Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Renungan Warta 6 Juli 2014

diposkan pada tanggal 4 Jul 2014 02.40 oleh Admin Situs GKI Halimun

Rendah Hati, Mau Berubah dan Setia Mengasihi

Kejadian 24:34-38, 42-49, 58-67, Mazmur 45:11-18, Roma 7:15-25, Matius 11:16-19, 25-30

“Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga”. Sebagai ciptaan Allah, walaupun kita dikaruniakan begitu banyak kekuatan dan kemampuan, kita tetap memiliki keterbatasan dan kelemahan. Kita bisa salah mengambil pilihan. Kita bisa salah menetapkan falsafah hidup kita. Bisa saja apa yang kita anggap benar selama ini, justru adalah kekeliruan terbesar yang harus kita tinggalkan demi kebaikan hidup kita dan orang lain. Oleh sebab itu kerendahan hati, kemauan untuk berubah dan kesediaan untuk setia menghidupi kasih kepada Allah dan kepada sesama ciptaan Allah, harus selalu menjadi sikap yang kita perjuangkan dalam hidup ini.

Apa saja sikap yang buruk saat kita harus memilih? Pertama, sikap “potong kompas”. Sikap ini buruk sebab terburu-buru dalam mengambil pilihan. Sering kali sikap seperti ini tidak memikirkan sebab akibat dengan matang. Kedua, mengambil keputusan untuk memilih dengan mendengarkan pilihan solusi yang salah. Mirip dengan “potong kompas”, sikap ini adalah sikap yang menggampangkan semua hal. Misalnya, hutang diselesaikan dengan hutang lagi. Disakiti diselesaikan dengan menyakiti lagi. Sungguh bukan merupakan solusi yang matang dan benar. Ketiga, tidak berbuat apa-apa karena takut mengambil risiko demi perubahan hidup. Sikap ini sebenarnya sikap yang akan memperparah masalah. Orang yang keras kepala dan pendendam acap kali tidak mudah mengambil alternatif-alternatif pilihan yang terpampang dengan begitu jelas di depan mata.

Allah berjanji menjadikan Abraham bangsa yang besar. Keturunannya akan diberkati dan menjadi berkat bagi banyak bangsa. Dalam proses “menjadikan” apa-apa yang baik itu, Abraham mau diajar dan dibimbing Allah. Abraham tetap menjaga kesetiaan hati dan pikiran kepada Allah. Kesetiaan Abraham itu tampak sewaktu ia mengalami masalah. Ishak anaknya belum memiliki istri. Dapat saja Ishak beristrikan perempuan Kanaan. Tetapi pilihan itu mengandung risiko, sebab Ishak bisa saja mengikuti kepercayaan orang-orang Kanaan sebagai penyembah berhala. Dalam pergumulan memilih itu, Abraham ditolong dan dituntun oleh Allah.

Allah menghadirkan rekan dan sahabat yang baik bagi Abraham, yaitu hambanya. Apa yang Abraham pesankan, dilakukan oleh hambanya itu dengan setia. Bukan hanya itu, hamba Abraham itu juga berdoa kepada Allah dan Allah menjawab doa hamba Abraham karena hamba Abraham itu menggunakan kriteria/syarat-syarat yang sesuai dengan kehendak Allah terkait pemilihan istri bagi Ishak. Allah menyediakan kesempatan-kesempatan bagi hamba Abraham dalam upayanya. Usahanya itu diberkati Allah, karena hati dan pikirannya takut kepada Allah.

Hamba Abraham itu pada akhirnya bersyukur kepada Allah karena tuntunan-Nya. Ia mengalami jalan yang benar karena pertolongan Allah. Kesempatan-kesempatan yang ia alami untuk berjumpa Ribka adalah bukti pertolongan Allah. Hamba Abraham mendapatkan solusi terbaik dari usahanya karena kasihnya kepada Abraham dan kepada Allah.

Sepanjang hidup ini, kita akan berhadapan dengan pilihan antara ikut Tuhan atau ikut setan. Mengikuti Tuhan, berarti percaya kepada janji Tuhan dan mau memberlakukan apa yang Tuhan ajarkan dengan ketulusan dan cinta kasih. Sedangkan mengikuti setan, berarti kita membiarkan diri kita dibodohi dengan beranggapan bahwa kita dapat melakukan semuanya dengan kekuatan dan hikmat diri kita sendiri saja. Tuhan Yesus berjanji bahwa Dia akan memberikan kelegaan kepada setiap orang yang datang kepada-Nya. Ini bukti kasih-Nya. Seiring dengan kasih-Nya itu, tanggapan kita adalah “memikul kuk” yang dipasang Kristus. Artinya, kita memberlakukan ajaran Kristus dengan serius. Namun jangan salah duga. Kita melakukan ajaran Kristus bukan supaya kita dikasihi Allah, tetapi karena kita sudah dikasihi oleh Allah, maka kita memberlakukan apa yang diajarkan Kristus. Roh Kudus yang dikaruniakan Allah di dalam pikiran dan hati kita, akan memampukan kita meninggalkan kebodohan dosa. Kita harus waspada, supaya tidak mengulangi kebodohan orang-orang Farisi dan ahli taurat yang enggan menempuh perubahan hidup.

Apa yang Abraham dan hambanya tempuh saat harus mengambil pilihan dalam hidup dapat menjadi inspirasi bagi kita. Apa saja? Pertama, kesadaran bahwa diri kita terbatas dan memiliki kelemahan sehingga kita harus senantiasa berpijak pada apa yang Allah perintahkan. Kedua, kita mau menetapkan kriteria pilihan yang sesuai dengan kebenaran yang Allah tegaskan. Ketiga, kita mau menempuh proses yang Allah berikan dengan setia di jalan yang benar dan tidak kehilangan pengharapan untuk menerima apa yang dijanjikan Allah.

Saat kita diperhadapkan dengan pilihan-pilihan yang penting dalam hidup, apakah kita mau mengakui kelemahan-kelemahan diri kita? Apakah perintah kasih Allah tetap menjadi yang terutama saat kita menentukan kriteria-kriteria dalam pilihan hidup? Apakah kita mau berproses dalam kesetiaan cinta kasih kepada Allah dan sesama, di jalan yang benar, dalam menantikan jawaban terhadap pergumulan hidup kita?

