Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 1 September 2013

diposkan pada tanggal 17 Sep 2013 23.09 oleh Essy Eisen
Tetap rendah hati dan mengasihi yang lemah

Lukas 14:1, 7-14

Mencari pengakuan untuk mendapatkan status sosial yang terhormat dari orang lain dengan cara memaksakan kehendak adalah perilaku yang memalukan. Setiap orang punya kecenderungan yang tidak menyehatkan seperti ini. Ada yang misalnya ingin meraih status sosial dengan memiliki barang-barang tertentu atau bergaul dengan orang yang terpandang. Ada juga yang memaksa orang lain dengan kekerasan verbal atau fisik supaya ditakuti. Pada akhirnya pengakuan yang didapat dengan tindakan-tindakan seperti itu, semu sifatnya. Sebab sejatinya, pengakuan itu hanya ada dalam pikiran yang memaksakan pengakuan. Orang-orang yang lain, biasanya akan mencibir, bukan mengakui.

Memilih untuk tetap rendah hati saat mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kualitas diri adalah tindakan bijaksana. Dengan tetap menghadirkan kerendahan hati, keunikan setiap pribadi, entah kelebihan atau kekurangan yang ada dalam sebuah komunitas tetap dihargai. “Padi semakin berisi semakin menunduk”, “Di atas langit, masih ada langit”. Ini menjadi peribahasa yang disukai orang-orang yang rendah hati. Seberapapun kelebihan yang ia miliki, ia tetap sadar, bahwa orang lain pada bidang yang berbeda, tentu memiliki kelebihannya tersendiri.

Penghargaan yang diterima dari orang lain karena karya hidup yang berkualitas dan berdampak niscaya akan membahagiakan setiap orang, ketimbang penghargaan yang diterima karena penyombongan diri. Sebab jika kesombongan dalam diri yang lebih ditegaskan, penghargaan itu bukanlah sebuah penghargaan, tetapi tidak lebih dari sebuah pemaksaan tuntutan dan kehendak belaka.

Nilai lebih dari karya hidup kita muncul, jika melalui karya itu, orang yang kesusahan mendapatkan kelegaan dan orang yang tertolong itu tidak mendapatkan beban tambahan yang harus dipikul sesudahnya. Mengapa dikatakan nilai lebih? Sebab pada umumnya, orang enggan menolong orang yang kesusahan. Atau kalaupun mau, acapkali dilakukan dengan keterpaksaan atau dengan imbalan. Setiap pemberian yang dilakukan karena dipaksa dan terpaksa adalah pemberian yang biasa-biasa saja. Pemberian yang dilakukan karena kita turut merasakan derita dari orang yang kita tolong melalui pemberian itu, adalah pemberian yang luar biasa dan berharga.

Memberikan kasih untuk mendapatkan balasan kasih, hanya akan memunculkan tuntutan-tuntutan kepada orang lain. Biasanya ini malah berakhir dengan kegelisahan diri. Kasih sejati selalu memberi. Pemberian yang sejati, dijiwai oleh semangat untuk menghadirkan perubahan hidup bagi orang lain. Seperti seorang sahabat yang mendukung dan menyokong sahabatnya, supaya ia mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk menjadi mandiri. Setiap orang yang mengasihi orang lemah, orang miskin, orang cacat, orang lumpuh dan orang tersisih adalah orang yang mengasihi dengan kasih ilahi. Kasih seperti ini, akan memperbarui dunia menjadi tempat yang nyaman dan membahagiakan untuk dihidupi. Kristus sudah menunjukkanya.

Pada akhirnya, seperti Kristus menasihatkan melalui perumpamaan-perumpamaan dalam Lukas 14:7-14, kita semua patut merenungkan pertanyaan ini: Apakah kerendahan hati, kepedulian kepada yang lemah dan kasih yang tulus tetap hadir dalam kehidupan kita?


(Pdt. Essy Eisen)
Comments