Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 17 April 2011

diposting pada tanggal 14 Apr 2011 19.32 oleh Essy Eisen   [ diperbarui14 Apr 2011 19.36 ]
Protes Yesus

Matius 21:1-11

Hari ini adalah minggu terakhir prapaska. Kita mengingat dan memaknakan kembali masuknya Tuhan Yesus ke Yerusalem yang disambut dengan daun palem dan elu-elu. Itu sebabnya minggu terakhir ini kadang disebut sebagai minggu palem atau palmarum. Namun kita juga mengingat bahwa masuknya Yesus ke Yerusalem sebagai awal minggu kesengsaraan-Nya, oleh sebab itu minggu ini juga dapat disebut minggu sengsara. Jika kita sudah merayakan masa-masa prapaska selama ini, itu semua dilakukan agar kita ingat bahwa kebangkitan Kristus berjalan satu paket dengan kesengsaraan-Nya.

Apa makna masuknya Tuhan Yesus ke Yerusalem ini bagi kita yang percaya? Pertama sekali, ini merupakan tindakan demonstratif Kristus untuk menunjukkan kehadiran Kerajaan Allah yang adil di Bumi, seperti di Sorga. Memang bukan merupakan tandingan yang sepadan dengan iring-iringan masuknya pejabat Romawi atau rombongan Herodes kala masuk Yerusalem jika dilihat secara harafiah. Tetapi dalam arti yang dalam dan jika dilihat dari karya-karya dan pengajaran Yesus di seluruh Israel sebelumnya, masuknya Yesus ini lebih agung dan megah, karena Ia adalah Raja Damai, dan Ia terus memperjuangkan pendamaian (sebagai catatan keledai adalah tunggangan Raja, dalam keadaan damai).

Saat masa raya di Yerusalem, biasanya para peziarah yang datang disuguhi oleh parade kekuatan militer Romawi yang masuk ke sana. Tetapi Yesus menyuguhi khalayak dengan sebuah tindakan anti-imperialis, mengikuti penggambaran dalam Zakharia 9:9. Kala militer kolonial memproklamirkan Kaisar sebagai penguasa dunia, Yesus memproklamirkan Allah sebagai penguasa dunia. Kisah sebelum Yesus masuk Yerusalem menunjukkan pemimpin seperti apa Allah itu. Kuasa Allah di dalam sentuhan kasih Yesus memberikan penglihatan bagi yang buta (Mat 20.29-34). Ini dapat dipahami secara fisik dan spiritual. Jelaslah perbedaan kepemimpinan kaisar dan kepemimpinan Allah. Kaisar hanya mementingkan dominasi ekonomi dan militer belaka.

Dalam kisah sesudah masuknya Yesus ke Yerusalem, Yesus memprotes penggunaan tempat doa sebagai sarana berkumpulnya orang-orang Zelot (Mat 21.12-16, lēstēs = penyamun, Zelot). Jadi minggu palmarum bukan semata-mata masa di mana kita melambaikan daun palem belaka, tetapi masa kesadaran yang serius bagi kita untuk melanjutkan perjuangan Yesus melalui Gereja-Nya untuk menentang penindasan dan ketidakadilan. Tentu, semua dimulai dari diri kita masing-masing, untuk menjadi hamba-Nya yang bukan sebatas nama, sambil tetap mengingat bahwa kita memiliki Junjungan dan Raja yang sudah meneladankannya dengan sangat sempurna.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments