Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 17 Maret 2013

diposkan pada tanggal 15 Mar 2013 17.25 oleh Merry Takasowa   [ diperbarui 5 Apr 2013 09.24 oleh Essy Eisen ]

Memberi Diri, Menyerahkan Hati Melalui Sikap Cinta Kasih

Yesaya 43:16-21, Mazmur 126, Filipi 3:4-14, Yohanes 12:1-8

Siapa yang tidak pernah mendengar mengenai Bunda Theresia? Bunda Theresia adalah icon agent cinta kasih Tuhan yang paling dikenal dunia. Melalui tangan kasihnya bunda Theresia menjalankan  610 misi di 123 negara termasuk penampungan dan rumah bagi pederita HIV/AIDS, lepra, TBC, program konseling untuk anak dan keluarga, panti asuhan, dan sekolah. Seorang Misionaris Cinta Kasih yang telah menginspirasi banyak orang untuk turut mengambil bagian dalam melakukan pelayanan sosial untuk untuk merawat yang lapar, telanjang, tunawisma, orang cacat, orang buta, penderita kusta, semua orang yang merasa tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak diperhatikan seluruh masyarakat, orang yang telah menjadi beban bagi masyarakat dan dihindari oleh semua orang. Dia tidak hanya memberikan seluruh hidupnya bagi Tuhan tetapi juga segenap pikiran, perasaan tercurah bagi pelayanannya. Tak banyak orang yang rela memberikan dirinya bagi Tuhan seperti bunda Theresia.

Spirit cinta kasih yang ditabur oleh Bunda Theresia menjadi sangat dibutuhkan saat ini. konteks kehidupan saat ini yang memarmerkan suasana kebencian, Individualisme, keeogisan, mementingakan diri sendiri kekerasan, dan diskriminasi  mesti dilawan dengan spirit cinta kasih. Syarat utama dari cinta kasih yaitu ketika kita bersedia  member diri untuk melayani sesama. Memberi diri tidak berarti rendah diri, malainkan ketika kita memberi diri justru kita sedang ditinggikan oleh Tuhan. Sebaliknya ketika kita meninggikan diri jusru kita akan direndahkan oleh Tuhan.  


Saat ini banyak orang yang menganggap bahwa materi menjadi satu-satunya hal yang penting; dengan memiliki banyak uang dan harta maka kehidupan akan menjadi mudah dan menyenangkan; materi dan jabatan dipandang sebagai patokan kesuksesan seseorang. Karena itu banyak orang yang menghabiskan sebagaian waktu dan tenaganya untuk mencari dan mengumpulkan materi, sehingga tidak sedikit pula orang yang terjerumus ke dalam sikap dan prilaku serakah dan curang demi memiliki harta dan jabatan. Pelbagai berita mengenai korupsi, nepotisme dimana-mana, dan ketidakadilan telah kita saksikan menjadi bukti bahwa saat ini manusia lebih cenderung memikirkan diri sendiri ataupun kepentingan kelompoknya sendiri sehingga melupakan bahwa sebagai manusia kita memiliki tugas yang tidak boleh kita lupakan yaitu menjadi agen cinta kasih Tuhan bagi sesama.

Persoalan saat ini yang mesti kita perhatikan dengan serius yaitu ketika kata kasih, memberi diri, melayani hanya sekadar menjadi slogan tanpa ada aksi nyata. Poin penting yaitu kita harus berani mengambil sikap dan tindakan untuk secara koknret dan nyata menunjukkan rasa cinta kasih kepada sesama lewat pelayanan kita di dunia. Mother Teresa telah menunjukan jika member diri dengan cinta kasih bukanlah sekadar omongan manis dimulut namun secara eksistensial menggelamkan dirinya untuk melayani orang-orang yang terbuang dari dunia. Jangan lagi tutup mata dan telinga, lihatlah keadaan sekeliling kita, yang masih banyak mengalami masalah, kita dibutuhkan untuk melayani sesama kita yang membutuhkan. Memberi diri berarti ikut merasakan penderitaan dunia, memberi diri berarti merendahkan diri untuk melayani Tuhan. Seperti Maria yang dengan rela memberikan sesuatu yang berharga bagi dirinya untuk mengurapi Yesus. Memberikan apa yang ada pada dirinya dengan cinta, bukan seperti Yudas yang melayani namun ditunggangi kepentingan pribadi semata.

Pertanyaan Aplikatif:

1.       Mengapa Maria dengan rela memberikan minyak narwastu yang seharusnya digunakan meminyaki rambut, untuk mengurapi kaki Yesus?

2.       Mengapa manusia cenderung mementingkan diri sendiri dibandingkan kepentingan pelayanan ataupun orang lain?

3.       Mampukah kita melepaskan segala yang ada dalam diri kita, sebagai bukti cinta kepada Tuhan?

Comments