalui kehadiran dan karya kita yang sesuai dengan kehendak-Nya. Dalam kuasa-Nya, kita dimampukan memancarkan kemuliaan Allah kepada sesama. Apa yang harus kita lakukan untuk tetap dapat mewujudkannya? Dengarkanlah Yesus Kristus! (Pdt. Essy Eisen) |
diposkan pada tanggal 11 Feb 2012 00:02 oleh Admin Situs
[
diperbarui11 Feb 2012 00:24
]
Kesembuhan dari Allah2 Raja-Raja 5:1-14, Mazmur 30, 1 Korintus 9:24-27, Markus 1:40-45 Allah, sesuai dengan rencana dan waktu-Nya, berkenan mengaruniakan kesembuhan bagi orang-orang yang rendah hati, taat dan mau memohon pertolongan-Nya (Mzm 30:11-12). Selain menyatakan kuasa-Nya secara langsung, Allah memakai sarana-sarana dan orang-orang yang dipercayakan oleh-Nya menjadi alat penyataan kuasa-Nya yang menyembuhkan. Melalui kesembuhan yang dikaruniakan Allah, setiap orang diajar untuk membangun dan memelihara relasi yang sehat dengan Allah dan sesamanya. Kesembuhan karunia Allah adalah kesembuhan yang utuh dan menyeluruh sifatnya. Kesembuhan Naaman dari sakit kusta terjadi karena pertolongan Allah, yang dinyatakan oleh Nabi Elisa. Tetapi, selain Nabi Elisa, ada juga peran dari anak perempuan Israel yang bekerja di rumah Naaman, peran isteri Naaman, lalu juga peran Raja Aram yang memberikan surat pengantar dan para pendamping perjalanan Naaman. Orang-orang ini memiliki belas kasih kepada Naaman (2 Raj 5:1-14). Relasi yang akrab, hangat, peduli dalam sebuah komunitas berujung pada pemulihan hidup. Di samping kepedulian antara sesama, kerendahan hati juga memberikan pengaruh. Kalau Naaman bersikukuh dengan keangkuhannya saat Nabi Elisa memerintahkan dia untuk membenamkan diri di sungai Yordan, ia tetap tinggal pada sakitnya. Orang yang tinggi hati sulit menerima dan mengalami pembaruan, tetapi orang yang rendah hati, pada saatnya akan menerima apa yang mendatangkan damai sejahtera. Orang yang mengalami sakit kusta, mengalami sakit secara sosial juga. Orang enggan untuk mendekati mereka. Sebisa mungkin orang mengambil jarak yang jauh dari tempat mereka hadir. Naaman masih beruntung memiliki orang-orang yang peduli dengannya. Mungkin juga karena ia mengemban jabatan penting dalam kerajaan Aram. Tetapi seorang kusta yang datang kepada Yesus sepertinya tidak punya siapa-siapa. Di tengah kesendirian dan kesusahannya itu, ia mengendap-ngendap memasuki wilayah orang sehat, sebab pada zaman itu, mereka tidak boleh berada dalam lingkungan biasa, apalagi beribadah bersama dalam sebuah Jemaat.  Ketika di dekat Yesus dia berlutut dan memohon bantuan Yesus. "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Begitu katanya. Sebuah permohonan yang rendah hati, tidak memaksa, penuh dengan penyerahan diri! Yesus tidak enggan. Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Betapa gembiranya orang yang sudah sembuh itu! Yesus menasihatinya dengan mengatakan "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Yesus ingin agar hak-hak sosial orang itu ditegaskan dengan utuh sehingga ia dapat bersosialisasi lagi dengan normal di lingkungannya. Ingat, Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat. Yesus menghendaki agar hukum Taurat menjadi alat untuk memanusiakan manusia, membangun relasi yang harmonis. Namun, orang yang disembuhkan itu melihat bahwa kini ruang lingkupnya tidak sesempit yang diharapkan Yesus. Ia memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana. Sebuah tindakan yang berangkat dari kegembiraan yang tidak dapat dibendung lagi. Respon wajar itu membuat Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia memilih untuk tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi. Mengapa Yesus menyepi? Dia tidak ingin dipopulerkan sehingga orang-orang berhasrat untuk semata-mata mengejar kesembuhan fisik, tetapi melupakan berita Injil yang utuh dan lengkap tentang Kerajaan Allah yang sejatinya melampaui kesembuhan fisik belaka. Yesus menghendaki orang juga turut memaknai arti menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti-Nya dengan setia. Penyembuhan yang dilakukan Yesus selalu merupakan penyembuhan yang utuh dan seimbang. Baik fisik maupun batin, psikologis maupun spiritual, individu maupun komunal, orang yang dipulihkan didorong Yesus untuk melanjutkan kehidupan untuk membangun relasi yang sehat dengan Allah dan sesama manusia. Tidak semua orang sakit di Palestina pada zaman itu disembuhkan oleh Yesus. Tetapi sungguh karena karya Kristus, banyak orang, seperti Paulus misalnya – yang walaupun mengalami rupa-rupa penderitaan dan mengalami sakit penyakit (2 Kor 11:24-30; 2 Kor 12:7-8)- telah mengalami pembaruan budi dan hati karena uluran tangan dan jamahan Yesus (Kis 26:15). Paulus mengatakan ia ingin memperoleh mahkota yang abadi, melebihi mahkota yang fana (1 Kor 9:25). Paulus telah berhasil melihat dan menjalani Injil dengan utuh. Ia mau menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus serta memberitakan Kristus dengan kerendahan hati dan ketekunan. Tidakkah ini juga adalah kesembuhan yang dikaruniakan Allah bagi seseorang, di tengah dunia yang diikat oleh dosa tinggi hati dan pementingan diri sendiri dalam kebekuan relasi? (Pdt. Essy Eisen) |
diposkan pada tanggal 3 Feb 2012 01:02 oleh Admin Situs
[
diperbarui3 Feb 2012 01:02
]
Mengalami kebaikan AllahYesaya 40:21-31, Mazmur 147:1-11, 20c, 1 Korintus 9:16-23, Markus 1:29-39 Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Badannya lemah. Geraknya terbatas. Langit-langit kamarnya. Itulah yang disaksikannya jam demi jam. Terbayang raut muka setiap bagian anggota keluarganya. Sudah beberapa hari ini ia tidak dapat menyiapkan makanan dengan tangannya sendiri. Sesekali matanya terbuka. Dari kejauhan ia menyaksikan kegelisahan menantunya. Antiobiotik belum tersedia dalam bentuk yang mudah didapat pada waktu itu, sehingga sakit demam dapat saja berakhir pada kematian. Orang-orang di rumah Simon ingat kepada seorang Guru yang telah memukau banyak orang. Pengajaran-Nya tegas dan berkuasa. Kuasa jahat takluk pada-Nya. Hidup-Nya penuh dengan kebenaran-kebenaran yang membawa kesejukan dan memberikan kelegaan. Mereka ingin mengalami kelegaan yang sama. Mereka memberitahukan masalah itu kepada-Nya, kepada Yesus. Yesus pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka (Mrk 1:30-31). Allah memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya (Yes 40:29, Mzm 147:3). Inilah makna dari Injil, kabar baik dari Allah yang dengan sempurna dihadirkan Yesus Kristus. Setiap orang yang mau menanti-nantikan-Nya, yang takut akan Dia dan berharap kepada kasih-setia-Nya, akan mendapat kebaikan dari Allah (Yes 40:31, Mzm 147:11). Membuka diri untuk mengalami kebaikan Allah. Bagaimana caranya? Pertama, orang harus memiliki kerinduan yang besar akan Allah dan kuasa-Nya. Sebagai contoh, seseorang yang menanti-nantikan pertunjukan final sepak bola, akan mengerahkan segenap perhatiannya untuk pertunjukan itu. Ia menyisihkan waktu, menyiapkan snack, dan dengan hati yang penuh sukacita tidak sabar untuk menantikan tim kesayangannya bertanding. Menanti-nantikan Allah ialah menjadikan Allah yang utama dalam hidup ini. Allah menjadi kesayangan kita. Segenap perhatian dicurahkan kepada-Nya. Jika kerinduan ini ada dalam diri saat kita berdoa, berkebaktian, melayani, kita sungguh akan mendapatkan kekuatan dan semangat baru. Kita sungguh membuka diri untuk menerima Injil-Nya, kebaikan-Nya. Yang kedua ialah, takut kepada Allah. Dalam perjumpaan kita dengan Allah melalui Firman-Nya, dalam kebaktian, dalam doa, sikap takut kepada Allah ditunjukkan melalui kesadaran bahwa bukan kita yang perlu dan ingin berjumpa dengan Allah, tetapi Allah-lah yang memiliki keperluan dengan kita. Tanpa Allah kita bukan apa-apa dan siapa-siapa! Setiap orang yang menerima Injil-Nya senantiasa memilih untuk lebih takut kepada Allah ketimbang kepada manusia, harta dan kesenangan diri sendiri. Takut kepada Allah erat dengan kenyataan bahwa semua hal dalam hidup ini terjadi karena kasih karunia-Nya. Kita perlu berharap akan kasih karunia-Nya, bukan kepada yang lain. Kita perlu menyediakan diri untuk mau dibentuk setiap hari. Relasi yang sehat dengan Allah harus dipelihara dengan tekun. Kita dipanggil untuk meniru apa yang dilakukan Yesus: “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Mrk 1:35). Kita yang mau menanti-nantikan-Nya, yang takut akan Dia dan berharap akan kasih-setia-Nya, akan menikmati kuasa-Nya yang mengubahkan kehidupan. Allah memberikan kekuatan dan semangat baru mengatasi ketidakberdayaan kita. Dalam sukacita karena pertolongan yang diberikan Allah, pada saatnya kita mampu meneruskan kabar baik Allah itu kepada orang lain. Tidak boleh kebaikan Allah disimpan sendiri saja. Saat Simon dan kawan-kawannya menyusul Yesus karena banyak orang mencari-Nya, Yesus memilih untuk melangkah ke tempat yang lain. Yesus diutus untuk memperluas pengaruh kebaikan yang Allah sediakan bagi dunia ini (Mrk 1:36-38). Ibu mertua Simon (Mrk 1:31) dan pada bacaan kita minggu ini, Paulus (1 Kor 9:16), adalah orang-orang yang telah mengalami kebaikan Allah. Mereka dijumpai, disentuh oleh Yesus, lalu mengalami pembaruan hidup dan pada gilirannya mau melayani Allah. Bagaimana dengan kita? (Pdt. Essy Eisen) |
