Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Merayakan Rumah Allah, Merayakan Kehidupan Bersama

diposting pada tanggal 1 Des 2015 00.24 oleh Admin Situs   [ diperbarui1 Des 2015 00.25 ]
1 Raja-Raja 8:22-30, 41-43; Mazmur 84; Efesus 6:10-20; Yohanes 6:56-69

Pengantar
Allah Tritunggal sungguh maha kuasa. Ia tidak dapat dan tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat yang dibangun manusia. Walaupun demikian, Allah berkenan memasuki relung-relung kecil dalam semesta dan di tengah kehidupan manusia. Semua karena kasih- Nya yang menyelamatkan itu. GKI sebagai “rumah Allah” menjadi tanda kehadiran Allah yang kasihnya terbuka bagi dunia sekaligus tetap setia “tinggal di dalam” Kristus melalui kuasa Roh Kudus untuk semakin nyata di dalam menjadi rekan kerja Allah, turut serta membarui dunia dengan kasih-Nya.

Pertanyaan pengamatan & pendalaman
  1. Sesudah membaca 1 Raja-Raja 8:22-30, 41-43, bagaimanakah Salomo memaknai Bait Allah yang didirikannya itu? Apakah Salomo memahami bahwa Allah berdiam di Bait itu? (Perhatikan ayat 13 dan ayat 27). 
  2. Apa yang dapat dinikmati orang-orang dari kehadiran Bait Allah? Siapa saja mereka itu? (perhatikan 1 Raj. 8:41-43 juga Mzm. 84:4, 6
  3. Setelah membaca Efesus 6:10-20, “perang” seperti apakah yang Paulus nasihatkan untuk dilakukan oleh Jemaat Efesus? Kuasa siapakah yang harus diandalkan dalam peperangan itu?
  4. Apa yang terjadi dengan orang-orang yang mengikuti Yesus dalam kisah Injil Yohanes 6:56-69? Apa sebabnya? 
  5. Apa makna “tinggal di dalam” (Yohanes 6:56) menurut saudara? 
Pertanyaan penerapan
  1. Apa yang ada dalam benak saudara jika dikatakan bahwa Gereja itu disebut sebagai “Rumah Allah”? Apa dampaknya bagi umat di dalamnya? Apa dampaknya bagi masyarakat sekitar dan dunia tempat Gereja hadir? 
  2. Menurut saudara apakah yang menjadi bukti bahwa Gereja hadir sebagai tanda kehadiran Allah bagi dunia? Apa juga yang menjadi bukti bahwa Allah hadir di dalam Gereja? 
  3. Apa kesan dan pesan saudara sebagai bagian dari Gereja Kristen Indonesia yang berulang tahun ke 27 tahun ini? 
Minggu, 23 Agustus 2015
Pdt. Essy Eisen
Comments