Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 14 Agustus 2011

diposkan pada tanggal 8 Agt 2011 08.11 oleh Essy Eisen   [ diperbarui8 Agt 2011 08.16 ]
"Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki."

Matius 15:21-28

Perempuan ini dikatakan sebagai “seorang Yunani, keturunan Siro-Fenisia” dalam Injil Markus 7:26, menunjukan bahwa ia berasal dari baratlaut Galilea, di mana kota Tirus dan Sidon berada. Matius menyebut perempuan ini seorang Kanaan, yang mengindikasikan keterpisahannya dengan orang Yahudi. Murid-murid meminta Yesus menyuruh perempuan ini pergi sebab ia mengikuti rombongan Yesus sambil berteriak-teriak. Murid-murid sepertinya tidak menunjukan belas kasihan dan kepekaan untuk mengenali kebutuhan perempuan ini. Memang, besar kemungkinan saat seseorang terlalu berat sebelah dalam memikirkan urusan kerohanian menjadi lupa akan kebutuhan sesama yang membutuhkan. Padahal semestinya perkara menolong orang yang membutuhkan juga adalah sebuah panggilan kerohanian yang tidak dapat disepelekan.

taken from: web.tiscali.it
Kata-kata Yesus kepada perempuan ini tidak bertentangan dengan kebenaran bahwa kabar baik dari Allah tersedia untuk semua orang. (Mzm 22:27; Yes 56:7; Mat 28:19; Rm 15:9-12). Saat Yesus mengatakan kata-kata ini, Dia berada di wilayah yang “asing” untuk menyampaikan karya Allah kepada orang yang “asing”. Yesus memang banyak melayani orang yang “asing”. Yesus hanya mengatakan kepada perempuan ini bahwa orang Yahudi mendapatkan kesempatan pertama untuk menerima-Nya sebagai Mesias, karena melalui mereka seluruh bangsa mendapat berkat Allah (Kej 12:3). Jadi, Yesus tidak menolak perempuan ini. Dia hanya ingin menguji imannya, atau Dia ingin menggunakan situasi itu untuk mengajarkan kepada banyak orang bahwa iman itu terbuka kepada semua orang.

Sebutan “anjing” biasa digunakan orang Yahudi kepada orang-orang di luar kumpulan mereka, karena orang-orang Yahudi menganggap orang-orang ini tidak lebih dari anjing yang tidak layak menerima berkat Allah. Yesus, tidak merendahkan perempuan ini saat menggunakan kata “anjing”. Sebenarnya Yesus ingin mengubah cara pandang dan berpikir orang-orang Yahudi. Perempuan itu tidak menyanggahi, melainkan menggunakan pemilihan kata oleh Yesus, dia setuju dianggap “anjing” asal ia dapat menerima berkat Allah demi kesembuhan anak perempuannya. Sungguh sebuah tindakan iman yang berani dan tulus. Sangat ironis, bahwa banyak orang-orang Yahudi justru kehilangan berkat Allah dan keselamatan karena menolak Yesus, dan malahan orang-orang yang dianggap “asing” yang pada akhirnya mengenali Yesus dan menerima-Nya.

Tuhan Yesus bukan sekedar melihat rupa, tetapi juga melihat hati. Di mata-Nya semua orang berharga dan berhak untuk menerima kasih karunia Allah yang memberikan keselamatan. Setiap orang yang dengan rendah hati mau menjumpai Yesus dan mengikuti-Nya dengan setia, berharap akan pertolongan Allah melalui Kristus, sungguh akan menemui kelegaan yang sejati. Sebagai pengikut Kristus, tidakkah kita juga terpanggil untuk meneladani sikap Yesus yang menjadi saluran berkat Allah tanpa membeda-bedakan sesama kita?

(Pdt. Essy Eisen)


Comments