Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Renungan Warta 6 April 2014

diposkan pada tanggal 4 Apr 2014 02.27 oleh Admin Situs GKI Halimun

Yesus berkata: Akulah Kebangkitan dan Hidup!

Yehezkiel 37:1-14, Mazmur 130, Roma 8:6-11, Yohanes 11:1-17, 33-36, 39-45

Nabi Yehezkiel mendapatkan penglihatan suci yang penuh makna tentang pengharapan hidup orang percaya, yang terjadi karena pertolongan Allah. Dengan menggunakan penggambaran hidupnya kembali tulang-tulang kering karena kuasa Roh Allah, Yehezkiel diperintahkan Allah untuk menyampaikan janji pemeliharaan Allah terhadap umat-Nya yang sedang putus asa dan kehilangan pengharapan karena pembuangan, jauh dari kampung halaman mereka (Yeh. 37:11).

Oleh sebab itu, ketimbang berkeluh-kesah, umat sepatutnya berdoa, sebagaimana doa pemazmur dalam Mazmur 130:5-7. “Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.”

Di dalam perjanjian-Nya yang baru, Allah setia pada janji pemeliharaan-Nya yang menyatakan kehidupan. Yesus mendengar kabar bahwa Lazarus, sakit. Ia kenal Lazarus, juga saudara-saudaranya. Bahkan dikatakan Yesus mengasihi Lazarus. Namun jika demikian, mengapa Yesus dengan sengaja menunda kedatangan-Nya dengan segera kepada Lazarus? Rupanya ada hal-hal yang memang tidak dapat kita paksakan kepada Yesus. Tetapi yang pasti, apa yang menjadi rencana dan tindakan Yesus kita imani baik. Dan memang demikian adanya. Di mata Yesus, setiap peristiwa kehidupan adalah sarana untuk menyatakan kemuliaan Allah.

Daerah tempat Lazarus tinggal adalah daerah Yudea, dekat Yerusalem. Kita mengetahui bahwa orang-orang yang hendak menyakiti Yesus karena ketegaran hati mereka untuk menerima Kristus, banyak tinggal di daerah Yerusalem dan sekitarnya. Keputusan Yesus untuk kembali ke Yudea, menjumpai Lazarus yang Ia ketahui sudah meninggal, adalah bukti betapa besar kasih Kristus bagi setiap orang yang bersedih. Namun perhatikan bahwa terang hikmat yang ada bersama dengan Kristus, memampukan Kristus untuk terus melangkah dan melakukan perkara baik Allah tanpa gentar.

Yesus tiba di tempat perkabungan. Lazarus sudah empat hari mati. Suasana perkabungan yang dipenuhi dengan isak tangis membuat hati Yesus sedih dan terharu. Lalu menangislah Yesus. Ia menangis karena turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang kehilangan Lazarus. Dalam doa syukur dan kuasa Allah yang menyertai Yesus, Lazarus diundang Yesus keluar dari kuburnya. Lazarus hidup kembali! Tidak sia-sia orang yang menaruh pengharapan kepada Allah melalui Kristus. Kebangkitan Lazarus menjadi tanda bahwa sungguh benar Yesus Kristus adalah kebangkitan dan hidup. Ia menghadirkan dan menyatakan pembaruan dalam hidup orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Sebagai pengikut Kristus, Paulus mengajarkan bahwa hidup orang Kristen adalah hidup dalam kesediaan untuk dihidupi oleh Roh Kristus (Rm. 8:9). Dengan kekuatan Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, yang tinggal di dalam diri orang percaya, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuh kita yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kita (Rm. 8:11).

Jika Yesus Kristus berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup”, maka itu bukanlah omong kosong. Dari peristiwa kebangkitan Lazarus yang terjadi karena kehadiran Kristus ini, kita menjumpai kenyataan bahwa Allah bukanlah Allah yang menikmati kematian dan kehancuran anak-anak-Nya. Allah adalah sumber kehidupan. Allah memahami kebutuhan anak-anak-Nya untuk mendapatkan kehidupan. Adalah pengakuan iman kita bahwa pada saat-Nya, sesuai dengan waktu, rencana dan kehendak-Nya, kepada semua yang percaya kepada Yesus Kristus, kita akan dibangkitkan dari kematian.

Tetapi tentu bukan sekadar itu saja. Kitapun percaya “kebangkitan-kebangkitan lain” yang terjadi dalam hidup kita yang mampu dihadirkan Kristus dengan nyata bagi yang percaya. Di tengah beratnya tekanan hidup atau masalah-masalah di dalam relasi kita dengan sesama acap kali kita menjadi seperti orang mati, tidak bisa melakukan apa-apa, kering dan tanpa pengharapan. Di tengah-tengah suara bising dalam hidup yang acap kali menyuarakan ancaman yang berujung pada kematian dan pesimisme, kita seperti dililit oleh kain kafan dan ada dalam gua yang pengap sehingga kehilangan vitalitas hidup kita. Acapkali “suasana maut tanpa pengharapan” itu melanda hidup kita juga bukan?

Lalu apa tanggapan kita? Mari kita belajar percaya. Mari berjalan menempuh resiko bersama Sang Terang Dunia di tengah gelapnya perjalanan hidup. Mari mendengar suara Kristus yang memanggil: “Keluar!” dari “kuburan” ketakutan, pesimisme, keraguan kita. Mari tanggalkan “pakaian kuburan” yang hanya menghambat gerak hidup kita berjalan bersama Kristus. Ya dan Amin. Kita akan dibangkitkan-Nya, dan dihidupkan-Nya!

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 30 Maret 2014

diposkan pada tanggal 4 Apr 2014 02.24 oleh Admin Situs GKI Halimun

Akulah Terang Dunia

1 Samuel 16:1-13; Mazmur 23; Efesus 5: 8-14; Yohanes 9: 1-23, 37-41.

Pengalaman orang buta dalam Yohanes 9 pastilah sangat luar biasa. Bagaimana tidak? Sejak lahir dia hidup dalam kegelapan. Sedari kecil dia tidak bisa melihat apa-apa, tidak bisa mengenali banyak hal dengan sempurna. Dia menjalani hidup dengan cara meraba-raba dan mengandalkan pendengaran. Alangkah sulitnya hidup seperti itu. Dia mungkin pernah kejeblos lobang, tersandung, dan menabrak pohon atau tembok. Tidak hanya itu saja, diapun harus menanggung beban sosial yang menganggap kebutaan itu sebagai akibat dosa (ayat 2). Lalu dia bertemu Yesus dan kegelapan yang menguasainya pun hilang. Si buta itu kemudian dapat melihat.

Apakah lalu persoalannya selesai? Tidak! Orang-orang Farisi merasa perlu menyelidiki persoalan tersebut, terutama karena penyembuhan itu Yesus lakukan pada hari Sabat. Para ahli kitab itu ingin memastikan bahwa apa yang terjadi tidak melanggar aturan (dogma) agama yang mereka anut. Dan mereka menganggap si penyembuh bukanlah berasal dari Allah semata-mata hanya karena Dia menyembuhkan orang pada hari Sabat. Tapi, ajaibnya, si buta yang telah celik dengan berani menyatakan imannya bahwa Yesus berasal dari Allah, sebab tidak mungkin orang yang tidak berasal dari Allah dapat menyembuhkan kebutaan sejak lahir (ayat 31-33).

Kisah dalam Yohanes 9 ini menunjukkan bahwa ada dua jenis kebutaan, yaitu kebutaan fisik dan kebutaan spiritual. Perjumpaan si orang buta dengan Yesus tidak hanya mencelikkan kebutaannya secara fisik saja, tapi juga secara spiritual. Karena itu dia dapat dengan tegas menyatakan imannya bahwa Yesus berasal dari Allah. Si buta berjumpa dengan terang itu dan mengalami kesembuhan secara fisik dan spiritual. Sedangkan orang-orang Farisi gagal mengenali tindakan Allah dalam Yesus. Walaupun secara fisik mereka dapat melihat, tapi para ahli kitab ini sesungguhnya mengalami kebutaan spiritual. Mereka mungkin hafal seluruh kitab-kitab, dan karena itu mereka menganggap diri sebagai orang yang paling benar, namun sesungguhnya mereka hidup dalam kegelapan. Kesombongan rohani dan pemahaman dogmatis yang kaku membuat mereka tidak bisa mengenali tindakan Allah dalam Yesus Sang Terang Dunia. Dan karenanya, mereka juga tidak mampu hidup sesuai dengan yang Allah kehendaki.

1 Samuel 16: 1-13 juga menggambarkan bahwa tidak mudah bagi manusia untuk memahami kehendak Allah. Bahkan seorang nabi seperti Samuel sempat terkecoh oleh penilaiannya sendiri (ayat 6). Kegagalan memahami kehendak Allah ini terjadi karena Samuel berpatokan pada penilaiannya sendiri yang mengutamakan apa yang terlihat di luar. Tapi rupanya kehendak Allah tidak ditentukan oleh apa yang terlihat di luar, tetapi apa yang ada di dalam, yaitu hati (ayat 7).

Dari kisah di atas kita melihat bahwa kegagalan mengenal karya dan kehendak Allah disebabkan oleh karena seseorang menganggap dirinya sudah tahu kebenaran alias sudah benar, sehingga tidak lagi membuka diri terhadap kebenaran Allah dalam Yesus Kristus. Buah dari perasaan diri sebagai orang benar dan pemahaman yang kaku membuat seseorang bertindak sewenang-wenang dan tidak adil terhadap orang lain. Berbeda dengan orang yang sudah mengalami terang Kristus, seperti orang buta yang sudah dicelikkan itu dalam Yohanes 9. Perjumpaan dengan Sang Terang mengubah hidupnya sehingga berani menyatakan kebenaran. Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan Paulus dalam Efesus 5: 8-14, bahwa orang yang sudah dilepaskan dari kegelapan akan hidup sebagai anak-anak terang, yaitu hidup yang berbuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran.

Bacaan masa Pra Paska IV ini mengajak agar kita waspada sehingga tidak terjebak dalam perasaan telah mengetahui kebenaran dan pemahaman dogmatis yang kaku, melainkan senantiasa terbuka diperbarui dan diubahkan oleh terang Kristus. Sejalan dengan itu, kita diminta untuk melihat apakah kita sudah hidup sebagai anak-anak terang, apakah kita sudah hidup berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran?

Tekad dalam Minggu Pra Paska IV: Hidup berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran.

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.)

Renungan Warta 23 Maret 2014

diposkan pada tanggal 20 Mar 2014 04.19 oleh Admin Situs GKI Halimun

Yesus “Air Hidup”, Juruselamat Semua Orang

Keluaran 17:1-7, Mazmur 95, Roma 5:1-11, Yohanes 4:5-26, 39-42

Dalam perjalanan Yesus menuju Galilea, Ia melewati daerah Samaria. Bagi kebanyakan orang Yahudi, daerah Samaria dipandang sebelah mata. Sebab orang Samaria, walaupun dapat dikatakan masih saudara, dipandang sebagai orang-orang yang “tidak murni” lagi karena kawin campur. Selain itu acap kali mereka beribadah kepada Allah di Gerizim, bukan di Sion, Yerusalem. Mengapa Yesus lalu mau melewati Samaria? Sebab Yesus tidak diskriminatif. Kasih Yesus adalah untuk semua orang! Kehadiran-Nya menyegarkan jiwa banyak orang. Bukan demi segelintir orang saja.

Tidak hanya itu. Di Samaria, tepatnya di kota Sikhar, karena letih, Yesus beristirahat. Ia haus. Di sana ada “sumur Yakub”. Seorang perempuan sedang menimba di tepi sumur itu. Namun herannya, ia menimba seorang diri. Biasanya para perempuan kalau menimba air, beramai-ramai. Adakah sesuatu yang dilihat Yesus dalam diri perempuan itu? Apakah Yesus melihat kekeringan jiwa dalam dirinya? Menurut kebiasaan pada waktu itu, tidak lazim seorang laki-laki berbicara berduaan dengan perempuan yang bukan isterinya. Apalagi perempuan Samaria itu rupanya menyadari, Yesus itu bukan dari daerahnya. Tetapi Yesus mempertaruhkan reputasinya! Yesus berkenan menyapa perempuan itu dan meminta tolong ditimbakan air olehnya. Kasih anugerah Allah yang dihadirkan Yesus adalah untuk semua orang! Bagi Yesus, sekat-sekat budaya dan perbedaan jangan sampai menghalangi kasih yang ramah untuk menyapa jiwa-jiwa yang kering dan membutuhkan pertolongan.

Perempuan Samaria itu menanggapi Yesus. Menanggapi dengan heran. Seolah-olah ia berkata “Gak salah nih?” Tanggapan Yesus selanjutnya mengajak si perempuan itu untuk mengenali kehadiran Yesus sebagai Mesias, Kristus, Anak Allah yang dijanjikan sejak dahulu melalui kitab nabi-nabi. Baik orang Yahudi maupun orang Samaria, mereka semua memang sangat menantikan Mesias, pembebas fisik dan pembebas spiritual. Yesus pada akhirnya memperkenalkan diri-Nya kepada perempuan itu sebagai Mesias yang dinantikan itu.

Yesus rupanya mengetahui banyak perkara dalam kehidupan pribadi perempuan itu. Melalui percakapan yang dibangun secara mendalam dengan perempuan itu, Yesus menghadirkan diri-Nya sebagai pengantara antara umat dan Allah. Kelak setelah kebangkitan-Nya, dalam beribadah kepada Allah, umat tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat budaya yang picik ataupun ritus-ritus bakti yang terikat pada satu tempat suci tertentu saja. Allah disembah dalam roh dan kebenaran. Sikap bakti yang hadir dari dalam keluar, karena karya Roh Kudus! Sungguh sebuah pembebasan yang luar biasa, yang dihadirkan Yesus sebagai Mesias, Juruselamat semua orang.

Untuk mengajak si perempuan menyadari karya kemesiasan (karya pembebasan Kristus), Yesus memberikan gambaran dirinya sebagai “Air Hidup”. Umat Yahudi dan Samaria tentu ingat kisah sebuah tempat yang dinamakan Masa dan Meriba (Kel. 17:1-7). Kisah yang kemudian diulang-ulang menjadi sebuah pengajaran dalam nyanyian Mazmur yang acap dinyanyikan dalam ibadah-ibadah mereka (Mzm. 95). Skandal Masa dan Meriba menyadarkan umat bahwa dari gunung batu, hadirlah keselamatan, keluar “air yang mengalir deras; air hidup” (bukan dari air sumur). Semua karena anugerah Allah. Air itu mengenyahkan dahaga fisik dan ketidakpercayaan mereka akan penyertaan Allah. Perempuan Samaria itu percaya! Bahkan karena karya kesaksiannya, banyak orang di kampungnya pun menjadi percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dunia.

Demikianlah kehadiran Kristus bagi dunia ini. Ia adalah “Air Hidup”. Melalui karya kasih-Nya di Golgota dalam pemberian nyawa-Nya dan kebangkitan-Nya yang mengalahkan maut, umat merasakan dengan sungguh damai sejahtera Kristus karena pendamaian yang dilakukan-Nya itu. Paulus menjelaskan hal ini dalam Roma 5:1-11.

Bersama “Air hidup” itu umat akan memiliki pengharapan untuk beroleh kemenangan demi kemenangan iman bersama Kristus!

Perenungan:
  • Apakah ada manusia di dunia ini yang tidak dapat minum air? Mengapa? Apakah orang dapat mati jika tidak minum air? 
  • Apakah yang istimewa dari pengajaran Tuhan Yesus Kristus sehingga “kehausan spiritual” Anda terpuaskan selama ini? 
  • Apakah memang benar Tuhan Yesus Kristus sudah menjadi “air hidup” bagi Anda? Apa alasannya? 
(Pdt. Essy Eisen)


Renungan Warta 16 Maret 2014

diposkan pada tanggal 20 Mar 2014 04.16 oleh Admin Situs GKI Halimun

"Hanya Percaya"

Kejadian 12:1-4a; Mazmur 121; Roma 4:-15, 13-17; Yohanes 3:1-17 

Situasi yang paling sulit dilewati manusia dalam kehidupan adalah ketika ia harus meninggalkan zona nyamannya. Berpaling dari hal-hal rutin yang selama ini digeluti dan melangkah kepada hal-hal baru yang mengandung ketidakpastian. Ini merupakan sebuah keadaan yang tidak mudah untuk dilakukan, itu sebabnya setiap orang umumnya memiliki kecenderungan untuk terus berupaya mempertahankan kemapanan dirinya, dan tidak ingin tergusur kehidupan yang saat ini dijalaninya. Tetapi tidak demikian dengan sikap Abram, Kej. 12:1, Tuhan berfirman kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu”. Abraham dipanggil oleh Allah untuk meninggalkan negeri, kota, dan sanak saudara serta rumah ayahnya untuk menuju suatu negeri yang belum diketahuinya. Tentu saja panggilan Tuhan tersebut menjadikannya mengalami pergumulan yang sangat berat dan sulit. Sebab sesungguhnya dia telah merasa menyatu dengan semua  
orang, alam dan segala sesuatu yang ada di lingkungan keluarga, kota dan negerinya, Abraham sudah berada pada situasi “at Home” di Ur-Kasdim. Selain itu saat itu Abraham telah berusia 75 tahun! Suatu usia yang sebenarnya sangat cocok bagi Abraham untuk menikmati hari tua dan masa pensiun daripada dia harus pergi sebagai seorang musafir di negeri orang. Tetapi Tuhan telah memanggil dia untuk meninggalkan lingkungan dan ikatan keluarga serta suku untuk memulai suatu kehidupan yang baru berdasarkan janjiNya. 

Saat itu mungkin Abraham juga sempat bertanya-tanya dalam hatinya, apakah dia masih sanggup untuk melakukan perjalanan yang sangat jauh, sulit dan berbahaya menuju suatu tempat yang belum diketahui dengan jelas. Tetapi dia akhirnya memilih setia dan taat kepada Tuhan. Jadi kita dapat melihat bahwa Abraham rela mengorbankan segala sesuatu yang mapan dan ikatan keluarganya demi memenuhi panggilan Tuhan. Abraham menaruh percaya kepada penyertaan dan janji Allah, yaitu: “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:2-3). Dia percaya bahwa Allah yang diimani adalah Allah yang hidup dan berkuasa. Sehingga dia juga percaya bahwa janji-janji Tuhan pasti akan digenapi, walaupun saat itu dia sama sekali tidak mempunyai bukti apapun. Abraham mengambil keputusan untuk percaya berdasarkan imannya; bukan berdasarkan perhitungan dan bukti-bukti yang terlihat dengan jelas. 

Kita sering mendengar atau bahkan memakai kata percaya dalam hidup ini, namun kalau mau jujur, sering kita tidak memahaminya dengan tepat. Percaya, sebenarnya lebih banyak mengandung porsi di dalam hati kita ketimbang logika. Percaya adalah sikap hati. Oleh karena itu tidaklah cukup hanya dengan kata-kata untuk menggambarkan dan membuktikan bahwa seseorang itu percaya kepada Allah. Dampak percaya kepada Allah akan membuat orang melakukan apa yang Allah kehendaki. Percaya yang benar akan membuahkan seseorang melakukan firman Allah dengan sungguh-sunguh dan tanpa paksaan. 

Minggu ini kita memasuki masa pra Paska yang kedua, minggu dimana kita kembali merefleksikan relasi kita dengan Tuhan. Seberapa jauh kita percaya kepada Tuhan? Apakah hanya sebatas pengakuan iman dalam ibadah minggu? Ataukah telah benar- benar mempercayakan diri sepenuhnya dan ditunjukkan dalam segenap perilaku hidup? Selamat berefleksi. 

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 9 Maret 2014

diposkan pada tanggal 11 Mar 2014 06.22 oleh Admin Situs GKI Halimun

"Berani berkata tidak"

Kejadian 2:15-17; 3:1-7 Mazmur 32; Roma 5:12-19: Matius 4:1-11.

Kejadian 2: 15-17 yang menjadi salah satu bacaan kita hari ini berisi perintah Tuhan kepada manusia di taman Eden. Bagian ini merupakan bagian dari kisah penciptaan dan kejatuhan manusia ke dalam dosa. Kita semua tentu sangat ingat bagaimana Hawa terbujuk godaan ular untuk memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yang berakibat terusirnya Adam dan Hawa dari taman Eden. Bujukan ular begitu meyakinkan dan menggiurkan, sehingga Hawa gagal untuk menolaknya.

Mengapa Hawa mau terbujuk oleh perkataan ular untuk memakan buah pengetahuan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat? Apakah ada kemungkinan Hawa lolos dari bujukan ular itu? Pertanyaan ini tidak selalu mudah untuk dijawab. Seorang teman saya secara bergurau pernah berpendapat bahwa bila seandainya Adam dan Hawa adalah orang Cina, maka jalan ceritanya bisa berbeda. Bila Adam dan Hawa orang Cina, maka begitu ular mendekati untuk menggoda, ular itu akan segera binasa. Adam dan Hawa akan membuat daging ular menjadi sup, dan kulitnya dikeringkan untuk dibuat tas.

Mungkin gurauan teman saya ini terdengar kasar. Namun, dalam gurauan tersebut tersirat pesan bahwa Hawa sebetulnya punya peluang besar untuk lolos dari godaan ular. Kalau begitu, mengapa Hawa terbujuk? Alasannya dapat kita lihat dalam Kejadian 3:5-6 (“tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian). Yang membuat Hawa jatuh oleh godaan adalah ketergiurannya melihat buah itu dan keinginannya sejajar dengan Allah.

Manusia dalam hidupnya agaknya memang selalu berhadapan dengan berbagai godaan. Bahkan sampai saat ini kita semua setiap saat berhadapan dengan berbagai godaan: godaan untuk korupsi, godaan untuk selingkuh, godaan untuk sombong, godaan untuk pelit, godaan untuk membalas dendam, godaan untuk memperalat orang lain, godaan untuk menghalalkan segala cara, dan berbagai godaan lainnya. Kita semua tentu berharap agar kita tidak terbujuk oleh godaan-godaan itu. Kita tentu berharap mampu berkata tidak terhadap berbagai godaan untuk berbuat jahat dalam hidup kita. Bagaimana caranya?

Dalam Matius 4: 1-11 dikisahkan Yesus menghadapi 3 godaan: godaan penyalahgunaan mujizat (ay.3), godaan mencobai Allah (ay.6), dan godaan berpaling dari Allah demi harta duniawi. Godaan itu begitu berat karena disertai tantangan “jika Engkau anak Allah, ....”. Tapi Yesus tidak tergoda untuk pamer statusnya sebagai anak Allah. Yesus merasa tidak perlu membuktikan bahwa Dia anak Allah dengan cara-cara yang justru tidak berkenan kepada Allah. Belajar dari Yesus dalam kisah ini kita dapat melihat bagaimana cara untuk lolos dari godaan berbuat hal yang tidak berkenan kepada Allah:

  1. Memiliki pemahaman yang tepat akan kehendak Allah, tahu apa yang berkenan dan apa yang tidak berkenan kepada Allah;
  2. Memiliki komitmen untuk taat kepada kehendak Allah, dan dengan demikian terhindar dari keinginan menonjolkan kepentingan diri sendiri.

Mengetahui apa yang berkenan kepada Allah pastilah tidak selalu mudah. Namun bila kita terus menerus memelihara hubungan dengan Tuhan melalu saat doa dan pembacaan Firman Tuhan, maka sebagaimana Yesus, kita semua akan semakin tertuntun untuk memahami apa yang Dia kehendaki untuk kita lakukan dalam konteks kita masing-masing. Pemahaman yang tepat tentu tidak berarti apa-apa tanpa komitmen yang kuat untuk melakukan apa yang Allah kehendaki itu. Memasuki minggu Pra-Paskah 1 ini merupakan saat yang tepat untuk meneguhkan tekad mencari tahu kehendak Allah dan memberlakukannya dalam kehidupan kita masing-masing. Dengan itu semua kita mampu berkata TIDAK kepada setiap ajakan berbuat hal yang bertentangan dengan kehendak Allah. Selamat memasuki masa Pra-Paskah.

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 2 Maret 2014

diposkan pada tanggal 28 Feb 2014 00.33 oleh Admin Situs GKI Halimun

"Hidup mulia dengan mendengarkan Yesus Kristus"

Keluaran 24:12-18, Mazmur 2, 2 Petrus 1:16-21, Matius 17:1-9

Dalam ilmu kimia, logam mulia adalah logam yang tahan terhadap korosi (karat) maupun oksidasi (peluruhan). Contoh logam mulia adalah emas, perak dan platina. Logam mulia mahal harganya, karena keunikan sifatnya itu. Selain itu, logam ini berguna bukan saja sebagai perhiasan, tetapi juga sebagai logam penopang yang aman bagi tubuh. Apa yang mulia terkait dengan keunikan, daya tahan, dan dampak.

Dalam hidup beriman, yang mulia itu adalah Allah. Namun, kemuliaan Allah bukanlah kemuliaan yang digunakan untuk merusak dan menghancurkan kehidupan. Allah menyediakan apa yang baik dan menyelamatkan. Dalam perjanjian pertama (lama), melalui orang-orang yang dipanggil dan dipercaya oleh-Nya, Allah menyatakan jalan-jalan-Nya. Hukum kasih dan perintah-perintah hidup yang mesti diajarkan kepada umat-Nya, disampaikan melalui para nabi dan hamba-hamba-Nya dan didengarkan serta dipelajari dalam ibadah-ibadah yang dilakukan (Kel. 24:12-18).

Dalam hidup sehari-hari kita menjumpai orang-orang yang dianggap mulia. Hakim misalnya, dipanggil “yang mulia”. Juga presiden dan orang-orang yang menjabat kedudukan terhormat dan mengemban tugas demi kebaikan banyak orang berlandaskan kasih, keadilan dan kebenaran. Namun kemuliaan mereka dapat saja hilang, kalau mereka tidak menjalankan tugas-tugas yang diamanatkan dengan benar dan bertangggungjawab.

Oleh sebab itu pemazmur dengan bijak memberikan pengajaran dalam Mazmur 2:10-12 demikian: “Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia!  Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!” Setiap orang yang menjalankan tugas kepemimpinan bagi orang banyak, harus mengingat kasih sayang Allah dan menyatakan kasih sayang Allah itu melalui tindakan kepemimpinan mereka.

Kisah Injil hari ini, menceritakan tentang visi (penglihatan) suci yang dilihat Petrus, Yakobus dan Yohanes dalam diri Yesus. Di atas gunung, Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Lalu Musa dan Elia berbicara dengan Dia. Penglihatan ini memiliki arti. Yesus, sebagai penggenap perjanjian lama, mengalami kemuliaan ilahi. Musa, sebagai penyampai 10 hukum kasih Allah, Elia sebagai nabi yang berjuang untuk membersihkan umat Allah dari berhala-berhala, turut hadir dalam peristiwa ilahi itu. Penglihatan ini menegaskan tentang kehadiran sebuah perjanjian yang baru bagi umat Allah.

Petrus, murid Yesus terkenal karena sifat reaktifnya, segera berkata: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Namun, saat Petrus berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Apa artinya? Rupanya penglihatan suci yang menunjukkan kemuliaan Yesus sebagai Kristus (Yang Diurapi Allah, Juruselamat), seharusnya tidak disikapi dengan membangun ritus-ritus ibadah belaka (pendirian kemah-kemah). Sebab suara ilahi mengatakan, Yesus adalah Anak yang dikasihi Allah. Allah berkenan kepada Yesus Kristus. Murid-murid harus mendengarkan Yesus! Ini dia yang utama. Mendengarkan Yesus.

Kisah ini berlanjut dengan ajakan Yesus kepada tiga murid-Nya itu untuk tidak takut. Mereka melihat Musa dan Elia tidak ada lagi dalam penglihatan itu. Yesus Kristus sebagai “Musa baru” dengan semangat kenabian Elia, kini hadir sebagai bukti kemuliaan Allah yang setia, menyapa, membimbing, menuntun umat-Nya kepada segala yang baik menuju kegenapan pemerintahan Allah yang penuh kasih di dunia ini. Apa yang terjadi sesudah peristiwa ini? Yesus dan murid-murid “turun gunung”. Yesus dan murid-murid kembali berkarya. Puncak karya Yesus berujung di Golgota, tanda cinta kasih-Nya bagi keselamatan dunia. Yesus dibangkitkan Allah dan menang. Ia mengutus murid-murid-Nya untuk melanjutkan karya kasih-Nya, sampai saat-Nya Ia datang kembali sebagai raja (2 Ptr. 1:16-21).

Pertanyaan perenungan dan aplikasi:

1.      Apa yang membedakan kemuliaan Allah dengan kemuliaan menurut dunia?

2.      Apa arti kehadiran Musa dan Elia bersama Yesus dalam penglihatan di atas gunung itu? Apa arti suara dari dalam awan itu bagi murid-murid Yesus yang akan melanjutkan karya kasih Kristus di dunia sampai saat ini?

3.      Bagaimana cara saudara mendengarkan suara Yesus Kristus? Kehidupan yang seperti apakah yang akan terjadi jika saudara mengikuti apa-apa yang menjadi cara hidup Kristus?

(Pdt. Essy Eisen)

Renungan Warta 23 Februari 2014

diposkan pada tanggal 28 Feb 2014 00.27 oleh Essy Eisen

"Hidup Kudus dengan mengikuti cara Kristus mengasihi"

Imamat 19:1-2, 9-18, Mazmur 119:33-40, 1 Korintus 3:10-11, 16-23, Matius 5:38-48

Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus (Im. 19:2b). Demikian nasihat Tuhan bagi umat-Nya. Menjadi kudus berarti menjadi khusus, terarah, fokus pada sebuah prinsip yang diyakini. Dalam perjanjian lama, “Taurat” atau sebagaimana juga kadang ditafsirkan sebagai “jalan” adalah hukum-hukum kehidupan berdasarkan kasih yang diajarkan Allah kepada umat-Nya. “Taurat” menolong umat Allah untuk memiliki pegangan nilai-nilai hidup, “jalan yang khusus” supaya umat tidak condong kepada perilaku hidup yang hampa dan jahat.

