Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon! - 19 September 2010

diposting pada tanggal 15 Sep 2010 12.29 oleh Essy Eisen   [ diperbarui22 Sep 2010 15.14 ]
Lukas 16:1-13

Mamon adalah dewa kekayaan. Tuhan Yesus mengingatkan bahwa kasih kepada Allah tidak boleh disamakan dengan dengan kecintaan pada kekayaan. Kasih kepada Allah harus yang terutama dan pertama, sebab pada saat uang dan kekayaan dicintai, orang cenderung akan melakukan kejahatan (1 Tim 6:10). Apakah serta merta uang dan kekayaan dijauhi? Tentu tidak sesederhana itu maksud Yesus. Ia menginginkan seseorang bukan hanya cerdik dan lihai dalam mencari uang atau kekayaan belaka, tetapi juga harus cerdik dan lihai menggunakan dan mengelolanya dengan benar berangkat dari rasa takut dan hormat kepada Allah! Penggunaan uang dan kekayaan turut menentukan seberapa takut orang itu kepada Allah. Uang dan kekayaan itu seperti pisau yang tajam. Dapat membunuh seseorang jika ada di tangan penjahat yang dipenuhi nafsu kejahatan, tetapi menjadi alat penyembuh di tangan seorang ahli bedah yang dipenuhi nurani yang tulus dalam memberikan kebaikan bagi pasiennya. Jadi, jika seseorang jujur dalam mencari uang dan adil dalam menggunakannya demi kebaikan banyak orang, tindakannya menjadi bagian dari tindakan iman dan kecintaan kepada Allah juga (Luk 12:33-34).

Tentu untuk sampai pada tahap itu dibutuhkan kesungguhan hati yang mau berkorban dan bersyukur serta menyadari bahwa segala yang dimiliki berasal dari Allah. Sehingga uang dan kekayaan yang ada tidak serta merta dilihat sebagai kepemilikan pribadi belaka, tetapi menjadi sesuatu yang dipercayakan oleh Allah untuk dikelola dan digunakan demi kebaikan bersama. Bagi orang yang takut dan mengasihi Allah, uang dan kekayaan hanya menjadi perkara yang kecil. Yesus berkata: "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Luk 16:10). Perkara yang besar tentulah perkara sorgawi. Perkara hati yang mengasihi dan takut kepada Allah. Jika seseorang berhasil mengendalikan uang dan kekayaan yang adalah perkara kecil untuk menjadi alat dan bukan diperalat olehnya, maka orang itu tidak mempertuhankan uang dan kekayaan dan tetap menjadikan Allah sebagai perkara yang besar. Jika sebaliknya? Maka nasihat Yesus ini berlaku untuknya: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon!” (Luk 16:13).

Comments