Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 13 Pebruari 2011

diposkan pada tanggal 10 Feb 2011 02.59 oleh Essy Eisen
Ketaatan yang terwujud dalam: Hati, Pikiran, Perkataan, Perbuatan


Ulangan 30:15-20
Perintah Allah bukanlah beban. Sebaliknya, orang yang memilih untuk melakukan perintah Allah sedang memilih untuk menikmati kehidupan yang sesungguhnya. Tentu “hidup” dalam pengertian yang bukan sekadar bernafas saja, tetapi hidup yang dijalankan dengan kemampuan “membedakan” mana yang baik dan yang benar dengan serius lalu melakukannya. Itulah yang ditegaskan Musa kepada umat-Nya. Allah tidak memaksa, tetapi Allah mengajak umat-Nya bijaksana dalam memilih.

Mazmur 119:1-8

Mazmur 119 ialah Mazmur terpanjang dan juga Pasal terpanjang di Alkitab. Kemungkinan ditulis oleh Ezra paska pemugaran bait Yerusalem (Ezra 6:14-15). Sering Mazmur ini digunakan sebagai bahan penolong perenungan akan betapa indahnya Firman Allah yang menolong umat bertumbuh dalam iman. Perhatikan bahwa setiap ayat selalu menyinggung Firman Allah. Kenyataan ini mengungkapkan kejelasan: bahwa hanya Firman Allah yang menjadi sumber kekuatan dan berkat bagi yang mau memelihara, menaati dan melakukannya.

1 Korintus 3:1-9
Gereja di Korintus disebut anak-anak, karena secara spiritual mereka belum sehat dan dewasa. Mengeluh serta menjagokan seseorang ketimbang Kristus adalah bukti dari hal itu. Rupanya nafsu jahat masih banyak menguasai ketimbang keselarasan dengan kasih ilahi. Kuasa Allah mendorong orang dengan berbagai kemampuan untuk berkarya bukan bagi diri sendiri atau menjelekkan orang lain, tetapi membangun jemaat Tuhan. Ini dapat terjadi kalau Firman Allah bukan sekedar dimengerti dan diterima saja, tetapi juga mengubah perilaku kehidupan karena ditaati.

Matius 5:21-37
Ajaran Yesus adalah ajaran yang mendalam. Hati dan pikiran adalah tahapan awal yang harus dibenahi sebelum orang melangkah pada perkataan dan perbuatan. Bagi Yesus ketaatan kepada Firman Allah ialah ketaatan yang mendasar pada akar dan bukan sekedar kulit.
  • Membunuh, bukan sekedar melakukan pembunuhan fisik, tetapi juga “membunuh” dengan kata-kata. Oleh sebab itu orang harus bijak mengendalikan lidahnya. (21-22)
  • Ibadah, bukan sekedar hubungan vertikal dengan Sorga, tetapi juga horizontal dengan sesama manusia di Bumi. (23-24)
  • Yesus mendorong orang bukan sekedar cinta damai, tetapi mau mengerjakan perdamaian. (25-26)
  • Hati yang jahat sama jahatnya dengan tindakan kejahatan. (27-28)
  • Pengendalian indera dengan baik dan kebijaksanaan dalam mengelola karya tangan (pekerjaan) tidak boleh disepelekan. Jangan biarkan tindakan kejahatan berlarut-larut dan kebaikan terabaikan. Pengabaian hanya akan memperburuk keadaan. (29-30)
  • Ketaatan agama, perumusan legalitas agama tidak boleh digunakan untuk memuaskan diri sendiri atau menutupi moralitas yang bobrok, tetapi untuk memanusiakan manusia lain. (31-32)
  • Di mata Allah, kejujuran adalah lebih baik ketimbang kemunafikan. (33-37)
Perenungan
  • Apa yang diperlukan dan dikerjakan supaya orang memiliki ketaatan hati, pikiran, perkataan dan perbuatan?
  • Apa halangan terbesar orang menjadi tidak taat? Apa rencana Anda untuk menghidupi ketaatan yang benar?
Comments