Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 20 Oktober 2013

diposkan pada tanggal 17 Okt 2013 18.32 oleh Admin Situs
“Aku selalu mendoakan kamu”

(Lukas 18:1-8)

Seperti halnya kasih, cara orang berdoa ada macam-macam. Ada yang berdoa “karena”. Orang ini berdoa “karena” ada hal-hal yang ia harapkan, nantikan, dambakan. Walaupun tidak salah, doa ini acapkali menjadi doa yang sangat egois. Sebab Allah seolah-olah disamakan dengan jin dalam lampu aladin yang akan mengabulkan segala permohonan semau keinginannya. Ada lagi orang yang berdoa “jika”. Orang ini berdoa “jika” ia mendapatkan sesuatu sebagai balasannya. Biasanya kalau ada hal-hal yang baik, orang ini baru ingat Allah dan berdoa. Tetapi ada juga orang yang berdoa dalam ketekunan, sebagaimana ia bernafas. Doanya ialah doa yang “walaupun”. Di berbagai kondisi hidup, walaupun menghadapi duka atau suka, doanya tidak henti-henti dinaikkan kepada Allah. Imannya tidak berkurang atau hilang. Orang ini mengaminkan betul nasihat Paulus dalam 1 Tesalonika 5:17, “Tetaplah berdoa”, atau dalam Roma 12:12, “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”

Dalam Lukas 17:22–37, Tuhan Yesus menyinggung soal kedatangan Sang Anak Manusia. Anak Manusia ini adalah sebutan lain dari diri-Nya sendiri sebagai Hakim yang adil benar pada hari Tuhan. Murid-murid didorong untuk menantikan hari Tuhan itu dengan kesiapan dan kebijaksanaan. Pada hari Tuhan itu, segala yang baik akan dikaruniakan Allah dengan sempurna sesuai janji dan kehendak-Nya. Oleh sebab itu, penting bagi murid-murid untuk menantikan tindakan Tuhan yang tepat dan baik itu dengan ketekunan dan kehidupan spiritual yang sehat, walaupun harus menghadapi tantangan berat sekalipun.

Dalam Lukas 18:1–8, diungkapkan nasihat yang jelas mengenai sikap yang tepat dalam menantikan pertolongan Tuhan. Melalui sebuah cerita tentang hakim yang zalim dan ibu janda yang tekun meminta, Tuhan Yesus ingin memperlihatkan bahwa, jika hakim yang zalim saja berkenan untuk memberikan apa yang diharapkan oleh ibu janda yang membutuhkan pertolongan, apalagi Allah yang adil dan benar serta penuh kasih. Allah akan menyatakan kebaikan-Nya pada waktu yang tepat kepada setiap orang yang percaya dan menaruh pengharapan kepada-Nya. Oleh sebab itu dalam penantian itu harus ada kerendahan hati, kerelaan untuk menyadari bahwa kita senantiasa membutuhkan pertolongan Allah dan tidak bersandar kepada kemampuan dan kehebatan diri sendiri saja (Lukas 18:9–14).

Kita diajar oleh Tuhan Yesus untuk selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Bukan hanya itu, seperti si ibu janda yang mau berusaha, kita pun harus mengupayakan apa yang kita rindukan dalam doa kita itu seraya tetap memegang prinsip bahwa kehendak Allah ialah yang terbaik. Kita tidak memaksakan apa yang menjadi kehendak diri kita, sebab Allah tahu yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Oleh sebab itu jawaban “tidak” sekalipun bagi doa-doa kita, semestinya tidak menjadikan iman kita berkurang atau hilang.

Pada bulan keluarga ini, kita melatih diri bersama-sama untuk diproses oleh Allah menghidupi ketekunan dalam mengupayakan kasih kepada bagian anggota keluarga kita. Doa, menjadi bagian dari ungkapan kasih itu. Sebagai orang tua, kita mengingat betapa pentingnya memohon hikmat Allah, supaya dapat mendidik anak-anak dalam pengenalan dan takut kepada Allah. Kita memohon juga supaya dapat menjadi teladan bagi anak-anak, menantu bahkan cucu kita. Dalam doa-doa kita, Anak-anak, menantu dan cucu-cucu, satu persatu kita ingat namanya, dan kita sebut nama mereka dalam doa kita, supaya mereka tetap setia dalam iman dan mendapatkan hikmat Allah untuk melaksanakan karya-karya hidup yang berkualitas dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Sebagai anak-anak, kita mengingat untuk tetap setia mendoakan orangtua kita, yang sudah membesarkan, mendidik dan memelihara kita. Kita doakan mereka supaya dikaruniakan kesehatan yang cukup. Kita mohon kepada Allah supaya sebagai anak-anak kita dimampukan untuk memilki segala yang dibutuhkan untuk tetap memelihara orang tua kita dalam segenap masa kehidupan mereka dan membahagiakan mereka dengan tindakan kasih yang nyata.

Tetaplah berdoa.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments