Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Allah Sang Penyabar

diposting pada tanggal 20 Jul 2017 11.26 oleh Admin Situs
Matius 13:24-30, 36-43

Sabar atau kesabaran adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh, untuk tetap sesuai dengan peraturan atau hukum-hukum walaupun, untuk “tetap sesuai” tersebut membutuhkan komitmen, rela berkorban dan ketahanan mental.

Bagi masyarakat di pedesaan, sikap sabar masih sering kita jumpai, sebaliknya masyarakat di perkotaan? Sangat jarang kita melihat orang yang sabar, baik di jalan, maupun di tempat perbelanjaan dan pekerjaan sering kali orang tidak sabaran, mengapa? Menunggu adalah suatu yang tidak mengenakkan, menjengkelkan namun apakah jalan pintas sungguh menyenangkan?

Ada lagi anggapan-anggapan yang keliru tentang kesabaran, ada yang mengatakan orang sabar itu “nrimo” tidak gigih, kuno dan milik orang-orang tua, atau ada juga yang mengatakan “kesabaran” lambang kelemahan.

Kesabaran berguna untuk membuat hidup teratur tidak kacau balau, mampu menahan diri terhadap suatu kebutuhan, memiliki pertimbangan yang matang sehingga tidak salah pilih dan akhirnya membuat matang pribadinya.

Namun kecenderungan diri kita adalah ketidaksabaran, bukan hanya sekarang bahkan sejak jaman Abraham (mengambil Hagar sebagai istrinya), kesabaran itu bukan hal yang mudah. Bacaan kita tadi mengatakan bahwa si jahat yang menanam ilalang, artinya iblis atau si jahat adalah sumber yang membuat kita tidak sabaran. Sikap alami kita adalah manusia berdosa, yang kecenderungannya lebih mudah terbawa rayuan si jahat dari pada mendengar firman-Nya.

Satu-satunya cara untuk memiliki sifat kesabaran adalah dengan memohon kepada Allah yang merupakan pemilik kesabaran itu. Mengapa? Karena dari dalam diri kita sulit untuk memiliki sifat kesabaran, kecuali dalam bimbingan Allah kita dapat menjadi sabar.

Pertanyaan fakta :
  1. Dalam perumpamaan ini hal kerajaan surga disamakan dengan apa? (24) 
  2. Benih apa yang ditaburkan di ladangnya ? (24) 
  3. Apa yang terjadi ketika semua sedang tidur? (25) 
  4. Ketika gandum tumbuh dan mulai berbulir apa yang nampak ? (26) 
  5. Apa kata hamba-hamba tuan itu dan apa jawab tuannya? (27,28) 
  6. Apa yang akan dilakukan hamba-hambanya itu (28) dan jawaban tuannya? (29,30) 
  7. Siapa orang yang menaburkan benih yang baik? (37) 
  8. Apa artinya ladang? Benih yang baik? Lalang? Musuh yang menaburkan lalang?(37,38,39) 
  9. Bagaimana nasib orang-orang yang melakukan kejahatan? Sebaliknya orang-orang benar? (42,43) 
Pertanyaan interpretatif:
  1. Menurut saudara, kerajaan surga disamakan dengan orang yang menabur benih yang baik, dalam hal apa disamakan (sebagai tempat, bentuk atau regulasi)? 
  2. Mengapa si musuh datang untuk menanam benih lalang? 
  3. Mengapa permintaan hamba-hambanya untuk mencabut lalang tidak dikabulkan? 
  4. Mengapa Yesus menjelaskan arti perumpamaan setelah orang banyak pulang? 
  5. Menurut saudara kapan akhir jaman itu terjadi? 
  6. Apakah ada kesempatan “orang yang melakukan kejahatan” untuk bertobat? 
  7. Ada perbedaan “keinginan manusia” dengan “keinginan Tuhan” mengenai waktu mencabut lalang, apa artinya? 
Pertanyaan aplikatif :
  1. “Allah sang penyabar” seringkali membawa kita pada pengertian Allah yang rela menunggu, dalam waktu yang tak terbatas, selalu memaafkan kesalahan dan dosa manusia. Namun Mat. 13:30 bagaimana anda mengartikannya? 
  2. Kitapun diminta untuk menjadi penyabar, sesuai dengan Galatia 5:22 (buah Roh), bila dihubungkan dengan suatu permohonan doa yang belum juga dikabulkan, bagaimana kita mengartikan pajang sabar? 
  3. Bila kita diperlakukan tidak adil, lalu supaya kita tidak marah, ada yang memberi nasehat “sabar, sabar”, apakah hal seperti ini disebut kesabaran? 
  4. Darimana kita tahu saatnya “musim menuai” sesuai dengan ayat 30? 
Minggu 23 Juli 2017
PT
Comments