Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Persiapkanlah!

diposkan pada tanggal 5 Des 2014 01.29 oleh Admin Situs   [ diperbarui19 Des 2014 21.07 ]
Markus 1:1-8

Saat kita pergi ke pusat-pusat perbelanjaan pada bulan ini, lagu-lagu natal yang riang telah diperdengarkan. Ragam hiasan dan kelap-kerlip lampu warna-warnai menambah semarak hati kita menyongsong Natal. Begitulah mal-mal mempersiapkan kita menyambut Natal. Namun rasanya persiapan yang ditawarkan oleh mal-mal itu harus kita lengkapi juga dengan menyimak karya Yohanes Pembaptis di tepi sungai Yordan. Dengan begitu, pikiran dan hati kita juga dipersiapkan dengan sempurna sesuai Firman Tuhan dalam merayakan Natal dan mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus kembali. Apa saja karya Yohanes Pembaptis?

Yohanes Pembaptis berkenan diutus Allah untuk menggenapi apa yang nabi Yesaya (Yes. 40:3) dan Maleakhi (Mal. 3:1) nubuatkan. Yohanes Pembaptis mau diutus Allah untuk berseru-seru di gurun dalam mempersiapkan umat-Nya bagi kehadiran Mesias/Kristus/Yang Diurapi Allah. 
  • Dengan memilih tepi sungai Yordan sebagai tempat khotbahnya, Yohanes mengingatkan umat Tuhan akan peristiwa peralihan saat mereka masuk ke tanah perjanjian, setelah mengembara puluhan tahun di gurun (Yos. 3:1-dst). Ingat ini, kita juga harus ingat sebuah peralihan penting dalam hidup, yaitu dari perbudakan dosa kepada hidup yang dituntun kasih Allah. Setiap masuk gerbang gereja saban minggu, ingatkah kita bahwa kita ini adalah orang yang mau dibentuk Allah untuk menghidupi kehidupan yang baru mengikuti Injil Kerajaan Allah? 

  • Dengan menggunakan ikat pinggang kulit dan jubah dari bulu, Yohanes mengingatkan umat akan nabi Elia (2 Raj. 1:8), nabi yang tegas menentang penyembahan berhala dan mengajak umat kembali menghormati Allah. Ingat ini, kita harus ingat juga, apakah masih ada berhala-berhala dalam hidup yang masih kita sembah sehingga membuat kita mengabaikan suara Allah? Makanan Yohanes Pembaptis adalah belalang dan madu hutan. Makanan sederhana. Ini menjadi semacam simbol perlawanan Yohanes Pembaptis terhadap kemapanan hidup yang acap kali membuat orang terlena dan mengabaikan sesama yang membutuhkan pertolongan. Ingat ini kita belajar. Apakah kemapanan dan rutinitas dalam hidup ini membuat kita kehilangan semangat untuk menaati kehendak Allah? 
Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan dan mengajak umat Allah untuk memberi diri dibaptis. 
  • Bertobat sederhananya ialah kapok. Kita sadar bahwa berjalan menjauhi kasih Allah adalah pilihan bodoh yang hanya akan membuat kita binasa. Sebagaimana seluruh penduduk Yudea, penduduk kota Yerusalem datang mengakui dosa-dosanya, penting juga bagi kita dalam menyambut Natal dan kedatangan Tuhan kembali, untuk mengakui dosa-dosa kita. Ingat, Tuhan Yesus adalah penyembuh jiwa kita. Jika kita tidak mau mengakui kekurangan, kelemahan dan kejahatan-kejahatan kita, bagaimanakah kita dapat menerima dengan sukacita pengampunan yang dikaruniakan Allah melalui Kristus? Akuilah dosa-dosa kita kepada Allah! Akuilah dosa-dosa kita kepada sesama kita. Ini adalah bukti bersiap diri yang kudus! 

  • Memberi diri dibaptis berarti mengambil keputusan untuk meninggalkan dosa dan masuk ke dalam kasih yang dianugerahkan Allah. Seperti saat kita mandi, segenap kotoran dan kuman-kuman rontok, saat kita memberi diri dibaptis, ini menjadi tanda bahwa pikiran, hati, perilaku kita mau dibersihkan Allah. Saat dibaptis, kita masuk dalam kumpulan orang-orang yang mau dituntun oleh kehendak Allah dan mengerjakan apa yang dikehendaki Allah di dalam pimpinan Tuhan Yesus Kristus. Ingatkah kita akan baptisan yang telah kita terima? Sadarkah bahwa kita ini sudah ditandai dan menerima pengampunan-Nya melalui baptisan kudus? Bagaimanakah sikap kita sebagai orang yang telah menerima hadiah yang besar ini dari Allah? 
Yohanes Pembaptis merendahkan dirinya dan mengarahkan orang kepada Tuhan Yesus Kristus dan karya-Nya. 
  • "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak..” Itulah kata-kata Yohanes Pembaptis. Menurutnya ia hanya sebagai jembatan saja bagi orang-orang untuk dapat merasakan kasih Kristus. Yohanes bahkan tidak berani mengambil sikap sebagai budak jika berhadapan dengan Kristus. Sikap Yohanes ini mulia. Ini boleh menjadi sikap kita juga. Apakah segala persiapan kita menyambut Natal dan kedatangan-Nya kembali telah menjadi sarana untuk mengarahkan hati kita dan orang lain kepada Tuhan Yesus Kristus? Atau semua itu hanya untuk memuaskan pikiran, hati dan indera kita semata? 

  • “..Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus." lanjut Yohanes Pembaptis. Yohanes percaya bahwa setelah umat mengakui dosa dan masuk ke dalam himpunan umat Tuhan melalui baptisan, mereka harus mau diperlengkapi oleh karya kasih Tuhan Yesus Kristus. Dibaptis dengan Roh Kudus adalah diperlengkapi dengan karunia Roh Kudus untuk mengikut Yesus dengan setia dan memberlakukan pengajaran kasih-Nya dalam hidup kita. Apakah setelah mengakui dosa-dosa kita dan dibaptis, segenap karunia rohani yang sudah Tuhan berikan kepada kita telah kita gunakan dengan baik? Apakah kelebihan-kelebihan kita sudah kita gunakan sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus inginkan? 
Selamat bersiap diri menyambut Natal dan kedatangan Tuhan kembali. Persiapkanlah dengan sungguh-sungguh!

Minggu Adven 2B, 7 Desember 2014
(Pdt. Essy Eisen)
Comments