Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Kalahkanlah!

diposkan pada tanggal 15 Des 2014 06.46 oleh Admin Situs   [ diperbarui27 Des 2014 08.58 ]
Yohanes 1: 1-10, 19-28; 12:46

Berdasarkan kalender gerejawi, saat ini umat Kristen sedang berada dalam minggu-minggu Adven. Semua warga gereja tengah mempersiapkan diri menyongsong Natal dan sekaligus menantikan kedatangan kembali Yesus Kristus. Dalam suasana penantian itu alangkah baiknya kita merenungkan kembali tentang Dia yang kita songsong. Siapakah Dia? Bagaimanakah Dia? Apa yang dilakukan-Nya?

Yohanes mengawali kitabnya dengan kesaksian bahwa Dia yang kita tunggu-tunggu itu sejak semula sudah ada bersama-sama dengan Allah. Dia adalah Sang Terang yang datang ke dunia agar manusia mendapat kehidupan. Tanpa cahaya manusia tidak dapat melihat apapun, tidak mampu mengenali apa-apa, termasuk dirinya sendiri. Karena itulah Yesus datang ke dunia, agar manusia tidak hidup dalam kegelapan (12:46). Yesus datang agar setiap orang yang menerima-Nya keluar dari kegelapan dan hidup dalam terang. Dengan hidup dalam terang, setiap orang percaya mampu mengenal Allah (beserta kehendak-Nya), dan dengan demikian sekaligus mampu mengenal dirinya sendiri yang merupakan gambar Allah.

Apa artinya hidup dalam terang?

Hidup dalam terang, sebagaimana penegasan Yohanes Pembaptis untuk hidup dalam pertobatan, adalah hidup yang dijalani sesuai dengan kehendak Allah: hidup yang menghargai Allah, diri sendiri, orang lain, dan sekaligus merawat semesta ciptaan Allah. Sebaliknya, hidup dalam kegelapan berarti hidup yang tidak peduli terhadap Allah, orang lain, semesta ciptaan, bahkan terhadap diri sendiri.

Panggilan untuk hidup dalam terang merupakan panggilan yang luar biasa sulit di tengah dunia pada saat ini. Sebagaimana kita semua tahu, dunia saat ini berjalan dengan semangat yang tidak selalu sejalan dengan kehendak Allah. Dengan kata lain, dunia berada dalam kegelapan.

Apa yang harus kita lakukan?

Alkisah, ada sebuah gua tersembunyi jauh di dalam bumi. Gua itu tidak pernah melihat cahaya. Sampai pada suatu hari matahari mengirim undangan agar sang gua berkunjung ke tempat matahari. Gua itu memenuhi undangan matahari.

Sesampainya gua di permukaan bumi, betapa terkesimanya dia melihat matahari: begitu terang, begitu indah. Sungguh menakjubkan. Dia sungguh sangat kagum dan tak mampu melupakan pengalaman itu.

Merasa berhutang budi terhadap kebaikan matahari, gua itu mengundang balik matahari agar datang ke tempatnya. Gua ingin memamerkan kegelapan kepada matahari, sebab seumur hidupnya matahari belum pernah melihat kegelapan.

Matahari pun menerima undangan itu dan pada suatu hari datang berkunjung ke gua. Matahari diantar berkeliling ke dalam gua untuk melihat kegelapan. Tapi, meskipun telah berjalan seharian penuh, matahari tak pernah bertemu gelap. Setiap tempat yang dikunjunginya menjadi terang, menjadi penuh cahaya.

PERTANYAAN REFLEKSI:
  1. Sudahkan kita hidup dalam terang? Atau kita masih nyaman bersembunyi dalam kegelapan?
  2. Dapatkah kita melihat bukti bagi diri sendiri bahwa terang Yesus Kristus ada dalam diri kita sehingga kita sudah hidup dalam terang?
Kita sungguh memerlukan terang agar kegelapan itu tidak menguasai kita (1:5). Bila kita sungguh-sungguh telah menerima Yesus Kristus sebagai juruselamat kita, terang itu ada akan dalam diri kita, dan kegelapan tidak akan mampu menguasai kita. Bila terang itu ada dalam diri kita, maka kita mampu mengalahkan kegelapan.

Minggu Adven 3B, 14 Desember 2014
(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.)