Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 12 Pebruari 2012

diposkan pada tanggal 11 Feb 2012 00.02 oleh Essy Eisen   [ diperbarui11 Feb 2012 00.24 ]
Kesembuhan dari Allah

2 Raja-Raja 5:1-14, Mazmur 30, 1 Korintus 9:24-27, Markus 1:40-45

Allah, sesuai dengan rencana dan waktu-Nya, berkenan mengaruniakan kesembuhan bagi orang-orang yang rendah hati, taat dan mau memohon pertolongan-Nya (Mzm 30:11-12). Selain menyatakan kuasa-Nya secara langsung, Allah memakai sarana-sarana dan orang-orang yang dipercayakan oleh-Nya menjadi alat penyataan kuasa-Nya yang menyembuhkan. Melalui kesembuhan yang dikaruniakan Allah, setiap orang diajar untuk membangun dan memelihara relasi yang sehat dengan Allah dan sesamanya. Kesembuhan karunia Allah adalah kesembuhan yang utuh dan menyeluruh sifatnya.

Kesembuhan Naaman dari sakit kusta terjadi karena pertolongan Allah, yang dinyatakan oleh Nabi Elisa. Tetapi, selain Nabi Elisa, ada juga peran dari anak perempuan Israel yang bekerja di rumah Naaman, peran isteri Naaman, lalu juga peran Raja Aram yang memberikan surat pengantar dan para pendamping perjalanan Naaman. Orang-orang ini memiliki belas kasih kepada Naaman (2 Raj 5:1-14). Relasi yang akrab, hangat, peduli dalam sebuah komunitas berujung pada pemulihan hidup. Di samping kepedulian antara sesama, kerendahan hati juga memberikan pengaruh. Kalau Naaman bersikukuh dengan keangkuhannya saat Nabi Elisa memerintahkan dia untuk membenamkan diri di sungai Yordan, ia tetap tinggal pada sakitnya. Orang yang tinggi hati sulit menerima dan mengalami pembaruan, tetapi orang yang rendah hati, pada saatnya akan menerima apa yang mendatangkan damai sejahtera.

Orang yang mengalami sakit kusta, mengalami sakit secara sosial juga. Orang enggan untuk mendekati mereka. Sebisa mungkin orang mengambil jarak yang jauh dari tempat mereka hadir. Naaman masih beruntung memiliki orang-orang yang peduli dengannya. Mungkin juga karena ia mengemban jabatan penting dalam kerajaan Aram. Tetapi seorang kusta yang datang kepada Yesus sepertinya tidak punya siapa-siapa. Di tengah kesendirian dan kesusahannya itu, ia mengendap-ngendap memasuki wilayah orang sehat, sebab pada zaman itu, mereka tidak boleh berada dalam lingkungan biasa, apalagi beribadah bersama dalam sebuah Jemaat.

Ketika di dekat Yesus dia berlutut dan memohon bantuan Yesus. "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Begitu katanya. Sebuah permohonan yang rendah hati, tidak memaksa, penuh dengan penyerahan diri! Yesus tidak enggan. Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Betapa gembiranya orang yang sudah sembuh itu! Yesus menasihatinya dengan mengatakan "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Yesus ingin agar hak-hak sosial orang itu ditegaskan dengan utuh sehingga ia dapat bersosialisasi lagi dengan normal di lingkungannya. Ingat, Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat. Yesus menghendaki agar hukum Taurat menjadi alat untuk memanusiakan manusia, membangun relasi yang harmonis.

Namun, orang yang disembuhkan itu melihat bahwa kini ruang lingkupnya tidak sesempit yang diharapkan Yesus. Ia memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana. Sebuah tindakan yang berangkat dari kegembiraan yang tidak dapat dibendung lagi. Respon wajar itu membuat Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia memilih untuk tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi. Mengapa Yesus menyepi? Dia tidak ingin dipopulerkan sehingga orang-orang berhasrat untuk semata-mata mengejar kesembuhan fisik, tetapi melupakan berita Injil yang utuh dan lengkap tentang Kerajaan Allah yang sejatinya melampaui kesembuhan fisik belaka. Yesus menghendaki orang juga turut memaknai arti menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti-Nya dengan setia. Penyembuhan yang dilakukan Yesus selalu merupakan penyembuhan yang utuh dan seimbang. Baik fisik maupun batin, psikologis maupun spiritual, individu maupun komunal, orang yang dipulihkan didorong Yesus untuk melanjutkan kehidupan untuk membangun relasi yang sehat dengan Allah dan sesama manusia.

Tidak semua orang sakit di Palestina pada zaman itu disembuhkan oleh Yesus. Tetapi sungguh karena karya Kristus, banyak orang, seperti Paulus misalnya – yang walaupun mengalami rupa-rupa penderitaan dan mengalami sakit penyakit (2 Kor 11:24-30; 2 Kor 12:7-8)- telah mengalami pembaruan budi dan hati karena uluran tangan dan jamahan Yesus (Kis 26:15). Paulus mengatakan ia ingin memperoleh mahkota yang abadi, melebihi mahkota yang fana (1 Kor 9:25). Paulus telah berhasil melihat dan menjalani Injil dengan utuh. Ia mau menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus serta memberitakan Kristus dengan kerendahan hati dan ketekunan. Tidakkah ini juga adalah kesembuhan yang dikaruniakan Allah bagi seseorang, di tengah dunia yang diikat oleh dosa tinggi hati dan pementingan diri sendiri dalam kebekuan relasi? (Pdt. Essy Eisen)
Comments