Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 12 Januari 2014

diposting pada tanggal 15 Jan 2014 00.29 oleh Admin Situs
Baptisan - Perubahan Hidup

Yesaya 42:1-9; Mazmur 29; Kisah Para Rasul 10:34-43; Matius 3:13-17.

Alkisah, sekelompok rahib tinggal di suatu biara terpencil. Di situ mereka secara rutin melakukan kegiatan doa dan bekerja. Di biara tersebut ada seekor kucing yang sudah sangat akrab dengan kepala biara. Kucing itu sering ada saat ibadah berlangsung. Ia bisa tiba-tiba melompat ke atas mimbar atau mengeong dengan keras saat mereka semua sedang melagukan pujian. Kehadiran si kucing dalam ibadah lama kelamaan terasa mengganggu. Maka mulai saat itu, setiap kali sebelum ibadah, kucing tersebut diikat di sebuah tiang yang ada di ujung halaman biara. Begitulah, kebiasaan mengikat kucing itu terus dilakukan. Ketika sang kepala biara meninggal, kebiasaan soal kucing tersebut diteruskan oleh para muridnya. Pada suatu ketika sang kucing mati. Para biarawan pun sibuk mencari kucing baru untuk diikat di tiang sebelum ibadah. Mereka mengadakan rapat untuk menentukan jenis dan warna kucing yang akan mereka pilih, dan di tiang mana kucing itu harus diikat. Berbagai usul dan pendapat dikemukakan, namun sampai berhari-hari rapat itu tidak menghasilkan kesepakatan, bahkan mereka pecah menjadi beberapa kubu karena tidak ada kesepakatan. Tiap kubu mengajukan alasan teologis masing-masing.

Perselisihan di biara itu terjadi karena mereka agaknya tidak mengerti duduk persoalannya. Pada mulanya, sang ketua mengikat kucing itu di tiang dengan maksud agar kucing itu tidak mengganggu kekhidmatan ibadah. Sedangkan para penerusnya menganggap bahwa mengikat kucing di tiang merupakan bagian dari perlengkapan ibadah. Kurangnya pemahaman membuat mereka bertengkar tentang suatu hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan ibadah.

Hal serupa sering kita jumpai dalam soal baptisan. Banyak warga gereja meributkan mana cara baptisan yang sah: dibaptis atau diselam? Ada juga yang sibuk mempersoalkan usia ideal menerima baptisan: baptis anak atau baptis dewasa? Semua pihak mengaku memiliki landasan yang paling alkitabiah. Daripada ikut-ikutan ribut soal cara mana yang lebih benar, lebih baik kta mencoba melihat: apa sebetulnya makna baptis?

Baptis adalah tanda perjanjian Allah dengan umatnya. Kita semua tentu mengetahui apa yang disebut perjanjian, yaitu persetujuan atau kesepakatan yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih tentang sesuatu hal, entah itu soal pekerjaan, jual-beli, sewa, dan lain-lain. Ketika dua pihak melakukan perjanjian, maka biasanya perjanjian tersebut disahkan melalui tanda tertentu. Misalnya, dalam perjanjian jual-beli, perjanjian tersebut ditandai dengan akta jual beli yang diberi meterai (kadang-kadang perlu disaksikan oleh seorang notaris); di sebuah suku di Indonesia, bila mereka mengikat perjanjian persaudaraan antara dua klan atau marga, mereka saling mencampurkan darah yang sengaja dikucurkan dari jari tangan; di jaman perjanjian lama kita mengetahui bahwa sunat merupakan tanda perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Dalam hal ini meterai merupakan tanda perjanjian, campuran darah merupakan tanda perjanjian, sunat merupakan tanda perjanjian. Baptis merupakan ikatan perjanjian umat dengan Tuhan. Perjanjian apa? Perjanjian bahwa setiap orang yang dibaptis mengakui keberadaan Allah sebagai yang berkuasa atas hidupnya dan berjanji akan hidup sebagai umat Allah dengan cara melakukan kehendak Allah.

Minggu ini kita mengenangkan peristiwa pembaptisan Yesus. Dalam peristiwa pembaptisan Yesus ini kita dapat melihat dua hal. Pertama, peristiwa ini menegaskan bahwa Yesus adalah penggenapan nubuatan Yesaya 42:1-9 tentang Sang Hamba Tuhan yang mengerjakan karya keselamatan Tuhan bagi bangsa-bangsa (bukan hanya bagi Israel). Penegasan itu kita jumpai juga dalam Matius 3: 17b "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."

Kedua, baptisan itu merupakan sebentuk komitmen untuk hidup menurut kehendak Allah. Dalam Matius 3: 13-15 digambarkan bagaimana Yohanes pada mulanya segan untuk membaptis Yesus, tapi Yesus mendesak Yohanes untuk melakukannya demi mewujudkan kehendak Allah.

Bacaan minggu ini mengajak kita semua melihat kembali makna baptisan yang kita terima. Baptisan merupakan tanda perjanjian antara umat percaya dengan Allah. Sebagai umat yang telah menerima tanda perjanjian, kita semua diajak mewujudkan ikrar perjanjian yang kita terima melalui baptisan itu dengan cara hidup mempraktekkan kasih, kebenaran, keadilan, tanpa diskriminasi kepada semua orang yang Allah ijinkan ada di sekitar kita. Belajar dari Yesus sendiri, baptis ternyata bukan soal diselam, dipercik, atau disembur, tapi soal bagaimana kita menggenapi atau memberlakukan kehendak Allah dalam kehidupan kita. Baptis itu berarti soal perubahan hidup: hidup sebagai umat Allah dan menyatakan kasih Allah kepada semua orang, tanpa terkecuali.

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments