Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 1 Januari 2012

diposting pada tanggal 29 Des 2011 22.47 oleh Essy Eisen   [ diperbarui30 Des 2011 06.48 ]
Hidup di dalam waktu Tuhan

Pengkotbah 3:1-13, Mazmur 8, Wahyu 21:1-6a, Matius 25:31-46

Selamat tahun baru! Karena kasih karunia Allah semata saja, kita dapat memasuki tahun yang baru ini. Dalam terang hikmat-Nya kita dimampukan untuk terus berproses memaknakan segala peristiwa yang sudah lewat untuk menarik pelajaran berharga melaluinya dan dengan berani dan serius melanjutkan langkah kehidupan kita dengan pengharapan dan semangat yang baru bersama dengan Allah yang setia yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya.

Bagi Penulis kitab Pengkotbah, Allah menetapkan rencana-Nya dalam kehidupan setiap orang. Allah menetapkan siklus hidup, kesempatan bagi orang untuk menjalankannya (Pkh 3:1-8). Ada masalah-masalah yang akan dihadapi oleh setiap orang. Tetapi tanpa Allah, masalah-masalah dalam hidup tidak akan memiliki solusi yang kekal. Hanya di dalam Allah solusi itu tersedia. Kemampuan orang untuk menemukan kepuasan dalam bekerja tergantung dari sikap dasar mereka. Orang akan menemukan kejenuhan kalau ia melupakan maksud dan tujuan Allah dalam pekerjaan yang mereka lakukan. Orang akan menikmati pekerjaannya kalau ia ingat bahwa Allah sudah memberikan kemampuan kepadanya dalam bekerja (Pkh 3:10) dan menyadari bahwa hasil pekerjaannya adalah pemberian dari Allah (Pkh 3:13). Dalam hikmat kitab Pengkotbah ini orang diajak untuk melihat pekerjaannya sebagai jalan untuk melayani Allah juga.

Bagian dari Mazmur 8, dikutip dalam Perjanjian Baru dan diaplikasikan kepada Kristus (1 Kor 15:27, Ibr 2:6-8). Namun melalui Mazmur ini juga setiap orang diajak untuk mengenali bahwa sebagai ciptaan Allah mereka diajak untuk bertanggungjawab dalam memanfaatkan sumber daya karunia Allah karena pada hakikatnya kita adalah hamba-hamba-Nya (Mzm 8:6)

Dalam pewahyuan kepada Yohanes, diperlihatkan bahwa Allah mengehendaki kebaruan semesta. Yerusalem yang baru, merupakan simbol kehadiran kegenapan nilai-nilai Kerajaan Allah bagi dunia ini. Saat Allah memerintah di sana terdapat kasih, kebenaran dan keadilan (Why 21:2-4). Allah setia mencipta kebaruan. Mulai dari awal di kitab Kejadian kita mendapati Ia mencipta semesta alam. Juga pada saat-Nya nanti Langit yang baru dan Bumi yang baru terwujud karena kasih karunia-Nya dan karena keterlibatan orang-orang yang setia mengasihi Allah dalam menghadirkan perwujudnyataannya (Why 21:5).

Melalui Injil kita memahami bahwa Allah selalu serius dengan ketidakseriusan manusia. Saat-Nya akan tiba di mana ada orang yang setia sampai akhir tetapi juga ada yang berpura-pura saja, bahkan tidak percaya. Pembuktian yang tegas dari iman ialah melalui apa yang sudah dilakukan dalam kehidupan. Saat orang lain diperlakukan sebagaimana ia memperlakukan Yesus sendiri. Apa yang dilakukan kepada orang lain berangkat dari apa yang sudah diajarkan dan diteladankan oleh Yesus yaitu untuk memberi makan mereka yang lapar, memberikan orang yang tidak punya pegangan, sebuah tempat di mana ia dapat bertumbuh dan berkembang dan memberikan topangan dan perawatan kepada yang sakit (Mat 25:31-46).

Mengawali tahun 2012 ini, hikmat dari Allah memberikan kekuatan yang berharga dalam hidup bahwa:
  1. Setiap peristiwa dalam hidup ada waktunya. Bagian orang percaya ialah tetap menjadikan Allah pegangan yang kokoh dalam mencari solusi bagi masalah-masalah kehidupan.
  2. Allah mempercayakan kepada manusia tanggungjawab untuk mengelola dan memelihara segala sumber daya yang diberikan-Nya.
  3. Allah senantiasa berkarya menciptakan kebaruan yang baik sampai pada kegenapan-Nya. Nilai-nilai Kerajaan-Nya berupa kasih, kebenaran dan keadilan harus merambah semua aspek hidup manusia.
  4. Tindakan-tindakan iman yang mencerminkan kasih, kebenaran dan keadilan menjadi keharusan dalam proses pembaruan dunia yang Allah kerjakan bersama umat-Nya, sampai kegenapan-Nya.
Lalu untuk kita renungkan bersama:
  1. Apakah kita tetap setia menjumpai Allah untuk mendapat hikmat-Nya dalam penyelesaian masalah-masalah kehidupan kita?
  2. Apakah kita sudah mengenali dengan baik apa-apa yang sudah Allah berikan untuk kita dan pada gilirannya mengelola dan memeliharanya dengan penuh tanggungjawab?
  3. Apakah nilai-nilai spiritualitas Kristen berupa kasih, kebenaran dan keadilan sudah merambah dalam hidup rumah tangga, pekerajaan dan cara kita bersosialisasi di masyarakat?
  4. Apa saja yang sudah kita lakukan dengan serius sebagai bukti pengakuan iman kita kepada Kristus?

(Pdt. Essy Eisen)

Comments