diposkan pada tanggal 2 Feb 2012 21:56 oleh Admin Situs
[
diperbarui2 Feb 2012 21:57
]
"Diam, keluarlah dari padanya!" Ulangan 18:15-20, Mazmur 111, 1 Korintus 8:1-13, Markus 1:21-28 Minggu lalu kita memahami bahwa Allah memberikan kesempatan bagi manusia untuk bertobat. Pesan-Nya ialah: terima Injil Kristus dan jalan bersama-Nya dalam hidup yang baru. Dalam hidup yang baru itu, orang memiliki ketaatan dan kecintaan yang tulus kepada Allah. Dengan menyerukan seruan untuk bertobat itu, Tuhan Yesus sedang menjalankan fungsi kenabian. Seorang nabi, bertugas untuk menyampaikan berita kelepasan dari Allah (Ul 18:18).  Minggu ini kita memahami bahwa ternyata Yesus lebih dari sekedar nabi. Sebab selain memberitakan perbuatan besar dari Allah untuk kebaikan manusia, Yesus juga berkuasa mengubah kehidupan manusia supaya bebas dari ikatan kuasa jahat yang membelenggu diri dengan kebencian (Mrk 1:24-25). Yesus tidak hanya mengeluarkan kata-kata belaka dari mulut-Nya, tetapi kata-kata yang berkuasa untuk membebaskan. Dia adalah Yang Kudus dari Allah. Kalau seorang nabi hanya menjadi penyalur pesan dari Allah, Yesus ternyata menjadi Pesan yang hidup dari Allah dengan segala kuasa-Nya yang baik bagi manusia yang percaya kepada-Nya. Rasul Paulus mengatakan, sebagai Tuhan, Yesus memberikan kehidupan bagi yang percaya (1 Kor 8:6), artinya, karena Kristus, orang mengalami penciptaan yang baru dalam kehidupannya. Hati dan pikirannya memiliki hikmat Allah dalam memilah dan menentukan sikap hidup lepas dari kebencian kepada orang lain. Sekarang ini, banyak orang tidak menyadari bahwa kuasa jahat tidak sesempit membuat orang kerasukan atau kesurupan belaka. Kalau kita melihat pada kisah Injil minggu ini, kuasa jahat pada hakikatnya ialah kuasa yang menolak Kristus dan yang membuat seseorang menjauhi Kristus karena takut diubahkan oleh Kristus. Orang yang dikuasai oleh roh jahat memang mengenal Kristus, tetapi pengenalannya pada Kristus itu justru membuat dia takut dan lari, tinggal dalam dosa dan kehidupannya yang lama. Orang yang seperti itu takut Kristus membinasakan kehidupan jahatnya. Ia hidup, tetapi sebenarnya kehidupannya kosong, tanpa makna dan cenderung merusak diri sendiri dan orang lain. Emosi negatif dan prasangka buruk selalu menghantuinya dan ia enggan untuk melangkah menuju pembaruan hidup yang disediakan Allah melalui Kristus dalam Firman dan persekutuan kasih Gereja-Nya. "Diam, keluarlah dari padanya!". Begitulah hardikan Yesus untuk membebaskan orang yang kerasukan roh jahat ribuan tahun lalu. Hardikan itu tetap berkuasa sampai sekarang! Hardikan itu untuk orang-orang yang saat sekarang ini dipenuhi oleh kemarahan, benci, dengki, kesombongan, kemalasan dan keengganan untuk memiliki hidup yang baru. Hardikan Yesus itu terwujud dalam bentuk pemberitaan Firman Allah yang kita baca dan dengarkan. Teguran, didikan dan bentukan yang disampaikan Kristus melalui Firman-Nya itu akan membuat kita lepas dari kuasa yang membusukkan arti dan makna hidup kita. Hanya karena kuasa Firman-Nya, hidup yang tadinya kehilangan vitalitas dan semangat untuk mengasihi Allah dan sesama akan diubahkan menjadi hidup yang terbarui, hidup dengan hikmat Allah. Kesabaran, kasih sayang, pengampunan, kerendahan hati, ketekunan untuk setia berproses bersama Allah dalam kehidupan adalah tanda-tanda yang kelihatan dari orang yang tidak lagi membiarkan kuasa jahat mengikat dirinya. Semua karena kuasa Firman Kristus. - Bersediakah kita untuk menerima kasih sayang Allah yang akan menolong kita untuk menanggalkan kebiasaan jahat yang akan membinasakan kehidupan kita?
- Bersediakah kita untuk menerima dan melakukan pengajaran Kristus yang memberikan berkat hidup baru dalam kehidupan kita?
- Bersedia kita mengikuti hikmat Roh Kudus dalam memilah dan memilih tindakan hidup kita?
(Pdt. Essy Eisen) |
diposkan pada tanggal 20 Jan 2012 15:30 oleh Admin Situs
Menerima Kesempatan dari TuhanYunus 3:1-5, 10; Mazmur 62:5-12; 1 Korintus 7:29-31; Markus 1:14-20 “Bertobatlah dari dosa-dosamu, dan percayalah akan Kabar Baik yang dari Allah!” (Mrk 1:15, BI-LAI). Demikianlah seruan Tuhan Yesus di sekitar daerah Galilea ribuan tahun lalu. Seruan ini mengajak orang untuk menyadari kecenderungan diri sendiri yang dipenuhi dengan kejahatan. Setelah sadar, mereka diundang untuk merelakan diri menerima cara pandang yang baru yang disediakan Allah lewat karya Yesus Kristus. Cara pandang hidup yang hanya mengandalkan kelebihan dan kemampuan diri saja tidak cukup. Orang selalu membutuhkan Tuhan. Kemelekatan orang pada hal-hal yang diluar kasih Tuhan hanya akan mengakibatan dukacita dan penderitaan (Mzm 62:11). Jadi seruan pertobatan sebenarnya adalah kesempatan yang baik dan menjanjikan dari Allah. Supaya manusia beroleh sukacita dan kemenangan.  Tuhan Yesus menjumpai Simon dan Andreas lalu Yakobus dan Yohanes. Mereka adalah nelayan-nelayan yang memiliki ikatan persaudaraan (Mrk 1:14-20). Ajakan Juruselamat tengah berlangsung di tengah pekerjaan sesehari seseorang. Kristus menjumpai keluarga-keluarga. Kristus menerbos masuk dunia kerja. Ajakan Kristus ditanggapi para nelayan bersaudara itu dengan segera. Bukan karena mereka terhipnotis. Atau sekedar ikut-ikutan. Tetapi karena mereka mau menerima kesempatan yang baik dari Tuhan. Kesempatan untuk memiliki hati dan pikiran yang baru. Ternyata ada perkara yang juga lebih penting di samping sekadar menjala ikan. Kristus mengundang mereka untuk menjadi agen pemberita tersedianya pembaruan relasi manusia dengan Allah. Menjala manusia adalah kiasan. Kini lingkup kepedulian mereka meluas. Bukan hanya membaca cuaca, menebar jala, berperahu mengambil ikan dan membereskan jala. Mereka diundang untuk peka membaca lingkungan sosial, menebar inspirasi pembaruan hidup karena Firman Allah, menguatkan jiwa-jiwa yang rapuh, mengikuti jejak pelayanan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat. Mereka menyambut kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. Adalah tindakan yang tidak patut jika seseorang menyepelekan kemungkinan perubahan yang dapat terjadi dalam diri orang lain. Setiap orang tidak menginginkan hidupnya berakhir dalam malapetaka dan bencana. Setiap orang mampu untuk berubah ke arah yang lebih baik. Sejahat-jahatnya penduduk Niniwe, saat mereka mendengarkan alternatif cara hidup yang menyelamatkan yang diberitakan oleh Yunus, mereka mau bertobat. Allah sabar membuka pintu kasih sayang-Nya baik bagi Yunus yang awalnya keras hati dalam menjalankan pelayanan bagi sesama maupun bagi penduduk Niniwe yang dipenuhi dosa kejahatan (Yun 3:1-5, 10). Yunus dan penduduk Niniwe, menerima kesempatan dari Tuhan untuk melayani dan dibarui-Nya. Tentu pertobatan tidak sesempit menyepi dan menjauhkan diri dari dunia. Kepada Jemaat Korintus Paulus menegaskan bahwa hidup mengikut Kristus dan menanti kegenapan janji Allah terkait erat dengan pembaruan cara pandang kehidupan. Ungkapan “berlaku seolah-olah” menyiratkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan sepatutnya melebihi apa yang dianggap penting dalam keseharian hidup. (1 Kor 7:29-31). Dalam kesadaran baru berangkat dari kasih Tuhan, orang melakukan rutinitasnya dengan makna yang baru dan lebih hidup. Cara pandangnya tidak sekadar berangkat dari akal budi dan kekuatannya sendiri saja, tetapi juga dengan menggunakan hikmat Tuhan yang menyediakan alternatif-alternatif tindakan yang mengupayakan damai sejahtera bagi lingkungannya. Lingkup “dunia”nya menjadi “dunia” yang semakin lama semakin menunjukkan nilai-nilai dari Allah mengalahkan nilai-nilai pementingan diri yang dipenuhi oleh hawa nafsu jahat. - Maukah kita mempersilahkan Kabar Baik yang dari Allah mengikis kecenderungan diri kita yang jahat?
- Apakah kita peka mengenali kebutuhan orang-orang di sekitar kita dan mau menebar inspirasi pembaruan hidup dari Firman Allah untuk menguatkan jiwa-jiwa yang rapuh?
- Sudahkah hikmat dari Tuhan mencerahi akal budi dan kekuatan kita, sehingga perilaku dan kata-kata kita mencerahi orang-orang yang membutuhkan solusi bagi permasalahan hidup mereka?
