Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 16 Februari 2014

diposkan pada tanggal 28 Feb 2014 00.22 oleh Essy Eisen
"Ketaatan Sejati"

Ulangan 30: 15-20; Mazmur 119: 1-8; 1 Korintus 3:1-9; Matius 5: 21-37.

Menurut saudara-saudara ibadah itu merupakan kewajiban atau kerinduan? Ketika seseorang menyadari bahwa ibadah kepada Tuhan adalah sebuah kerinduan, maka motivasi ia datang kebaktian adalah untuk memuaskan dahaganya akan firman Tuhan. Akan tetapi ketika seseorang menganggap bahwa ibadah itu hanya sekedar kewajiban yang harus dilaksanakan, maka ia hanya hadir saja secara fisik dalam kebaktian. Persoalan apakah hatinya memang terpanggil, memiliki kerinduan untuk beribadah kepada Tuhan atau tidak, itu menjadi persoalan nomor 2.

Taat menjalankan kebenaran firman Tuhan jelas merupakan tugas kita sebagai orang percaya. Rangkain bacaan firman Tuhan hari ini mengarahkan kita untuk melihat bagaimana Tuhan menginginkan umat-Nya menjadi umat yang taat menaati firman-Nya. ketaatan kepada firman Tuhan adalah urusan yang sangat penting dan menentukan. Ulangan 30 : 15 – 20, menyatakan kepada kita bahwa ketaatan menjamin berkat dan kehidupan, sementara ketidaktaatan akan membawa manusia kepada kutuk dan kematian. Menurut Mazmur 119, ketaatan kepada firman Tuhan juga menjadi alasan dan jaminan akan kebahagiaan. Tentu saja bukan kebahagiaan menurut ukuran duniawi, melainkan kebahagiaan surgawi.

Ketaatan sejati adalah ketika seseorang melakukan firman Tuhan dengan didukung hati dan pikiran yang rela serta melakukannya dengan tulus. Dengan kata lain motivasi selalu menjadi dasar penting untuk mengukur ketaatan dan ketekunan seseorang dalam melaksanakan sesuatu.

Matius 5 : 21 – 37, memberikan bukti kepada kita bahwa apa yang terlihat secara kasat mata tidak menjadi ukuran ketaatan. Yesus dalam pengajaran-Nya di atas bukit ini mengatakan bahwa sekedar taat secara lahiriah kepada hukum agama yang berlaku, itu belumlah cukup. Padahal, hukum agama adalah sesuatu yang sangat diagungkan oleh orang Yahudi. Akan tetapi Yesus memberikan sebuah standar baru.

Standar baru yang diterapkan Yesus adalah, bahwa kehendak dan pikiran itu sama pentingnya dengan perbuatan. Bagi-Nya, seseorang dinilai bukan hanya dari perbuatannya, tetapi juga dari keinginan dan pikiran yang mungkin belum terwujud dalam tindakan. Dunia menilai orang dari perbuatannya. Seseorang dipandang baik, jika ia tidak berbuat dosa. Seseorang dianggap baik, jika ia taat kepada semua peraturan agama. Dunia tidak mempersoalkan serta mempedulikan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh seseorang. Apakah hatinya dan pikirannya memang tulus dan berniat untuk taat, dunia tidak ambil pusing akan hal itu. Dunia tidak mempermasalahkan apa motif seseorang melakukan atau mengucapkan sesuatu. Jika yang ia ucapkan baik, maka ia akan dipandang baik, demikian juga sebaliknya.

Dalam standar Yesus, seseorang dipandang baik selama ia memang dari hati dan pikirannya tidak memiliki keinginan untuk berbuat dosa. Ia menyebutkan bahwa bagi hukum agama, yang disebut berdosa adalah membunuh dalam arti menghilangkan nyawa (ayat 21), tetapi bagi-Nya marah kepada seseorang sudah merupakan sebuah perbuatan dosa (ayat 22). Amarah tidak jarang dipicu oleh kebencian dan dendam yang menyala-nyala terhadap orang lain. Di dalam kebencian yang sudah mencapai puncaknya, pikiran dan hati seseorang diisi dengan segala prasangka buruk terhadap pihak yang dibencinya itu, termasuk menginginkan bencana dan kematian. Bukankah seringkali aksi pembunuhan diawali oleh amarah yang sudah tidak tertahankan lagi, sehingga seseorang kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri.

Standar baru Yesus ini juga memastikan, bahwa yang dapat menilai dan menghakimi seseorang dengan sebenar-benarnya hanyalah Tuhan Yesus. Yang dapat mengetahui motivasi seseorang adalah Tuhan dan yang bersangkutan itu sendiri. Dan standar baru Yesus ini menegaskan bahwa ketaatan bukan cuma diukur dari intensitas kepatuhan itu sendiri. Jadi, betapa pentingnya motif di balik sebuah perbuatan. Benar atau tidaknya kita, baik atau tidaknya kita dihadapan Tuhan, ditentukan bukan hanya dari apa yang telah kita katakan maupun lakukan, tetapi terutama dari motif di balik setiap perkataan dan perbuatan kita. Jadi dalam kehidupan orang Kristen seharusnya tidak ada prinsip : Taat jika ada yang lihat.

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))
Comments