Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 15 Mei 2011

diposting pada tanggal 24 Mei 2011 08.32 oleh Essy Eisen   [ diperbarui24 Mei 2011 09.30 ]
Masuklah! PintuNya terbuka.

Yoh 10: 1-10

“Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10).

Sewaktu bersekolah di SMAK 3 Gunung Sahari, jam masuk sekolah adalah pukul 6.45. Selepas pukul 6.45, pintu gerbang akan ditutup dan siswa yang terlambat akan dihukum untuk datang apel pagi pada pukul 6.15 selama seminggu. Suatu ketika saya datang lewat pukul 6.45, tapi anehnya pintu gerbang belum ditutup. Maka saya berlari masuk dan sekejap setelah melewatinya, pintu gerbang itu ditutup. Betapa bahagianya! Pintu masih terbuka dan saya tidak terkena hukuman. Di lain waktu, saya ketinggalan penerbangan lanjutan dari Bangkok ke Phuket. Penerbangan awal dari Jakarta ke Bangkok terlambat dan ketika sampai ke meja check-in, petugas maskapai penerbangan mengatakan gatenya (pintunya) sudah ditutup. Betapa mengecewakan! Bisa masuk melewati pintu memang sangat penting.

Tuhan Yesus menyatakan bahwa “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat ...” Dalam masyarakat yang hidup dari peternakan domba di Yudea pada masa itu, pintu gerbang sangat penting. Menurut penelitian arkeologis, kampung-kampung Yudea kebanyakan berbentuk seperti lingkaran dengan tembok yang mengelilinginya. Rumah-rumah dibangun merapat ke tembok tersebut, sehingga di tengah-tengah kampung itu ada halaman besar. Halaman besar itu berfungsi sebagai kandang domba. Ada pintu gerbang ke kampung yang menyerupai banteng kecil itu. Sepintas kampung-kampung ini menyerupai banteng kecil. Untuk keluar masuk, ada pintu gerbang yang dijaga orang dengan seksama.

Pintu gerbang itu adalah sarana untuk melindungi domba-domba. Jika serigala atau singa mengejar kawanan domba selagi mereka ada di padang rumput, gembala segera membawa kawanan itu masuk ke kampung melewati pintu dan ketika pintu ditutup, amanlah kawanan itu dari ancaman singa atau serigala. Tanpa pintu gerbang yang kokoh, domba mudah dicuri atau dimangsa hewan buas. Tanpa pintu gerbang, peternakan domba di kampung-kampung Yudea tidak mungkin berhasil.

Ketika Yesus menyatakan diriNya adalah pintu, para pendengarnya mungkin dengan segera mengaitkannya dengan arti penting pintu dalam konteks kampung-kampung Yudea beserta domba peliharaan mereka. Para pendengar ini memahami bahwa Yesus menempatkan diriNya pada posisi yang penting sekali. Ia menempatkan diriNya sebagai penjamin keselamatan dan juga kelangsungan hidup bagi para pendengarNya.

Bagi kita sekarang, pintu tetap penting seperti dua contoh yang saya berikan di awal renungan ini. Mendapatkan diri berada di dalam pintu gerbang bisa jadi sangat membahagiakan, dan mendapatkan diri di luar pintu gerbang yang tertutup untuk kita bisa jadi sangat mengecewakan. Maka barangkali pertanyaannya bagi kita adalah: “Apakah kita ada di sebelah dalam pintu gerbang Yesus Kristus, ataukah kita berada di luar pintu gerbang Yesus Kristus?” Tentunya saya tidak sedang bicara pintu dalam makna harafiah seperti pintu gerbang SMAK 3 dan pintu gerbang ke pesawat tujuan Phuket. Saya berbicara tentang pintu persekutuan dengan Yesus Kristus, Tuhan kita. Apakah kita mendapati diri di sebelah dalam pintu persekutuan dengan Dia dan merasakan sukacita keselamatan yang dianugerahkanNya? Ataukah kita mendapatkan diri di luar pintu persekutuan dan merasakan segala marabahaya yang mengancam keselamatan kita?

Kabar baik dari Yesus Kristus adalah Ia sendiri merupakan pintu gerbangnya dan Ia mau kita masuk ke dalam keselamatan yang kekal (Yoh 3:16). Syair NKB 18 mengajak kita semua, tanpa kecuali, untuk masuk melalui pintu gerbang kasih karunia Allah yang terbuka.

Pintu gerbang terbukalah sehingga tampak cahya,
yang dari salib asalnya, besarlah kasih Allah.

Pintu gerbang terbukalah mengundang yang berdosa,
Baik kaya miskin masuklah, pun s’gala suku bangsa.

Ref.
Betapa dalam kasihNya, pintu gerbang terbukalah!
Ya bagiku, terbuka bagiku!

(Agustian N.Sutrisno)

Comments