Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 20 Januari 2013

diposting pada tanggal 21 Jan 2013 08.54 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 9 Mei 2014 01.52 oleh Admin Situs ]
Sukacita Tetap Terasa Karena Cinta 

Yesaya 62:1-5, Mazmur 36:5-10, 1 Korintus 12:1-11, Yohanes 2:1-11

Hari pernikahan adalah momen yang tidak mudah dilupakan. Acapkali perhatian banyak orang tertuju padanya. Memang pernikahan tidak sama dengan hari pernikahan. Pernikahan berlangsung seumur hidup, sedangkan hari pernikahan berlangsung sekali seumur hidup. Namun kita tidak dapat memungkiri bahwa pada hari pernikahan ada perayaan sukacita yang besar, ada doa-doa, ada restu dan harapan baik di dalamnya untuk dua insan yang menyatu karena kasih dalam mengawali bahtera rumah tangga mereka bersama. Tidak ada seorangpun yang berdoa supaya hari pernikahan mereka menjengkelkan dan berlangsung kacau balau.

Kisah Injil pada hari ini mengisahkan tentang Yesus yang diundang ke sebuah perayaan pernikahan di Kana yang di Galilea. Maria, Ibu Yesus, ada di pesta itu. Saat itu, Yesus belum dikenal sebagai “pembuat mujizat”. Namun menarik, pada saat air anggur untuk menjamu tamu pada pesta itu habis, ibu Yesus datang kepada-Nya (Yoh 2:3). Mengapa?

Kita tidak tahu pasti alasan Maria menjumpai Yesus. Namun sikap Maria ini menunjukkan iman yang tegas kepada Kristus yang telah hadir di dunia. Dalam beberapa peristiwa kala Yesus masih kanak-kanak, kita menjumpai beberapa kesempatan di mana Maria menyimpan segala perkara di dalam hatinya dan merenungkannya, saat mengalami kejadian yang melampaui akal pikiran dan perasaannya. Kini perenungannya berujung pada tindakan iman yang jelas. Di dalam Yesus Kristus ada kuasa yang membarui kehidupan.

Yesus tidak tinggal diam. Ia bertindak. Dalam sebuah kesempatan di mana banyak orang dapat kehilangan sukacita, Yesus melakukan sesuatu. Ia mengajak pelayan-pelayan pesta melakukan tindakan sederhana untuk mengelola apa yang mereka punya dan yang ada. Tempayan-tempayan kosong diisi dengan air, untuk kemudian dicedok dan dibawa kepada pemimpin pesta. Air itu berubah menjadi air anggur. Sukacita pesta tetap terus terasa, merata dan lama.

Sebuah tanda dinyatakan. Ini menjadi awal dari sekian banyak tanda yang akan dinyatakan Yesus kemudian dalam menyatakan kemuliaan-Nya. Tanda yang memampukan murid-murid-Nya untuk pada akhirnya menjadi percaya kepada kuasa kasih-Nya. Sebuah pesta biasa saja, tetapi menjadi kesempatan bagi Yesus untuk memberikan pelayanan-Nya yang luar biasa, semua karena cinta-Nya.

Karena karunia Roh Kudus, kini kita, sebagai pengikut-Nya dimampukan juga oleh Kristus untuk mengelola apa yang ada pada kita supaya dapat mendatangkan sukacita bagi orang lain. Dalam peristiwa-peristiwa biasa dan tidak terduga yang kita jumpai sehari-hari, kita boleh menggunakan kuasa kasih-Nya yang akan menolong kita dalam upaya menghadirkan sukacita bagi yang lain. Kita semua tentu memiliki “tempayan-tempayan dan air” dalam hidup kita. Dalam kuasa kasih Allah, kita percaya pada saat-Nya itupun dapat diubahkan-Nya agar sukacita tetap terasa, bagi kita dan bagi sesama.


Pertanyaan Aplikasi
  1. Saat air anggur untuk menjamu tamu di pesta habis, mengapa Maria datang kepada Yesus untuk memberitahukannya? 
  2. Mengapa menurut Anda, Yesus menggunakan tempayan-tempayan yang ada dan memerintahkan kepada pelayan untuk mengisinya dengan air? Mengapa tidak langsung menghadirkan air anggur dari langit misalnya? 
  3. Yesus menginginkan agar sukacita pesta tetap terasa. Apakah ada sesuatu hal dalam hidup Anda saat ini yang telah atau hampir merenggut sukacita Anda? Bersediakah Anda datang kepada Yesus? 
  4. Allah memampukan umat-Nya saat mereka melakukan karya pelayanan-Nya di dunia ini. Renungkanlah, dalam hal/bentuk apa sajakah Allah telah memberikan kemampuan kepada Anda dalam rangka Anda melakukan pelayanan di dunia ini?
(Pdt. Essy Eisen)
Comments