Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 16 September 2012

diposkan pada tanggal 14 Sep 2012 16.31 oleh Essy Eisen
Kendali Kuasa atau Kendali Kasih?

Efesus 5:22-33

Janji yang diperjuangkan untuk senantiasa diingat dan diberlakukan dinamakan komitmen. Komitmen dapat hilang, kala salah seorang yang berjanji atau kedua-duanya, tidak lagi menganggap suci janji yang sudah diucapkan. Dalam kehidupan keluarga, acapkali hilangnya komitmen diawali oleh masalah-masalah kecil, yang dibiarkan berlarut-larut. Akhirnya masalah-masalah itu menumpuk dan menjadi masalah besar yang memunculkan kebencian dan kekerasan. Masalah semakin pelik karena biasanya masing-masing pribadi dalam keluarga memiliki tekanan-tekanan hidupnya masing-masing. Mulai dari tuntutan pekerjaan, pengelolaan keuangan, aktifitas yang padat dalam waktu yang terbatas, dan lain sebagainya.

Kristus menghendaki setiap orang menyatakan cinta kasih yang berkorban sebagaimana Ia sendiri telah meneladankannya. Hubungan yang baik dengan Kristus dan Firman-Nya memampukan orang untuk mengatasi masalah yang dihadapi dalam keluarga secara bersama-sama dan bukan saling menyakiti satu sama lain. Hikmat Firman Allah dalam pertolongan kuasa Roh Kudus mendorong orang untuk bertumbuh menjadi pribadi yang matang dalam menunjukkan kesetiaan kasih sewaktu mencari solusi, saat keluarga mengalami masalah dan kesusahan hidup.

Dalam surat Efesus, kita menjumpai hikmat Firman-Nya. Ditegaskan di sana bahwa setiap pribadi dalam keluarga tidak boleh menggunakan “kendali kuasa” dalam melaksanakan perannya masing-masing, tetapi menggunakan “kendali kasih”. Kasih yang seperti apa?

Kasih yang berkorban. Setiap pribadi dalam keluarga harus mengasihi pribadi yang lain sebagaimana Kristus mengasihi Jemaat-Nya. Kristus memberikan nyawa-Nya bagi Jemaat-Nya. Orang yang mementingkan diri sendiri, bukanlah orang yang mengasihi. Kala Kristus mengasihi Jemaat-Nya, itu bukan supaya Jemaat melakukan ini dan itu untuk-Nya, tetapi supaya Ia dapat melakukan sesuatu bagi Jemaat. Kepemimpinan di dalam keluarga bukanlah kepemimpinan yang bersifat tirani, tetapi kepemimpinan yang siap berkorban untuk kebaikan pribadi yang lain di dalam keluarga.

Kasih yang memurnikan. Kristus menyucikan Jemaat-Nya saat anggota Jemaat-Nya menerima Dia dalam iman. Kristus mengangkat dan memulihkan manusia yang lemah dan berdosa. Orang yang meremehkan dan merendahkan pribadi yang lain dalam keluarga, bukanlah orang yang mengasihi. Di dalam kasih tidak ada cacian dan makian, tetapi dorongan dan sokongan supaya setiap pribadi dapat bangkit dari keterpurukan, dimurnikan oleh kuasa kasih.

Kasih yang mempedulikan. Setiap pribadi dalam keluarga harus mengasihi pribadi yang lain sebagaimana ia peduli kepada dirinya sendiri. Kasih menjadi nyata saat pribadi yang satu tidak lagi menuntut secara berlebihan pribadi yang lain, tetapi sebaliknya, ia bersedia memahami dengan bijak perbedaan yang lain. Kasih, tidak memerintah, tetapi beredia rendah hati memohon pertolongan yang lain.

Kasih yang tidak terpecah-pecah. Setiap pribadi dalam keluarga terikat dalam hubungan darah, dalam kesatuan. Setiap pribadi harus mengasihi pribadi yang lain dengan utuh, sebab kebencian kepada yang lain, hanya akan menyakiti diri sendiri yang adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam keluarga.

Kasih yang belajar dari Kasih Tuhan. Dalam keluarga, Kristus adalah “Tamu yang tetap”. Kristus adalah “pihak ketiga” yang harus ada dalam setiap relasi pribadi, baik antara suami dan isteri maupun orang tua dan anak, serta antar famili. Setiap pribadi harus terus belajar dari Kristus dalam mengasihi yang lain, dengan setia dan tidak pernah berhenti. Setiap pagi selalu baru.

Selamat memasuki bulan keluarga. Selamat mengasihi Kristus dan keluarga Saudara. Ingatlah bahwa kita tidak pernah sendirian. Kristus hadir dalam kehidupan keluarga kita, sehingga pada waktu kita menghadapi rupa-rupa masalah, kita dimampukannya untuk menggunakan “kendali kasih” dan melenyapkan “kendali kuasa”.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments