Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 10 Agustus 2014

diposkan pada tanggal 12 Agt 2014 07.28 oleh Admin Situs
Iri Hati Memadamkan Cinta

Kejadian 37:1-4, 12-28; Mazmur 105:1-6, 16-22; Roma 10:5-15; Matius 14:22-33

Pernahkah kita merasa iri hati? Mungkin pernah, entah disadari ataupun tidak. Kita mungkin pernah menyaksikan bagaimana, karena iri hati, seorang anak kecil berusaha merebut mainan temannya. Atau kita melihat bagaimana seorang remaja iri hati terhadap barang temannya, entah itu handphone, jam tangan, sepeda motor atau mobil. Tidak hanya itu, kita juga mungkin pernah menemui orang dewasa yang iri hati terhadap kemajuan bisnis temannya.

Iri hati memang bisa menghinggapi siapa saja. Iri hati itu bisa ada dalam diri setiap orang. Namun demikian, perasaan iri hati sebaiknya tidak kita pelihara sebab iri hati menimbulkan banyak hal yang tidak baik. Dalam 1 Korintus 3:3 dan Kisah Para Rasul 17:5 dikatakan bahwa iri hati menimbulkan perselisihan dan keributan.

Apa yang meyebabkan timbulnya iri hati? Iri hati bisa muncul karena ketidakadilan. Dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya dikatakan bahwa Yakub lebih mengasihi Yusuf daripada anak-anaknya yang lain: “Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain....” (Kej. 37:3) . Perlakuan yang tidak adil itu menumbuhkan iri hati dalam diri saudara-saudara Yusuf. “Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.” (Kej.37:4).

Selain oleh perlakuan yang tidak adil, iri hati juga bisa disebabkan rasa tidak puas atau tidak bersyukur terhadap kenyataan hidup yang dialami.

Alkisah, ada seorang tukang batu yang setiap hari pergi ke gunung untuk memotong batu. Setiap hari dia melakukan pekerjaannya sambil bernyanyi riang, pertanda dia puas dengan kehidupannya.

Pada suatu hari dia diminta bekerja di rumah seorang bangsawan. Selama bekerja di sana, si tukang batu tersebut tak habis-habisnya mengagumi keindahan rumah dan kekayaan sang bangsawan. Si tukang batu diam-diam berkata dalam hatinya: “seandainya aku kaya seperti bangsawan ini, tentu hidupku akan sangat menyenangkan. Aku tak perlu kerja keras lagi.”

Tiba-tiba tukang batu itu mendengar suara yang berkata: “keinginanmu sudah dikabulkan. Dan, mulai sekarang, apapun yang kau inginkan akan dikabulkan.” Benar saja, saat si tukang batu sampai di rumahnya, dia melihat keajaiban. Gubugnya berubah menjadi bangunan megah, lengkap dengan perabotan yang indah dan mahal. Sejak itu si tukang batu berhenti mencari batu serta menikmati hidup sebagai orang kaya.

Pada suatu siang yang panas dari jendela rumahnya dia melihat kereta raja lewat lengkap dengan rombongan pengawal dan budak-budaknya. Si tukang batu berpikir alangkah enaknya berada dalam kereta kerajaan itu dan tiba-tiba dia ingin menjadi raja. Dalam sekejap keinginannya terwujud. Dia menjadi raja dan berada dalam kereta kerajaan. Namun, ternyata, udara dalam kereta begitu panas pengap. Dia merasa tidak nyaman. Lalu dia melihat keluar dan mulai mengagumi kekuatan matahari yang panasnya sanggup menembus setiap dinding tebal kereta kerajaan. “Aku mau jadi matahari”, katanya dalam hati. Sekali lagi keinginannya terkabul. Dia menjadi matahari dan memancarkan sinarnya ke segenap penjuru alam semesta. Tapi, ketika tiba musim hujan, langit dipenuhi awan tebal dan sinarnya tak mampu menembus. Lalu dia ingin menjadi awan dan segera saja keinginannya terpenuhi. Setiap hari dia turun menjadi hujan dan mengalir dengan bebasnya tanpa ada yang bisa menghalangi. Sampai suatu hari dia terganjal oleh sebuah batu raksasa. Bagaimanapun kuatnya dia mengalir, tetap tak mampu melewati batu raksasa tersebut. Dia pun segera berubah menjadi batu raksasa, sesuai dengan keinginannya. Dan sejak itu dia selalu membanggakan kekuatannya. Namun, itupun tak bertahan lama. Pada suatu hari dia melihat seorang tukang batu bekerja mencungkilinya sebongkah demi sebongkah. Perlahan-lahan batu itu menjadi semakin kecil. Saat itu dia menyadari bahwa seorang tukang batu kurus kering bisa lebih kuat dari sebuah batu raksasa. “Aku mau jadi tukang batu”, teriaknya dalam hati. Maka kembalilah dia menjadi seorang tukang batu. Setiap hari dia pergi ke gunung untuk bekerja keras memecahkan batu. Dia masih tetap bernyanyi selama memecah batu, tapi sekarang nyanyiannya dipenuhi rasa bangga dan rasa syukur. Sekarang dia tahu, bahwa keadaan yang dia jalani sekarang layak dibanggakan dan pantas untuk disyukuri.

Rasa syukur membuat tukang batu itu dapat mencintai pekerjaannya, menghargai keadaannya, mencintai diri dan sesamanya dan bersyukur kepada Penciptanya.

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments