Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Renungan Warta 26 Oktober 2014

diposkan pada tanggal 23 Okt 2014 02.19 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui23 Okt 2014 10.56 ]

Aku Berkorban

Kidung Agung 8:6-7, Mazmur 139, Markus 10:42-45, Kolose 3:13

"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. (Yohanes 15:9-10)

Setiap bulan Oktober GKI Halimun menyelenggarakan bulan keluarga. Tujuannya, supaya pertumbuhan dan tindakan iman nyata di keluarga. Oleh sebab itu, tema khotbah selama bulan Oktober mengangkat tentang keluarga. Tema tahun ini adalah : “Kekuatan Cinta” dengan pengertian, cinta yang dijalankan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati dan dengan jiwa yang tulus, yang akan memberikan pengaruh luar biasa. Kita menyadari bahwa semua makhluk hidup membutuhkan cinta. Tanpa cinta semua sia-sia. Tanpa cinta tidak akan ada pembaruan hidup di dunia ini.

Tahap pertama untuk berproses mengerahkan kekuatan cinta ialah berkenan untuk dibentuk. Kita sadar bahwa penyebab awal orang tidak melakukan apa yang seharusnya ialah karena tidak tahu dan tidak mengerti. Oleh sebab itu, sebagai pribadi yang mau menghidupi kekuatan cinta, kita berkomitmen untuk menjalin hubungan dengan “Guru Besar” ilmu kasih kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Semakin hari, kita semakin serupa Kristus.

Tahap kedua untuk berproses mengerahkan kekuatan cinta ialah rendah hati. Sikap nyata yang menandakan rendah hati itu ialah mengakui kesalahan. Tidak ada orang yang sempurna, tanpa salah. Tetapi orang yang berani mengakui kesalahan dan mengampuni kesalahan adalah orang yang memiliki cinta yang sempurna. Konflik tidak akan berkepanjangan, kalau ada pribadi-pribadi yang mau mengakui kesalahan. Kebencian akan berhenti, kalau ada pribadi-pribadi yang mau mengampuni kesalahan.

Tahap ketiga untuk berproses mengerahkan kekuatan cinta ialah menghidupi perubahan. Iman sejati ditandai dengan perbuatan yang bertobat. Hidup beriman sejati selalu menghadirkan perubahan perilaku sesuai dengan nilai-nilai Firman Allah. Perubahan yang sehat dimulai dari diri sendiri, dimulai dari tindakan-tindakan yang kecil dan lama-lama juga tindakan-tindakan yang besar dan tindakan-tindakan perubahan itu tidak pernah ditunda tetapi dinyatakan sesegera mungkin.

Tahap keempat untuk berproses mengerahkan kekuatan cinta ialah dengan menunjukkan kasih yang berkorban. Apa itu kasih yang berkorban? Kasih yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus. Kasih yang terus dinyatakan walau kita mungkin mendapatkan apa yang tidak baik/enak. Kasih yang habis-habisan diberikan karena kita tahu dengan memberikan kasih, orang yang kita berikan kasih itu mendapatkan pertolongan nyata bagi hidupnya. Kasih yang tidak mengharapkan balasan kasih, sebab kalau kita mengharapkan balasan kasih, kita tidak akan pernah memberikan nilai lebih pada kasih kita.

Tahap kelima ialah menghidupi semua tahapan proses dengan melibatkan segenap hati, pikiran, jiwa dan yang terutama melalui perbuatan nyata. Renungkanlah pertanyaan-pertanyaan ini sebagai pembantu bagi kita untuk menyatakan komitmen hidup baru di bulan keluarga ini: 
  • Dari mana dan dari siapakah Anda belajar tentang kasih dan mengasihi? Mengapa Anda memilih belajar di situ dan kepadanya?
     
  • Mengapa banyak orang enggan untuk mengakui kesalahan? Apa yang membuat orang mampu mengakui kesalahan? Menurut Anda manakah yang lebih mudah, mengakui kesalahan atau mengampuni kesalahan? Mengapa demikian? Apakah Anda pernah mengakui kesalahan? Apa akibatnya? Apakah Anda pernah mengampuni orang yang berbuat salah kepada Anda? Apa akibatnya?
     
  • Apakah ada dalam hidup Anda sekarang ini hal-hal yang menurut Anda tidak bisa diubah lagi? Mengapa demikian? Apakah Anda pernah bertemu dengan orang yang mengalami perubahan hidup? Mengapa ia dapat mengalami perubahan hidup seperti itu? Apa makna bertobat bagi Anda? Menurut Anda, pertobatan itu merugikan atau menguntungkan? Mengapa demikian? 

  • Pengorbanan apakah yang sudah Anda lakukan dalam hidup Anda selama ini? Menyesalkah Anda dengan pengorbanan itu? Apa dampak dari pengorbanan yang sudah Anda lakukan bagi Anda dan orang lain yang ada di sekitar Anda?
(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 19 Oktober 2014

diposkan pada tanggal 18 Okt 2014 09.09 oleh Admin Situs GKI Halimun

Aku Berubah

Amsal 11:19-29 ; Mazmur 139 ; Matius 3:1-8 ; Roma 12:2 

"Kalau mau perubahan kecil dalam hidup, ubahlah perilaku. Tapi kalau menghendaki perubahan besar, ubahlah paradigma". Itulah salah satu kutipan menarik dari Stephen Covey. Si penulis buku best seller “The 7 Habits of Highly Effective People”. Perubahan paradigma menggerakkan kita dari satu cara melihat dunia ke cara yang lain. perubahan paradigma menghasil perubahan yang kuat. Paradigma kita, benar atau salah, adalah sumber dari sikap dan perilaku kita, dan akhirnya sumber dari hubungan kita dengan orang lain. Perubahan paradigma membuat orang melihat dengan cara berbeda, berpikir dengan cara berbeda, serta berperilaku dengan cara berbeda.

Bagi Covey, perubahan paradigma itu menentukan manusia untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Paradigma negatif diubah menjadi paradigma positif. Jika paradigma diubah maka secara otomatis sikap seseorang dalam menjalani kehidupan juga berubah. Bicara tentang perubahan hidup, ulat adalah salah satu binatang yang paling mengagumkan dalam menjalani proses perubahan kehidupan.

Perubahan dari seekor ulat menjadi kupu-kupu, atau yang dikenal dengan metamorfosa ini adalah sebuah proses alam yang sungguh menakjubkan. Awalnya dimulai dari telur yang menetas dan melahirkan larva (ulat) yang bagi banyak orang dianggap geli bahkan menjijikkan. Geliat ulat ini akan dengan mudah membuat banyak orang bergidik geli melihatnya. Lalu ulat akan berubah wujud menjadi kepompong, dan kemudian dari kepompong itu akan keluar kupu-kupu yang indah, gemulai menari menunggang angin, anggun, puitis baik dari segi keindahan fisiknya hingga gerakannya. Selain masalah bentuk, ada pula perbedaan-perbedaan kasat mata lainnya. Ulat merangkak, kupu-kupu terbang. Ulat lambat, kupu-kupu aktif dan atraktif geraknya. Benar-benar sebuah perubahan total.

Metamorfosa yang terjadi pada kupu-kupu bisa kita pakai sebagai analogi/model sederhana dari sebuah perubahan kita dari manusia lama menjadi manusia baru. Sesungguhnya perubahan yang terjadi kita pun tidak kalah menakjubkan. Ketika kita menerima Yesus, kita mengalami proses perdamaian dengan Tuhan. Kita yang tadinya berlumur dosa dan tidak layak untuk selamat, kini dilayakkan untuk memperoleh keselamatan yang besar itu semata- mata lewat kemurahan dan kasih karunia Allah, lewat karya penebusan agung Kristus di atas kayu salib. Dengan demikian, ketika kita bersatu dengan Kristus, kita pun mengalami metamorfosa, menjadi manusia baru sama sekali, karena siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan ini semua, sekali lagi, berasal dari Allah melalui Kristus. Kita yang tadinya seperti ulat atau larva yang menjijikkan, kini mendapat kesempatan untuk diubahkan menjadi seindah kupu-kupu. Menerima Kristus memungkinkan kita untuk memiliki hidup yang lebih baik lagi.

Sebagai manusia baru yang telah mengalami transformasi, atau dalam analogi di atas digambarkan sebagai metamorfosa, kita seharusnya mampu menghargai anugerah menakjubkan yang telah diberikan Tuhan itu kepada kita dengan menjalani hidup sebagai ciptaan baru. Firman Tuhan “janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2). Artinya, sebagai orang yang sudah diselamatkan kita harus memiliki perilaku yang lebih baik, memiliki tutur kata yang lebih santun, memiliki kepedulian terhadap sekitar kita. Sikap kita harus jauh lebih baik dibanding waktu kita belum mengenal kasih Kristus. Bulan keluarga adalah momentum bagi kita untuk berefleksi, apakah selama mengikut Kristus, ada perubahan sikap hidup ke arah yang baik dari hari ke hari?

Dalam hidup ini, semua (akal budi, hati nurani) telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Sekarang tinggal keputusan kita sendiri, apakah kita mau berproses hingga menjadi kupu-kupu atau berhenti hanya sebagai larva atau kepompong saja.

“Perubahan tidak mengenal berhenti. Saat kau menghentikan perubahanmu sendiri, 
itu sama artinya dengan hidupmu sudah berakhir” 

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 12 Oktober 2014

diposkan pada tanggal 11 Okt 2014 08.21 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui11 Okt 2014 09.20 ]

Aku juga salah!

Yakobus 5:16

Ada sebuah keluarga dengan tiga orang anak: dua laki-laki dan yang bungsu perempuan. Sang ayah sangat menyayangi si sulung, sementara si ibu, menyayangi si bungsu. Si ayah tidak pernah melarang atau marah kepada si sulung, sebagaimana si ibu tidak pernah melarang atau marah kepada si bungsu. Sebagai orangtua, ayah dan ibu tentu saja selalu memberi saran-saran yang baik dan menerapkan aturan di rumah. Sayangnya penerapan aturan itu tidak disertai konsistensi. Bila yang melanggar aturan adalah si sulung, maka si ibu akan memarahi, tapi si ayah segera membela. Bila yang melanggar si bungsu, maka si ayah akan marah, tapi pada saat itu juga si ibu langsung membela. Lain persoalan bila si tengah yang bersalah, maka dia akan menerima kemarahan ayah dan ibu tanpa ada yang membela.

Demikianlah tahun demi tahun berlalu, anak-anak mereka bertambah besar. Si sulung sudah kuliah, sementara dua adiknya di SMA. Mereka bertiga tumbuh menjadi anak-anak yang sulit diatur, mau menang sendiri dan hampir selalu bermasalah. Mereka bertiga tidak pernah akur di rumah, selalu berkelahi soal apa saja: mulai dari rebutan remote TV sampai adu keras menyetel musik. Keributan itu bertambah parah bila kebetulan kedua orangtua mereka pulang dari kantor dengan membawa masalah ke rumah.

Keadaan rumah yang tak nyaman membuat masing-masing anggota keluarga berusaha mencari “ketenangan” di luar rumah. Singkat cerita, si sulung akhirnya terlibat kasus narkotika, si tengah masuk penjara karena kasus perkelahian, sementara si bungsu tidak naik kelas karena jarang masuk sekolah. Kedua orangtua mereka kalut setengah mati, lalu mulai saling menyalahkan. Ibu menuduh ayah terlalu otoriter dan sekaligus gagal memberi teladan yang baik lewat tingkah laku, sementara ayah menuding ibu terlalu serba membolehkan sehingga anak-anak tidak bisa diatur.

Mereka berdua terus bertengkar dan tidak mau mengakui sebagai pihak yang menyebabkan semua peristiwa yang menimpa anak mereka. Karena tak menemui jalan keluar, mereka sepakat minta pendapat pendeta.

Setelah percakapan yang cukup panjang dengan pak pendeta, akhirnya suami istri itu mulai bisa melihat persoalan dengan lebih jernih. Sebagai orangtua, mereka hanya pintar menasehati, tapi tidak konsisten menjalankan aturan serta gagal memberi teladan melalui perbuatan. Di satu sisi mereka mengatakan bahwa anak-anak harus rajin ke gereja dan saling mengasihi, tapi di sisi lain ayah ibu ternyata pilih kasih. Anak-anak diperintahkan untuk hidup jujur, tapi betapa sering mereka menyaksikan kedua orang tua mereka saling membohongi. Anak-anak diajar untuk menghargai sesama anggota keluarga, tapi ayah ibu hampir selalu bertindak mau menang sendiri. Akibatnya anak-anak bingung menetapkan nilai-nilai mana yang seharusnya dianut. Tidak heran bila kemudia anak-anak hidup tanpa pegangan nilai-nilai yang benar. Ketiadaan nilai itulah yang membuat mereka terjerumus ke dalam pergaulan yang buruk.

Ayah ibu akhirnya menyadari bahwa semua itu diakibatkan kesalahan mereka berdua. Kini mereka tidak lagi saling menyalahkan, melainkan saling mengakui kesalahan dan saling memaafkan.

Di akhir pertemuan dengan pendeta, mereka bersama-sama membaca Yakobus 5:16 : “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”

Setelah berdoa, mereka berdua pulang dengan komitmen akan memulai hidup dengan menjadikan kebenaran Firman Tuhan sebagai ukuran dan arah keluarga. Mereka bertekad tidak lagi menjadikan keinginan dan kebenaran pribadi sebagai penentu arah keluarga. Mereka percaya, sebagaimana tertulis dalam Yakobus 5:16, Tuhan mau dan mampu memulihkan keluarga mereka. Selamat menjalani bulan keluarga.

(Mathyas Simanungkalit)

Renungan Warta 5 Oktober 2014

diposkan pada tanggal 4 Okt 2014 08.53 oleh Admin Situs GKI Halimun

Aku mau dibentuk

Yesaya 42:6-7

"Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.”


“Hamba” yang dimaksudkan dalam paparan mengenai hamba Tuhan dalam Yesaya 42:6-7 ini, boleh dimengerti ditujukan kepada empat pihak, yaitu: bangsa Israel, nabi Yesaya, Mesias dan setiap orang yang membaca bagian ini, yang percaya kepada janji Allah. Entah dari sudut pandang yang manapun kita mengertinya, dengan jelas kita menangkap pesannya, yaitu bahwa: Tuhan Allah, menginginkan apa yang baik bagi banyak orang dan mempercayakan orang yang dipanggilnya untuk dikuatkan, dibentuk, sehingga memberikan pengaruh yang baik bagi sekitarnya. Bukan hanya itu, orang yang dipercaya oleh Allah ini juga akan menjadi pelenyap kegelapan hidup orang-orang di dalam komunitasnya.

Minggu ini, kita memasuki bulan keluarga. Tema tahun ini ialah “Kekuatan Cinta”. Sungguh nyata di dalam kehidupan kita, bahwa hanya dengan kekuatan cinta saja, kita dapat mengalami segala yang baik dalam hidup ini. Minggu ini, kita berproses dalam kebenaran Firman Allah, sekaligus merayakan Perjamuan Kudus sedunia. Kita bertumbuh untuk menjadi pribadi yang mau dibentuk oleh Tuhan, dalam menjalankan peran kita di tengah keluarga dengan baik. Dengan sedikit imajinasi yang tetap bertanggungjawab, kita bisa membaca kembali Yesaya 42:6-7 dalam kaitan kerinduan diri yang mau dibentuk oleh Tuhan, menjadi seperti ini:

"Aku ini, TUHAN, telah memanggil (nama anda di sini) untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah      membentuk (nama anda di sini) dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi (keluarga-keluarga), menjadi terang untuk (tetangga-tetangga), untuk (melenyapkan kebencian), untuk (melakukan apa yang menjadi kebaikan bagi orang-orang yang sedang kesusahan).”

Tentu apa yang dituliskan bukan untuk mengganti Alkitab kita, atau menafsirkan seenaknya, tetapi hanya sebagai metode bagi kita untuk lebih mengenali betapa Tuhan berkenan memberikan yang baik bagi keluarga kita, dan Ia memanggil dan mempercayakan kita, untuk berada di dalam peran yang kita jalani sekarang ini (sebagai ayah, ibu, suami, istri, anak, sahabat, kakak, adik) dalam bentukan-Nya yang penuh cinta kasih.

“Padi semakin berisi, semakin menunduk”. “Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar”. “Belajar membutuhkan pengorbanan.” “Sebelum membentuk, kita harus mau dibentuk”. Mungkin sudah lebih dari sekali kita mendengar jargon-jargon itu. Semuanya baik. Jika kita serius menjalankannya, sebagai seorang pribadi yang mau dibentuk kita menjadi pribadi yang menjadi teladan dalam menghasilkan kebaikan dan bukan menuntut kebaikan melulu.

Pada satu malam seorang ayah pulang dengan keadaan letih luar biasa. Istrinya menyambutnya dengan muka muram karena perseteruan beberapa hari dengan si suami belum menemui solusi. Mereka tidak berbicara, dan istrinya beranjak pergi meninggalkannya sendirian. Anak-anak tidak ada di rumah. Ada yang sibuk mengerjakan tugas sekolah. Ada yang pergi asyik bermain dengan kawan-kawannya sejak pagi. Dengan lunglai ia merebahkan diri di kursi kesayangannya. Ia menerawangi seisi rumahnya, begitu banyak hasil jerih lelahnya berbuahkan banyak materi. Tetapi malam itu hatinya sepi dan pedih sekali.

Sayup-sayup terdengar alunan radio kristen mengalunkan lagu “Jadilah Tuhan.. kehendak-Mu, Kaulah penjunan, `ku tanah-Nya. Bentuklah aku sesuka-Mu.. `kan kunantikan dan berserah...” “Bentuklah aku sesuka-Mu..” kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga, hati dan pikirannya. Sambil merebahkan badannya, ia memejamkan matanya. Air matanya mengalir deras. Sudah bertahun-tahun ia lupa akan satu hal penting. Ia lupa apa yang menjadi kesukaan Tuhan! Perlahan-lahan ia sadar. Konflik berkepanjangan dengan istrinya, pengabaian anak-anaknya terhadap wibawanya, musnahnya canda tawa di ruang keluarga, semua terjadi karena ia terlalu memaksakan apa yang ia sukai saja, dan jarang sekali membiarkan apa-apa yang disukai Tuhan ia kerjakan. Dalam keheningan malam itu ia berdoa lirih: “Bentuklah aku sesuka-Mu, ya Tuhan..”

Kekuatan cinta terbukti mengubahkan dunia. Apakah kita pun mau dibentuk untuk melakukan apa yang menjadi kesukaan Tuhan, dalam menjalankan peran kita di tengah-tengah keluarga kita?

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 28 September 2014

diposkan pada tanggal 24 Sep 2014 18.25 oleh Admin Situs GKI Halimun

Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?

(Keluaran 17:1-7, Mazmur 78:1-4, 12-16, Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32)

Jika kita jeli untuk mencermati bacaan-bacaan Alkitab saban Minggu, maka sudah beberapa minggu ini pada bacaan-bacaan pertama, kita diajak melihat suka duka perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir yang kembali “pulang kampung” ke negeri Kanaan. Ada banyak yang dapat dipelajari untuk hidup kita sekarang ini saat menyimak perjalanan umat yang disayangi Allah ini. Sebab tidakkah hidup kita juga dapat diumpamakan seperti sebuah perjalanan yang di dalamnya iman kita diuji, entah untuk menjadi semakin bertumbuh atau malah menjadi kerdil dan berujung pada malapetaka dan kesusahan yang kita pilih sendiri?

Sebuah tempat yang bernama “Rafidim”, diganti namanya menjadi “Masa dan Meriba” oleh Musa (Masa dan Meriba adalah bahasa Ibrani yang artinya mencobai, mengomel). Pemberian nama baru dalam kisah-kisah Perjanjian Lama selalu menjadi semacam monumen yang penting. Sepertinya Musa ingin mengingatkan mereka dan generasi berikut bahwa: pernah terjadi, orang Israel bertengkar dengannya dan secara tidak langsung melalui sikap tinggi hati itu, mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?"

"Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?" Pertanyaan emosional ini keluar dari mulut orang-orang yang saat itu sedang haus berat karena diterpa teriknya hawa panas menyengat Padang Gurun. Biasanya memang begitu. Gara-gara kelemahan fisik, atau gara-gara haus kekuasaan, haus harta, haus kasih sayang, maka akal budi dan hati nurani tidak lagi bekerja dengan baik. Iman sepertinya lalu kalah oleh hawa nafsu yang bergelora untuk memuaskan kesenangan diri.

Jauh hari sesudah pengalaman Rafidim itu, Asaf, seorang penyanyi dan pemusik pada era Raja Daud menggubah Mazmur 78. Ini adalah sebuah nyanyian pengajaran. Pesannya supaya umat Tuhan belajar dari sejarah perjalanan iman para leluhurnya. Asaf bijaksana. Dalam nyanyiannya, secara positif ia mengajak umat untuk melihat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya yang kesusahan. Pemeliharaan Allah sungguh ajaib! Walaupun ada begitu banyak kasus umat Israel itu begitu menjengkelkan, Allah tetap membimbing, mengajar, mengarahkan umat-Nya dengan kasih. Di Rafidim pun kita membaca, umat yang keras kepala itu pada akhirnya minum. Allah mengetahui apa yang mereka butuhkan. Dari bukit batu yang keras, keluar air yang segar. Tongkat Musa tidak diperintahkan Allah memukuli kepala orang-orang yang lambat bertumbuh dalam iman itu. Allah sungguh baik. Pertanyaan "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?" dijawab Allah dengan tindakan pemeliharaan-Nya yang ajaib.

Tidak salah untuk mempertanyakan sesuatu yang penting terkait hidup kita kepada Allah. Ini acap kali dinamakan sebagai pergumulan iman. Bukankah setiap pertanyaan akan menolong kita untuk mencari jawab, untuk belajar, untuk bertumbuh menjadi lebih baik? Kita mungkin memiliki pertanyaan-pertanyaan seperti: “Mengapa Tuhan diam saja?”, “Di manakah pertolongan-Mu yang ajaib itu Tuhan?”, “Sampai kapan saya harus mengalami ini Tuhan?”, “Mengapa dia membuat saya mengalami kepahitan ini, Tuhan?”

Walaupun pertanyaan-pertanyaan itu tidak salah, tetapi hati-hati! Tanpa kita sadari, acap kali pertanyaan-pertanyaan itu dapat berubah menjadi gugatan-gugatan sepihak kepada Allah. Jika menjadi gugatan, kita telah memilih untuk menjadi orang yang tinggi hati, keras kepala dan tidak lagi terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru yang sebenarnya sedang Allah sediakan. Kita menjadi tidak bertumbuh dalam iman. Bisa-bisa kita malah menjadikan Allah sebagai objek pemuas keinginan kita dan bukan sebagai subjek yang kita hormati dan yang membimbing kita.

Bukankah pertanyaan-pertanyaan yang sehat kepada Allah sepantasnya berjiwa permohonan? Jika jiwanya permohonan, maka kita sedang memosisikan diri kita dengan kerendahan hati dan kesediaan untuk mau dibentuk oleh Allah. Bayangkanlah sebuah situasi saat seseorang yang lemah dan perlu ditolong malah menghardik dengan kasar penolong yang lebih kuat dan dengan sabar berkenan menolongnya. Sungguh tidak elok bukan? Jadi memang kita mesti hati-hati untuk tidak mengarahkan permohonan kita menjadi gugatan sepihak kepada Allah.

Simaklah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi dalam Matius 21:23-28. Menurut anda apa yang menjadi jiwa dari pertanyaan mereka? Apakah anda menemukan sebuah pembenaran diri dan hasrat untuk berkuasa di balik pertanyaan mereka? Tuhan Yesus mengajar mereka yang keras hati itu dengan perumpamaan yang akhirnya menyadarkan tinggi hati mereka (Mat. 21:28-32).

Tepatlah nasihat Paulus kita simak juga terkait hal ini. Paulus menuliskan: “Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tanpa mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri;” (Flp. 2:2-3). Pada bagian selanjutnya Paulus memaparkan bahwa sikap rendah hati itu telah ditunjukkan Kristus Yesus, sebagai sebuah teladan bagi para pengikut-Nya. Kerendahan hati Kristus ditunjukkan dengan tindakan nyata, mati di kayu salib, berujung pada pemuliaan Allah!

Kerendahan hati! Itu kata kuncinya. Lalu pertanyaan untuk kita jawab sekarang ini: sewaktu mengalami krisis-krisis yang mungkin terjadi dalam hidup kita, sewaktu diri kita menjadi begitu penat karena terpaan terik masalah-masalah yang menyengat, apakah kita tetap rendah hati memohon pertolongan-Nya? Apakah kita tetap percaya kepada pemeliharaan-Nya yang ajaib? Apakah kita menyadari kehadiran-Nya di tengah-tengah hidup kita?

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 21 September 2014

diposkan pada tanggal 23 Sep 2014 01.13 oleh Admin Situs GKI Halimun

Hidup adalah anugerah 

Keluaran 16:2-15; Mazmur 105:1-6, 37-45; Filipi 1:21-30; Matius 20:1-16

Tak ada manusia yang terlahir sempurna, jangan kau sesali segala yang telah terjadi 
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat, seakan hidup ini tak ada artinya lagi 
Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah, Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. 

Tak ada manusia yang lahir sempurna, jangan kau sesali segala yang telah terjadi Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah 
Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik, Tuhan pasti menunjukkan kebesaran dan KuasaNya 
Bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa 
Jangan menyerah…jangan menyerah…jangan menyerah… 

Di atas adalah sebuah lirik lagu yang berjudul “Jangan Menyerah” dinyanyikan oleh De Masiv. Lagu tersebut mengajak kita untuk tetap semangat dalam menjalani kehidupan yang sudah Tuhan anugerahkan bagi kita. Kata orang, hidup ini bagaikan sebuah roda yang sedang berputar, kadang posisi di atas, terkadang posisi di bawah. Posisi roda di atas sebagai gambaran keadaan hidup yang nyaman dan menyenangkan. Sedangkan posisi roda di bawah adalah gambaran keadaan yang dirasa menyakitkan dan membuat putus asa.

