Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Kesalehan Kristen Yang Sejati

diposting pada tanggal 9 Feb 2017 09.18 oleh Admin Situs
Ulangan 30:15-20; Mazmur 119:1–8; 1 Korintus 3:1–9; Matius 5:21–37

Siapa orang yang paling saleh yang pernah Anda kenal? Dapatkah saudara hidup sesaleh dia? Kebanyakan orang akan bilang sulit, sulit sekali hidup saleh. Dalam Matius 5, Tuhan Yesus mengajar bahwa kehidupan murid-murid-Nya harus lebih baik daripada kehidupan orang Farisi dan ahli Taurat. Demikian kita dengar di khotbah minggu sebelumnya. “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (ayat 20).”

Ajaran ini tentunya sulit. Orang Farisi dan Ahli Taurat barangkali adalah orang yang berperilaku paling saleh di muka bumi pada zamannya. Mereka menaati setiap titik dan koma dari Hukum Taurat. Hidup mereka diatur begitu rupa supaya tidak bisa melanggar isi Hukum Taurat. Bahkan perkakas makan, minum, masak mereka ditempatkan dan diatur sedemikian rupa supaya tidak melanggar aturan kosher, yakni hukum makanan haram-halal seperti yang diatur oleh Hukum Taurat. Dapatkah murid-murid Tuhan Yesus hidup lebih saleh daripada para ahli Taurat dan orang Farisi?

Dalam bacaan Injil kita hari ini, Tuhan Yesus memberikan contoh bagaimana kehidupan keagamaan para pengikut-Nya harus lebih baik daripada kehidupan orang Farisi dan ahli Taurat yang diatur oleh Taurat. Misalnya dalam 21-22, Tuhan Yesus mengutip Taurat tentang jangan membunuh. Lalu Ia menambahkan bahwa membenci orang sebetulnya sama saja dengan membunuh. Di Halimun kita boleh yakin tidak ada anggota jemaat yang pernah membunuh orang lain. Maka kalau kita pakai standar ahli Taurat dan Farisi, kita semua aman dalam hal kesalehan—kita bukan pembunuh. Namun tentang membenci orang, rasanya kita semua pernah sebel atau benci pada orang lain. Menurut Yesus ini pun salah besar. Tidakkah tuntutan Tuhan lebih tinggi daripada tuntutan hidup orang Farisi dan ahli Taurat di sini?

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini berulang kali memberikan contoh bagaimana bukan saja perilaku yang harus benar, tetapi juga motivasi dan hati dari pengikut-Nya harus benar. Dan tentunya ini menjadi masalah bagi kita yang mengaku pengikut Dia. Dapatkah kita lepas dari membenci orang lain, misalnya? Dari memiliki motivasi dan hati yang kurang tulus? Lebih sulit lagi, dalam penutup Matius 5, Tuhan Yesus berkata, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna (ayat 48). Mustahil bukan? Lebih mudah ikut ahli Taurat dan orang Farisi—cukup buat perilaku yang mengikuti Hukum Taurat, daripada ikut Tuhan Yesus yang menuntut motivasi dan hati yang benar, kalau begitu.

Agaknya ada salah anggapan bahwa Tuhan Yesus menaikkan tuntutan Hukum Taurat dalam bacaan kita. Namun, memang sejak awalnya Hukum Taurat itu bukan sekedar perilaku yang saleh. Sejak awalnya Hukum Taurat menuntut hati dan motivasi yang benar tatkala menaati perintah Allah, yakni kasih kepada Allah (bdk. Ul.30:20 “dengan mengasihi TUHAN, Allahmu”). Maka sejak awalnya, tuntutan Tuhan Allah sudah sedemikian tingginya. Manusia harus menunjukkan perilaku yang benar bersumber dari hati dan motivasi yang benar—mengasihi Tuhan Allah, bukan suatu kepura-puraan supaya terlihat saleh di hadapan sesama manusia.

Dengan jujur saya mengaku tidak dapat memenuhinya. Rasanya saya tidak berlebihan kalau mengklaim bahwa kita semua juga tidak dapat memenuhi tuntutan Taurat dan Tuhan Yesus sebagaimana tertulis dalam Matius 5: 21-37.

