Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Kekuatan Allah versus Pergumulan Hidup

diposting pada tanggal 30 Nov 2015 12.37 oleh Admin Situs
2 Samuel 5:1-10; Mazmur 48; 2 Korintus 12:2-10; Markus 6:1-13

Tuhan Yesus gagal buat membuat mujizat! Di mana? Di Nazaret, kota kecil tempat asalnya sendiri.

Pada awal kedatanganNya kembali ke Nazaret, Ia membuat banyak orang takjub akan pengajaranNya di rumah ibadat. Namun orang-orang Nazaret mulai mempertanyakan siapa Yesus. Dia hanya seorang tukang kayu dan anak Maria tetangga mereka sendiri. Mereka juga barang kali ingat bahwa Maria mengandung ketika masih bertunangan dengan Yusuf. Yesus jangan-jangan anak dari hasil hubungan terlarang, pikir mereka. Dari benih keraguan, ketidak percayaanpun merebak (ayat 6). Yesus sendiri heran bahwa Ia tidak dapat mengadakan mujizat apapun di kota tersebut.

Kegagalan ini telah lama menimbulkan perdebatan di antara banyak orang. Apakah kekuatan Allah yang nyata melalui Tuhan Yesus dapat gagal? Apakah kekuatan Allah kalah oleh ketidak percayaan orang-orang di Nazaret?

Berkebalikan dari kegagalan Yesus mengerjakan mujizat di Nazaret, murid-muridNya, “mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka” (ayat 13). Mereka mampu mengerjakan banyak mujizat. Tentulah kalau kita perhatikan ayat 10-11, kita temukan bahwa para murid hanya bekerja di daerah yang menerima mereka. Daerah-daerah yang menolak mereka boleh mereka tinggalkan saja. Jadi mereka tidak perlu menghadapi ketidakpercayaan dari orang banyak, seperti yang dihadapi Yesus di Nazaret.

Kalau demikian, apakah betul iman manusialah yang lebih penting dari pada kuasa Allah? Tidakkah mujizat terjadi bagi mereka yang percaya saja, seperti yang kita lihat dalam perbandingan antara kegagalan Yesus dan keberhasilan para murid?

Di sini barang kali kita perlu mengenali peranan dari sudut pandang manusia terhadap apa yang disebut dengan mujizat dari Allah. Mujizat itu bukan sekedar peristiwa ajaib saja. Ada banyak peristiwa ajaib yang mungkin tidak kita anggap mujizat. Seandainya saja, hari ini Saudara menang undian 1 miliar Rupiah dari Bank Saudara. Apakah itu suatu mujizat atau hak Saudara sebagai nasabah bank? Itu sedikit-banyak tergantung dari sudut pandang kita sendiri. Suatu keajaiban bisa kita pandang sebagai mujizat jika kita menerimanya dalam iman sebagai bukti kekuatan Allah, bukan kekuatan manusia. Sebaliknya keajaiban hanya akan menjadi peristiwa normal saja jika kita tidak mengaitkannya dengan kekuatan Allah. Biarpun ada orang-orang di Nazaret yang sembuh dari sakitnya karena Yesus meletakkan tanganNya atas mereka (ayat 5), peristiwa itu tidak dianggap mujizat karena mereka tidak melihat Tuhan Yesus sebagai bukti nyata kuasa Allah di dunia.

Demikian juga dengan kita sekalian ketika kita menghadapi pergumulan hidup. Sangat mudah kita merasa tidak ada kekuatan Allah di tengah masalah berat. Masalah itu kita pandang lebih besar dari pada Allah. Yesus tiba-tiba nampak bagi kita seperti seorang tukang kayu saja, si anak Maria, bukan “Yesus Kristus, AnakNya yang tunggal, Tuhan kita.”

Kita semua memang punya pilihan. Apakah kita mau menjadi seperti orang-orang di Nazaret atau menjadi orang-orang yang menyambut para murid Tuhan Yesus? Apakah kita mau menerima kekuatan Allah di tengah pergumulan hidup, atau menutup mata terhadap kekuatanNya? Sudut pandang manusiawi memang dapat membutakan kita akan kuasa Allah, namun yakinlah Allah lebih berkuasa dari kesempitan pemikiran manusia dan kelemahan iman manusia.

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.” (Efesus 3: 20).


Minggu, 5 Juli 2015
DR. Agustian Sutrisno, M.Min.
Comments