Sebagai manusia tentu kita bisa saja merasakan semua putaran tersebut, dan De Masiv mengingatkan bahwa setiap keadaan harus dilihat sebagai anugerah Allah yang patut disyukuri. Karena rasa syukur inilah yang akan menjadi kekuatan bagi kita untuk terus melanjutkan kehidupan. Suka atau duka, gagal atau sukses, di atas atau di bawah, semua adalah anugerah yang memiliki maksud dan tujuan, yakni mendatangkan kebaikan bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita. Tak ada satu keadaan pun dari hidup kita yang diluar kuasa Tuhan, sebab itu kita jangan menyerah atau bersungut-sungut dalam hidup, terutama saat menghadapi situasi pelik.

Keluaran 16:2-15, merupakan bagian dari kisah Israel di padang gurun. Dalam lindungan-Nya, Israel mendapat kekuatan, makanan juga minuman. Perlindungan Tuhan ini menunjukkan bahwa Ia setia dengan janji-Nya. Bagaimana dengan Israel?

Di gurun, perasaan putus asa sering melanda Israel. Dalam keputusasaan itu mereka mudah bersungut-sungut dan marah (ayat 3). Memang Israel adalah bangsa yang mudah marah, bersungut-sungut kepada Musa, Harun, bahkan Allah, tetapi Allah tidak membuat sungut- sungut itu sebagai alasan untuk memutuskan cinta kasih-Nya. Perkataan Tuhan “… maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu” (ayat 12), menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang berlimpah anugerah. Anugerah-Nya tampak melalui kesediaan-Nya memberikan makanan setiap hari bagi umat-Nya, baik bagi umat Israel di padang gurun Sin, maupun bagi kita di gurun persoalan masing-masing. Bagaimana dengan kehidupan kita sekarang? Apakah hidup sebagi anugerah kita jalani dengan syukur atau malah dengan sungut-sungut?

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 14 September 2014

diposkan pada tanggal 12 Sep 2014 07.14 oleh Admin Situs GKI Halimun

Menang Tanpa Berperang

Keluaran 14:19-31; Mazmur 114; Roma 14:1-12; Matius 18:21-35

“Lebih dari pemenang, dalam s’gala perkara. Iblis t’lah dikalahkan, oleh kuasa darah-Nya. Jika Allah di pihak kita, siapa dapat melawan? Kita lebih dari pemenang. Haleluya…, kibarkanlah panji-Nya. Yesus Raja segala raja. Haleluya…, bangkitlah gereja-Nya. Kita lebih dari pemenang.”

Mendengar syair lagu di atas kita dapat merasakan suasana peperangan. Gereja seolah sedang berperang melawan musuh-musuhnya. Dan karena Allah ada di pihak gereja, maka tak ada lawan yang mampu bertahan. Gereja dalam lagu tersebut digambarkan sebagai pihak yang selalu berhasil mengalahkan musuh, selalu (dan akan selalu) menang. Benarkah gereja selalu menang?

Kita tidak tahu persis latar belakang penciptaan lagu tersebut. Mungkin penulisnya terilhami kisah-kisah tertentu dalam Alkitab, seperti kisah dalam Keluaran 14:19-31, misalnya. Dalam bacaan kita ini digambarkan bagaimana umat Israel sedang dikejar oleh musuhnya, yaitu orang Mesir. Orang Israel sudah hampir tersusul oleh musuh, sementara di hadapan mereka terbentang laut Teberau. Dalam situasi terjepit tersebut Allah turun tangan menolong. Allah membuat tiang awan sebagai penjaga jarak antara orang Israel dengan orang Mesir. Lalu Allah membelah laut Teberau agar semua umat Israel dapat menyeberang. Pada saat pasukan Mesir berhasil mengejar sampai di tengah laut yang tersibak, sementara orang Israel telah mencapai daratan di depannya, Allah membuat air laut melanda para pengejar itu. Seluruh pasukan Mesir tenggelam!

Untuk mengenangkan peristiwa ajaib tersebut Musa dan orang Israel membuat pujian. Syairnya menggambarkan kedahsyatan Allah: “Baiklah aku menyanyi bagi Tuhan, sebab ia tinggi luhur: kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut…. TUHAN itu pahlawan perang….” (Kel 15:1-3).

Jika kita cermati lagu pujian Musa ini, maka jelas digambarkan bahwa yang “berperang” adalah Allah, bukan orang Israel. Pada Kel.15:7 dikatakan: “Dengan keluhuran-Mu yang besar Engkau meruntuhkan siapa yang bangkit menentang Engkau….”Kemenangan itu bukan kemenangan orang Israel, melainkan kemenangan Allah. Israel sebagai umat hanya ikut gembira karena kemenangan Allah itu juga membuat mereka selamat. Kemenangan Allah dalam kisah ini menggambarkan bagaimana Allah selalu berhasil menyatakan dan mewujudkan kehendak-Nya dalam kehidupan umat-Nya.

Belajar dari kisah Laut Teberau ini, kita sebagai umat dapat juga mengalami bagaimana Allah menyatakan dan mewujudkan kehendak-Nya dalam kehidupan kita. Sebagai umat (gereja), kita dapat berpatisipasi dalam mewujudkan kehendak Allah itu dengan cara mematuhi perintah Allah. Melalui ketaatan kepada Allah, maka kita akan melihat bagaimana Allah bekerja dalam hidup kita dan orang-orang di sekitar kita. Tapi, kita semua tahu, bahwa tidaklah mudah untuk taat sepenuhnya kepada kehendak Allah. Kesulitan terbesar dalam mematuhi kehendak Allah agaknya adalah kerelaan membiarkan Allah bekerja melalui cara yang diinginkan-Nya. Padahal, umumnya kita berharap bahwa Allah bekerja melalui apa yang kita sukai dan nyaman bagi kita.

Ada sebuah contoh yang sangat bagus dalam Matius 18:21-35. Dikisahkan ada seorang (si A) yang berhutang kepada raja sebesar sepuluh ribu talenta (sebuah jumlah yang tidak mungkin terbayar oleh si A). Karena tidak sanggup membayar, raja memerintahkan si A dan keluarganya dijual sebagai pembayar hutang. Si A memohon agar raja memberi waktu untuk membayar hutangnya. Sang raja tergerak oleh belas kasihan dan membebaskan si A dari semua hutangnya. Tak lama si A bertemu si B yang berhutang kepadanya sebesar seratus dinar (kira-kira upah seratus hari kerja). Si B belum mampu membayar dan memohon belas kasihan si A. Tapi si A menjebloskan si B ke dalam penjara. Teman-teman si B mengadukan persoalan itu kepada raja, dan lalu raja menyerahkan si A kepada algojo-algojo sampai ia melunasi hutangnya.

