Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 22 Juli 2012

diposting pada tanggal 20 Jul 2012 01.19 oleh Essy Eisen   [ diperbarui20 Jul 2012 01.21 ]
Belas Kasihan Allah
Yeremia 23:1-6, Mazmur 23, Efesus 2:11-22, Markus 6:30-34, 53-56

Apa yang menjadi nilai lebih dari seseorang tidaklah sesempit kesehatan, kekayaan, kecantikan, kegagahan, kepandaian atau tindakan baik sekalipun. Kelebihan manusia ialah bahwa mereka dapat memiliki apa yang dinamakan “belas kasihan” (1 Kor. 13:1-13). Setiap orang memiliki kemampuan untuk menyatakan kasih yang sejati. Kasih yang berangkat dari hati yang berbelas kasihan. Hati yang tidak rela melihat atau merasakan sesama saudara-saudaranya menderita.

Bagi kita pengikut Kristus, kemampuan untuk menyatakan belas kasihan itu merupakan karunia Allah. Hanya karena anugerah-Nya kita dimampukan untuk meneladani Tuhan Yesus Kristus yang adalah Gembala yang baik. Selalu harus menjadi kesadaran kita bahwa, jika kita menunjukkan belas kasihan, itu karena Allah sudah terlebih dahulu menunjukkan belas kasihan-Nya kepada kita domba-domba gembalaan-Nya (Mzm. 23).

Raja-raja pada masa perjanjian lama, diberikan kepercayaan oleh Allah untuk menjalankan tugas-tugas kepemimpinan mereka dengan jiwa penggembalaan yang benar. Umat Allah, yang diibaratkan seperti domba-domba gembalaan, harus dijaga supaya tidak hilang, terserak dan tercerai berai. Allah berjanji, akan hadir Tunas adil bagi Daud, Pemimpin Sejati, yang akan membuat umat-Nya hidup dalam kebebasan dan ketenteraman (Yer. 23:1-6).

Janji Allah terbukti. Dalam pembacaan Injil hari ini, kita menjumpai belas kasihan Allah yang nyata dalam Yesus Kristus. Saat rasul-rasul begitu penatnya melakukan karya kerasulan mereka, Yesus berkata "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!". Belas kasihan dan kepedulian Yesus bagi murid-murid-Nya nampak jelas. Menjaga keseimbangan yang menyehatkan di dalam kehidupan, adalah nasihat Kristus yang tidak boleh diabaikan (Mrk. 6:30-33).

Kepedulian Kristus bukan hanya bagi rasul-rasul. Orang banyak yang rindu untuk menemukan jalan yang benar, makanan rohani, serta pegangan yang teguh dalam kehidupan, dikasihi Kristus. Orang banyak itu seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Tanpa bimbingan yang teguh mereka dapat hilang, terserak dan tercerai berai. Berangkat dari belas kasihan-Nya, Yesus mengajar dan memberikan kelegaan bagi mereka yang datang kepada-Nya (Mrk. 6:34, 53-56).

Pengikut-pengikut Kristus, adalah orang yang sudah menerima belas kasihan Allah di dalam Kristus. Kita, kata penulis surat Efesus, adalah anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia kita bertumbuh, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kita juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh (Ef. 2:20-22).

Sebagai anggota-anggota keluarga Allah, Kristus terus menguasai hati dan pikiran kita. Kasih Kristus terus berlimpah, sehingga kita dimampukan untuk menunjukkan belas kasihan dengan nyata kepada sesama kita. Saat menjumpai sesama yang sedang membutuhkan, Roh Allah akan menggerakkan hati kita untuk segera bertindak, mulai dari tindakan kecil sampai tindakan yang besar dan berdampak.

Dengan bersaat teduh secara rutin kita menjalani latihan untuk mengelola hati dan pikiran dengan baik. Kesadaran kita akan terus digugah untuk mengenali belas kasihan Allah yang nyata bagi kita, saat kita merefleksikan karya dan janji-Nya di sepanjang sejarah dunia yang dinyatakan dalam kisah Alkitab. Dengan pertolongan-Nya, perlahan kita terus mempermurni motivasi dari segala tindakan-tindakan kita. Semoga belas kasihan Allah senantiasa melembutkan hati kita.

Pertanyaan Aplikasi
  • Jika diibaratkan Allah seperti Gembala yang baik, apa yang sudah Allah lakukan bagi Saudara selama ini? Kapan terakhir kali Saudara menerima belas kasihan Allah? 
  • Kapan terakhir kali Saudara menjumpai orang yang sedang kesusahan dan membutuhkan bantuan? Bagiamana perasaan Saudara? Apa tindakan Saudara? 
  • Apakah kehidupan doa dan saat teduh telah melembutkan hati Saudara? Mengapa? 
Comments