Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 11 Maret 2012

diposkan pada tanggal 9 Mar 2012 00.17 oleh Essy Eisen   [ diperbarui9 Mar 2012 00.18 ]
Bait Allah disucikan Yesus

Keluaran 20:1-17, Mazmur 19, 1 Korintus 1:18-25, Yohanes 2:13-22

Sepuluh Hukum yang diberikan Allah dalam Keluaran 20:1-17 mengajarkan umat Allah untuk membangun komunitas kehidupan secara benar, adil dan penuh kasih. Berawal dari kasih Allah yang membebaskan mereka dari belenggu perbudakan yang dilakukan orang lain terhadap mereka dan juga dari perbudakan dosa, Umat Allah diingatkan untuk tidak menolak Allah. Bersamaan dengan itu, kasih kepada sesama juga harus ditunjukkan. Umat Allah yang berpaut pada Firman Allah (Mzm. 19), hidupnya senantiasa diperbarui supaya mampu melakukan apa yang benar dengan adil dan penuh kasih.

Oleh sebab itu saat Yesus mengunjungi Bait Yerusalem menjelang perayaan paska Yahudi (peringatan pembebasan mereka dari perbudakan Mesir yang dilakukan oleh Allah) dan menjumpai bahwa ada tindakan yang membebani, mengganggu, menghalangi orang-orang yang mau berjumpa dengan Allah, Yesus marah besar! Yesus tidak asing dengan Bait Allah di Yerusalem itu. Lukas mencatat, sewaktu masih bayi Ia dibawa Maria dan Yusuf ke sana (Luk. 2:22-dst). Menjelang remaja, saat berusia 12 tahun, Ia bahkan menghabiskan banyak waktu di sana sampai-sampai lupa ikut rombongan pulang. Yesus bahkan telah membuat heran para alim Ulama karena kecerdasan-Nya saat itu (Luk. 2:47). Jadi, kemarahan Yesus sungguh beralasan. Mungkin banyak orang juga yang saat itu hendak berbakti kepada Allah, menjumpai Allah, mendengarkan Firman Allah sudah muak dan jengah dengan ketidakadilan, ketidakbenaran di sekitar bait Yerusalem karena komersialisasi rohani itu.

Yesus lalu melakukan gebrakan. Dia memulai langkah pembaruan. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." (Yoh. 2:15-16). Yesus marah karena mereka sudah mencintai Allah dengan cara yang salah. Cinta tidak akan pernah bisa dan tidak layak diperjualbelikan. Terlebih cinta kepada Allah. Mereka akan merayakan paska, sebuah peringatan momen pembebasan oleh Allah, tetapi justru malah membelenggu yang lain. Yesus menjungkirbalikan tatanan buruk, yang jelas-jelas sudah membatasi dan menghalangi perjumpaan manusia dengan Allah, Bapa-Nya. Demikian besar cinta Yesus kepada Bapa-Nya. Cinta yang ingin agar orang mengalami suasana hubungan dengan Bapa seperti mereka ada dalam suasana “rumah”.

Lalu orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" Mereka ternyata lupa bahwa Yesus sudah melakukan tanda bukti pembaruan yang dilakukan-Nya di Kana sebelumnya (Yoh. 2:1-12). Lalu Yesus menjawab mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Tetapi orang Yahudi salah paham. Mereka memahami Bait Allah itu dalam pengertian fisik belaka. Pikiran mereka sebatas materi. Mereka mengatakan: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?"

Apa yang dimaksudkan Yesus sebenarnya? Maksud Yesus ialah bahwa Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri (Yoh. 20:18-22). Melalui karya penebusan-Nya di salib dan kebangkitan-Nya, kini orang dapat mengalami relasi yang baru dengan Allah! Melalui dan di dalam Yesus orang dapat berjumpa dengan Allah, mengalami pembaruan-Nya, mengenali Firman-Nya dan melaksanakan pembaruan hidup bagi yang lain (1 Kor. 1:18-25).

Rasul Paulus dalam 1 Korintus 3:16-17; 6:19 dan 2 Korintus 6:16 mengajarkan bahwa tubuh kita adalah bait Allah, tempat Roh Allah berdiam didalamnya. Sebagaimana Tuhan Yesus melakukan pembersihan, penyucian Bait di Yerusalem untuk tetap menjadikan Allah Kudus atas segalanya, kini kitapun sebagai orang percaya diajak untuk membersihkan, memelihara, menjaga tubuh kita tetap suci sebagai tempat Allah berdiam, demi kemuliaan-Nya. Renungkanlah. Bagian manakah dalam ruang hidup kita yang perlu disucikan oleh Kristus? Jangan halangi Yesus berkarya. Mari, biarkanlah Dia menyucikannya.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments