Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 16 Maret 2014

diposting pada tanggal 20 Mar 2014 04.16 oleh Admin Situs   [ diperbarui9 Mei 2014 01.37 ]
"Hanya Percaya"

Kejadian 12:1-4a; Mazmur 121; Roma 4:-15, 13-17; Yohanes 3:1-17 

Situasi yang paling sulit dilewati manusia dalam kehidupan adalah ketika ia harus meninggalkan zona nyamannya. Berpaling dari hal-hal rutin yang selama ini digeluti dan melangkah kepada hal-hal baru yang mengandung ketidakpastian. Ini merupakan sebuah keadaan yang tidak mudah untuk dilakukan, itu sebabnya setiap orang umumnya memiliki kecenderungan untuk terus berupaya mempertahankan kemapanan dirinya, dan tidak ingin tergusur kehidupan yang saat ini dijalaninya. Tetapi tidak demikian dengan sikap Abram, Kej. 12:1, Tuhan berfirman kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu”. Abraham dipanggil oleh Allah untuk meninggalkan negeri, kota, dan sanak saudara serta rumah ayahnya untuk menuju suatu negeri yang belum diketahuinya. Tentu saja panggilan Tuhan tersebut menjadikannya mengalami pergumulan yang sangat berat dan sulit. Sebab sesungguhnya dia telah merasa menyatu dengan semua  
orang, alam dan segala sesuatu yang ada di lingkungan keluarga, kota dan negerinya, Abraham sudah berada pada situasi “at Home” di Ur-Kasdim. Selain itu saat itu Abraham telah berusia 75 tahun! Suatu usia yang sebenarnya sangat cocok bagi Abraham untuk menikmati hari tua dan masa pensiun daripada dia harus pergi sebagai seorang musafir di negeri orang. Tetapi Tuhan telah memanggil dia untuk meninggalkan lingkungan dan ikatan keluarga serta suku untuk memulai suatu kehidupan yang baru berdasarkan janjiNya. 

Saat itu mungkin Abraham juga sempat bertanya-tanya dalam hatinya, apakah dia masih sanggup untuk melakukan perjalanan yang sangat jauh, sulit dan berbahaya menuju suatu tempat yang belum diketahui dengan jelas. Tetapi dia akhirnya memilih setia dan taat kepada Tuhan. Jadi kita dapat melihat bahwa Abraham rela mengorbankan segala sesuatu yang mapan dan ikatan keluarganya demi memenuhi panggilan Tuhan. Abraham menaruh percaya kepada penyertaan dan janji Allah, yaitu: “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:2-3). Dia percaya bahwa Allah yang diimani adalah Allah yang hidup dan berkuasa. Sehingga dia juga percaya bahwa janji-janji Tuhan pasti akan digenapi, walaupun saat itu dia sama sekali tidak mempunyai bukti apapun. Abraham mengambil keputusan untuk percaya berdasarkan imannya; bukan berdasarkan perhitungan dan bukti-bukti yang terlihat dengan jelas. 

Kita sering mendengar atau bahkan memakai kata percaya dalam hidup ini, namun kalau mau jujur, sering kita tidak memahaminya dengan tepat. Percaya, sebenarnya lebih banyak mengandung porsi di dalam hati kita ketimbang logika. Percaya adalah sikap hati. Oleh karena itu tidaklah cukup hanya dengan kata-kata untuk menggambarkan dan membuktikan bahwa seseorang itu percaya kepada Allah. Dampak percaya kepada Allah akan membuat orang melakukan apa yang Allah kehendaki. Percaya yang benar akan membuahkan seseorang melakukan firman Allah dengan sungguh-sunguh dan tanpa paksaan. 

Minggu ini kita memasuki masa pra Paska yang kedua, minggu dimana kita kembali merefleksikan relasi kita dengan Tuhan. Seberapa jauh kita percaya kepada Tuhan? Apakah hanya sebatas pengakuan iman dalam ibadah minggu? Ataukah telah benar- benar mempercayakan diri sepenuhnya dan ditunjukkan dalam segenap perilaku hidup? Selamat berefleksi. 

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))
Comments