Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 11 Mei 2014

diposkan pada tanggal 13 Mei 2014 23.24 oleh Admin Situs
Siapakah Yesus Bagi Kita?

Kisah Para Rasul 2:42-47; Mazmur 23; 1 Petrus 2:19-25; Yohanes 10: 1-10

Siapakah pendeta bagi jemaatnya? Jawabannya bisa bermacam- macam. Sebagian jemaat menganggap pendeta sebagai orang yang diurapi Tuhan. Karena itu mereka sangat menghormati pendeta dan tidak berani “macam-macam” sama pendeta. Mereka sangat taat terhadap ujaran sang pendeta dan tidak pernah berani membantahnya. Bagi mereka, pendeta adalah “wakil Tuhan” yang sempurna menjalankan perintah Tuhan. Dan karena itu juga, mereka tidak bisa menerima kalau pendeta melakukan kesalahan.

Tapi ada juga jemaat yang menganggap kependetaan hanyalah salah satu profesi di antara profesi-profesi yang lain. Kelompok ini memperlakukan pendeta sebagai seorang profesional yang bekerja di gereja. Pendeta bisa dikritisi kerjanya. Bagi kelompok ini, sama seperti para profesional lainnya, seorang pendeta bisa saja melakukan kesalahan.

Dua perlakukan yang berbeda terhadap pendeta itu dilatarbelakangi dua pemahaman yang berbeda terhadap pendeta. Yang satu menganggap pendeta sebagai ”yang diurapi Tuhan”, dan yang lain menganggapnya sebagai seorang profesional. Dengan kata lain, keyakinan yang kita miliki terhadap sesuatu atau seseorang akan mempengaruhi tindakan kita terhadap sesuatu atau seseorang tersebut.

Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan kita dengan Yesus. Sikap kita terhadap Yesus dipengaruhi pemahaman kita tentang Yesus itu. Siapakah Yesus bagi kita?

Jika Yesus bagi kita hanyalah sumber berkat, maka bisa jadi hubungan kita dengan Yesus semata-mata hanya akan dipenuhi permohonan agar Dia mengabulkan segala apa yang kita minta, tanpa ada keinginan untuk hidup menurut apa yang diajarkan-Nya.

Jika Yesus bagi kita hanyalah sumber keajaiban, maka bisa jadi hubungan kita dengan Yesus cuma dipenuhi ibadah dan doa-doa yang dipenuhi harapan terjadinya keajaiban, tanpa merasa perlu adanya perubahan hidup sesuai yang Dia ajarkan.

Yohanes 10:1-10 mengatakan bahwa Yesus adalah gembala. Dengan mengatakan bahwa Yesus adalah gembala, penulis Injil Yohanes ingin menegaskan bahwa Yesus adalah pemilik dan sekaligus yang memelihara domba-domba. Semua domba harus mengikuti kemana saja gembala itu membawa mereka berjalan. Bila ada domba yang tersesat atau tersangkut semak berduri, maka sang gembala akan mencari dan melepaskannya dari jeratan, serta membawanya masuk kembali ke dalam rombongan. Hubungan antara domba dan gembala yang terjalin bertahun-tahun membuat sang gembala mengenal betul dombanya dan domba- domba itu dapat mengenal suara sang gembala.

Penggambaran Injil Yohanes tentang Yesus sebagai gembala ingin menegaskan bahwa mengikut Yesus itu berarti bersedia menjadikan Yesus sebagai gembala, mau berjalan sesuai dengan rute dan waktu yang dipilih-Nya, berkomitmen hidup sesuai dengan ajaran-Nya. Bagian lain dari bacaan kita memberi contoh sikap hidup umat yang menjadikan Yesus sebagai gembala:
  1. Kisah Rasul 2:42-27 mengisahkan hidup para murid yang ditandai dengan kerinduan terus-menerus untuk belajar Firman Tuhan dalam persekutuan, rajin berdoa, dan selalu berbagi dengan orang lain;
  2. Mazmur 23 menggambarkan bagaimana Tuhan sebagai gembala menuntun, memelihara dan melindungi umat sepanjang hidupnya;
  3. 1 Petrus 2:19-25 menggambarkan bagaimana pembebasan yang dilakukan sang gembala membuat hidup umat berubah, dari hidup yang sesat ke dalam hidup dalam kasih karunia, sehingga umat dapat secara sadar menjalani hidup sesuai dengan yang Allah kehendaki dalam hidupnya.
Tiga contoh di atas dengan jelas memperlihatkan bahwa setiap orang yang menjadikan Yesus sebagai gembala akan hidup dengan cara hidup yang baru, yaitu hidup sesuai teladan Yesus sendiri. Memasuki minggu Paska IV ini kita bersyukur diberi kesempatan kembali untuk bertanya: “siapakah Yesus bagi kita?”. Apakah kita sudah merelakan Yesus menjadi gembala kita?

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))

Comments