Dalam bacaan hari ini kita menjumpai hal itu. Umat diajarkan untuk menunjukkan belas kasihan dalam karya hidupnya (Im. 19:9-10, 13-15). Umat diajarkan untuk mengupayakan apa yang baik dalam relasi dengan sesamanya (Im. 19:11-12, 16). Pada saat mengalami apa yang buruk karena perilaku orang lain, umat harus mengutamakan kasih, ketimbang pembalasan dan dendam (Im. 19:17-18).

Pada bacaan Injil Minggu lalu, kita menjumpai Tuhan Yesus yang menafsirkan Taurat, hukum Allah, secara kritis. Kristus mengajak kita memeriksa kedalaman pikiran dan hati dalam memberlakukan hukum Allah. Jadi bukan sekadar memberlakukan aturan jadi saja, tetapi mencermati motivasi terdalam sewaktu memberlakukan Taurat. Tindakan Kristus ini sesuai dengan apa yang dikatakan-Nya, bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya (Mat. 5:17). Kristus mengajarkan kita untuk memiliki pola pikir dan sikap hati yang sehat, lebih dari sekadar menjadi baik belaka.

Dengan memahami cara Kristus mengasihi dan menafsirkan Taurat, maka kita tidak akan kesulitan untuk memahami bacaan Injil pada hari ini. Bagi Kristus, menjadi kudus, khusus, terarah, fokus pada Allah berarti mau mengikuti cara Allah dalam mengasihi. Kasih Allah itu, kasih yang “walaupun”. Kasih yang berkorban. Kasih yang memperjuangkan apa yang baik. Kasih yang dilakukan. Kasih yang besar dan mulia sekali.

Hidup kudus dengan mengikuti cara Kristus mengasih itu antara lain ditunjukkan dengan tindakan-tindakan:

1.    Tidak melawan tindakan yang jahat dengan kejahatan serupa. Sewaktu mengalami penghinaan, tidak balas menghina, tetapi menunjukkan kerendahan hati (Mat. 5:39).

2.    Memaksa memberikan apa yang baik jika dipaksa untuk marah atau membenci (Mat. 5:40-41).

3.    Tulus berbagi dalam rangka ikut serta memenuhi kebutuhan sesama yang membutuhkan pertolongan hidup (Mat. 5:42).

4.    Tidak menjadi musuh bagi yang lain dan tetap mengasihi dengan tulis serta mendoakan apa yang baik seandainya dimusuhi tanpa sebab (Mat. 5:44-48). 

Dengan mengikuti cara Kristus mengasihi, kita tetap ada di dalam “jalan” yang benar yang berujung pada damai sejahtera yang Allah janjikan (Mat.7:13-14). Kristus harus senantiasa menjadi dasar dalam perumusan nilai-nilai hidup dan perilaku moral kita (1 Kor. 3:11). Tidak boleh kita memegahkan diri dan merasa pintar sendiri dalam membangun kebijakan pribadi (1 Kor. 3:21). Kita tidak perlu ragu. Taurat, “Jalan” yang diajarkan Kristus adalah jalan yang akan membuat kita kudus di hadapan Allah (1 Kor. 3:23).

Pertanyaan perenungan dan aplikasi:

  • Apa yang menjadi dasar saat kita mengambil sebuah tindakan dalam hidup kita selama ini? Mengapa kita memilih itu sebagai dasar dalam pengambilan keputusan?
  • Tindakan apakah yang menurut kita pantas untuk disebut sebagai tindakan “kasih”? Mengapa?
  • Apakah tindakan kasih itu menguntungkan atau merugikan? Menghidupkan atau mematikan? Mengapa demikian?
  • Dalam pembacaan Alkitab pada Minggu ini, bagaimanakah kita memahami “kekudusan hidup” secara utuh? Apakah orang yang kudus itu sesempit dekat dengan Allah saja? Apakah orang yang kudus itu membenci sesamanya? Mengapa?

 (Essy Eisen)

Renungan Warta 16 Februari 2014

diposkan pada tanggal 28 Feb 2014 00.22 oleh Essy Eisen

"Ketaatan Sejati"

Ulangan 30: 15-20; Mazmur 119: 1-8; 1 Korintus 3:1-9; Matius 5: 21-37.

Menurut saudara-saudara ibadah itu merupakan kewajiban atau kerinduan? Ketika seseorang menyadari bahwa ibadah kepada Tuhan adalah sebuah kerinduan, maka motivasi ia datang kebaktian adalah untuk memuaskan dahaganya akan firman Tuhan. Akan tetapi ketika seseorang menganggap bahwa ibadah itu hanya sekedar kewajiban yang harus dilaksanakan, maka ia hanya hadir saja secara fisik dalam kebaktian. Persoalan apakah hatinya memang terpanggil, memiliki kerinduan untuk beribadah kepada Tuhan atau tidak, itu menjadi persoalan nomor 2.

Taat menjalankan kebenaran firman Tuhan jelas merupakan tugas kita sebagai orang percaya. Rangkain bacaan firman Tuhan hari ini mengarahkan kita untuk melihat bagaimana Tuhan menginginkan umat-Nya menjadi umat yang taat menaati firman-Nya. ketaatan kepada firman Tuhan adalah urusan yang sangat penting dan menentukan. Ulangan 30 : 15 – 20, menyatakan kepada kita bahwa ketaatan menjamin berkat dan kehidupan, sementara ketidaktaatan akan membawa manusia kepada kutuk dan kematian. Menurut Mazmur 119, ketaatan kepada firman Tuhan juga menjadi alasan dan jaminan akan kebahagiaan. Tentu saja bukan kebahagiaan menurut ukuran duniawi, melainkan kebahagiaan surgawi.

Ketaatan sejati adalah ketika seseorang melakukan firman Tuhan dengan didukung hati dan pikiran yang rela serta melakukannya dengan tulus. Dengan kata lain motivasi selalu menjadi dasar penting untuk mengukur ketaatan dan ketekunan seseorang dalam melaksanakan sesuatu.

Matius 5 : 21 – 37, memberikan bukti kepada kita bahwa apa yang terlihat secara kasat mata tidak menjadi ukuran ketaatan. Yesus dalam pengajaran-Nya di atas bukit ini mengatakan bahwa sekedar taat secara lahiriah kepada hukum agama yang berlaku, itu belumlah cukup. Padahal, hukum agama adalah sesuatu yang sangat diagungkan oleh orang Yahudi. Akan tetapi Yesus memberikan sebuah standar baru.