(Pdt, Essy Eisen) |
diposkan pada tanggal 16 Jan 2012 09:42 oleh Admin Situs
[
diperbarui16 Jan 2012 09:50
]
“Mari dan Lihatlah!”1 Samuel 3:1-20; Mazmur 139:1-6, 13-18; 1 Korintus 6:12-20; Yohanes 1:43-51 Setiap pengikut Kristus adalah Imam-Imam yang melayani Allah sebagai Raja. Inilah pengakuan kita bahwa, walaupun berbeda dalam peranan dan fungsi, Roh Kudus mengaruniakan kepada setiap orang percaya karunia rohani yang memiliki nilai yang sama untuk melayani Allah dan sesama. Allah memberikan rupa-rupa karunia untuk membangun kehidupan setiap insan dalam lingkungan jemaat-Nya bahkan bagi dunia ini. Setiap orang yang cukup peka untuk mendengarkan panggilan Allah dan menjawab-Nya dengan kesediaan dan ketaatan akan dimampukan Allah untuk mendayagunakan talenta yang dipercayakan Allah kepadanya. Gereja Tuhan Yesus Kristus tidak langsung hadir dalam jumlah besar pada awalnya. Gereja dimulai dengan pemanggilan murid-murid. Sekumpulan orang biasa yang peka mendengar ajakan Kristus dan menjawab “Ya” terhadap ajakan itu. Dalam pembacaan Injil hari ini kita menjumpai orang-orang yang menerima ajakan Kristus untuk pada akhirnya mengajak orang lain untuk menjumpai dan mengikut Kristus. Filipus, memperkenalkan Kristus kepada Natanael. Ajakan yang tidak begitu saja ditanggapi secara langsung oleh Natanael. Dengan argumen dan pemikiran tersendiri Natanael menyangsikannya. Tetapi apa yang dilakukan Filipus saat itu sungguh merupakan ketekunan. Ketimbang berdebat, memaksa atau marah-marah, Filipus berkata: “mari dan lihatlah!” Ajakan yang rendah hati dari Filipus bagi Natanael untuk secara langsung bertemu Kristus dan mengecek segala argumennya mengenai Kristus. Saat berjumpa Kristus, Natanael mengalami pencerahan iman. Ia sadar bahwa segala kesan yang terburu-buru ditegaskannya mengenai Kristus tidak tepat. Kristus bukan sekedar datang dari Nazaret. Dialah Raja yang diutus oleh Allah! Keterbukaan hati Natanael untuk Kristus membuat ia menerima janji yang lebih berharga lagi bahwa hal-hal yang lebih besar akan ia terima saat Kristus merajai kehidupannya. Kristus diutus Allah untuk mengentarai hubungan yang hidup antara Allah dan manusia. Semua argumen orang tentang Kristus tidak sah, sebelum ia berani mengecek secara langsung dan tulus kuasa Kristus dengan mengenali dan mengikuti-Nya. “ Mari dan lihatlah!” ajakan ini adalah juga bagi kita saat ini. Ajakan untuk menjumpai, mengenali dan melayani Allah dalam persekutuan dengan Kristus dan Gereja-Nya. Selain itu, ungkapan “Mari dan lihatlah!” adalah juga yang harus kita ungkapkan kepada sesama kita dalam rangka memperkenalkan Kristus kepada setiap orang. Saat kita mengikuti pengajaran Kristus, orang akan melihat kuasa Kristus nyata melalui kehidupan kita. Gereja bertumbuh dan memberikan pengaruh nyata saat setiap orang di dalamnya menyadari bahwa Allah di dalam Kasih Kristus terus memanggil dan mengajak untuk ikut serta dalam penggenapan kerajaan-Nya. Mengikut Kristus dan melayani-Nya dalam persekutuan di dalam Gereja-Nya, melalui pekerjaan kita, melalui tingkah laku kita adalah tindakan yang benar. Kita akan menemui kebahagiaan yang sejati di dalamnya. Melayani dalam kepengurusan di kemajelisan, komisi atau kepanitian di Gereja merupakan salah satu cara kita berkata “mari dan lihatlah!” kepada sesama orang percaya untuk menjumpai Kristus. Menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagai orang tua, sebagai anak, sebagai pekerja yang berdedikasi dan jujur dalam pekerjaan adalah juga ajakan “mari dan lihatlah!” kepada orang lain untuk mengenali kuasa Kristus yang membarui dan memberkati kehidupan. Ingatlah bahwa dengan pertolongan Roh Kudus kita selalu dimampukan untuk memperkenalkan Kristus kepada setiap orang, demi kemuliaan Allah serta kedamaian dan kesejahteraan dunia. (Pdt. Essy Eisen) |
diposkan pada tanggal 6 Jan 2012 00:56 oleh Admin Situs
[
diperbarui6 Jan 2012 00:57
]
