Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 1 Juli 2012

diposkan pada tanggal 28 Jun 2012 10.10 oleh Essy Eisen
"Jangan takut, percaya saja!"

Ratapan 3:22-33, Mazmur 30, 2 Korintus 8:7-15, Markus 5:21-43


Kala mengalami kesusahan dalam hidup, kita menjadi takut. Kita takut, sebab kesusahan yang dialami seolah-olah tidak berakhir, tetapi malah bertambah buruk. Ketakutan yang berlebihan itu pada akhirnya membuat kita putus asa, kehilangan pengharapan. Kita tidak lagi mau berusaha. Sebab semua usaha tampak sia-sia. Pikiran menjadi gelap dan titik terang tak kunjung terlihat. Dalam kesedihan, sukacita tidak ada lagi. Dimanakah kasih setia Tuhan yang tiada bertara itu?

Kasih setia Tuhan tetap ada! Dari dahulu, sekarang dan selama-lamanya kasih-Nya tetap sama. Karena Dia-lah kita ada tercipta, oleh Dia-lah kita mampu melangkah dalam kebaruan karena pemulihan jiwa, kepada Dia-lah kita pada akhirnya menuju. Tetapi kita belum mampu melihatnya. Sebab kesedihan dan ketakutan begitu kuatnya menguasai hati dan jiwa kita. Tuhan sepertinya belum menjadi bagian dari jiwa kita.

Baik Yairus maupun perempuan yang mengalami sakit pendarahan itu ada diambang putus asa. Anak perempuan Yairus yang masih berusia 12 tahun sakit dan sekarat. Perempuan yang sakit pendarahan itu, sudah 12 tahun berupaya, dengan segenap hartanya. Bahkan menurut tradisi agama pada waktu itu, karena sakitnya, ia mendapat label najis. Interaksi sosialnya terbatas. Yairus, seorang petinggi agama dengan status sosial terhormat dan perempuan yang sakit pendarahan dengan status sosial terkucil, ada dalam kondisi hati yang sama. Takut.

Di dalam ketakutan manusia, Yesus Kristus hadir. "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" Begitu Yesus bertanya. Pertanyaan ini penting. Yesus mengenali bahwa di tengah hiruk pikuk orang yang ada di sekitar-Nya, ada seseorang yang masih memiliki iman di dalam kesusahan hidupnya. Dengan bertanya seperti itu, Yesus ingin memberikan pemulihan sosial kepada perempuan itu, bahwa kini ia telah dipulihkan. Ia tidak najis. Dalam ketakutannya, perempuan ini tampil dan tersungkur di depan Yesus. Ia mengungkapkan semuanya. Ïmannya, telah menyelamatkannya. Ia sembuh dari sakitnya. Ketakutan dan kesusahan telah berganti menjadi sukacita karena anugerah Allah.

Kabar duka tiba. Anak Yairus dikabarkan telah mati. Yairus pasti terpukul. Yesus menghiburnya dan berkata: "Jangan takut, percaya saja!". Yairus sudah menyaksikan apa yang terjadi dengan perempuan yang sakit pendarahan itu. Kata-kata Yesus, bukanlah omong kosong. Dalam duka dan ketidakpercayaan orang-orang di rumahnya, Yairus melangkah bersama Yesus. Dalam kuasa kasih-Nya yang menyelamatkan, anak perempuannya, bangun dari tidurnya, berdiri dan berjalan. Semua orang takjub. Ketakutan dan kesusahan telah berganti menjadi sukacita karena anugerah Allah.

Iman kepada Kristus akan memulihkan kehidupan yang rusak. Iman yang berangkat dari kasih yang tulus. Kasih Kristus nyata kepada setiap orang yang beriman. Kasih-Nya selalu berakhir kepada kesembuhan, rekonsiliasi dalam hidup dan hidup baru dalam cara pandang yang baru. Hidup yang tertebus. Di dalam kesusahan hidup kita, diambang keputusasaan hidup kita, dengarlah suara Yesus yang berkata: "Jangan takut, percaya saja!".

Pertanyaan Aplikasi:


  • Kala susah melanda diri, apa yang menjadi tanda dari iman yang percaya akan pertolongan Kristus?
  • Apa yang menyebabkan orang putus asa? Apa yang Kristus minta kepada orang yang putus asa?
  • Dengan cara apa Kristus memampukan Saudara untuk menolong orang yang putus asa?
Comments