Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 15 Juli 2012

diposting pada tanggal 14 Jul 2012 10.18 oleh Essy Eisen
Rela Mendengar Nasihat & Menerima Didikan

Amos 7:7-15, Mazmur 85:8-13, Efesus 1:3-14, Markus 6:14-29

Nasihat dan didikan itu tanda sayang. Meski dapat berangkat dari motivasi beragam, orang yang memberi nasihat kepada kita, hampir pasti sedang menunjukkan kepeduliannya kepada kita. Orang itu ingin agar kita menyadari kekeliruan dan belajar untuk menjadi semakin baik lagi. Alangkah berbahagianya orang yang rela mendengarkan nasihat dan menerima didikan. Sebab ia menjadi orang yang semakin bijak di masa depan (Ams. 12:15, 13:10, 19:20).

Apa yang secara objektif baik dan benar tidak akan pernah bisa dihentikan. Dalam bacaan kita hari ini, kita menjumpai Amos dan Yohanes Pembaptis yang menyuarakan kebenaran pada zamannya. Mereka memberikan nasihat dan didikan kepada para pemimpin yang waktu itu korup dan sakit secara moral. Tidak mudah memang. Mereka mengalami pembungkaman. Bahkan Yohanes Pembaptis dibunuh oleh Herodias yang ingin tetap berdosa dengan damai.

Tetapi kebaikan tidak bisa dibungkam. Kehadiran karya Yesus Kristus yang melanjutkan dengan semakin tegas apa yang sudah dipersiapkan Yohanes telah menggetarkan istana Herodes. Yesus diduga Yohanes Pembaptis yang bangkit kembali. Kuasa-kuasa kebenaran menghardik dengan tegas kebejatan moral dinasti Herodes. Begitu juga pemberitaan firman Allah oleh Amos yang kelak menemui kenyataan kala Asyur menaklukan Israel Utara. Kuasa didikan Allah tidak dapat dibungkam.

Allah merencanakan yang baik untuk umat-Nya. Di dalam Kristus Ia membuktikannya (Ef. 1:3-5). Dalam nasihat dan didikan-Nya kita mengenali anugerah kasih sayang Allah yang menyelamatkan. Orang-orang yang seperti Amos dan Yohanes Pembaptis memang tidak populer. Mereka adalah orang-orang yang berani bayar harga untuk mengasihi Allah dengan setia dengan cara menghidupi apa yang benar.

Bukan hanya itu, mereka berani dan tegas membongkar kebusukan-kebusukan hati lingkungannya demi kebaikan bersama. Orang-orang seperti mereka harus tetap ada. Sebab kebanyakan orang, karena kecenderungan untuk berdosa dapat menjadi lupa diri dan kemudian berakhir dengan menyakiti diri sendiri dan orang lain. Ini tentu harus dicegah. Allah berkenan memakai kita untuk melanjutkan karya kebaikan-Nya bagi sesama kita.

Dan tentu bukan hanya memberi nasihat. Bukankah kitapun harus rela mendengar nasihat dan menerima didikan Allah juga? Kala mendengar nasihat dan menerima didikan Allah, kita sedang menerima cinta kasih-Nya yang akan memampukan kita untuk melangkah dengan bijak dan baik di masa depan. Sungguh memberi kedamaian dan kesejahteraan bukan?

Pertanyaan Aplikasi:
  • Kapan terakhir kali kita menerima nasihat dan didikan Allah? Dengan cara apa atau melalui siapa itu disampaikan? 
  • Apa yang membuat kita rela menerima nasihat dan didikan? Apa manfaat nasihat dan didikan bagi kita? 
  • Kapan terakhir kali kita memberi nasihat dan didikan? Apa resikonya? Apa dampaknya bagi kita dan orang yang kita nasihati dan didik?
Comments