Terang Kristus Menuntun Kehidupan Yesaya 60:1-6, Mazmur 72:1-7, 10-14, Efesus 3:1-12, Matius 2:1-12 Memasuki minggu kedua di tahun yang baru ini kita memulai kembali segala kesibukan sesuai dengan panggilan pekerjaan kita masing-masing. Ada godaan besar saat kembali ke tengah kesibukan itu. Sebab saat menemui kendala-kendala yang sama seperti tahun lalu, kita dapat saja menjadi putus asa dan kehilangan semangat untuk memaknakan pekerjaan kita secara baru. Patut diakui situasi Jakarta tidak banyak berubah. Kemacetan masih melanda bahkan kian parah kala hujan melanda. Orang-orang yang tinggal di bantaran sungai was-was, dihantui oleh peristiwa banjir 5 tahunan yang disinyalir akan berulang lagi pada tahun ini. Belum lagi bagi mereka yang belum menemukan solusi yang tepat atas permasalahan yang dihadapi semenjak tahun lalu, mulai dari sakit penyakit, pekerjaan, relasi yang buruk dengan orang lain, atau hal-hal lain yang sepertinya belum menemukan titik temu yang membahagiakan. Seolah-olah semuanya masih gelap dan tidak jelas.  Semua perjalanan hidup yang dijalankan tanpa kasih Allah memang gelap. Oleh sebab itu menjadi penting bagi setiap orang percaya untuk tidak berjalan dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri saja (Ams 3:5). Para Majus, bukanlah orang Yahudi. Mereka diyakini berasal dari Persia (Iran sekarang ini). Mereka adalah para cendikia yang melek ilmu pengetahuan dan cekatan dalam membuat perhitungan. Meskipun ada orang yang menganggap mereka menggunakan dan mempercayai sihir, para Majus merupakan penasihat yang banyak didengarkan oleh para Raja, sebab mereka adalah orang-orang yang serius dan cekatan untuk mengumpulkan bukti-bukti bahkan mencari dengan seksama cara penyelesaian atas masalah-masalah kehidupan dengan tidak menggampangkan sesuatu. Mereka melihat fenomena alam yang tidak biasa. Ada bintang terang yang bersinar di Timur. Eksplorasi mereka atas sumber-sumber yang mereka pahami, itu merupakan penanda kelahiran seorang Raja Agung yang berpengaruh bagi seluruh dunia (Yes 60:3). Pembacaan Injil menunjukkan bahwa mereka akhirnya menjumpai Yesus Kristus yang diperkirakan berusia 2 tahunan (Mat 2:16), sang Mesias dari Allah itu. Mereka lalu memberikan persembahan berupa emas, kemenyan dan Mur, sebuah pemberian yang memiliki simbol yang jelas akan karya Kristus sebagai Raja dalam Kerajaan Allah (emas), karya sebagai Imam (kemenyan) yang mengantarai manusia dengan Allah dan karya penebusan Kristus (Mur, dipakai untuk meminyaki mayat) melalui penyerahan nyawa-Nya. Ironis, Herodes dan Para Ahli Agama yang memahami nubuatan kitab suci, yang tinggal berjarak hanya 10 km dari Betlehem tidak menyadari kehadiran Mesias, namun para Majus ini, dengan pertolongan Allah yang memberkati upaya mereka mampu mengenali dan telah menjumpai Mesias penyelamat bagi dunia. Miris, karena setelah mengetahui Mesias lahir di Betlehem, Herodes dan antek-anteknya berusaha melenyapkan Kristus dengan membunuh bayi-bayi, sedangkan para Majus memberikan persembahan khas bagi seorang Raja demi dan melambangkan karya-Nya. Melalui penginjil Matius kita memahami bahwa karya Kristus terbuka bagi banyak bangsa. Orang-orang dari berbagai bangsa yang cukup peka untuk menyadari karya Allah melalui Kristus akan menikmati damai dan sejahtera di dalam-Nya (Ef 3:1-6). Orang-orang seperti Herodes adalah orang-orang yang hanya besar “di luar” tetapi penuh dengan kehidupan busuk yang lama “di dalam.” Mereka tidak mau membuka hati mereka bagi pembaruan Kristus, bahkan berupaya melenyapkan-Nya. Tidak ada damai sejahtera dalam pribadi yang seperti itu. Minggu ini kita berjumpa dengan Kristus, dalam Roh Kudus, Firman-Nya dan melalui Sakramen Perjamuan Kudus yang kita rayakan. Bersama para Majus kita memiliki hati yang rindu akan pembaruan kehidupan dan memberikan kepada-Nya segenap diri kita untuk diperbarui-Nya. Kalau dahulu para Majus dituntun oleh sinar bintang Terang, kini kita dituntun oleh Firman, Roh dan Sakramen dalam mengenali penyataan Kristus dalam kehidupan kita. Dengan merayakan Perjamuan Kudus di awal tahun yang baru ini kita tahu bahwa kita tidak sedang berjalan dalam gelap. Kita kembali mendengarkan janji Kristus yang mengatakan: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 20:28b) dan "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" (Why 21:5). Melalui Firman-Nya yang kita baca, pahami dan berlakukan setiap hari melalui saat teduh, hati dan pikiran kita senantiasa dibarui oleh Roh Kudus, sehingga Terang-Nya akan menuntun kehidupan kita di 2012 ini. Terpujilah Tuhan! (Pdt. Essy Eisen) |
diposkan pada tanggal 29 Des 2011 22:47 oleh Admin Situs
[
diperbarui30 Des 2011 06:48
]
Hidup di dalam waktu Tuhan Pengkotbah 3:1-13, Mazmur 8, Wahyu 21:1-6a, Matius 25:31-46 Selamat tahun baru! Karena kasih karunia Allah semata saja, kita dapat memasuki tahun yang baru ini. Dalam terang hikmat-Nya kita dimampukan untuk terus berproses memaknakan segala peristiwa yang sudah lewat untuk menarik pelajaran berharga melaluinya dan dengan berani dan serius melanjutkan langkah kehidupan kita dengan pengharapan dan semangat yang baru bersama dengan Allah yang setia yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya.  Bagi Penulis kitab Pengkotbah, Allah menetapkan rencana-Nya dalam kehidupan setiap orang. Allah menetapkan siklus hidup, kesempatan bagi orang untuk menjalankannya (Pkh 3:1-8). Ada masalah-masalah yang akan dihadapi oleh setiap orang. Tetapi tanpa Allah, masalah-masalah dalam hidup tidak akan memiliki solusi yang kekal. Hanya di dalam Allah solusi itu tersedia. Kemampuan orang untuk menemukan kepuasan dalam bekerja tergantung dari sikap dasar mereka. Orang akan menemukan kejenuhan kalau ia melupakan maksud dan tujuan Allah dalam pekerjaan yang mereka lakukan. Orang akan menikmati pekerjaannya kalau ia ingat bahwa Allah sudah memberikan kemampuan kepadanya dalam bekerja (Pkh 3:10) dan menyadari bahwa hasil pekerjaannya adalah pemberian dari Allah (Pkh 3:13). Dalam hikmat kitab Pengkotbah ini orang diajak untuk melihat pekerjaannya sebagai jalan untuk melayani Allah juga. Bagian dari Mazmur 8, dikutip dalam Perjanjian Baru dan diaplikasikan kepada Kristus (1 Kor 15:27, Ibr 2:6-8). Namun melalui Mazmur ini juga setiap orang diajak untuk mengenali bahwa sebagai ciptaan Allah mereka diajak untuk bertanggungjawab dalam memanfaatkan sumber daya karunia Allah karena pada hakikatnya kita adalah hamba-hamba-Nya (Mzm 8:6) Dalam pewahyuan kepada Yohanes, diperlihatkan bahwa Allah mengehendaki kebaruan semesta. Yerusalem yang baru, merupakan simbol kehadiran kegenapan nilai-nilai Kerajaan Allah bagi dunia ini. Saat Allah memerintah di sana terdapat kasih, kebenaran dan keadilan (Why 21:2-4). Allah setia mencipta kebaruan. Mulai dari awal di kitab Kejadian kita mendapati Ia mencipta semesta alam. Juga pada saat-Nya nanti Langit yang baru dan Bumi yang baru terwujud karena kasih karunia-Nya dan karena keterlibatan orang-orang yang setia mengasihi Allah dalam menghadirkan perwujudnyataannya (Why 21:5). Melalui Injil kita memahami bahwa Allah selalu serius dengan ketidakseriusan manusia. Saat-Nya akan tiba di mana ada orang yang setia sampai akhir tetapi juga ada yang berpura-pura saja, bahkan tidak percaya. Pembuktian yang tegas dari iman ialah melalui apa yang sudah dilakukan dalam kehidupan. Saat orang lain diperlakukan sebagaimana ia memperlakukan Yesus sendiri. Apa yang dilakukan kepada orang lain berangkat dari apa yang sudah diajarkan dan diteladankan oleh Yesus yaitu untuk memberi makan mereka yang lapar, memberikan orang yang tidak punya pegangan, sebuah tempat di mana ia dapat bertumbuh dan berkembang dan memberikan topangan dan perawatan kepada yang sakit (Mat 25:31-46). Mengawali tahun 2012 ini, hikmat dari Allah memberikan kekuatan yang berharga dalam hidup bahwa: - Setiap peristiwa dalam hidup ada waktunya. Bagian orang percaya ialah tetap menjadikan Allah pegangan yang kokoh dalam mencari solusi bagi masalah-masalah kehidupan.
- Allah mempercayakan kepada manusia tanggungjawab untuk mengelola dan memelihara segala sumber daya yang diberikan-Nya.
- Allah senantiasa berkarya menciptakan kebaruan yang baik sampai pada kegenapan-Nya. Nilai-nilai Kerajaan-Nya berupa kasih, kebenaran dan keadilan harus merambah semua aspek hidup manusia.
- Tindakan-tindakan iman yang mencerminkan kasih, kebenaran dan keadilan menjadi keharusan dalam proses pembaruan dunia yang Allah kerjakan bersama umat-Nya, sampai kegenapan-Nya.
Lalu untuk kita renungkan bersama: - Apakah kita tetap setia menjumpai Allah untuk mendapat hikmat-Nya dalam penyelesaian masalah-masalah kehidupan kita?
- Apakah kita sudah mengenali dengan baik apa-apa yang sudah Allah berikan untuk kita dan pada gilirannya mengelola dan memeliharanya dengan penuh tanggungjawab?
- Apakah nilai-nilai spiritualitas Kristen berupa kasih, kebenaran dan keadilan sudah merambah dalam hidup rumah tangga, pekerajaan dan cara kita bersosialisasi di masyarakat?
- Apa saja yang sudah kita lakukan dengan serius sebagai bukti pengakuan iman kita kepada Kristus?
(Pdt. Essy Eisen)
|
diposkan pada tanggal 23 Des 2011 20:06 oleh Admin Situs
Hadir-Mu Pulihkan Hidupku! Yesaya 62:6-12, Mazmur 97, Titus 3:4-7, Lukas 2:1-20 Lukas menuliskan kisah kelahiran Yesus dengan mencatat tokoh sejarah dunia pada masa itu: “Kasiar Agustus”. Kekaisaran Romawi memiliki pengaruh yang kuat di seluruh dunia pada masa itu. Bahkan Kaisar dianggap sebagai allah. Namun jelas, cara Allah, berbeda dengan cara manusia yang melulu haus kuasa. Pemulihan Allah yang hadir dalam diri Yesus dalam sosok bayi di tanah terjajah dan palungan tempat makan hewan, menunjukkan bahwa Allah berpihak kepada yang hina dan lemah, penuh dengan beban berat kehidupan. Sesuai dengan nubuat Mika (Mi 5:2) Kristus hadir di sebuah kota kecil, dari keturunan Daud sang raja besar Israel. Tetapi segala kebesaran-Nya berangkat dari titik terendah dan hina. Hal ini memberikan hikmat bagi kita bahwa dugaan-dugaan kita tentang cara Allah berkarya jangan sampai dikaburkan dengan kedigdayaan cara manusia dengan segala kelicikan dan upaya cari nyamannya. Natal Kristus selalu merupakan bukti keberpihakan Allah pada dunia yang kotor dengan dosa, hingga pada saat-Nya Allah memulihkan dan mentahirkannya melalui karya Kristus. Tentu kita tidak lupa dengan Yusuf dan Maria. Mereka merayakan Natal Kristus dalam keadaan yang tidak mudah. Mereka lelah secara psikis, fisik dan sosial. Betlehem dipenuhi orang-orang yang pulang kampung untuk disensus. Belum lagi, sudah bulannya bagi Maria untuk bersalin. Tetapi dalam keadaan susah itu, mereka taat. Mereka percaya bahwa melakukan kehendak Allah memang tidak selalu berarti kenyamanan. Tetapi mereka berpengharapan bahwa di dalam ketidaknyamanan itu, Allah punya rencana yang baik, bukan hanya bagi mereka, tetapi bagi Dunia ini.  Yesus lahir. Tubuh ringkih itu berbalut lampin dan dibaringkan di palungan. Tetapi kita tidak boleh lupa. Adegan ini hanyalah awal dari adegan-adegan lain dalam karya Yesus di dunia ini. Kelak Ia bertumbuh dewasa, mengajarkan dunia tentang Makna Kerajaan Allah dan memberikan hidup-Nya supaya orang yang percaya beroleh hati dan kehidupan yang baru. Kita tersadar, bahwa merayakan Natal Kristus bukan hanya mengingat memori damai Sang Bayi Mungil, tetapi juga membiarkan Kristus Natal (lahir) dalam kehidupan kita, supaya hati kita menjadi baru. Pengajaran-Nya kita laksanakan dengan kekuatan kuasa Roh Allah yang diberikan-Nya. Ada juga para Gembala. Kepada merekalah Allah mengutus malaikat-Nya untuk memberitakan berita baik kehadiran Anak-Nya. Mereka orang-orang yang praktis dan sederhana, mungkin pemahaman agamanya tidak semahir dan sesaleh para Farisi dan Ahli Taurat, tetapi justru kepada merekalah diberitakan berita dimulainya pembaruan dunia dan kehidupan manusia melalui Kristus itu. Mereka taat, mereka pergi menjumpai Kristus, mereka percaya, mereka bersyukur, mereka memberitakan kabar baik itu kepada yang lain. Setiap orang yang tersisih namun cukup rendah hati untuk disapa Allah sungguh akan menemukan sukacita kabar Natal Kristus. Ternyata sukacita Natal seharusnya tidak berhenti di gedung gereja, mal-mal, atau makan malam nikmat dan kue-kue sedap di tengah keluarga. Sukacita Natal seharusnya merambah kepada orang yang sederhana, orang yang rendah hati dan itu dapat terjadi kalau orang-orang bersedia dengan bergegas “menjumpai” Kristus sendiri di Natalnya, bukan sekedar menjumpai pernak-pernik Natal belaka. Dan orang-orang yang sudah “menjumpai” Kristus secara pribadi itu, dimampukan Allah untuk menyebarkan berita sukacita Natal dengan tindakan-tindakan pembaruan bagi dunia ini. Kehadiran Kristus, sungguh memulihkan hidup kita, saat kita: - Memahami cara Allah berkarya yang melampaui segala pemahaman kita dan mentaati kehendak Allah mengalahkan kehendak diri sendiri, karena rencana-Nya adalah kebaikan.
- Mau belajar dari Yusuf dan Maria yang tetap taat walau menjumpai tantangan yang berat dalam perjalanan kehidupan, dipakai Allah menjadi jalan berkat-Nya.
- Mau me-natal-kan, me-lahir-kan Kristus dalam kehidupan kita dengan memberlakukan pengajaran-Nya.
- Mau belajar dari para Gembala, yang walau sederhana tetapi rendah hati, mau menjumpai Kristus dan memberitakan sukacita kehadiran Kristus dengan sungguh-sungguh dan rela.
Natal adalah berita sukacita (Yes 62:11-12). Kita patut bersyukur karena kehadiran “Terang” (Mzm 97:11-12) di tengah perjalanan hidup yang kadang gelap dan tidak jelas. Oleh kemurahan Allah, kita selamat. Kita tahu pegangan hidup yang kokoh saat kita bersedia menerima pembaharuan hati yang dikerjakan Roh Kudus, melalui Yesus Kristus (Tit 3:5-7). Sungguh sebuah pemulihan hidup yang nyata dan indah! Selamat menerima pemulihan Allah dan bersedia dipulihkan Allah melalui Natal Kristus. (Pdt. Essy Eisen) |
|