Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 4 Mei 2014

diposting pada tanggal 2 Mei 2014 02.30 oleh Admin Situs   [ diperbarui 9 Mei 2014 01.27 oleh Essy Eisen ]
Kecewa?

Kisah Para Rasul 2:14, 36-41, Mazmur 116:1-4, 12-19, 1 Petrus 1:17-23, Lukas 24:13-35

Marah, kecewa, karena tidak dituruti orangtuanya untuk menonton film Spiderman, Valentino, bocah berusia 5 tahun, nekat mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 19 Apartemen Laguna, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Menjelang siang, setelah dimandikan oleh Eva (24) ibunya, Valentino meminta menonton film Spiderman. Namun, ibunya melarang karena sedang sibuk mengurus adiknya. Akibat keinginannya tidak dipenuhi, siswa TK itu langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya. Melihat anaknya mengunci pintu, sang ibu berusaha membuka pintu kamar anaknya, tetapi tidak terbuka. Eva pun meminta bantuan pihak mekanik apartemen yang berada di lantai dua. Setibanya di lantai 2 apartemen, orangtuanya mendengar orang yang jatuh, selanjutnya orangtua korban mengecek bahwa benar korban tersebut anaknya. (dikutip dari Kompas.com 1 Mei 2014). Saat apa yang diharapkan tidak terjadi, orang kecewa. Bahkan menilik kisah nyata ini, mirisnya kekecewaan telah berujung pada maut.

Kleopas dan temannya pergi meninggalkan Yerusalem menuju Emaus. Mereka menjauhi Yerusalem, menjauhi persekutuan dengan murid-murid Yesus yang lain. Beberapa saat sebelumnya mereka mendapati bahwa apa yang mereka harapkan tidak terjadi. Yesus sebagai Guru mereka tidak melawan saat orang-orang berbuat jahat kepada-Nya. Mereka menjadi kecewa. Memang ada kejadian-kejadian tidak biasa pada hari di mana mereka pergi ke Emaus itu. Mereka mendengar bahwa murid-murid perempuan telah menjumpai makhluk surgawi, dan tubuh Yesus tidak ada lagi di kubur itu. Tetapi rupanya fakta-fakta yang masih terpecah-pecah itu, ditambah penafsiran mereka sendiri atas keadaan itu, tidak begitu menolong mereka. Memang demikianlah kekecewaan. Orang yang kecewa itu adalah orang yang cepat menyimpulkan keadaan tanpa berupaya mengolah dengan utuh apa yang terjadi dengan hikmat dan kebijaksanaan yang rendah hati.

Di tengah perjalanan kekecewaan itu ada kabar baik. Tuhan Yesus Kristus yang hidup menjumpai mereka. Dalam tubuh kebangkitan-Nya, Kristus menolong Kleopas dan temannya untuk memahami dengan utuh fakta-fakta yang mereka alami dalam terang Firman Tuhan dan rencana Allah yang utuh. Bukan hanya itu, Kristus yang hidup itu berkenan makan bersama mereka, tanda keramahtamahan yang bersahabat untuk mereka yang sedang bimbang itu. Pasca perjumpaan yang penuh anugerah itu, Kleopas dan temannya kembali lagi ke Yerusalem dengan hati yang baru. Mereka kembali ke dalam persekutuan murid-murid Yesus. Apakah mereka masih kecewa? Tidak! Kini mereka memahami dengan utuh apa yang terjadi dengan Yesus dalam terang kuasa kebangkitan Kristus yang menghidupkan itu (Luk. 24:13-35).

Begitulah memang kuasa paskah. Kebangkitan Kristus yang kita pahami dengan utuh dalam terang keutuhan karya Allah yang Allah sampaikan melalui Firman dan Roh-Nya menolong kita untuk tidak tinggal dalam kekecewaan dan putus asa. Petrus dalam kotbahnya telah menyadarkan banyak orang bahwa karya Kristus telah mengubahkan kehidupan dirinya dan murid-murid yang lain. Petrus dan murid-murid Yesus telah disembuhkan dari kekecewaan. Mereka percaya. Mereka menghidupi kepercayaan mereka. Perubahan hidup itu terjadi karena anugerah Allah yang besar di dalam Tuhan Yesus Kristus. Anugerah itu harus disambut dengan kesediaan diri untuk bertobat, meninggalkan cara hidup lama yang sia-sia dan masuk dalam persekutuan dengan Kristus dan murid-murid-Nya, di dalam gereja-Nya (Kis. 2:14, 36-41).

Dalam surat 1 Petrus 1:17-23 sangat ditegaskan bahwa hidup yang telah ditebus oleh darah dan nyawa Kristus itu tidak lagi diisi dengan benci, tetapi dengan kasih yang tulus. Dengan pertolongan Roh Kudus dan Firman Allah, orang yang telah ditebus Kristus itu menjadi seperti orang yang baru lahir. Pikirannya, hatinya, cara pandang hidupnya, kini menjadi selaras dengan karya dan pengajaran Kristus. Kasihnya kepada orang lain, sama seperti cara Kristus mengasihi. Bakti dan kesetiaannya kepada Allah, sama seperti bakti dan kesetiaan Kristus kepada Allah.

Perenungan aplikatif:
  • Apa-apa saja yang akan anda lakukan supaya pada waktu anda kecewa anda dapat mengalami perubahan hidup? Apa peran Firman Allah dan Roh Kudus di dalam upaya anda itu? 
  • Apa yang menjadi bukti bahwa anda telah bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati (1 Ptr. 1:22)? Bagaimana anda akan mewujudkannya hari ini?
(Pdt. Essy Eisen)
Comments