Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 13 April 2014

diposting pada tanggal 2 Mei 2014 02.06 oleh Admin Situs
"Akulah Sang Pemenang"

Yesaya 50:4-9; Mazmur 31:9-16; Filipi 2:5-11; Matius 21:1-11

Dalam Matius 21:1-11 digambarkan banyak orang menyambut kedatangan Yesus memasuki Yerusalem. Mengapa gerangan orang- orang tersebut begitu antusias menyambut Yesus? Sebagian orang yang menyambut Yesus itu berpikir bahwa Yesus adalah seorang raja yang akan membawa mereka semua merebut kemenangan melawan pemerintahan Romawi. Dengan kata lain, mereka mengira bahwa Yesus akan memimpin mereka berperang dan mengalahkan pemerintah Romawi.

Pemikiran orang banyak itu dilatarbelakangi konsep mereka tentang kemenangan. Bagi mereka, menang berarti berhasil menghancurkan musuh. Pemenang adalah orang yang bisa mengalahkan lawannya. Tapi apakah konsep kemenangan seperti itu yang dimiliki Yesus?

Penulis Injil Matius menggambarkan Yesus memasuki Yerusalem dengan menaiki seekor keledai muda. Ini menggambarkan bahwa Yesus tidak datang dengan kekuatan bersenjata, melainkan dengan kasih. Karena itu Yesus tidak menunggang kuda perang sebagaimana yang umumnya dilakukan raja-raja pada masa itu. Konsep kemenangan yang Yesus miliki berbeda dengan konsep kemenangan orang banyak. Kemenangan bagi Yesus bukanlah menghancurkan orang lain, bukanlah mengalahkan musuh, tapi justru yang mendahulukan orang lain.

Alkisah ada dua orang Kristen terdampar di sebuah pulau terpencil. Di sana mereka tidak bisa melakukan apapun, kecuali berdoa. Si A, yang selalu merasa lebih saleh dari orang lain, mengajak si B bertanding doa, untuk mengetahui doa siapa yang lebih manjur. Untuk itu mereka memutuskan membagi pulau tersebut menjadi dua bagian. Kemudian mereka pun berpisah untuk menempati daerah masing-masing. 

Pertama mereka berdoa untuk makanan. Paginya, si A mendapati sebuah pohon dengan buah-buahnya yang bergelantungan. Sementara si B tidak menemukan apa-apa. Seminggu berlalu. Si A merasa kesepian sehingga ia berdoa memohon seorang istri. Tanpa diduga, keesokan harinya ada kapal karam. Hanya seorang wanita yang berhasil selamat dan sampai ke bagian pulau yang ditempati si A. Segera setelah itu, si A berdoa minta rumah, pakaian dan lebih banyak lagi makanan. Dan, ajaib! Segalanya terkabul dengan segera. 

Ironisnya,tetap tidak terjadi apa-apa bagi si B. Dan dengan pongah si A memproklamirkan bahwa doanya lebih manjur dari si B. Akhirnya, si A berdoa meminta sebuah kapal agar ia dan istrinya bisa meninggalkan pulau tersebut. Lagi-lagi, esok harinya ia menemukan sebuah kapal terdampar di bagian pulau yang ditempatinya. Buru-buru ia dan istrinya naik ke kapal hendak pergi tanpa mengajaksi B. Ia merasa bahwa si B tidak layak menerima berkat Allah karena tidak satu pun doanya dikabulkan Allah. 

Ketika si A hendak meninggalkan pulau, tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dari surga: "Mengapa kamu hendak meninggalkan temanmu sendirian di pulau?" "Berkat ini hanya untukku," jawab si A. "Semua doanya tidak ada yang terkabul. Berarti ia memang tak pantas menerima apa-apa. Akulah pemenang dari perlombaan berdoa ini.” "Kamu salah," suara itu menjawab. "Ia telah berdoa untuk satu hal dan Aku hanya mengabulkan doanya. Jika bukan karena dia, kamu tidak akan menerima semua berkat ini." "Katakan," seru si A pada suara itu, "Apa yang ia doakan sehingga aku harus mempedulikannya." Suara itu menjawab: "Ia memohon kepada-Ku agar semua doamu dikabulkan."

Siapakah sesungguhnya pemenang sejati?

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments