Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Di antara dua pilihan: Allah atau Dunia?

diposting pada tanggal 1 Des 2015 00.50 oleh Admin Situs
Amsal 31:10-31; Mazmur 1; Yakobus 3:13-4:8; Markus 9:30-37

Pengantar
Apa biasanya yang menjadi tantangan saat seseorang harus memilih satu di antara dua pilihan? Salah satunya adalah keinginan untuk menyenangkan semua pihak, yaitu dengan cara “memilih keduanya” atau “tidak memilih keduanya”, atau “memilih jalan tengah”. Namun, kita semua tahu, tidak semua pilihan dapat dikompromikan. Ada saat-saat dimana kita harus bersikap tegas, yaitu memilih salah satu, bukan mengambil jalan tengah. Contoh dimana ketegasan semacam itu dibutuhkan adalah saat kita dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang menyangkut etika dan moral. Misalnya, saat kita dihadapkan pada pilihan antara menaati hukum atau menyuap penegak hukum.

Sebagai orang Kristen, kita semua tahu bahwa kita harus memilih sikap dan tindakan yang sesuai dengan iman kita. Sikap yang kita pilih selayaknya selaras dengan prinsip-prinsip kebenaran, keadilan, kejujuran, dan nilai-nilai luhur yang kita pegang sebagai murid Kristus. Namun pada kenyataannya tidak mudah bagi kita untuk bersikap seperti itu.

Bacaan hari ini akan menolong kita melihat contoh yang berkaitan dengan pilihan antara “dunia” dan “Allah”.

Mazmur 1

Pilihan apa yang dihadapkan kepada kita dalam Mazmur 1? Apa perbedaan dari dua pilihan tersebut?

Markus 9:30-37
  1. Apa yang Yesus sampaikan kepada para murid? Apakah para murid mengerti maksud Yesus? 
  2. Apa yang para murid pertengkarkan? 
  3. Apa yang tergambar dalam sikap para murid ini dengan apa yang Yesus pikirkan? 
Yakobus 3:13-4:8
  1. Menurut Yakobus, apa ciri hikmat yang bukan datang dari atas? 
  2. Apa ciri hikmat yang datang dari atas? 
  3. Apa sumber sengketa dan pertengkaran? 
  4. Pilihan apa yang dihadapkan kepada kita dalam perikop ini? 
  5. Apa yang Yakobus nasehatkan agar seseorang dekat kepada Allah? 
Pertanyaan Penerapan
  1. Pernahkan gereja dihadapkan pada pilihan? Sebutkan contoh pilihan yang bisa dikompromikan dan pilihan yang tidak bisa dikompromikan. 
  2. Bagaimana selayaknya sikap gereja saat harus membuat pilihan yang tidak bisa dikompromikan? 
  3. Pernahkah kita menemukan pertengkaran di tengah persekutuan gerejawi? Sebutkan contohnya
  4. Faktor apa saja yang menyebabkan pertengkaran itu? 
  5. Bagaimana selayaknya sikap gereja menyikapi pertengkaran seperti itu? 

Minggu, 20 September 2015
Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.)
Comments