Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 10 April 2011

diposting pada tanggal 6 Apr 2011 19.05 oleh Essy Eisen
Yesus adalah Kebangkitan dan Hidup

Yohanes 11:1-45

Kisah pembangkitan Lazarus adalah yang keenam dari tujuh tanda yang ditulisan Yohanes untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Kristus, Mesias, Anak Allah, dan bahwa melalui iman di dalam dia orang yang percaya menerima kehidupan kekal. Oleh karena itu, mujizat ini mengarah secara langsung kepada klimaks dari Injil dan tanda terbesar dari semua karya Yesus, yaitu kebangkitan-Nya dan kebangkitan - kehidupan orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Injil Yohanes menunjukkan bahwa melalui tanda-tanda itu semua, Yesus dari Nazaret menjadi bukti kehadiran Allah yang sepenuhnya, yang dengan aktif mengungkapkan dan "memuliakan" kuasa penebusan dari kasih Allah. Hal ini tidak sepenuhnya disadari oleh orang-orang yang ada di sekitar kehidupan Yesus pada waktu itu hingga akhirnya mereka melihat sendiri Yesus yang dibangkitkan Allah setelah kematian-Nya.

Dalam kisah ini, kita dapat melihat tahapan dari proses kepercayaan Marta mulai dari sekedar “sadar” hingga percaya. Oleh sebab itu penting kita menyimak pertukaran dialog antara Marta dan Yesus sehingga karakteristik lain dari "Akulah...", sebuah proklamasi yang hanya ditemukan dalam Injil Yohanes (ayat 25), dan pengakuan iman Martha (ayat 27) menjadi signifikan. Marta, seperti orang-orang yang lain yang sedang berproses, mengalami “saat-saat keraguan” ketika Yesus memerintahkan kubur untuk dibuka (ayat 39-40).

Keajaiban pembangkitkan Lazarus dari kubur menunjukkan kuasa ilahi Yesus atas kematian. Namun, kisah ini juga menunjukkan betapa Yesus sangat sensitif terhadap manusia. Kasih-Nya untuk Lazarus dan saudara-saudara perempuannya dapat kita rasakan. Ungkapan Maria bahwa jika Yesus hadir pada waktu tertentu yang akan mencegah kematian Lazarus menceritakan betapa dekat sebenarnya persahabatan mereka itu. Begitu juga air mata Yesus. Semua aspek budaya duka manusia mencolok dalam kisah ini, dan melaluinya setiap orang yang mengalami dukacita, kesusahan, kebimbangan, keraguan, kekecewaan, dapat mengidentifikasikan perasaan mereka juga melalui kisah ini dan menerima pengharapan untuk mengalami pemulihan yang diberikan Yesus.

“Tuduhan” bernuansa kebimbangan Marta (ayat 21) justru menjadi semacam “panggung” bagi Yesus untuk menyatakan, "Akulah kebangkitan dan hidup," dan juga bagi Marta untuk mengakui imannya kepada Kristus. Ketika Maria mengulangi tuduhan itu, Yesus mengungkapkan perasaannya yang sangat manusiawi (ayat 33-38) dan kemudian melakukan keajaiban. Yesus adalah sepenuhnya manusia dan sepenuhnya ilahi, kehidupan dan kematian adalah karunia-Nya. Begitu juga makna terdalam dari kebangkitan-Nya yang juga menjadi dasar pengharapan akan kebangkitan kita.

(Rev. John Shearman dengan edit seperlunya oleh Pdt. Essy Eisen)
Comments