Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Mengabaikan kebenaran = Krisis Spiritual - 15 Agustus 2010

diposting pada tanggal 11 Agt 2010 10.26 oleh Essy Eisen   [ diperbarui22 Sep 2010 15.19 ]
Lukas 12:49-56

Pernah mengalami alat elektronik yang anda gunakan rusak padahal alat itu sedang anda butuhkan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan anda? Hati menjadi kesal, karena pekerjaan menjadi tertunda dan harus berupaya ekstra dengan segera bagaimana menyikapinya. Apa yang menyebabkan alat itu rusak? Banyak sebab, tetapi yang jelas, tentu ada bagian tertentu di dalam alat itu yang “mengabaikan” tugasnya. Dalam sebuah sistem di mana bagian-bagian saling terkait satu sama lain, pengabaian satu bagian segera mempengaruhi keseluruhannya.

“..Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” (Luk 12:51). Ini dikatakan oleh Yesus. Sekilas kita mungkin akan berpikir, lho kok Tuhan Yesus tidak membawa damai? Tuhan Yesus membawa pertentangan? Ya, benar. Tuhan Yesus memang membawa pertentangan. Tetapi hati-hati, yang Tuhan Yesus maksudkan itu bukan artinya Ia membuat orang-orang membenci satu dengan yang lain. Makna “bertentangan” jelas berbeda dengan “membenci”. Kita harus menafsirkan kata-kata Yesus ini dengan melihat seluruh karya Yesus semenjak pembaptisan-Nya oleh Yohanes Pembaptis hingga rencana-Nya menuju Golgota. Apa yang Yesus perjuangkan? Injil Kerajaan Allah! Allah yang me-Raja di dunia ini. Kuasa dan nilai-nilai Allah hadir dalam kehidupan manusia. Kebenaran-Nya. Keadilan-Nya. Damai Sejahtera-Nya, dan itu semua tidak akan terwujud kalau orang-orang masih senang “mengabaikan” kebenaran.

Kalau dalam sebuah keluarga atau masyarakat ada nilai-nilai yang jahat, yang tidak memanusiakan satu dengan yang lainnya dan bagian-bagian dari keluarga atau masyarakat merasa itu “damai-damai” saja, “baik-baik” saja, bagaimanakah nilai Kerajaan Allah dapat nyata hadir? Inilah mengapa dengan tegas Yesus menegaskan melalui kata-kata-Nya, “..bukan damai, melainkan pertentangan”. Yesus ingin setiap orang serius berpihak kepada dan memperjuangkan kebenaran. Yesus ingin menggugah orang-orang bahwa krisis spiritual itu akan terjadi kalau orang “nyaman” dengan “apa yang salah dan jahat di mata Allah”. Yesus dengan tegas menyindir orang-orang yang secara salah menempatkan prioritas makna hidup. Dia berkata: “Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” (Luk 12:56). Dengan kata lain, setiap orang harus berhati-hati dalam mengenali nilai-nilai yang ia hidupi dan yang sedang dihidupi oleh orang-orang di sekitarnya. Jangan sampai terbawa arus zaman, jika nyata-nyatanya nilai-nilai hidup itu akan berakhir kepada kehancuran.

Kita bersyukur atas 65 tahun kemerdekaan Indonesia yang kita imani dan amini sebagai karunia Allah juga. Tetapi dalam syukur itu kita juga harus terus menerus merenungkan kaitan antara iman dan tindakan iman dalam karya kita mengisi kemerdekaan. Bangsa kita belum sepenuhnya lepas dari krisis multidimensi. Melalui media kita mendapati ada begitu banyak saudara sebangsa yang dengan teganya “mengabaikan” apa yang benar dan malah merasa “damai” dengan apa yang jahat. Oleh sebab itu, seraya bersyukur atas pimpinan-Nya untuk bangsa ini, kita juga harus memilih dengan tegas untuk tidak mudah “mengabaikan” apa yang harus kita lakukan sebagai pengikut Yesus di tengah komunitas kita, mulai dari keluarga, tempat kerja dan masyarakat dengan menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Ingat, krisis spiritual terjadi karena orang mengabaikan kebenaran.

Comments