Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 20 April 2014

diposkan pada tanggal 2 Mei 2014 02.10 oleh Admin Situs
"Bangkit dengan hidup yang baru"

Kej 1:1-5, 2:1-4 ; Mzm 136:1-9, 23-26 ; Rm 6:3-11 ; Mat 28:1-10

Ketika melakukan ziarah ke tempat pemakaman, terlebih makam orang yang kita kenal semasa hidupnya. Maka pikiran kita akan dibawa kepada suatu kenangan yang pernah terjalin antara kita dengan almarhum. Saat kita berhadapan dengan batu nisan, umumnya pikiran kita akan mengembara pada ingatan masa lalu dimana kita pernah bertegur sapa atau melakukan rutinitas dengan almarhum. Dan peristiwa itu kini hanya sebatas kenangan sebab almarhum sudah tidak bersama kita lagi.

Maria Magdalena juga Maria yang lain tentu punya kenangan yang indah bersama guru mereka yang telah tiada. Maka pagi-pagi benar mereka datang ke kubur Yesus untuk berziarah dan mengoles rempah-rempah. Tetapi di makam itu mereka justru mengalami peristiwa yang mencengangkan, malaikat Tuhan telah menggulingkan batu penutup pintu kubur yang dijaga oleh prajurit-prajurit Romawi. Tergulingnya batu penutup kubur menandakan kegagalan para prajurit menunaikan tugasnya, bahkan karena peristiwa itu para prajurit menjadi ketakutan. Sungguh ironis, para penjaga yang mendapat mandat menjaga orang mati justu kini malah ketakutan seperti orang mati (ayat 4).

Malaikat Tuhan kemudian menyampaikan tiga hal penting untuk duo Maria, yakni : 1. Deklarasi tentang kebangkitan Yesus (ayat 5-6), 2. Perintah untuk menyampaikan berita ini kepada murid-murid yang lain (ayat 7a), 3. Pesan untuk menemui Yesus di Galilea (ayat 7b).

Meski belum sepenuhnya lepas dari rasa terkejut, duo Maria melaksanakan perintah sang malaikat dengan sukacita besar (ayat 8). Ketakutan mereka memang masih ada tapi itu tidak menghalangi mereka untuk menyampaikan berita tentang kebangkitan Yesus. Bahkan ayat 9 menunjukkan kepada kita klimaks dari deklarasi kebangkitan Yesus, yakni mereka berjumpa dengan Yesus. Dalam pertemuan itu Yesus mengutus mereka untuk menyampaikan hal kebangkitan ini kepada murid-murid yang lain (ayat 10).

Betapa jauh perbedaan keadaan para murid sebelum dan sesudah kebangkitan Yesus. Sebelum Kristus bangkit mereka sedih, gentar, dan putus asa, sebab guru yang biasa mereka andalkan mati dengan cara tragis. Tetapi setelah kebangkitan Kristus, para murid memberitakan injil dengan sukacita, berani dan bersemangat. Kebangkitan Kristus mengubah kehidupan para murid. Sejatinya bukan hanya para murid zaman Yesus saja yang bangkit, kita murid-murid-Nya saat ini juga diajak untuk memaknai Paska seperti yang dimaknai para murid dahulu. Ada hal yang harus kita refleksikan tentang kebangkitan Kristus bagi kita saat ini.

Pertama, kebangkitan Kristus memperbaharui iman. Iman para murid sempat goyah karena peristiwa Golgota. Akan tetapi kemenangan Kristus atas maut membuat para murid kembali mendapatkan iman percaya yang sempat raib. Perayaan Paska adalah momentum bagi kehidupan iman kita, khususnya kita yang saat ini tengah terpuruk oleh berbagai macam persoalan yang melanda kehidupan kita. Besarnya persoalan bukanlah alasan untuk mengecilkan kuasa Allah.

Kedua, kebangkitan Kristus memulihkan spiritualitas. Para murid berusaha menyelamatkan diri dan mencari jalan aman saat peristiwa Golgota. Ketakutan telah membuat mereka kehilangan spiritualitas seorang murid dan meninggalkan gurunya sendirian. Alih-alih membalas pengkhianatan para murid, Yesus justru menyapa mereka dengan sebutan saudara-Ku (ayat 10). Momentum Paska adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi dan memulihkan hubungan kita dengan Yesus.

Selamat merayakan Paska.

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))
Comments