Biasanya kita selalu tertarik kepada tokoh A dan mengaitkannya dengan pengampunan: karena kita adalah orang yang sudah diampuni dosanya, maka kita juga selayaknya mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita. Kita mungkin jarang, atau bahkan tidak pernah, meneliti tokoh B. Jika tokoh B adalah kita, apa yang kita harapkan dari si A? Secara umum mungkin jawabannya adalah: Si A harus mengampuni kita juga sebab ia telah terlebih dahulu diampuni! Dengan kata lain, kita menuntut pengampunan itu diberikan oleh si A. Tapi, menariknya, dalam Matius 18:21-35 tak satupun kata yang menggambarkan bahwa si B menuntut si A untuk mengampuninya. Di sana hanya dikatakan bahwa teman-teman si A mengadu kepada raja. Penggambaran Matius ini seolah ingin mengatakan bahwa ketaatan kepada Allah itu dapat juga berbentuk kesediaan untuk mengalami hal-hal yang tidak kita kehendaki. Lewat ketaatan seperti itulah di ayat 31-35 ditegaskan Allah menyatakan kekuasan dan kehendak-Nya. Menang tanpa berperang dapat berarti kesediaan bersama Allah berjuang menegakkan keadilan dan sekaligus bersedia menanggung resiko ketidakadilan, sebagaimana sikap orang yang berhutang seratus dinar.

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 7 September 2014

diposkan pada tanggal 4 Sep 2014 07.50 oleh Admin Situs GKI Halimun

Bertumbuh dalam Persekutuan

Keluaran 12:1-14, Mazmur 149:1-9, Roma 13:8-14, Matius 18:15-20

Bacaan Alkitab minggu ini mendorong kita untuk bertumbuh di dalam persekutuan. Waktu Allah membebaskan umat Israel keluar dari negeri perbudakan Mesir, Allah memerintahkan diadakannya persekutuan makan paska bersama. Apa artinya? Artinya mereka harus berjalan bersama menuju hidup baru! (Kel. 12:4). Begitu juga dalam kehidupan umat Israel Baru, yaitu Gereja Tuhan Yesus. Kepada Jemaat di Roma, Rasul Paulus menasihatkan supaya pengikut Yesus menunjukkan kasih yang nyata kepada sesama. Hidup beriman harus ditentukan oleh nasihat Tuhan Yesus dan bukan oleh hawa nafsu jahat (Rm. 13:14).

Namun memang, membangun kekuatan persekutuan itu tidak mudah. Acap kali keeratan persekutuan menjadi retak karena munculnya masalah-masalah. Berita Injil minggu ini memberikan kepada kita nasihat upaya memelihara kualitas persekutuan. Dalam kehidupan gereja Tuhan, teguran yang berangkat dari kasih untuk menunjukkan kesalahan harus dilakukan dalam membimbing setiap orang yang jatuh ke dalam dosa/pencobaan untuk bangkit dari kesusahan hidup dan masuk kembali ke dalam persekutuan yang saling mengasihi. Arahan untuk menganggap orang yang tidak mau mendengarkan nasihat persekutuan, sebagai penagih pajak/orang yang tidak mengenal Allah, jangan langsung diartikan sebagai pengucilan! Sebab bukankah pada bagian Injil yang lain, kasih Kristus tetap besar kepada para penagih pajak/orang yang tidak mengenal Allah? Kasih Kristus tetap mengundang mereka untuk menikmati anugerah Allah yang mengampuni, saat mereka mau menghidupi pertobatan yang sungguh. Jadi kasih yang terus menerus dinyatakan, itulah yang akan memulihkan keretakan dalam persekutuan.

Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Termasuk saat kita memohonkan perubahan sikap hidup pribadi-pribadi yang mengalami pergumulan di tengah-tengah persekutuan kita. Jika kita sepakat berdoa, Allah akan mengabulkannya. Di dalam kesehatian yang berkualitas antara dua atau tiga orang yang berkumpul, Kristus sungguh hadir dan akan menyatakan kuasa-Nya yang membarui kehidupan (Mat.18:20). Kualitas persekutuan yang baik bukan hanya diukur dari tidak adanya masalah. Tetapi sejauh mana setiap pribadi dalam persekutuan itu menghadirkan diri sebagai bagian dari solusi bagi penyelesaian masalah-masalah yang ada.

Kalau kita mengasihi Tuhan Yesus dan mau dituntun oleh Kristus, kita siap menjadi bagian dari solusi penyelesaian masalah yang muncul dalam persekutuan. Ketimbang menuntut dikasihi, kita tulus mengasihi. Kita bukan hanya menjadi orang yang cakap mengungkapkan masalah-masalah yang ada, tetapi juga melakukan langkah-langkah nyata bagi penyelesaian masalah. Hal ini harus diingat untuk menjaga kekuatan persekutuan kita.

Sejak 2012, bertepatan dengan Jubileum (HUT ke 50) GKI Halimun, kita memiliki visi, harapan untuk: menjadi “Jemaat Tuhan, yang hangat, dinamis dan berpengaruh.” Supaya visi itu tercapai, ada misi/tugas yang harus dijalankan yaitu: memenuhi kebutuhan pertumbuhan rohani jemaat, meningkatkan hubungan yang hangat dalam jemaat, mengoptimalkan potensi pelayanan jemaat, membangun kekuatan jemaat berbasis kelompok kecil, serta memberikan pengaruh positif dalam komunitas.

Sejak saat itu juga kita mulai menggalakan gerakan saat teduh, yaitu sebuah gerakan yang mendorong kita semua untuk mencermati pesan kitab suci supaya hidup kita tercerahi oleh Firman Tuhan. Ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan rohani. Selain itu, kita juga mendorong terbentuknya kelompok-kelompok kecil dalam jemaat. Kelompok ini acap dikenal sebagai kelompok tumbuh bersama. Kelompok yang terdiri dari 5-7 orang ini rutin bertemu sekali seminggu untuk membahas bagian kitab suci, berbagi pengalaman perjalanan hidup dan iman, serta saling mendukung dan mendoakan satu sama lain.

Kelompok-kelompok ini akan dirintis dan dikoordinasikan berlangsung mulai dari guru-guru sekolah minggu, remaja, pemuda, dan dewasa (umum). Bagi umat umum, anda diundang untuk mengikuti kelompok tumbuh bersama ini setiap Jumat mulai pk. 19.00. Sedangkan untuk kelompok guru-guru sekolah minggu, remaja dan pemuda anda dapat menghubungi para pengurus komisi untuk jadwal pertemuannya.

Mengapa kelompok-kelompok kecil ini penting bagi kehidupan jemaat? Sebab melalui dinamika kegiatan yang ada di dalam kelompok kecil ini, pertumbuhan rohani, hubungan yang hangat, pengenalan kepada potensi pelayanan pribadi, serta upaya-upaya memberikan pengaruh positif dalam komunitas dapat dilatih dan dikembangkan bersama. Ke depannya kita akan berupaya membangun kelompok-kelompok kecil ini tidak terbatas pada kegiatan di gereja saja, tetapi juga berangkat dari lokasi kedekatan domisili, kelompok minat dan hobi, pertemanan sebaya, bahkan kelompok tumbuh bersama dalam lingkup keluarga-keluarga. Melalui kelompok-kelompok kecil ini kita melatih diri untuk bertumbuh bersama, berpegang kepada kebenaran ke arah Kristus yang adalah Kepala hidup persekutuan kita.

Pertanyaan Aplikasi
  • Saat keluarga/gereja anda menghadapi masa sukar apa yang anda lakukan sebagai bagian dari persekutuan? 
  • Bagaimana kualitas persekutuan kita? Apakah kita mau bekerjasama mewujudnyatakan persekutuan yang berkualitas sesuai tuntunan Tuhan Yesus?
(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 31 Agustus 2014

diposkan pada tanggal 29 Agt 2014 18.20 oleh Admin Situs GKI Halimun

Mengasihi itu yang paling penting! Jangan takut! Terus Maju bersama Kristus!

Keluaran 3:1-15, Mazmur 105:1-6, 23-26, 45, Roma 12:9-21, Matius 16:21-28

Kita senang dan rindu hari ke hari hidup kita bersama dengan orang lain menjadi lebih baik. Tetapi acap kali kerinduan kita itu terhambat oleh masalah-masalah. Hampir selalu kita beranggapan, bahwa orang lainlah yang menjadi penyebab dari masalah itu. Memang adakalanya orang lain bisa saja menjadi penyebab apa-apa yang kita anggap sebagai masalah. Tetapi kita juga harus mengakui bahwa ada andil diri kita, tentang bagaimana terselesaikannya masalah itu. Terkadang keras hatinya kita karena memperjuangkan kepentingan diri sendiri, enggan mengasihi dan melupakan kasih membuat kita tidak pernah menjadi orang yang berani mengambil langkah-langkah suci bagi penyelesaian masalah-masalah hidup kita.

Kita cinta damai, tetapi kita tidak mau menjadi pelaku damai. Kita tahu tentang kasih. Kasih itu terarah kepada tindakan untuk Allah dan orang lain. Tetapi yang kita lakukan bukan memberikan kasih, melainkan menuntut dikasihi. Kita tahu bahwa perubahan apapun dalam hidup ini membutuhkan pengorbanan, tetapi kita malah mengorbankan orang lain dan enggan melupakan kepentingan diri sendiri. Kita tahu bahwa apa yang diajarkan Tuhan Yesus itu adalah nasihat yang paling baik, yang harus ditaati dengan serius tetapi kita malah mengikuti pikiran dan pendapat kita saja. Kita tidak mau dipimpin oleh Tuhan Yesus.

Dalam Injil Minggu ini, kita mengenali misi yang dijalankan Tuhan Yesus. Ia membarui dunia ini dengan cara-Nya. Bagi-Nya, dunia ini tidak boleh menjadi tempat di mana Setan menjadi Raja. Allah saja yang harus menjadi Raja dalam dunia ini. Ada penolakan dari pemimpin dan pemuka agama yang keras hatinya waktu itu. Yesus tahu, misi-Nya akan mengakibatkan Ia terbunuh. Petrus tidak nyaman dengan perjuangan Tuhannya itu. Secara manusiawi, pikiran Petrus biasa terjadi pada banyak orang.

Tetapi bagi Tuhan Yesus, Petrus dan para pengikut-Nya harus melihat perkara surgawi juga. Mereka harus tahu bahwa kasih itu yang paling penting. Kasih selalu berkorban. Mereka harus mau terus maju bersama Yesus. Kalau ikut pikiran dan kepentingan diri sendiri saja bahaya. Tetapi Kalau ikut Yesus, selamat! Sebab Tuhan Yesus mendobrak struktur yang menindas dengan kasih dan pengorbanan. Ini tindakan yang jauh lebih berkuasa ketimbang penggunaan kekerasan. Hidup baru bersama Yesus tentu jauh lebih berharga dari kepemilikan barang. Di dalam kasih ada kehidupan baru dengan sukacita surgawi.

Menjadi perenungan bagi kita untuk menghidupi Injil-Nya ini pada hari-hari ke depan. Apakah kita berkenan untuk berjalan mengikuti Yesus dan cara-Nya dalam membarui dunia ini? Apakah kita berkenan mengikuti teladan Musa, yang bukan sekadar kagum akan kuasa Allah, tetapi juga mau datang kepada Allah, mendengar nasihat Allah dan menjadi rekan kerja Allah dalam pembebasan umat-Nya yang tertindas? Apakah kita mau menerima janji-Nya yang menolong ketidakmampuan kita dalam proses pembaruan hidup kita untuk mendobrak struktur-struktur hidup yang menindas?

Nasihat Rasul Paulus sangat terang, jelas dan praktis, terkait misi pembaruan hidup kita sebagai pengikut Kristus. Dalam semangat menyangkal kepentingan diri, berkorban dan mengikuti cara Kristus, mari kita lakukan hal-hal ini dengar serius di sepanjang hidup kita:
  • Mengasihi dengan ikhlas. 
  • Membenci dan menjauhi perbuatan jahat.
  • Memegang nasihat yang baik. 
  • Melihat sesama kita seperti saudara sendiri. 
  • Lebih banyak menghargai orang lain. 
  • Tidak menyerah dalam melakukan kasih dan mau dibimbing Roh Allah.
  • Sabar waktu menghadapi kesusahan. 
  • Tekun berdoa. 
  • Menolong orang yang mengalami kesusahan. 
  • Menyambut dengan hangat orang yang butuh perlindungan. 
  • Mendoakan orang yang kejam kepada kita supaya Allah berkenan memberkatinya/mereka. 
  • Tidak menggunakan kata-kata kasar/kutukan kepada orang lain. 
  • Menggunakan kata-kata positif/berkat kepada orang lain. 
  • Berupaya memahami pikiran dan perasaan orang lain juga/empati. 
  • Mengupayakan kerukunan. 
  • Tidak sombong. 
  • Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. 
  • Sebanyak mungkin melakukan kebaikan kepada orang lain.
(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 24 Agustus 2014

diposkan pada tanggal 22 Agt 2014 01.57 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui22 Agt 2014 09.18 ]

Pengabdian dengan Cinta, Sukacita dan dalam Kenyataan

Keluaran 1:8-2:10, Mazmur 124, Roma 12:1-8, Matius 16:13-20

Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi (Mzm 124:8). Ini menjadi rumusan “votum” (artinya “pengakuan keberserahan”) yang mengawali kebaktian kita. Acapkali juga digunakan “Kebaktian ini berlangsung di dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Begitulah pengakuan kita. Kita datang dalam kebaktian untuk berbakti, mengabdi. Kita ini hamba, abdi Tuhan. Atas segala kebaikan dan cinta kasih Allah, kita bersyukur dan mengakui tuntunannya. Inilah alasan yang sehat saat kita berbakti, beribadah kepada Allah.

