Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Bila Badai Hidup Menerpamu

diposting pada tanggal 23 Jun 2018 09.23 oleh Admin Situs
2 Korintus 6:1-13

“Bila badai hidup menerpamu” merupakan kutipan lirik dari PKJ 285. Lirik lagu selanjutnya menegaskan Tuhanlah yang menjadi harapan, karena kasih dan setia Tuhan akan senantiasa melindungi kita. Itulah kenyataan hidup bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Pernyataan iman tersebut juga menjadi sebuah keyakinan dari seorang Rasul Paulus. Meskipun kenyataannya, Rasul Paulus selalu berhadapan dengan pengalaman-pengalaman yang sulit atau yang disebut sebagai “badai” hidup yaitu ia menyebutnya sebagai penderitaan, kesesakan, dalam menanggung dera, dalam penjara, kerusuhan, berjerih payah (2 Kor. 6:4-5). Pergumulan yang dialami oleh Rasul Paulus merupakan sebuah tantangan untuk dirinya. 

Bagi Rasul Paulus, sulit tidak selamanya menjadi sulit, jika dalam setiap tugas atau pelayanan yang sulit itu dapat dilalui dengan baik. Sebab, kesulitan adalah dinamika yang dibutuhkan dalam hidup. Jika tidak ada kesulitan, kita akan merasa hidup ini biasa-biasa saja dan kita tidak perlu meminta pertolongan, kemungkinan kita bisa jadi seseorang yang tidak butuh siapa-siapa dan apa-apa untuk hidup. Padahal, saat ada kesulitan atau pergumulan hidup sebenarnya kita diajak untuk naik level, dalam arti bertumbuh lebih dewasa dan berhikmat di dalam Tuhan.

Jelas, Rasul Paulus telah naik level, sebab tantangan itu dapat ia lewati. Itu semua bukan karena ia hebat dan dapat menuntaskan persoalan hidup melainkan Tuhan yang menjadi pegangan hidupnya. Ia sangat bergantung dengan Roh Allah yang menjadi sumber pertolongannya. Itulah sumber pengharapan hidup Rasul Paulus, keoptimisannya membawanya kepada pengakuan bahwa meskipun ia dianggap tidak terkenal tetapi ia dikenal oleh semua orang, ia disangka mati tetapi nyatanya masih hidup, ia dianiaya tetapi tidak mati (2 Kor. 6:9). Oleh sebab itu, badai hidup tidak selamanya menjadi badai, jika kita berpengharapan kepada Tuhan “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (Roma 15:13). Rasul Paulus juga tidak sendirian, persekutuan menjadi salah satu cara untuk dapat melewati “badai” hidup karena kita dapat saling menguatkan satu dengan yang lain. Untuk itu, berpengharapanlah bila badai hidup menerpamu karena kamu tidak sendirian!
  1. Apakah Anda pernah mengalami “badai” hidup di dalam lingkup apapun baik di rumah, sekolah, kuliah, kantor, gereja, masyarakat? Jika pernah, apa yang Anda lakukan?
  2. Bagaimana Anda melihat kehadiran Tuhan dalam “badai” hidup yang Anda alami?
  3. Apakah kehadiran persekutuan di gereja telah berhasil menguatkan Anda dalam melewati “badai” hidup?
  4. Setujukah Anda jika “badai” hidup disebut sebagai warna atau dinamika kehidupan? Mengapa?
Minggu 24 Juni 2018
RC
Comments