Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Mengapresiasi perbedaan

diposting pada tanggal 25 Mei 2016 11.09 oleh Admin Situs   [ diperbarui25 Mei 2016 11.09 ]
Kisah Para Rasul 2: 1 - 13

Persatuan kadang diidentikkan dengan penyeragaman, atau kadang dasar dari persatuan adalah kesamaan. Setiap pihak yang hendak bergabung harus mau menjadi sama / seragam, bagi yang tidak sama maka akan “dipaksa” untuk menjadi sama, jika tetap tidak mau / tidak bisa maka dikeluarkan dari ikatan kebersamaan.

Peristiwa Pentakosta mengingatkan kita bahwa di tengah kebersamaan dan kesatuan sebagai murid Yesus, ternyata tidak ada “pemaksaan” untuk menjadi seragam (satu model saja). Justru karunia Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta menunjukkan semangat penghargaan atas setiap perbedaan. Perbedaan tidak dianggap sebagai ancaman, justru sebaliknya, merupakan peluang untuk menyatakan pekerjaan Allah, memberitakan keselamatan bagi seluruh manusia.

Roh Kudus mengapresiasi dan menghargai perbedaan. Itulah panggilan bagi setiap orang percaya di tengah hidup bergereja dan bermasyarakat. Perbedaan bahkan diterima sebagai suatu kenyataan yang tidak mungkin disangkal, dan perbedaan justru menjadi peluang untuk hidup bersama saling melengkapi.

Pendalaman
  1. Menurut pemahaman saudara, apakah satu itu harus seragam? Mengapa? 
  2. Bagaimana cara menyikapi perbedaan yang ada dalam kehidupan bersama sebagai gereja?
  3. Bagaimana cara menyikapi perbedaan yang ada dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat?
  4. Apa saja tantangan dan hambatan untuk dapat menghargai orang lain yang berbeda? 
  5. Bagaimana cara kita mensyukuri perbedaan yang ada di tengah kehidupan? 

Minggu 15 Mei 2016
Pnt. Noerman Sasono
Comments