Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Iman, Obat Anti Tawar Hati

diposkan pada tanggal 30 Nov 2015 11.53 oleh Admin Situs
1 Samuel 8: 4-20; Mazmur 138; 2 Korintus 4:13-5:1; Markus 3:20-35

Penolakan dari sesama kita bisa jadi pengalaman yang membuat kita kecewa. Mereka yang telah merasa berjerih lelah mengambil bagian dalam pelayanan gerejawi, namun kemudian menerima keluhan dan kritikan bertubi-tubi kemungkinan akan merasa tawar hati. Semangat pelayanan menjadi turun dan datang kegereja menjadi aktivitas yang sedapat mungkin ingin dihindari. Bacaan-bacaan Alkitab hari ini menunjukkan bahwa penolakan yang menimbulkan tawar hati tersebut bukan hanya dialami oleh manusia, tetapi juga oleh Tuhan sendiri. Tokoh-tokoh Alkitab yang kita temui Minggu ini menunjukkan keteguhan iman menolong mereka melewati berbagai kekecewaan dan menjaga semangat pelayanan mereka.

1 Samuel 8: 4-20
  1. Bagaimanakah perasaan Samuel tatkala tua-tua Israel mengatakan kepadanya, “Engkau sudah tua… maka angkatlah seorang raja…? (ayat 4-6) 
  2. Apa yang kemudian diperbuat Samuel? (ayat 6) 
  3. Tuhan menyatakan bahwa diriNyalah yang ditolak orang Israel, bukan Samuel (ayat 7-9). Kira-kira, apa perasaan Samuel setelah mendengar perkataan Tuhan ini? 
  4. Dengan cara apakah Samuel mendapatkan obat anti tawar hati di bacaan ini? Dengan cara apakah Tuhan memberikan obat anti tawar hati itu? 
Mazmur 138
  1. Bagaimanakah Pemazmur menggambarkan pertolongan Allah dalam ayat 7? 
  2. Perhatikanlah pernyataan iman dan doa Pemazmur dalam ayat 8. Dapatkah kita juga memiliki keyakinan yang sama saat kekecewaan melanda hidup kita? 
2 Korintus 4: 13-5:1
  1. Di tengah segala kesukaran hidupnya sebagai rasul dan pemberita Injil, apa saja yang menjadi penghiburan bagi Paulus agar tidak menjadi tawar hati? (ayat 14, 16, dan 1) 
  2. Apakah kita juga memiliki penghiburan yang sama sebagai orang percaya yang hidup di Abad XXI? 
  3. Maukah kita memiliki iman yang sama seperti yang ditunjukkan oleh Paulus ketika menghadapi tantangan dan kesukaran? 
Markus 3: 20-35
  1. Bagaimakah kira-kira perasaan Tuhan Yesus ketika keluargaNya sendiri menganggap Dia kurang waras? (ayat 21) 
  2. Selain keluarganya sendiri, siapalagi yang menolak Tuhan Yesus? Apa alasan mereka? (ayat 22) 
  3. Bagaimana Tuhan Yesus merespon tuduhan dan penolakan orang-orang tersebut? (ayat 23-30) 
  4. Apakah Tuhan Yesus menunjukkan gejala tawar hati setelah ditolak oleh banyak orang? 

Jika kita mengalami penolakan dalam melakukan pelayanan, Tuhan Yesus juga pernah mengalaminya sendiri, bahkan dari kaum keluargaNya. Dia dapat mengerti perasaan kita dan dapat menghibur kita. Janganlah kita mudah menjadi tawar hati. Melalui KJ 408, kita bisa menghayati kebenaran ini.

Di jalanku ‘kudiiring oleh Yesus, Tuhanku
Apakah yang kurang lagi jika Dia panduku?
Diberi damai sorgawi asal imanku teguh.
Suka-duka dipakaiNya untuk kebaikanku.

Minggu, 7 Juni 2015
Agustian Sutrisno, M.Min., Ph.D.
Comments