Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Ibadah Keluarga

diposting pada tanggal 27 Sep 2017 10.59 oleh Admin Situs
2 Timotius 1:1-5

Selama sebulan ini, sebagaimana umumnya di lingkungan GKI Sinode Wilayah Jawa Barat, kita merayakan bulan keluarga. Bulan ini adalah waktu bagi kita untuk selalu belajar menjadi keluarga yang membiarkan Tuhan menjadi “Tamu terhormat yang tetap tinggal” di dalam rumah tangga kita. Walau hanya sebulan, tentu ini harus berlanjut pada bulan-bulan berikutnya juga, sehingga menjadi kebiasaan yang pada akhirnya menjadi karakter bagi keluarga kita.

Oleh sebab itu baiklah kita memulainya dengan menyadari pentingnya ibadah atau kebaktian yang diadakan oleh keluarga. Maksudnya, bukan kebaktian wilayah atau kebaktian sesekali di rumah, tetapi ibadah harian setiap hari, di tengah keluarga, dan diadakan oleh keluarga kita sendiri. Ini menjadi kesempatan yang perlu, supaya kita dapat bersekutu bersama di sekitar Firman Tuhan, saling mendoakan, mendukung dan membiarkan anugerah kuasa kasih Tuhan mencerahi segenap langkah hidup kita bersama keluarga.

Apa yang dapat kita lakukan di dalam ibadah keluarga? Surat Paulus kepada Timotius mencerahi kita dengan beberapa gagasan indah:

1. Sadar peran yang diberikan Tuhan bagi kita (2 Tim. 1:1)
Sebagai rasul Kristus Yesus, Paulus memperkenalkan dirinya kepada Timotius. Penegasan ini tentu bukan untuk gagah-gagahan atau menunjukkan wibawa, tetapi Paulus sadar betul akan peran yang dipercayakan Allah kepadanya, dan berupaya menjalankan peran itu dengan baik. Kita semua mendapat peran, sebagai ayah, ibu, suami, isteri, oma, opa, mertua, menantu, anak, cucu, di dalam keluarga. Sadarkah kita akan peran yang diberikan Allah untuk kita jalani dengan baik di tengah keluarga? Bagaimanakah Anda menjalankan peran Anda selama ini di tengah keluarga Anda?

2. Mengucapkan berkat dan bukan kutuk (2 Tim. 1:2)
Paulus sadar betul bahwa kata-kata berkat memiliki kuasa yang menguatkan ketimbang kata-kata berdasarkan gagasan sendiri apalagi kata-kata yang negatif. Di tengah keluarga, ucapan yang menunjukkan apresiasi, penghargaan, dukungan akan jauh lebih membangun satu sama lain ketimbang keluhan, gerutu, tuntutan, atau adu gagasan yang hanya akan melahirkan debat. Sudahkah Anda mengucapkan berkat Tuhan bagi anggota keluarga Anda? Sadarkah Anda akan pengaruh mematikan dari kata-kata negatif dan kutukan?

3. Bersyukur kepada Allah (2 Tim. 1:3)
Kekuatan kita dalam menjalankan peran kita dalam hidup ini, termasuk di dalam keluarga sumber kekuatannya dari Allah, bukan semata kekuatan kita saja. Oleh sebab itu, yang tidak boleh dilupakan atau diabaikan adalah bersyukur kepada Allah. Bersyukur di dalam doa. Bersyukur lewat nyanyian pujian. Bersyukur dalam tindakan. Kapan terakhir kali Anda bersyukur kepada Allah atas peran yang dipercayakan kepada Anda? Melalui cara apa Anda bersyukur kepada Allah?

4. Bersyukur atas kehadiran orang lain (2 Tim 1:3)
Paulus selalu mengingat Timotius dalam doanya. Bagi Paulus, kehadiran Timotius bukan kebetulan. Walau banyak tugas penginjilan, ingatan dan perhatian kepada Timotius tidak pernah hilang. Ini menjadi teladan baik yang patut kita ikuti. Di tengah kesibukan kita, apakah kita selalu mengingat setiap orang dalam anggota keluarga kita dan mendoakan mereka? Kapan terakhir kali Anda mendoakan setiap orang di dalam anggota keluarga Anda?

5. Sedih kala berpisah, senang saat bersama (2 Tim. 1:4)
Perangkat teknologi informasi dan komunikasi dapat menggoda kita menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Acap kali bahkan kita lebih senang berada dengan orang yang jauh dari kita, ketimbang keluarga sendiri. Itu bahaya! Sebaliknya, lihatlah Paulus, ia selalu rindu untuk bersama-sama dengan Timotius yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. Apakah Anda rindu untuk selalu berada di tengah-tengah keluarga dan berjumpa dengan anggota keluarga Anda? Bagaimana cara Anda melepaskan kerinduan?

6. Mempertahankan tali iman dan kasih supaya tidak putus (2 Tim. 1:5)
Paulus mengingatkan Timotius supaya jalinan tali iman dan kasih yang sudah terbangun tidak putus. Ini penting bagi setiap keluarga Kristen. Walaupun sudah dewasa dan memiliki keluarga sendiri, para orang tua jangan takut untuk mengingatkan anak-anak mereka untuk selalu ikut Tuhan dan menjadi teladan yang benar dalam mewariskan iman kepada anak-anak. Kapan terakhir kali Anda mengingatkan anggota keluarga Anda untuk setia mengikut Tuhan? Bagaimana cara Anda mengingatkan mereka?

Demikianlah pencerahan spiritual yang dapat kita ambil dari penggalan surat Paulus untuk Timotius. Segeralah mengadakan ibadah keluarga. Jangan ditunda-tunda, jangan malu-malu. Kekuatan kuasa Roh Kudus akan menolong Anda untuk memulainya. Allah baik! 

Minggu 1 Oktober 2017
EE
Comments