Hanya ada satu manusia yang pernah menggenapi semua tuntutan Taurat—Tuhan Yesus. “Aku datang… untuk menggenapinya” (Mat 5: 17). Dia dengan jelas menunjukkan penggenapan tuntutan Taurat dengan mati di atas kayu salib—mengorbankan diri-Nya sebagai Anak Domba Allah yang tak bercacat untuk menghapus dosa dunia. Karena menerima kebenaran-Nya dan korban-Nya, kita mengenakan kebenaran-Nya, bukan kebenaran kita sendiri karena sanggup memenuhi tuntutan Taurat.

Apa maknanya? Kita bergantung pada kasih karunia Allah untuk menjalani kehidupan yang benar. Setiap kali kita tergoda untuk membenci orang lain, atau melakukan hal lain yang tidak disukai Tuhan, kita diingatkan untuk bertanya dalam hati kita, “Apakah ini perilaku yang bersumber dari kasih karunia Allah yang telah saya terima?” Demikianlah seharusnya cara hidup Kristen. Kita senantiasa diundang untuk menyadari bahwa tingkah laku kita sepatutnya didorong oleh kasih karunia Allah yang nyata dalam Tuhan Yesus Kristus.

Ini tidak berarti kehidupan saya dan Saudara serta-merta lebih bermoral, lebih saleh daripada orang-orang lain. Ini, sebaliknya, berarti kita harus selalu bersandar kepada Tuhan Yesus—Tuhan dan Guru kita—untuk menjalani kehidupan keagamaan yang lebih benar, yang lebih jujur pada kelemahan manusiawi kita dan kebergantungan kita yang menyeluruh pada kasih karunia-Nya, alih-alih pamer kesalehan.

Puisi yang ditulis oleh Maya Angelou berikut, menurut saya menunjukkan kesalehan Kristen yang sejati—yang jujur pada kelemahan diri sendiri dan bergantung kepada kasih karunia Allah yang nyata dalam Tuhan Yesus Kristus.

"I Am A Christian" 
“Saya Seorang Kristen” 

When I say ... "I am a Christian"  
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not shouting "I'm clean livin'.
" Saya tidak berseru “Hidup saya benar.”

I'm whispering "I was lost, 
 Saya berbisik, “Saya dahulu terhilang,

Now I'm found and forgiven." 
Sekarang saya ditemukan dan diampuni.”

When I say ... "I am a Christian" 
 Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I don't speak of this with pride. 
 Saya tidak mengucapkannya dengan kebanggaan.

I'm confessing that I stumble 
 Saya mengaku saya terjatuh

and need Christ to be my guide. 
Dan butuh Kristus sebagai pandu saya.

When I say ... "I am a Christian" 
 Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not trying to be strong. 
Saya tidak berupaya menjadi kuat.

I'm professing that I'm weak 
Saya menyatakan saya lemah

And need His strength to carry on. 
Dan membutuhkan kekuatan-Nya untuk melanjutkan hidup.

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not bragging of success. 
Saya tidak menyombongkan keberhasilan.

I'm admitting I have failed 
Saya mengaku saya telah gagal

And need God to clean my mess 
Dan membutuhkan Allah untuk membereskan kekacauan saya

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not claiming to be perfect, 
Saya tidak mengklaim diri sempurna,

My flaws are far too visible 
Kecacatan saya terlalu kasat mata

But, God believes I am worth it. 
Tetapi, Allah yakin saya layak.

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen” 
  
I still feel the sting of pain. 
Saya masih merasakan sengatan sakit.

I have my share of heartaches 
Saya memiliki sakit hati

So I call upon His name. 
Jadi saya memanggil Nama-Nya.

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not holier than thou, 
Saya tidak lebih suci dari kamu,

I'm just a simple sinner 
Saya hanya pendosa sederhana

Who received God's good grace, somehow. 
Yang menerima kasih karunia Allah, entah bagaimana. 

Minggu, 12 Februari 2017
Agustian N. Sutrisno
Comments