Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 1 Desember 2013

diposkan pada tanggal 30 Nov 2013 09.48 oleh Admin Situs
Siapa pun disapa-Nya

(Yohanes 4:1-42)

Bagi Tuhan Yesus, perempuan di pinggir sumur itu bukan orang asing. Yesus berkenan menyapanya dan bercakap-cakap dengannya. Sapaan hangat berangkat dari kasih dan kepedulian, menjadi jembatan yang kokoh dalam menjalin relasi yang sehat. Meskipun ada cap buruk pada waktu itu terhadap orang-orang Samaria yang dilakukan oleh orang Yahudi dari Yudea, Yesus meruntuhkan batasan sempit yang tidak elok itu. Kabar baik adalah untuk semua orang, apapun latar belakang dan keadaannya.

Saat percakapan keduanya semakin mendalam, kita menyadari bahwa Yesus menawarkan apa yang amat berharga dalam hidup manusia, yaitu: hikmat dan kemampuan untuk menjalankan hidup dalam damai sejahtera yang dari dalam. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai kekuatan spiritual yang akan memampukan si perempuan bukan untuk lari dari masalah hidup, tetapi melampaui dan menyelesaikan masalah hidup dengan menggunakan hikmat Kristus.

Perempuan itu mengalami pembaruan budi dan nurani. Mulai dari caranya melihat hidupnya sendiri, hingga caranya memaknakan kehidupan spiritualnya selama ini. Kehidupan ibadah yang sehat terjadi pada saat ibadah itu dilakukan berangkat dari kejujuran dan ketulusan dengan tindakan yang mencerminkan kasih. Dasar ibadah yang hakiki ialah tanggapan atas karya Allah yang sudah Allah nyatakan dalam kehidupan. Ibadah itu dilakukan dalam proses pertumbuhan yang semakin menunjukkan kasih yang nyata hari ke hari. Kabar baik yang sudah diterima, tidak boleh dibiarkan atau disimpan sendiri. Perempuan itu kembali kepada keluarganya dan masyarakatnya, dengan hidup yang baru. Cara pandang yang lama telah berganti menjadi cara pandang hidup yang baru karena Kristus. Bahkan ia dengan berani dan jujur mengabarkan sumber pembaruan hidup yang telah mengubahnya itu.

Para murid pun mendapatkan pengajaran yang berharga dari Yesus. Mereka didorong untuk terus mau bertumbuh dalam pengenalan yang benar tentang Firman Allah yang hidup. Pada saatnya, pengenalan Firman Allah itu harus berbuah dalam tindakan nyata juga. Itu menjadi pemberitaan kabar baik yang paling ampuh! Memang proses pembaruan hidup itu membutuhkan waktu, tetapi akan ada saatnya, apa-apa yang sudah ditaburkan akan dituai. Sungguh berbahagialah orang yang mendapatkan taburan Firman Allah dan mengusahakan pertumbuhannya, sebab ia akan menuai kehidupan berkualitas karunia Allah.

Dalam keseharian hidup, memang kita tidak dapat menghindarkan diri dari batasan-batasan sosial yang dibangun dalam kehidupan sosial. Tidak semua batasan-batasan itu buruk, tetapi tidak sedikit juga yang jelek dan jahat. Batasan sosial yang buruk ialah yang terlalu cepat menilai dan menghakimi bahwa orang lain sudah pasti jahat dan tidak berguna, berangkat dari penilaian sesaat saja atau karena tradisi yang diturunkan. Acap kali hal ini malah dapat menghentikan perbuatan baik yang semestinya dapat kita berikan.

Pada Minggu Adven yang pertama ini kita bersyukur untuk kembali menyadari sapaan Tuhan Yesus Kristus kepada kita umat yang berdosa. Kristus menawarkan kita pembebasan dari belenggu ketakutan dan kekhawatiran yang mungkin bercokol dalam hati dan pikiran kita saat kita berhubungan dengan Allah dan sesama. Kristus tidak membenci perbedaan, tetapi perbedaan-perbedaan dikelola-Nya menjadi harmoni indah yang memberikan pembaruan kehidupan dan pola relasi antara sesama manusia. Ujung dari harmoni itu adalah damai sejahtera dan sukacita.

Sebagai Air Hidup, Kristus melalui Firman dan Roh-Nya membarui pikiran dan hati kita terus-menerus sehingga kita tidak mengalami kekeringan spiritual. Sebagai Roti Hidup, Kristus mengenyangkan kita dengan apa yang kita butuhkan untuk menyikapi tantangan kehidupan dengan hikmat dan kuasa kasih-Nya. Pada akhirnya, seperti si perempuan yang disapa Kristus itu mengalami pembaruan hidup untuk kemudian membarui komunitasnya, kita pun akan dimampukan Kristus untuk membarui kehidupan komunitas kita. Sungguh, ini menjadi sebuah sikap hidup yang bijaksana dalam menyongsong perayaan Natal!

(Pdt. Essy Eisen)
Comments