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 29 Juni 2014

diposkan pada tanggal 25 Jun 2014 01.50 oleh Admin Situs GKI Halimun

“Secangkir Air Sejuk”

Kejadian 22:1-14, Mazmur 13, Roma 6:12-23, Matius 10:40-42

Kasih yang berkorban dan bukan mengorbankan
Kasih yang berasal dari sorga, menolak dengan tegas tindakan kekerasan yang mengorbankan sesama. Sebab, kasih tidak pernah mengorbankan. Kasih itu sejatinya berkorban. Kasih yang sejati selalu memberi dan bukan melulu ingin mendapatkan. Oleh sebab itu jelas sekali, di tengah bangsa-bangsa yang waktu itu dengan begitu mudahnya mengorbankan anak-anak demi mendapat berkah, Allah menyetop tindakan Abraham, sewaktu ia hendak menyembelih Ishak, darah dagingnya sendiri. Apakah di dalam hidup kita sekarang ini, pikiran dan hati kita mau dibanjiri oleh kasih yang berasal dari sorga itu? Kasih yang tidak pernah mengorbankan orang lain, tetapi berkorban demi orang lain.

Tuhan menyediakan pilihan-pilihan

Sebagi ciptaan-Nya, kita diberikan Allah akal budi, hati nurani dan hikmat suci dalam mengambil pilihan-pilihan hidup. Saat mengalami kesusahan dan seolah-olah menjumpai jalan buntu, dengan hikmat suci Allah akan menolong kita untuk menjumpai pilihan-pilihan lain yang dapat kita tempuh. Orang yang serius menghidupi imannya dengan sungguh, tidak cepat menilai keadaan sulit yang dihadapinya sebagai jalan buntu. Sebab dengan iman ia menyadari bahwa pertolongan Tuhan datang dalam bentuk yang tidak terduga. Abraham mengalami itu. Keterbukaannya kepada perintah dan bimbingan Allah, menolong dia untuk melihat seekor domba jantan yang diimaninya disediakan Allah, sebagai pengganti Ishak yang hendak dikorbankan olehnya. Apakah sekarang ini mata, telinga, pikiran dan hati kita cukup peka kepada Firman Allah, sehingga kita dimampukan-Nya menjumpai alternatif-alternatif pilihan yang dapat kita ambil saat sedang mengalami kesusahan?

Iman yang bertumbuh, berkembang dan berbuah
Dengan cara apakah iman dapat bertumbuh, berkembang dan berbuah? Dengan dihidupi dalam berbagai kondisi hidup nyata. Situasi yang menyenangkan dan menyakitkan hati, keberlimpahan dan kekurangan, sukacita dan duka cita, semuanya dapat menjadi sarana bagi pertumbuhan iman. Mengapa Abraham acap kali disebut sebagai bapa orang beriman? Karena di dalam berbagai peristiwa hidup yang ia hadapi, Abraham tidak pernah melepaskan pengharapannya kepada Allah. Abraham mau dituntun dan dibentuk Allah. Apakah dalam situasi hidup nyata iman kita teruji kebenarannya? Apakah kita berkenan untuk dibentuk dan diarahkan hikmat Firman Allah?

Allah hadir memberikan kelegaan
Pemazmur (Mzm 13:1) mempertanyakan kehadiran kuasa Allah saat ia susah. Di mana Allah? Allah setia dengan kasih-Nya. Allah ada. Tetapi memang membutuhkan iman, pengharapan dan kasih untuk menyadari kehadiran-Nya. Kehadiran Allah tidak selalu melenyapkan kesusahan, tetapi Allah juga sering kali hadir dalam bentuk solidaritas, kesediaan-Nya berjalan bersama kita di dalam kesusahan itu. Bukankah itu yang kita imani di dalam kehadiran Tuhan Yesus Kristus di dunia ini? Ia merasakan apa yang dirasakan manusia. Ia menempuh sengsara dan derita untuk menunjukkan keberpihakan-Nya dalam mengangkat kita dari kebodohan dosa. Di dalam Tuhan Yesus Kristus, Allah hadir memberikan kelegaan bagi kita. Apakah sekarang ini kita merasakan Allah begitu jauh? Atau jangan-jangan kita yang terlalu keras hati untuk menyadari kehadiran-Nya yang begitu dekat?

Hidup dalam kelegaan karunia Allah
Sebagai umat perjanjian baru, kita hidup di dalam suasana baru. Kita mengimani bahwa pikiran, hati dan tindakan kita bukanlah hanya milik kita saja, tetapi juga dengan kerelaan, mau menerima intervensi suci karunia cinta kasih Tuhan yang kita amini hadir dalam setiap pembacaan Firman Tuhan. Dalam kelegaan yang diberikan oleh Allah itu kita dimampukan untuk menunjukkan solidaritas, mendukung orang-orang yang sedang berjuang untuk menghadirkan suasana baru yang dipenuhi kasih sebagaimana dikehendaki Allah di tengah dunia ini. “Secangkir air sejuk” (Mat. 10:42), tentu bukan sekadar kita pahami secara harfiah saja. “Secangkir air sejuk”, dapat hadir juga dalam bentuk perhatian, tindakan nyata, dukungan, kerja keras, keterlibatan diri kita untuk menghadirkan kelegaan kepada orang-orang yang mengupayakan kebaikan bagi dunia ini. Kapan terakhir kali anda menyambut pesan sekaligus orang yang membawa pesan demi kebaikan anda sesama? Apa yang menjadi tanggapan anda?

(Pdt. Essy Eisen)


Renungan Warta 22 Juni 2014

diposkan pada tanggal 19 Jun 2014 09.58 oleh Admin Situs GKI Halimun

Memilih Dan Memperjuangkan Kebenaran

Matius 10 : 24-39

Tuhan Yesus Kristus menyatakan apa yang benar bagi dunia ini melalui segenap pengajaran, karya serta teladan hidup-Nya (Yoh. 14:6). Kebenaran yang dihadirkan Tuhan Yesus itu menjadi penting untuk dihidupi dengan serius, sebab hidup yang tidak mau mengikuti kebenaran yang dihadirkan Kristus akan berujung kepada kebinasaan.

Semakin hari usia kita bertambah. Begitu banyak peristiwa kehidupan kita alami. Dalam pertolongan Roh Kudus kita semua dimampukan untuk berproses menjadi pribadi yang semakin mengikuti bagaimana cara Kristus hidup untuk memuliakan nama Bapa. Apa yang menjadi kerinduan Tuhan Yesus demi terwujudnya dunia yang lebih baik, dunia yang diselamatkan dari kebodohan dosa, haruslah menjadi kerinduan kita juga sampai menutup mata.

Kebenaran yang Kristus ajarkan kepada kita untuk kita lakukan, tidak dapat dan tidak boleh ditutupi. Mengapa? Sebab walaupun kadang menyakitkan dan sering kali enggan kita tempuh dan hidupi, kebenaran itu akan memerdekakan kita dari kepedihan dan kematian jiwa. Setiap kali dalam waktu teduh kita, dalam pembacaan Alkitab, kita harus mau mendengar suara Kristus dan menuruti ajaran-Nya. Apapun konsekuensinya.

Penghalang terbesar untuk menjadi pelaku kebenaran ialah ketakutan. Tetapi kalau kita renungkan lebih dalam, ketakutan itu biasanya berangkat dari keegoisan kita semata-mata. Seharusnya, ketakutan yang sehat itu ialah ketakutan kepada Allah. Bukan takut gara-gara diri kita jadi susah.

Manakala kita tidak memberlakukan kasih atau kita enggan untuk berkorban, atau kita mengabaikan apa yang seharusnya dikerjakan dengan baik sebagai bukti cinta kasih kita kepada Allah, harusnya itulah yang membuat kita takut. Sebab dengan mengabaikan apa-apa yang penting itu, yang harusnya kita kerjakan sebagai pengikut Kristus, kita hanya akan menambah masalah bagi jiwa kita dan membiarkan kebinasaan kita dan sesama kita lambat laun datang menghampiri.

Dengan iman, kita yakin dan merasa aman bahwa yang paling berkuasa dalam hidup ini ialah Allah. Jika kita diberikan kesempatan untuk hadir di dunia ini, kita juga harus yakin bahwa Allah memiliki rencana yang baik bagi kita semua. Tetapi memang terkadang rencana itu tidak dapat atau belum dapat kita lihat dengan utuh. Akhirnya, kita menjadi begitu cepat mengeluh, marah dan menyerah pada saat kita harus melewati jalan yang sulit dalam hidup beriman.

Saat menghadapi peristiwa hidup yang menurut ukuran dan penilaian kita tidak enak, kita dapat jatuh ke dalam dosa dengan menyangkali apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Kata-kata kita menjadi kata-kata yang kasar dan menyerang. Atau sebaliknya, kita malah diam seribu bahasa saat menyaksikan kejahatan dan ketidakadilan yang dialami oleh orang lain. Atau, -ini yang parah-, kita malah merasa tenang dan senang saat melakukan tindakan keji, kasar dan keras kepada orang-orang yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita.

Mengikut Kristus memang dipenuhi konfrontasi. Bukan konfrontasi dalam arti yang buruk, tetapi dalam pengertian sebagai kesempatan memilih. Pilihannya sebenarnya sederhana, yaitu apakah kasih kita tetap nyata kepada-Nya dan kepada sesama kita, walaupun kita mengalami apa yang mungkin akan membuat kita tidak aman dan nyaman lagi, atau kasih kita berganti menjadi benci dan pengabaian untuk memberlakukan kasih dengan mencari cara menyakiti-Nya dan menjahati sesama kita.

Saat kita diperhadapkan dengan pilihan untuk melakukan, menguak dan memperjuangkan kebenaran, ingatlah kata-kata Tuhan kita Yesus Kristus: “Dan orang yang tidak mau memikul salibnya dan mengikuti Aku tidak patut menjadi pengikut-Ku. Orang yang mempertahankan hidupnya, akan kehilangan hidupnya, tetapi orang yang kehilangan hidupnya karena setia kepada-Ku, akan mendapat hidupnya." (Mat. 10:38-39, menurut terjemahan Alkitab dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari)

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 15 Juni 2014

diposkan pada tanggal 14 Jun 2014 09.10 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 14 Jun 2014 09.13 oleh Admin Situs GKI Halimun ]

Misteri 3 in 1

(Kej. 1:1 - 2:4a; Mzm. 8; II Kor. 13:11-13; Mat. 28:16-20)

Hidup di Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya dan juga agama, seringkali pemahaman kekristenan tentang Bapa, Anak dan Roh Kudus sulit dipahami oleh orang lain. Jangankan oleh umat beragama lain, umat Kristen sendiri banyak yang kurang memahami istilah Trinitas. Sehingga jika berdialog dengan umat beragama lain banyak umat Kristen yang menghindari tema Trinitas. Bicara tentang Trinitas memang menyangkut rahasia Allah yang dalam dan luas, karena itu tak mungkin sepenuhnya dimengerti oleh pemikiran manusia.

Namun apakah karena Trinitas Allah merupakan misteri ilahi yang tak terpecahkan, kita tidak diperkenankan untuk memberikan jawabnya? Apakah untuk menjawab masalah Trinitas Allah, kita cukup berkata: “Trinitas merupakan rahasia Allah yang tak terpecahkan, jadi cukuplah saudara percaya”. Memang, Trinitas Allah adalah rahasia Allah yang dalam, ilahi dan tak terbatas, tetapi sekaligus juga merupakan rahasia Allah yang sesungguhnya telah disingkapkan di dalam karya penebusan Kristus.

Berulangkali umat percaya terjebak untuk menjawab dan meyakinkan dunia soal Trinitas Allah dengan pola pemikiran matematis. Seakan-akan persoalan Trinitas Allah dapat diterima oleh ilmu pengetahuan. Jawaban tentang Trinitas Allah biasanya dengan: “3 = 1”, dan “1 = 3”. Sebenarnya pakai logika apapun jawaban tersebut tidaklah logis. Kadang untuk memuaskan logika, kita lalu mengubahnya menjadi bentuk perkalian, yaitu: “1x1x1 = 1”. Tampaknya dengan jawaban tersebut kita menganggap telah berhasil menjawab masalah Trinitas Allah. Inilah jawaban dengan “pola matematika”. Padahal Allah yang disaksikan oleh Alkitab bukanlah “esa secara bilangan”. Melainkan merupakan “keesaan secara relasional” atau “keesaan Allah dalam hubungan sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus”.

Dalam Matius 28:16-20, Yesus menegaskan otoritas-Nya sebagai Penguasa. Otoritas (exousia) dipahami sebagai otoritas ilahi. Murid (mathēteuō) dipahami sebagai pengikut/pelajar. Murid-murid selalu mengidentifikasikan diri dengan Kristus dan belajar kepada-Nya. Dalam pengutusan-Nya untuk membaptis bangsa-bangsa yang menjadi murid, Yesus menggunakan “formula tigalapis.” Melalui formula ini, Bapa, Anak dan Roh Kudus, hadir bersama; cara dimana Allah menjumpai manusia berangkat dari kasih-Nya, mulai dari kekekalan sampai kekekalan Allah yang Esa itu. Ungkapan teknis untuk menggambarkan relasi ini digunakan kata perikhoresis (saling terhubung).

Maksud Trinitas Allah secara perikhoresis adalah hakikat diri Allah yang tidak bercampur sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus; tetapi pada saat yang sama terjalin kesatuan pribadi ilahi yang intim. Walau keberadaan Allah sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus tidak bercampur, tetapi juga tidak dapat dicerai atau dipisahkan satu sama lain, seperti sebutir telur yang terdiri dari: kuning telur, putih telur dan kulit telur. Dalam hal ini kita harus ingat bahwa ilustrasi “telur” hanyalah suatu upaya untuk menjelaskan atau memvisualisasikan sesuatu yang abstrak. Ilustrasi apapun tidak akan pernah tepat untuk menjelaskan kebenaran misteri Trinitas Allah. Namun yang pasti melalui pemahaman Trinitas Allah secara perikhoresis, kita disadarkan akan hubungan atau relasi Allah sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus dalam ikatan kasih.

Karena itu dalam iman kepada Trinitas Allah, kita dimampukan untuk hidup dalam kasih dan memelihara keutuhan ciptaan, yaitu bersama dengan Allah-sesama-alam secara harmonis. Perenungan bagi kita saat ini adalah, Sudahkah iman kita yang percaya kepada Allah di dalam Bapa-Anak-Roh Kudus melahirkan sikap kasih yang relasional dengan sesama dan alam ciptaan? Amin.

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 8 Juni 2014

diposkan pada tanggal 14 Jun 2014 09.06 oleh Essy Eisen

Diutus dan dimampukan untuk bersama menjadi saksi

Bilangan 11:24b-30; Mazmur 104:24-35; 1Korintus 12:3-13; Yohanes 20:19-23

Pada suatu hari seorang teman dari gereja lain datang menemui saya. Dengan wajah sedih dia mengatakan bahwa dia merasa tidak diurapi oleh Roh Kudus. Rupanya, sudah dua tahun dia menjadi jemaat gereja tertentu. Setiap minggu, semua jemaat di gereja itu berbahasa roh, kecuali teman saya ini. Hal itu membuat teman saya tersebut merasa sebagai orang yang tidak diberkati sebab tidak memperoleh karunia Roh Kudus. Akibatnya, setiap Minggu dia dengan perasaan terkucil duduk di deretan paling belakang di gerejanya. Teman saya ini menjadi kurang bersemangat datang ke gereja, apalagi terlibat mengikuti berbagai kegiatan di sana. Karena itulah dia datang untuk minta pendapat.

Barangkali masih banyak orang Kristen yang berpendapat seperti teman saya ini, bahwa karunia Roh Kudus itu selalu diterima dalam bentuk kemampuan berbahasa roh, penyembuhan masal, dan berbagai peristiwa “luar biasa”. Menurut pemikiran seperti ini, jika seorang Krsiten tidak bisa berbahasa roh maka dia belum mendapat curahan Roh Kudus.

Akibat dari pemikiran seperti ini membuat orang menganggap bahwa orang yang diutus untuk mengabarkan Injil hanyalah orang “pilihan” yang memiliki karunia berbahasa roh, bernubuat, menyembuhkan, dan berbagai karunia yang mencengangkan. Dengan pemikiran seperti itu juga maka pemberitaan Injil dianggap sebagi proyek pribadi dari orang-orang yang “terpilih” tersebut. Benarkah demikian?

Dalam 1 Korintus 12:3-13 Paulus menjelaskan bahwa karunia Roh Kudus itu tidak hanya berupa bahasa roh, tapi juga berkata-kata dengan hikmat, berkata-kata dengan pengetahuan, karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk bernubuat, dan sebagainya (ayat 4-10). Semua karunia itu dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama. Paulus juga menekankan bahwa karunia Roh Kudus itu diberikan kepada jemaat secara keseluruhan sebagai satu tubuh (ayat 12, 13).

Dengan mengacu pada penjelasan rasul Paulus ini kita menjadi mengerti bahwa karunia Roh Kudus itu bisa hadir dalam berbagai bentuk. Tiap orang tidak perlu merasa saling iri terhadap karunia yang diperoleh saudaranya, sebab semua itu diberikan oleh Roh yang sama sebagai anugerah semata-mata untuk perlengkapan mengabarkan Injil. Tiap karunia yang diberikan kepada seseorang akan memperlengkapi karunia yang diberikan kepada orang lain. Semua karunia itu diberikan untuk membekali setiap umat menjalankan tugas sebagai saksi. Yang tidak kalah penting untuk diingat adalah bahwa semua karunia itu Allah berikan bagi jemaat sebagai keseluruhan. Karena itu tugas mengabarkan Injil bukanlah proyek pribadi, melainkan tugas seluruh jemaat sebagai satu kesatuan tubuh Kristus.

Penjelasan Paulus dalam 1 Korintus 12:3-13 tentang berbagai karunia dan tugas pengutusan oleh Yesus Kristus dalam Yohanes 20:19-23 membuat kita juga mengerti bahwa setiap kita diutus menjadi saksi. Tidak ada lagi alasan bagi kita untuk menolak tugas sebagai saksi karena merasa tidak diberi karunia. Juga bagi teman yang saya ceritakan di atas tadi.

Setelah kami ngobrol panjang lebar, akhirnya teman saya itu memutuskan untuk membuat kolam ikan di lahan gerejanya yang kebetulan kosong dan cukup luas. Atas persetujuan pendetanya, dia mulai menggerakkan jemaat pemuda untuk mengelola kolam-ikan-air-deras tersebut. Setelah empat bulan kolam itu siap dipanen ikannya. Lalu jemaat pemuda mulai mendatangi penduduk di sekitar gereja (yang kebetulan tingkat ekonominya rendah) untuk menawarkan ikan dengan harga terjangkau. Banyak penduduk dengan senang hati datang ke gereja untuk membeli ikan hasil panen tersebut.

Pada suatu hari teman saya itu datang lagi berkunjung, tapi kali ini dengan wajah berseri. Dia dengan bersemangat lalu bercerita tentang proyek kolam ikannya yang membuat banyak orang merasa senang. Menurut dia, sekarang penduduk di sekitar gereja menjadi lebih ramah bahkan menawarkan diri untuk ikut mengurus kolam ikan. Mendengar cerita itu saya pun ikut senang, bukan saja karena penduduk miskin yang mendapat tambahan gizi dengan biaya murah, tapi juga karena hari itu saya Tuhan ijinkan menyaksikan bahwa Roh Kudus memberi karunia yang luar biasa kepada kawan saya itu. Bukankah Roh Kudus yang sama juga memberi masing-masing kita karunia yang luar biasa untuk menjadi saksi?

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 1 Juni 2014

diposkan pada tanggal 30 Mei 2014 00.20 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui30 Mei 2014 01.23 ]

Kejahatan Kalah Dengan Kuasa Kasih Allah

Kisah Para Rasul 1:6-14, Mazmur 68:2-10, 32-35, 1 Petrus 4:12-14, 5:6-11, Yohanes 17:1-11

Apakah yang membuat seseorang mampu hidup bersama tanpa berkelahi? Ya betul! Kerendahan hati dan kemahiran untuk menerima perbedaan dengan tidak mementingkan diri sendiri. Saya kenal seseorang yang pernah mengatakan begini: “Hati saya telah disakiti olehnya, tetapi saya tidak pernah sakit hati!”. Bagi saya orang ini sudah mengalami mukjizat! Ya! mukjizat perubahan hati yang akan membuatnya damai tiada bertara.

Kejahatan selalu akan kalah oleh kuasa kasih Allah. Allah selalu membela orang yang susah, sedih dan yang mengalami penderitaan karena berpihak kepada kasih. Sebaliknya, orang yang tinggi hati, yang hatinya dipenuhi kebencian, amarah, dendam, kejahatan kepada orang lain, sebenarnya sedang berhadapan dengan Allah sendiri, dan sudah pasti ia tidak akan pernah menang! Tidak ada sejarahnya Iblis itu menang melawan kuasa kasih Allah.

Murid-murid Yesus kembali ke Yerusalem, ke kota di mana Guru Agung mereka dibunuh oleh orang-orang yang diikat dalam kebodohan dosa. Apa yang membuat mereka mampu melakukan itu? Sebab Yesus Kristus, yang telah menang itu memperlengkapi mereka dengan kuasa kasih untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Mereka sehati dan berkumpul bersama dalam persekutuan yang saling menguatkan dalam doa. Mereka menjadi saksi hidup bagi penduduk Yerusalem, bahkan kemudian menyebar sampai ke seluruh dunia, untuk memberitakan Injil Kristus yaitu bahwa kejahatan sudah kalah oleh kuasa kasih.

Tentu tidak mudah menghidupi kuasa kasih dalam kehidupan bersama. Dunia yang acap kali dipenuhi oleh orang-orang yang dipikat kebodohan dosa pasti menolak pembaruan hidup karena kuasa kasih. Itu sebabnya pengikut Kristus yang setia memberlakukan kasih di dalam hidupnya, hampir pasti akan mengalami aniaya dan penderitaan, penolakan dan cibiran. Tetapi Allah peduli. Tangan Allah jauh lebih kuat daripada kekejian dosa. Tangan Allah akan meninggikan dan menguatkan anak-anak-Nya yang sedang menghadapi kesusahan karena setia melakukan kasih.

Sebagai pengikut Kristus, kesadaran untuk berjaga-jaga dan melawan kuasa kejahatan (kuasa Iblis) dengan kuasa kasih itu harus terus dihidupi sampai kita menutup mata. Iblis, dengan kuasa jahatnya acap kali bekerja tak kasa mata di dalam hati dan pikiran seseorang untuk terus mencari mangsa supaya orang-orang mau mengikutinya untuk melakukan apa yang jahat.

Iblis dengan tampang jelek dan menakutkan itu, hanya ada di film-film. Iblis yang sejati itu bekerja tak kasa mata dan mempengaruhi dalam alam bawah sadar seseorang, menipu orang itu untuk mengikuti kejahatannya. Tetapi kuasa jahat itu tidak besar. Kuasa itu akan kalah oleh iman yang teguh, yaitu pengharapan dalam diri yang yakin bahwa kuasa yang sudah memenangkan Yesus Kristus dari maut, akan memampukannya untuk juga memenangkan kuasa kejahatan yang membodohkan itu.

Bagi pengikut Kristus yang memiliki iman yang teguh, penderitaan karena melakukan cinta kasih dilihat sebagai cara Allah menyempurnakan pribadinya menjadi pribadi yang semakin memuliakan Allah. Gambar Allah dalam dirinya menjadi semakin jelas setiap hari. Pribadi yang seperti itu sungguh akan mengalami damai sejahtera yang asalnya dari dalam, memancar ke luar, nyata dalam perkataan dan perbuatan.

Tidak sia-sia mengenal Allah yang benar, yang diperkenalkan Tuhan Yesus kepada kita. Allah yang kita panggil Bapa itu, mengutus Yesus Kristus untuk menunjukkan kepada kita keagungan hidup yang akan dikaruniakan Allah kepada setiap orang yang setia menyelesaikan tugas-tugas yang Ia percayakan kepadanya. Allah akan menjaga, memelihara dan mempersatukan orang-orang yang rendah hati dan mau percaya kepada-Nya untuk menghadapi kuasa jahat yang membinasakan. Kejahatan selalu akan dikalahkan oleh kuasa kasih Allah!

Renungkanlah
  • Apakah sekarang ini anda sedang sakit hati? Apa sebabnya? Apa yang akan anda lakukan sekarang?
  • Sejauh yang anda kenali, Allah itu membela orang jahat atau orang baik? Mengapa?
  • Apa yang terjadi dengan hidup anda setelah anda mengenal Allah melalui Yesus Kristus? Bagaimana orang-orang di sekitar anda melihat kehidupan anda sekarang ini?

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 25 Mei 2014

diposkan pada tanggal 22 Mei 2014 08.40 oleh Admin Situs GKI Halimun

Tindakan kasih = Tanda Kehadiran Kristus

Renungan warta pada Minggu ini menggunakan pertanyaan-pertanyaan pendalaman bacaan Alkitab pada kebaktian umum Minggu ini sebagai alat bagi kita untuk giat membaca dan memahami pesan Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Temukanlah betapa hikmat Firman Allah begitu kaya, dan akan menolong kita untuk menyadari bahwa saat tindakan kasih dilakukan, Kristus sungguh hadir!

Kisah Para Rasul 17:22-31

17:22 Minggu kemarin kita membaca bahwa Paulus berdiri menyaksikan Stefanus dirajam sampai mati. Sekarang, Paulus berkhotbah di Athena di Areopagus. Tempat apa itu Areopagus? Mengapa Paulus memilih pergi ke sana ketimbang pergi ke rumah ibadat Yahudi (sinagoga) setempat?

17:23 Jika Paulus berkelana ke kota-kota besar kita seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, Semarang dan kota besar lainnya, apa kira-kira yang akan dikenali Paulus sebagai objek sesembahan kita?

17:24-29 Apa isi khotbah Paulus? Apakah ia menggunakan sumber-sumber Alkitab? Bagaimana Paulus menjelaskan tentang Allah? Tentang Kristus?

17:24 Bagaimana anda akan menjelaskan Allah kepada orang yang belum percaya kepada-Nya?

17:25 Apa maksud Paulus dengan mengatakan bahwa Allah “tidak dilayani oleh tangan manusia?”

17:26 Siapa “satu orang” yang dimaksud di sini? Apakah “batasan-batasan” kediaman di sini lebih tepat dipahami dari segi geografis atau politis?

17:27 Apa artinya “mencari dan menjamah Allah”? Apakah kita dapat melakukannya sekarang ini?

17:28 Paulus mengutip sastra hikmat dari budaya Yunani di sini. Apakah sastra hikmat dari budaya kita dapat kita gunakan untuk membantu kita menjelaskan Injil kepada orang lain sekarang ini?

17:29 Mengapa Paulus mengatakan “kita berasal dari keturunan Allah”? Apa maksudnya?

17:30 Kapankah itu “zaman kebodohan”? “Pertobatan” seperti apakah yang dimaksud di sini?

17:31 Siapa yang dimaksudkan Paulus “Dia” yang dibangkitkan Allah antara orang mati?

1 Petrus 3:13-22

3:13 Apa tanggapan anda terhadap pertanyaan ini? Mengapa? Jika kata “jahat” ditukar tempat dengan kata “baik” apakah tanggapan terhadap pertanyaan ini tetap sama? Mengapa?

3:14 Siapa “mereka” di sini? Apa yang “mereka” takuti? Apa yang sekarang ini anda takuti?

3:15 Menurut anda, bagaimanakah cara menguduskan Kristus di dalam hati sebagai Tuhan?

3:16 Bagaimana caranya memiliki hati nurani yang murni saat anda memberikan penjelasan tentang pendapat dan sikap hidup anda kepada orang lain yang sedang memfitnah anda?

3:17 Apakah dengan mengetahui penyebab penderitaan akan memengaruhi cara kita menjalani bahkan mengatasi penderitaan itu? Mengapa?

3:18 Apa yang dijelaskan ayat ini tentang makna kebangkitan Kristus?

3:19 Apakah ada kaitan ayat ini dengan “turun ke dalam kerajaan maut” dalam pengakuan iman rasuli?

3:20 Apakah yang dimaksudkan Petrus (penulis surat ini) hanya terbatas pada orang-orang yang meninggal karena air bah itu saja? Atau?

3:21 Apa yang dijelaskan ayat ini tentang makna sakramen baptisan yang kita terima?

3:22 Siapa atau apa yang dimaksud dengan segala malaikat, kuasa dan kekuatan di sini?

Yohanes 14:15-21

14:15 Mengapa pertanyaan ini dimulai dengan “Jikalau”? Apa artinya? Apa yang menjadi dasar seseorang dapat “mengasihi” Kristus? Apa saja “segala perintah Kristus” yang anda ketahui?

14:16 Apakah permintaan Kristus kepada Bapa di sini termasuk juga permintaan supaya kita dapat menuruti segala perintah-Nya? Mengapa “Penolong” di sini menggunakan huruf besar di awal kata?

14:17 Perhatikan “Roh Kebenaran” menggunakan huruf besar. Apa artinya? Pada 14:15, Yesus menggunakan “akan” tetapi pada ayat ini kita menjumpai kalimat “..Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Jadi dalam terang saat ini dan masa depan. Apa artinya?

14:18 “Aku datang kembali kepadamu”. Apakah Yesus berbicara tentang kedatangan Roh Kudus, kedatangan kembali di akhir zaman, atau kedua-duanya?

14:19 “Tinggal sesaat lagi” apa maksudnya?

14:20 “Pada waktu itu” kapankah waktu itu?

14:21 Apakah Yesus menuntut orang untuk mengasihi-Nya? Apakah Yesus pamrih? Pada saat apakah Yesus akan menyatakan diri-Nya?

(Pertanyaan-pertanyaan disusun oleh J.E. Harris dengan revisi oleh Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 18 Mei 2014

diposkan pada tanggal 22 Mei 2014 08.35 oleh Admin Situs GKI Halimun

Setia berarti taat dan tidak berpaling dari misi-Nya

Kisah Para Rasul 7:55-60; Mazmur 31:1-5, 15-16; I Petrus 2:2-10; Yohanes 14:1-14

Di stasiun Shibuya, Tokyo terdapat patung perunggu berbentuk seekor anjing. Patung itu dibuat karena terinspirasi oleh kisah nyata kesetiaan seekor anjing terhadap tuannya. Anjing bernama Hachiko dengan setia menunggu kepulangan tuannya yang bernama Dr. Eisaburo Ueno di stasiun Shibuya. Hachiko tidak tahu jika tuannya yang adalah seorang dosen di Universitas Tokyo telah meninggal dunia pada bulan Mei 1925, Hachiko terus menunggu di stasiun Shibuya selama 9 tahun hingga akhirnya mati tahun 1935. Patung Hachiko dibuat untuk mengenang Hachiko yang begitu setia terhadap tuannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “setia” berarti berpegang teguh pada janji atau pendirian. Setia kepada Yesus berarti berpegang teguh pada janji-Nya. Setia kepada misi yang Tuhan percayakan kepada kita bukanlah perkara yang mudah. Sebab, ketika kita sedang berbicara tentang kesetiaan, maka di sana kita sedang berbicara tentang upaya tanpa putus asa untuk menghadapi dan mengatasi persoalan hidup yang besar dan sulit. Dalam kondisi seperti inilah, kesetiaan terhadap misi Tuhan yang dipercayakan atas kita dipertaruhkan. Itu pula yang terjadi dalam diri Stefanus (Kis. 7:17-60).

Sebagai murid Kristus yang setia, Stefanus tahu resiko apa yang harus ia tanggung saat berhadapan dengan Mahkamah Agama, dalam upayanya memberikan pembelaan terhadap tuduhan palsu yang dialamatkan kepadanya. Ia menjawab tuduhan itu dengan cara yang jitu. Alih-alih melontarkan tuduhan lain, Stefanus justru menunjukkan fakta yang tidak bisa dibantah oleh Mahkamah Agama. Ini adalah salah satu cerminan dari sikap orang yang memelihara iman percayanya, berbicara atas dasar fakta dan bukan sembarangan melontarkan tuduhan palsu. Stefanus memiliki sikap pengendalian diri yang baik.

Sikap Stefanus berbeda dengan sikap anggota Mahkamah Agama, mereka tidak bisa mengendalikan diri, justru malah dikuasai emosi (ayat 57-58). Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin lembaga keagamaan, seharusnya anggota Mahkamah Agama mampu mengendalikan diri dan bukannya malah dikendalikan oleh emosi yang meluap-luap.

Sikap anggota Mahkamah Agama mengakibatkan kematian Stefanus. Orang-orang yang dipercaya untuk berada dalam lembaga keagamaan guna membimbing, menjaga dan memampukan umat untuk menjalani kehidupan religius yang lebih baik, justru malah melakukan pembunuhan. Untuk mempertahankan keamanan dan kenyamanan diri, anggota Mahkamah Agama justru melakukan hal yang tercela. Mereka mempertahankan keamanan dan kenyamanan diri dengan menghalalkan segala cara. Termasuk menghilangkan nyawa orang lain.

Kematian Stefanus ternyata tidak menyurutkan langkah apalagi menghilangkan benih kepercayaan yang sudah ditabur. Kematian Stefanus bukan kematian yang sia-sia, ia justru menjadi martir. Dari kematian itu, kepercayaan orang-orang Kristen pada jemaat perdana justru semakin tumbuh. Sikap Stefanus yang terus dengan setia memelihara iman percayanya kepada Tuhan, sekalipun kehilangan nyawanya, justru menjadi inspirasi bagi banyak orang percaya sampai hari ini. Stefanus memberikan teladan bagi kita mengenai sikap orang yang menjadi utusan Tuhan. Meskipun mendapat perlakuan yang tidak simpatik, Stefanus tetap mengerjakan misi yang dipercayakan Tuhan atas dirinya dengan setia.

Kisah Stefanus seharusnya menjadi inspirasi bagi kita dalam mengikut jalan Tuhan di tengah- tengah negara Indonesia yang majemuk. Saat ini Indonesia berada dalam sebuah kondisi dimana sikap toleransi mulai luntur, ibadah mulai diwarnai intimidasi, juga kekerasan dengan jubah agama yang semakin merebak, membuat kehidupan bersama menjadi tidak lagi nyaman. Pada saat seperti inilah keteguhan atas apa yang kita percayai diuji, apakah saat situasi sulit mulai menekan, kita tetap mengandalkan Yesus? Atau justru menukar Yesus dengan kenyamanan duniawi? Saat iman percaya kepada Yesus digoyahkan dengan berbagai macam intimidasi, beranikah kita tetap setia? Selamat berefleksi.

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 11 Mei 2014

diposkan pada tanggal 13 Mei 2014 23.24 oleh Admin Situs GKI Halimun

Siapakah Yesus Bagi Kita?

Kisah Para Rasul 2:42-47; Mazmur 23; 1 Petrus 2:19-25; Yohanes 10: 1-10

Siapakah pendeta bagi jemaatnya? Jawabannya bisa bermacam- macam. Sebagian jemaat menganggap pendeta sebagai orang yang diurapi Tuhan. Karena itu mereka sangat menghormati pendeta dan tidak berani “macam-macam” sama pendeta. Mereka sangat taat terhadap ujaran sang pendeta dan tidak pernah berani membantahnya. Bagi mereka, pendeta adalah “wakil Tuhan” yang sempurna menjalankan perintah Tuhan. Dan karena itu juga, mereka tidak bisa menerima kalau pendeta melakukan kesalahan.

Tapi ada juga jemaat yang menganggap kependetaan hanyalah salah satu profesi di antara profesi-profesi yang lain. Kelompok ini memperlakukan pendeta sebagai seorang profesional yang bekerja di gereja. Pendeta bisa dikritisi kerjanya. Bagi kelompok ini, sama seperti para profesional lainnya, seorang pendeta bisa saja melakukan kesalahan.

Dua perlakukan yang berbeda terhadap pendeta itu dilatarbelakangi dua pemahaman yang berbeda terhadap pendeta. Yang satu menganggap pendeta sebagai ”yang diurapi Tuhan”, dan yang lain menganggapnya sebagai seorang profesional. Dengan kata lain, keyakinan yang kita miliki terhadap sesuatu atau seseorang akan mempengaruhi tindakan kita terhadap sesuatu atau seseorang tersebut.

Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan kita dengan Yesus. Sikap kita terhadap Yesus dipengaruhi pemahaman kita tentang Yesus itu. Siapakah Yesus bagi kita?

Jika Yesus bagi kita hanyalah sumber berkat, maka bisa jadi hubungan kita dengan Yesus semata-mata hanya akan dipenuhi permohonan agar Dia mengabulkan segala apa yang kita minta, tanpa ada keinginan untuk hidup menurut apa yang diajarkan-Nya.

Jika Yesus bagi kita hanyalah sumber keajaiban, maka bisa jadi hubungan kita dengan Yesus cuma dipenuhi ibadah dan doa-doa yang dipenuhi harapan terjadinya keajaiban, tanpa merasa perlu adanya perubahan hidup sesuai yang Dia ajarkan.

Yohanes 10:1-10 mengatakan bahwa Yesus adalah gembala. Dengan mengatakan bahwa Yesus adalah gembala, penulis Injil Yohanes ingin menegaskan bahwa Yesus adalah pemilik dan sekaligus yang memelihara domba-domba. Semua domba harus mengikuti kemana saja gembala itu membawa mereka berjalan. Bila ada domba yang tersesat atau tersangkut semak berduri, maka sang gembala akan mencari dan melepaskannya dari jeratan, serta membawanya masuk kembali ke dalam rombongan. Hubungan antara domba dan gembala yang terjalin bertahun-tahun membuat sang gembala mengenal betul dombanya dan domba- domba itu dapat mengenal suara sang gembala.

Penggambaran Injil Yohanes tentang Yesus sebagai gembala ingin menegaskan bahwa mengikut Yesus itu berarti bersedia menjadikan Yesus sebagai gembala, mau berjalan sesuai dengan rute dan waktu yang dipilih-Nya, berkomitmen hidup sesuai dengan ajaran-Nya. Bagian lain dari bacaan kita memberi contoh sikap hidup umat yang menjadikan Yesus sebagai gembala:
  1. Kisah Rasul 2:42-27 mengisahkan hidup para murid yang ditandai dengan kerinduan terus-menerus untuk belajar Firman Tuhan dalam persekutuan, rajin berdoa, dan selalu berbagi dengan orang lain;
  2. Mazmur 23 menggambarkan bagaimana Tuhan sebagai gembala menuntun, memelihara dan melindungi umat sepanjang hidupnya;
  3. 1 Petrus 2:19-25 menggambarkan bagaimana pembebasan yang dilakukan sang gembala membuat hidup umat berubah, dari hidup yang sesat ke dalam hidup dalam kasih karunia, sehingga umat dapat secara sadar menjalani hidup sesuai dengan yang Allah kehendaki dalam hidupnya.
Tiga contoh di atas dengan jelas memperlihatkan bahwa setiap orang yang menjadikan Yesus sebagai gembala akan hidup dengan cara hidup yang baru, yaitu hidup sesuai teladan Yesus sendiri. Memasuki minggu Paska IV ini kita bersyukur diberi kesempatan kembali untuk bertanya: “siapakah Yesus bagi kita?”. Apakah kita sudah merelakan Yesus menjadi gembala kita?

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 4 Mei 2014

diposkan pada tanggal 2 Mei 2014 02.30 oleh Admin Situs GKI Halimun   [ diperbarui 9 Mei 2014 01.27 oleh Essy Eisen ]

Kecewa?

Kisah Para Rasul 2:14, 36-41, Mazmur 116:1-4, 12-19, 1 Petrus 1:17-23, Lukas 24:13-35

Marah, kecewa, karena tidak dituruti orangtuanya untuk menonton film Spiderman, Valentino, bocah berusia 5 tahun, nekat mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 19 Apartemen Laguna, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Menjelang siang, setelah dimandikan oleh Eva (24) ibunya, Valentino meminta menonton film Spiderman. Namun, ibunya melarang karena sedang sibuk mengurus adiknya. Akibat keinginannya tidak dipenuhi, siswa TK itu langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya. Melihat anaknya mengunci pintu, sang ibu berusaha membuka pintu kamar anaknya, tetapi tidak terbuka. Eva pun meminta bantuan pihak mekanik apartemen yang berada di lantai dua. Setibanya di lantai 2 apartemen, orangtuanya mendengar orang yang jatuh, selanjutnya orangtua korban mengecek bahwa benar korban tersebut anaknya. (dikutip dari Kompas.com 1 Mei 2014). Saat apa yang diharapkan tidak terjadi, orang kecewa. Bahkan menilik kisah nyata ini, mirisnya kekecewaan telah berujung pada maut.

Kleopas dan temannya pergi meninggalkan Yerusalem menuju Emaus. Mereka menjauhi Yerusalem, menjauhi persekutuan dengan murid-murid Yesus yang lain. Beberapa saat sebelumnya mereka mendapati bahwa apa yang mereka harapkan tidak terjadi. Yesus sebagai Guru mereka tidak melawan saat orang-orang berbuat jahat kepada-Nya. Mereka menjadi kecewa. Memang ada kejadian-kejadian tidak biasa pada hari di mana mereka pergi ke Emaus itu. Mereka mendengar bahwa murid-murid perempuan telah menjumpai makhluk surgawi, dan tubuh Yesus tidak ada lagi di kubur itu. Tetapi rupanya fakta-fakta yang masih terpecah-pecah itu, ditambah penafsiran mereka sendiri atas keadaan itu, tidak begitu menolong mereka. Memang demikianlah kekecewaan. Orang yang kecewa itu adalah orang yang cepat menyimpulkan keadaan tanpa berupaya mengolah dengan utuh apa yang terjadi dengan hikmat dan kebijaksanaan yang rendah hati.

Di tengah perjalanan kekecewaan itu ada kabar baik. Tuhan Yesus Kristus yang hidup menjumpai mereka. Dalam tubuh kebangkitan-Nya, Kristus menolong Kleopas dan temannya untuk memahami dengan utuh fakta-fakta yang mereka alami dalam terang Firman Tuhan dan rencana Allah yang utuh. Bukan hanya itu, Kristus yang hidup itu berkenan makan bersama mereka, tanda keramahtamahan yang bersahabat untuk mereka yang sedang bimbang itu. Pasca perjumpaan yang penuh anugerah itu, Kleopas dan temannya kembali lagi ke Yerusalem dengan hati yang baru. Mereka kembali ke dalam persekutuan murid-murid Yesus. Apakah mereka masih kecewa? Tidak! Kini mereka memahami dengan utuh apa yang terjadi dengan Yesus dalam terang kuasa kebangkitan Kristus yang menghidupkan itu (Luk. 24:13-35).

Begitulah memang kuasa paskah. Kebangkitan Kristus yang kita pahami dengan utuh dalam terang keutuhan karya Allah yang Allah sampaikan melalui Firman dan Roh-Nya menolong kita untuk tidak tinggal dalam kekecewaan dan putus asa. Petrus dalam kotbahnya telah menyadarkan banyak orang bahwa karya Kristus telah mengubahkan kehidupan dirinya dan murid-murid yang lain. Petrus dan murid-murid Yesus telah disembuhkan dari kekecewaan. Mereka percaya. Mereka menghidupi kepercayaan mereka. Perubahan hidup itu terjadi karena anugerah Allah yang besar di dalam Tuhan Yesus Kristus. Anugerah itu harus disambut dengan kesediaan diri untuk bertobat, meninggalkan cara hidup lama yang sia-sia dan masuk dalam persekutuan dengan Kristus dan murid-murid-Nya, di dalam gereja-Nya (Kis. 2:14, 36-41).

Dalam surat 1 Petrus 1:17-23 sangat ditegaskan bahwa hidup yang telah ditebus oleh darah dan nyawa Kristus itu tidak lagi diisi dengan benci, tetapi dengan kasih yang tulus. Dengan pertolongan Roh Kudus dan Firman Allah, orang yang telah ditebus Kristus itu menjadi seperti orang yang baru lahir. Pikirannya, hatinya, cara pandang hidupnya, kini menjadi selaras dengan karya dan pengajaran Kristus. Kasihnya kepada orang lain, sama seperti cara Kristus mengasihi. Bakti dan kesetiaannya kepada Allah, sama seperti bakti dan kesetiaan Kristus kepada Allah.

Perenungan aplikatif:
  • Apa-apa saja yang akan anda lakukan supaya pada waktu anda kecewa anda dapat mengalami perubahan hidup? Apa peran Firman Allah dan Roh Kudus di dalam upaya anda itu? 
  • Apa yang menjadi bukti bahwa anda telah bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati (1 Ptr. 1:22)? Bagaimana anda akan mewujudkannya hari ini?
(Pdt. Essy Eisen)

1-10 of 206