Minggu ini kita menyimak kisah awal hidup Musa. Di Mesir, keturunan Yakub, ditindas dengan perbudakan. Kehadiran mereka dibatasi dengan seleksi keji berupa pembantaian bayi-bayi entah langsung dibunuh atau dilemparkan ke sungai Nil. Allah baik. Ia peduli. Allah memihak kehidupan orang yang teraniaya. Orang-orang yang berkenan mengabdi kepada-Nya menjadi rekan kerja-Nya dalam menghadirkan Musa. Mulai dari bidan-bidan yang takut kepada Tuhan, putri Firaun yang berbelas kasih, juga kakak perempuan Musa yang telaten memelihara adiknya, hingga ibu Musa yang tekun mengasuh bayi itu dalam kehangatan dekapan pelukannya sendiri. Keliru jika kita menganggap hamba-hamba Tuhan yang setia itu terbatas pada laki-laki saja! Lihatlah peran besar para perempuan di sini.

Berbakti, mengabdi kepada Allah selalu harus lahir dari cinta, sukacita dan di dalam kenyataan hidup. Musa lahir dari keturunan Lewi. Kelak keturunan Lewi diberikan tanggung jawab untuk mengelola peribadatan umat Allah dalam diri imam-imam. Jika kita melihat kisah awal kehidupan Musa ini, dan peran-peran hamba-hamba Allah di dalam bakti mereka, kita menyimak bahwa tindakan ibadah, bakti, ternyata tidak sesempit urusan ritus dan kultus belaka, tetapi juga dalam tindakan nyata yang berujung pada perubahan sosial komunitas! Bakti dan ibadah kita adalah tanda sukacita kita ikut serta dalam menjalankan misi penyelamatan Allah bagi dunia.

Kota Kaisarea Filipi dapat dikatakan sebuah kota yang narsistik. Mengapa demikian? Sebab kota ini dibangun oleh Herodes-Filipus, diabadikan untuk kejayaan Kaisar Roma dan dirinya. Ia adalah suami Herodias, yang masih terbilang keponakannya sendiri. Herodias adalah keponakan perempuan Herodes-Antipas, saudara laki-laki Herodes-Filipus. Akibat skandal syahwat yang dibuatnya, Yohanes pembaptis meregang nyawa.

Saat Tuhan Yesus masuk kota ini, ia mengajukan pertanyaan penting kepada murid-murid-Nya tentang bagaimana orang-orang mengenali “Anak Manusia”, sosok yang diurapi Allah untuk membebaskan umat-Nya. Murid-murid menanggapi dengan apa-apa yang memang menjadi dugaan banyak orang tentang sosok itu. Tuhan Yesus kembali menegaskan pertanyaan-Nya. “Tetapi apa katamu, siapa Aku ini?” Pertanyaan ini penting dan bermakna. Seolah-olah di tengah kota yang diwarnai dengan egosentrisme dan penyanjungan nafsu berkuasa manusia itu, murid-murid ditantang untuk menyatakan iman mereka! Petrus menjawab. “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Ini adalah sebuah penyataan iman yang lahir dari pertolongan kasih Bapa. Petrus dengan tegas menyatakan apa arti kehadiran Yesus bagi dirinya. Bukankah di tengah dunia kita sekarang ini, saat begitu banyak orang yang masih dikungkung oleh pementingan diri sendiri dan kejahatan kepada Allah dan sesama manusia, pertanyaan Tuhan Yesus ini juga untuk kita? Siapakah Yesus bagi kita? Dalam bakti dan ibadah kita, apakah yang menjadi fokus utama kita?

Larangan Yesus kepada murid-murid untuk tidak memberitahukan kepada orang-orang tentang status Mesias itu penting. Mengapa? Sebab bagi Yesus Mesias itu bukan sekadar jabatan. Mesias itu adalah karya hidup yang utuh. Karya kemesiasan Yesus satu paket dengan salib dan kebangkitan, yang saat itu belum utuh dijalani-Nya. Selain itu, rasanya Yesus tidak ingin orang mengakui kemesiasan-Nya hanya dari kata orang saja. Yesus ingin agar setiap orang menyatakan pengakuan itu berangkat dari cinta dan pengenalan yang tulus dalam pertolongan Bapa. Ini menjadi teladan yang baik buat kita! Tidak cukup kita menggembar-gemborkan identitas kekristenan kita kepada khalayak. Sebab bukankah kekaryaan kasih kita sebagai pengikut Kristus, jauh lebih berbicara banyak kepada dunia ketimbang kata-kata belaka? Setiap orang pada akhirnya mengakui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, saat menyaksikan salib dan kebangkitan. Bagaimanakah kita sebagai gereja-Nya dalam setiap bakti dan ibadah kita telah meneladankan Kristus untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti karya kasih-Nya bagi Indonesia?

Paulus mengingatkan kita. Ibadah sejati ialah saat tubuh kita seutuhnya menjadi persembahan yang: hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Mengaku Yesus sebagai Mesias/Kristus berarti mau dituntun Bapa di Sorga supaya kita berani menyatakan bahwa Yesus Kristus saja yang akan menuntun dan mempengaruhi bagaimana cara kita hidup di dunia ini. Dalam pertolongan Roh Kudus, pola pikir dan sikap hati kita terus menerus diperbarui sehingga kita mampu memilih dengan bijaksana pilihan-pilihan hidup yang dilandaskan oleh kasih. Tidak hanya itu, dengan mengakui Yesus sebagai Mesias/Kristus, Raja Penyelamat kita, maka dalam hidup bersama kita dimampukan-Nya untuk menguasai diri, mampu bekerja sama dengan baik di tengah perbedaan yang ada, dengan menggunakan segenap kemampuan yang kita miliki berangkat dari kasih dan dalam sukacita. Perilaku yang demikianlah, yang menjadi ibadah/pengabdian yang pantas kepada Allah, penuntun hidup kita.

(Pdt. Essy Eisen)

1-10 of 222