Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Berjaga-jagalah!

diposkan pada tanggal 2 Des 2014 01.16 oleh Admin Situs   [ diperbarui19 Des 2014 21.09 ]
Markus 13: 24 - 37

Kedatangan Kristus yang diperingati gereja memiliki makna ganda, tidak hanya menunjuk pada kedatangan Kristus di hari natal, tetapi juga menunjuk pada kedatangan-Nya yang kedua di akhir zaman. Kedatangan Kristus yang pertama ditunjukkan pada peristiwa natal. Pada kedatangan-Nya yang pertama ini Yesus mendatangi ruang kehidupan manusia dengan segala kesederhanaan-Nya. Agar manusia yang arogan, tinggi hati, ingin menang sendiri serta berlumur dosa menjadi luruh dan luluh dalam pelukan Yesus. Ia memanggil setiap orang untuk menerima pembebasan dan penyelamatan.

Kedatangan yang kedua digambarkan dalam kemuliaan dan kemegahan. Ia datang sebagai raja yang memerintah dan berdaulat (Wahyu 21:1-8), Ia datang sebagai mempelai laki-laki bagi mempelai perempuan-Nya, yakni jemaat (Wahyu 22:6-17), Ia juga datang sebagai hakim yang adil bagi manusia dan menjemput manusia memasuki kerajaan-Nya yang abadi (Matius 25:31-46).

Kendati penggambaran kedatangan yang kedua cukup jelas, namun kapan waktunya yang tepat tidak ada yang tahu. Alkitab hanya memberi petunjuk bahwa kedatangan-Nya tidak terduga. Disinilah makna pesan Yesus dalam Markus 13:33-37 menjadi penting untuk diperhatikan, yakni agar kita tidak lengah dalam menjalani hidup, dan tetap menjalankan tanggung jawab yang diamanatkan Tuhan kepada kita sambil terus berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu Dia datang. Dalam bacaan dikisahkan, selama sang majikan belum datang, ia telah memberi tanggung jawab kepada para hamba-Nya untuk mengantikan peran di “rumah” milik-Nya (ayat 34).

Rumah (oikian dalam bahasa Yunani), bisa berarti rumah, bumi, dunia. Melalui perumpamaan ini Yesus memanggil kita untuk menggantikan peran-Nya merawat “rumah” milik-Nya. Untuk menjalankan karya pemeliharaan, Tuhan memberi tanggung jawab kepada setiap pribadi secara berbeda. Jadi, antara hamba yang satu dengan hamba yang lain tugasnya belum tentu sama. Tetapi tanggung jawabnya tetap sama, yaitu bertanggung jawab kepada sang majikan yang menjadi pemilik sah atas “rumah” yang telah dipercayakan kepada mereka.

Selain dipercaya untuk menggantikan peran majikan, ada tugas lain yang harus dikerjakan oleh hamba itu, yaitu berjaga-jaga. Tugas ini diberikan dengan alasan, kapan kepulangan sang majikan itu tidaklah diberitahukan kepada mereka. Apakah Dia datang saat menjelang, malam atau fajar?

Tidak ada yang tahu. Karena memang Dia tidak memberi tahu, dan tidak akan pernah memberi tahu. Hal ini dilakukan supaya para hamba ini tidak terlena lalu tertidur. Hamba yang kedapatan tidur ketika majikan datang pasti ia tidak akan diijinkan masuk dalam sukacita tuannya.

Jadi soal waktu kapan Dia datang, itu tidak penting. Yang paling penting disini adalah kedatangan sang majikan harus disambut. Maka para hamba tidak boleh tertidur, mereka harus berjaga sampai Ia datang. Seruan untuk berjaga-jaga sangat kuat dan mendesak untuk dilakukan. Itu sebabnya Yesus mengalihkan perhatian; dari seruan dalam sebuah kisah menjadi seruan langsung kepada para murid (ayat 37). Menjadi hamba yang berjaga-jaga sambil mengerjakan tugas yang dipercayakan kepada kita sampai Ia datang kembali adalah inti berita dari perenungan adven I.

Perenungan
  1. Gambaran majikan seperti apa yang muncul dalam kisah diatas?
  2. Mulai darimanakah kita memelihara “rumah” sang tuan?
  3. Apakah Saudara termasuk golongan hamba yang berjaga-jaga?
Penerapan
  1. Membulatkan tekad hidup benar di hadapan Tuhan.
  2. Melakukan karya sosial di tengah-tengah masyarakat.

Minggu Adven 1B, 30 November 2014

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.)) 

Comments