Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 13 Oktober 2013

diposting pada tanggal 17 Okt 2013 01.49 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 9 Mei 2014 01.43 oleh Admin Situs ]
Aku Bersyukur Karena Kehadiranmu

(2 Raja-Raja 5:1-2, 7-15, Mazmur 111, 2 Timotius 2:8-15, Lukas 17:11-19)

Pada suatu hari Minggu seorang supir metromini datang ke gereja. Seusai kebaktian dia berbaris untuk bersalaman dengan pendeta. Pada gilirannya, kebetulan dia mendapat giliran terakhir, si pendeta menyapanya dan menanyakan kabar. Setelah ngobrol sejenak akhirnya mereka berpisah. Dan sesaat sebelum berpisah si pendeta menasihati si sopir metromini agar tidak mengemudi secara ugal-ugalan. Tapi si sopir menjawab, bahwa dengan caranya mengemudi itu dia justru membantu banyak orang untuk senantiasa ingat akan Tuhan. Hampir semua penumpangnya menyebut-nyebut nama Tuhan sepanjang perjalanan. Semakin si sopir ugal-ugalan, semakin gencar penumpangnya menyebut nama Tuhan.

Barangkali si sopir metromini itu ada benarnya juga. Ingatan akan Tuhan mungkin lebih sering muncul saat seseorang berhadapan dengan situasi berbahaya atau keadaan yang mengancam. Orang mungkin sangat ingat dan berharap kepada Tuhan ketika sedang mengalami sakit berat, terancam di PHK, mengalami kebangkrutan usaha, dan tentu saja saat menumpang metromini yang sopirnya ugal-ugalan. Namun, bila bahaya sudah berlalu, belum tentu orang ingat akan Tuhan. Tokoh-tokoh dalam bacaan kita juga mengalami hal seperti itu.

Sepuluh orang kusta tentu mengalami keadaan yang sangat sulit. Mereka dikucilkan oleh masyarakat. Di dalam penderitaan itu mereka berseru kepada Yesus: “Yesus, Guru, kasihanilah kami” (Lukas 17:13). Sangat wajar tentunya bila mereka begitu berharap Yesus mau menyembuhkan mereka, sebagaimana kita semua berseru dan sangat berharap kepada Tuhan saat mengalami penderitaan. Di ayat 14 dikisahkan mereka semua sembuh dari sakit kustanya. Lalu apa yang terjadi? Hanya satu orang, yaitu orang Samaria, yang kembali kepada Yesus dan mengucap syukur. “Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.” (ay15-16). Kemana yang sembilan orang lagi? Entah..., tak ada yang tahu.


Lalu apa tanggapan Yesus? Di ayat 17-18 dikatakan: “Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Ada nada kecewa dalam tanggapan Yesus. Dengan ucapannya itu Yesus seperti ingin berkata bahwa sembilan orang kusta itu, dan tentu saja termasuk semua orang yang pernah merasakan pertolongan Tuhan, selayaknya mengakuinya dan bersyukur atas pertolongan yang diterimanya dari Tuhan. Dengan ucapannya Yesus seperti ingin berkata: “Orang asing seperti orang Samaria ini saja tahu mengucapkan terima kasih. Masakan umat sendiri sering lupa untuk bersyukur?” Dan memang, dalam bacaan kita, dua “orang asing”, yaitu Naaman sang panglima Aram dan orang Samaria yang sakit kusta, mau mengakui keberadaan dan karya Tuhan dalam hidup mereka.

Dari bacaan ini kita semua dapat melihat setidaknya dua hal. Pertama, kesulitan atau penderitaan bisa Tuhan pakai sebagai cara untuk memperlihatkan kehadiran dan kuasa-Nya kepada manusia. Dan manusia yang sudah mengalami kehadiran serta kuasa Allah yang membuatnya mampu melewati penderitaan itu selayaknya mau mengakui karya Allah dalam hidupnya dengan cara bersyukur. Kedua, kisah dalam Lukas mengingatkan bahwa ternyata sulit untuk mengingat Tuhan saat tidak ada bahaya. Karena itu, sedikit sekali orang yang ingat untuk bersyukur pada saat mengalami kesenangan atau berada dalam situasi aman tenteram. Kecenderungan ini mengingatkan kita pada sebuah syair lagu tahun 80-an:

Dalam nikmatnya hidup di dunia yang hanya sementara saja;
seringkali kita menjadi lupa, bahkan untuk sebaris doa.
Dan bila langkah terasa gontai, kehilangan arah tujuan,
serta beban hidup bertambah sarat,
baru kita mulai bertanya, baru kita mulai mencari .....

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments