Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 15 Juni 2014

diposkan pada tanggal 14 Jun 2014 09.10 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 14 Jun 2014 09.13 oleh Admin Situs ]
Misteri 3 in 1

(Kej. 1:1 - 2:4a; Mzm. 8; II Kor. 13:11-13; Mat. 28:16-20)

Hidup di Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya dan juga agama, seringkali pemahaman kekristenan tentang Bapa, Anak dan Roh Kudus sulit dipahami oleh orang lain. Jangankan oleh umat beragama lain, umat Kristen sendiri banyak yang kurang memahami istilah Trinitas. Sehingga jika berdialog dengan umat beragama lain banyak umat Kristen yang menghindari tema Trinitas. Bicara tentang Trinitas memang menyangkut rahasia Allah yang dalam dan luas, karena itu tak mungkin sepenuhnya dimengerti oleh pemikiran manusia.

Namun apakah karena Trinitas Allah merupakan misteri ilahi yang tak terpecahkan, kita tidak diperkenankan untuk memberikan jawabnya? Apakah untuk menjawab masalah Trinitas Allah, kita cukup berkata: “Trinitas merupakan rahasia Allah yang tak terpecahkan, jadi cukuplah saudara percaya”. Memang, Trinitas Allah adalah rahasia Allah yang dalam, ilahi dan tak terbatas, tetapi sekaligus juga merupakan rahasia Allah yang sesungguhnya telah disingkapkan di dalam karya penebusan Kristus.

Berulangkali umat percaya terjebak untuk menjawab dan meyakinkan dunia soal Trinitas Allah dengan pola pemikiran matematis. Seakan-akan persoalan Trinitas Allah dapat diterima oleh ilmu pengetahuan. Jawaban tentang Trinitas Allah biasanya dengan: “3 = 1”, dan “1 = 3”. Sebenarnya pakai logika apapun jawaban tersebut tidaklah logis. Kadang untuk memuaskan logika, kita lalu mengubahnya menjadi bentuk perkalian, yaitu: “1x1x1 = 1”. Tampaknya dengan jawaban tersebut kita menganggap telah berhasil menjawab masalah Trinitas Allah. Inilah jawaban dengan “pola matematika”. Padahal Allah yang disaksikan oleh Alkitab bukanlah “esa secara bilangan”. Melainkan merupakan “keesaan secara relasional” atau “keesaan Allah dalam hubungan sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus”.

Dalam Matius 28:16-20, Yesus menegaskan otoritas-Nya sebagai Penguasa. Otoritas (exousia) dipahami sebagai otoritas ilahi. Murid (mathēteuō) dipahami sebagai pengikut/pelajar. Murid-murid selalu mengidentifikasikan diri dengan Kristus dan belajar kepada-Nya. Dalam pengutusan-Nya untuk membaptis bangsa-bangsa yang menjadi murid, Yesus menggunakan “formula tigalapis.” Melalui formula ini, Bapa, Anak dan Roh Kudus, hadir bersama; cara dimana Allah menjumpai manusia berangkat dari kasih-Nya, mulai dari kekekalan sampai kekekalan Allah yang Esa itu. Ungkapan teknis untuk menggambarkan relasi ini digunakan kata perikhoresis (saling terhubung).

Maksud Trinitas Allah secara perikhoresis adalah hakikat diri Allah yang tidak bercampur sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus; tetapi pada saat yang sama terjalin kesatuan pribadi ilahi yang intim. Walau keberadaan Allah sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus tidak bercampur, tetapi juga tidak dapat dicerai atau dipisahkan satu sama lain, seperti sebutir telur yang terdiri dari: kuning telur, putih telur dan kulit telur. Dalam hal ini kita harus ingat bahwa ilustrasi “telur” hanyalah suatu upaya untuk menjelaskan atau memvisualisasikan sesuatu yang abstrak. Ilustrasi apapun tidak akan pernah tepat untuk menjelaskan kebenaran misteri Trinitas Allah. Namun yang pasti melalui pemahaman Trinitas Allah secara perikhoresis, kita disadarkan akan hubungan atau relasi Allah sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus dalam ikatan kasih.

Karena itu dalam iman kepada Trinitas Allah, kita dimampukan untuk hidup dalam kasih dan memelihara keutuhan ciptaan, yaitu bersama dengan Allah-sesama-alam secara harmonis. Perenungan bagi kita saat ini adalah, Sudahkah iman kita yang percaya kepada Allah di dalam Bapa-Anak-Roh Kudus melahirkan sikap kasih yang relasional dengan sesama dan alam ciptaan? Amin.

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))
Comments