Standar baru yang diterapkan Yesus adalah, bahwa kehendak dan pikiran itu sama pentingnya dengan perbuatan. Bagi-Nya, seseorang dinilai bukan hanya dari perbuatannya, tetapi juga dari keinginan dan pikiran yang mungkin belum terwujud dalam tindakan. Dunia menilai orang dari perbuatannya. Seseorang dipandang baik, jika ia tidak berbuat dosa. Seseorang dianggap baik, jika ia taat kepada semua peraturan agama. Dunia tidak mempersoalkan serta mempedulikan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh seseorang. Apakah hatinya dan pikirannya memang tulus dan berniat untuk taat, dunia tidak ambil pusing akan hal itu. Dunia tidak mempermasalahkan apa motif seseorang melakukan atau mengucapkan sesuatu. Jika yang ia ucapkan baik, maka ia akan dipandang baik, demikian juga sebaliknya.

Dalam standar Yesus, seseorang dipandang baik selama ia memang dari hati dan pikirannya tidak memiliki keinginan untuk berbuat dosa. Ia menyebutkan bahwa bagi hukum agama, yang disebut berdosa adalah membunuh dalam arti menghilangkan nyawa (ayat 21), tetapi bagi-Nya marah kepada seseorang sudah merupakan sebuah perbuatan dosa (ayat 22). Amarah tidak jarang dipicu oleh kebencian dan dendam yang menyala-nyala terhadap orang lain. Di dalam kebencian yang sudah mencapai puncaknya, pikiran dan hati seseorang diisi dengan segala prasangka buruk terhadap pihak yang dibencinya itu, termasuk menginginkan bencana dan kematian. Bukankah seringkali aksi pembunuhan diawali oleh amarah yang sudah tidak tertahankan lagi, sehingga seseorang kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri.

Standar baru Yesus ini juga memastikan, bahwa yang dapat menilai dan menghakimi seseorang dengan sebenar-benarnya hanyalah Tuhan Yesus. Yang dapat mengetahui motivasi seseorang adalah Tuhan dan yang bersangkutan itu sendiri. Dan standar baru Yesus ini menegaskan bahwa ketaatan bukan cuma diukur dari intensitas kepatuhan itu sendiri. Jadi, betapa pentingnya motif di balik sebuah perbuatan. Benar atau tidaknya kita, baik atau tidaknya kita dihadapan Tuhan, ditentukan bukan hanya dari apa yang telah kita katakan maupun lakukan, tetapi terutama dari motif di balik setiap perkataan dan perbuatan kita. Jadi dalam kehidupan orang Kristen seharusnya tidak ada prinsip : Taat jika ada yang lihat.

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 9 Februari 2014

diposkan pada tanggal 28 Feb 2014 00.13 oleh Essy Eisen

"Menjadi Agen Perubahan"

Yesaya 58: 1-9a (9b-12); Mazmur 112: 1-9 (10); 1 Korintus 2:1-12 (13-16); Matius 5: 13-20.

Dalam Matius 5:13-16 Yesus mengatakan kepada kepada para murid bahwa mereka adalah garam dan terang dunia. Pernahkah terpikir oleh kita mengapa Yesus tidak mengatakan bahwa para murid adalah emas dunia atau berlian dunia? Padahal, dari segi harga dan prestise, emas dan berlian jauh lebih mahal dibanding garam. Mengapa Yesus tidak menggambarkan identitas atau keberadaan para murid dengan sesuatu yang mahal seperti perhiasan, misalnya?

Bila Yesus menggambarkan keberadaan murid-murid-Nya seperti perhiasan mahal, maka dapat kita bayangkan akan banyak orang mengagumi dan memuji-muji serta berebut mendapatkannya. Bukankah dengan demikian kehadiran para murid akan selalu dinanti-nantikan oleh dunia? Setiap kehadiran murid-murid Yesus (gereja) akan selalu gemerlap dan menjadi bahan perbincangan banyak orang. Bukankah dengan demikian kehadiran gereja selalu dinanti-nantikan orang? Namun dalam bacaan kita, Yesus dengan sengaja menegaskan keberadaan murid-murid-Nya sebagai garam dan terang.

Jika kita amati, memang ada perbedaan yang besar antara garam dan perhiasan. Bukan dari segi harga saja, tapi terutama dari segi fungsi dan cara hadir. Perhiasan biasanya berfungsi untuk meninggikan derajat si pemiliknya. Barangkali itu sebabnya perhiasan selalu hadir dengan cara sengaja diperlihatkan atau bahkan dipamerkan. Sedangkan garam setidaknya punya dua fungsi utama, yaitu menyedapkan dan mengawetkan makanan. Dua fungsi ini dijalani garam dengan cara hadirnya yang tersembunyi. Kita tidak pernah melihat wujud garam saat menikmati kuah sop ayam yang lezat, misalnya. Tapi kita tahu bahwa ada garam dalam kuah sop tersebut yang membuatnya sedap. Apa jadinya bila di dunia ini tidak ada garam? Semua makanan akan terasa hambar dan banyak makanan akan busuk sebab tidak bisa diawetkan. Demikian juga dengan terang, bukan? Bayangkan apa jadinya bila di dunia ini tidak ada terang. Kita semua tentu tidak bisa melihat apapun dan sulit melakukan apapun.

Saat Yesus mengatakan bahwa para murid adalah garam dan terang, Yesus ingin menegaskan bahwa, sebagaimana garam dan terang yang perannya begitu penting dan tidak tergantikan, setiap orang yang mengaku murid Yesus punya peran yang sedemikian penting dan tak tergantikan oleh apapun di dunia ini. Peran itu adalah menggarami agar dunia tidak membusuk dan menerangi agar semua orang dapat melihat kebenaran. Peran itu dijalankan dengan cara berbaur dengan masyarakat dimana pun murid itu berada. Dan itu berarti bahwa kehadiran gereja di tengah masyarakat bukanlah sekedar hadir untuk menyenangkan banyak orang dengan berbagai sajian, dengan berbagai undangan ibadah yang meriah. Keberadaan gereja di sebuah tempat tertentu bukan juga semata-mata untuk menarik sebanyak mungkin orang untuk menjadi anggotanya. Singkatnya, kehadiran gereja bukan sekedar soal ritual, melainkan juga mendemontrasikan suatu cara hidup yang benar. Kegiatan keagamaan yang tidak disertai kepedulian sosial merupakan sebentuk kesalehan palsu (Yes.58:1-12). 

Dengan lain perkataan, menurut Yesaya, gereja yang hanya berpuas diri dengan kegiatan ibadah tanpa disertai keterlibatan dalam menegakkan dan memberlakukan nilai-nilai kebenaran di tengah masyarakat tidak saja disebut sebagai gereja yang tidak sejati, tapi juga melakukan pelanggaran terhadap kehendak Allah. Gereja sejati adalah gereja yang tekun menjalankan ritual, namun sekaligus aktif menjalankan peran sebagai garam dan terang di tengah masyarakat: “supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!“ (Yes.58:6-7)

Rasanya tidak keliru jika Yesus menggambarkan para murid-Nya sebagai garam dan terang. Di tengah situasi dimana hukum tidak berdaya dan banyak orang secara terbuka berlomba-lomba melakukan kejahatan, kehadiran garam dan terang sangat diperlukan agar orang banyak dapat melihat kebenaran dan agar kehidupan tidak menjadi busuk.

"Kamu adalah garam dunia... Kamu adalah terang dunia.”


(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))

Renungan Warta 2 Februari 2014

diposkan pada tanggal 28 Jan 2014 21.31 oleh Admin Situs GKI Halimun

Siapakah Orang Yang Berbahagia?

Mikha 6:1-8, Mazmur 15, 1 Korintus 1:18-31, Matius 5:1-12

Apakah yang menjadi kebahagiaan orang tua saat melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang dewasa dan mandiri? Jadi orang kaya? Hidup tidak susah? Jadi anak yang pintar? Takut kepada Tuhan? Apa lagi? Tentu masih banyak lagi. Tetapi rasanya tidak hanya itu saja. Memang hal-hal itu bagus-bagus semuanya dan tentu akan memberikan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi orang tua.

Namun ada satu perkara yang pasti akan membuat orang tua manapun sangat bahagia. Apa itu? Pada saat anak-anaknya bukan saja mendapatkan kebahagiaan bagi dirinya sendiri saja, tetapi juga memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Singkatnya, menjadi saluran berkat bagi orang lain dan bukan sekadar diberkati saja oleh Tuhan dengan apa-apa yang baik dan menyenangkan. Bukankah itu makna yang benar dan sehat tentang berkat Tuhan sebenarnya? (Kej. 12:2).

Rasanya kalau kita sebagai orang tua, mengamini kebahagiaan yang seperti itu, yaitu saat anak-anak kita menjadi orang yang mampu menghadirkan kebahagiaan bagi yang lain, maka kita tidak akan kesulitan untuk memahami pesan Firman Tuhan pada Minggu ini.

Perhatikanlah apa yang diberitakan oleh nabi Mikha: "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mi. 6:8). Menurut nabi Mikha, di hadapan Tuhan, setiap orang harus adil, setia dan rendah hati. Sikap bijaksana itu harus seimbang ditujukan kepada Tuhan dan sesama manusia. Perkara itu sungguh menyenangkan hati Tuhan Allah.

Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, menunjukkan setidaknya delapan sikap hidup orang-orang yang disebutnya berbahagia. Orang-orang yang seperti apakah itu? Perhatikan kutipan dari Matius 5:3-12 dari Alkitab dalam terjemahan bahasa Indonesia sehari-hari di bawah ini, khususnya bagian yang dicetak tebal.

  1. "Berbahagialah orang yang merasa tidak berdaya dan hanya bergantung pada Tuhan saja; mereka adalah anggota umat Allah! (Mat. 5:3)
  2. Berbahagialah orang yang bersedih hati; Allah akan menghibur mereka! (Mat. 5:4)
  3. Berbahagialah orang yang rendah hati; Allah akan memenuhi janji-Nya kepada mereka! (Mat. 5:5)
  4. Berbahagialah orang yang rindu melakukan kehendak Allah; Allah akan memuaskan mereka! (Mat. 5:6)
  5. Berbahagialah orang yang mengasihani orang lain; Allah akan mengasihani mereka juga! (Mat. 5:7)
  6. Berbahagialah orang yang murni hatinya; mereka akan mengenal Allah. (Mat. 5:8)
  7. Berbahagialah orang yang membawa damai di antara manusia; Allah akan mengaku mereka sebagai anak-anak-Nya! (Mat. 5:9)
  8. Berbahagialah orang yang menderita penganiayaan karena melakukan kehendak Allah; mereka adalah anggota umat Allah! Berbahagialah kalian kalau dicela, dianiaya, dan difitnah demi Aku. Nabi-nabi yang hidup sebelum kalian pun sudah dianiaya seperti itu. Bersukacitalah dan bergembiralah, sebab besarlah upah di surga yang disediakan Tuhan untuk kalian." (Mat. 5:10-12)

Dari delapan sikap itu, ada keseimbangan yang sempurna terkait kasih kepada Allah dan kepada sesama. Tidak ada sedikit pun tempat bagi ketidakpedulian, keangkuhan dan kebencian dalam pikiran dan hati orang-orang yang ingin mengalami kebahagiaan surgawi sebagaimana yang diajarkan Kristus.

Apakah kita dapat menghidupi delapan sikap itu dalam kehidupan kita? Bisa! Rasul Paulus mengatakan demikian: Allah sendirilah yang membuat sehingga Saudara bersatu dengan Kristus Yesus. Melalui Kristus, kita dijadikan bijaksana. Dan melalui Dia juga Allah membuat kita berbaik kembali dengan diri-Nya, menjadikan kita umat-Nya yang khusus, dan membebaskan kita. (1 Kor. 1:30, Terjemahan BIS-LAI). Mari menjadi orang yang berbahagia, sebagaimana yang sudah diteladankan oleh Tuhan Yesus Kristus bagi dunia ini.

(Pdt. Essy Eisen)

1-10 of 193