Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 17 Agustus 2014

diposkan pada tanggal 22 Agt 2014 01.53 oleh Admin Situs   [ diperbarui22 Agt 2014 01.54 ]
Merdesa

(Kej 45:1-15 ; Mzm 133 ; Rm 11:1-2, 29-32 ; Mat 15:21-28)

MERDESA, kata ini mungkin masih cukup asing ditelinga kita. Menurut KBBI (kamus besar bahasa indonesia) arti kata MERDESA adalah layak, patut, sopan (beradab). Apa hubungan MERDESA dengan MERDEKA?

Sebelum tahun 1945 bangsa ini dijajah oleh bangsa asing, tetapi setelah merdeka justru penjajahan dilakukan oleh sesama anak bangsa. Jadi pada intinya sampai saat ini kita belum sepenuhnya bebas dari kuasa penjajahan. Karena masih ada arogansi atau superioritas setiap kelompok atau orang yang merasa dirinya “mayoritas” terhadap mereka yang “minoritas”.

Tirus dan Sidon adalah wilayah di luar Yahudi, dan dianggap sebagai area bangsa kafir. Seorang perempuan Kanaan yang anaknya kerasukan setan dan sangat menderita karenanya, mengikuti Yesus dan berseru meminta belas kasihan-Nya. Para murid yang merasa sebagai golongan mayoritas (karena mereka Yahudi) merasa terganggu dan meminta Yesus untuk mengusir dia (perempuan minoritas). Tetapi Yesus justru berdialog dengan perempuan “kafir” tersebut. Setidaknya ada 3 tahap dari percakapan Yesus dengan perempuan itu.

Pertama, Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (ayat 24). Perempuan Kanaan: “Tuhan, tolonglah aku” (ayat 25).

Kedua, Yesus: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (ayat 26).

Perempuan Kanaan: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”. (ayat 27).

Ketiga, Yesus: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang engkau kehendaki” (ayat 28).

Bercermin dari kisah ini, bukankah Tuhan juga mengingatkan kita sebagai murid-murid-Nya untuk melakukan pelayanan melampaui dinding-dinding pemisah: agama, suku, status sosial dan sebagainya. Betapa indahnya jika umat Tuhan hidup saling peduli. Peduli kepada sesama anggota jemaat, peduli kepada orang di luar jemaat, juga peduli terhadap seluruh ciptaan Tuhan. Gereja dipanggil untuk menjadi berkat bagi sekitarnya: memancarkan karya ilahi yang memerdekakan mereka dari belenggu ketakutan, keputusasaan, ketidakadilan dan juga keegoisan. Tanpa mempersoalkan perbedaan yang ada.

Mengutip pidato kenegaraan SBY sabtu kemarin: “Di zaman penjajahan, para pemimpin serta warga berjuang mempertahankan kemerdekaan hingga titik darah terakhir. Tapi untuk saat ini, tugas seluruh warga negara dan pemerintah adalah menjaga agar keindonesiaan bisa dipertahankan”. Keindonesiaan yang dimaksud adalah Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, toleransi, pluralisme, kesantunan serta kemanusiaan.

Jadikan momentum peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke-69 sebagai titik tolak kita membagikan kasih kepada setiap ciptaan tanpa terkecuali. Yesus sudah memberikan teladan nyata ketika Dia menerobos sekat-sekat penghalang dan memberikan kemerdekaan bagi perempuan Kanaan. Saatnya kita melakukan apa yang sudah Yesus teladankan bagi kita, membagikan kemerdekaan bagi semua orang agar mereka bisa merdesa. Karena kemerdekaan itu terwujud ketika kita mampu hidup bersama dengan menghormati hak setiap orang dan tidak pernah memperlakukan orang lain secara diskriminatif dalam bidang apapun juga. Merdeka untuk Merdesa!

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))
Comments