Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 20 Pebruari 2011

diposting pada tanggal 22 Feb 2011 10.19 oleh Essy Eisen
Memutus lingkaran setan kekerasan

Mat 5: 38-48 

Kekerasan yang terjadi di Cikeusik, Temanggung dan Pasuruan mengundang keprihatinan yang mendalam bagi kita yang mengikuti Yesus Kristus. Bukan hanya karena tiga gereja di Temanggung menjadi korban, tetapi terutama karena kekerasan yang didemonstrasikan secara terang-terangan, tanpa rasa malu ataupun bersalah sungguh bertentangan dengan ajaran Juruselamat kita.

Mat 5: 38-48 mengandung nilai-nilai anti kekerasan yang sangat mendalam. Banyak orang yang agaknya sering salah mengerti dan salah paham akan ajaran Yesus, “Siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Seorang teman saya yang rajin ke gerejanya berceloteh di Facebook, “If someone strikes you on the right cheek, then give him your uppercut.”( Jika seseorang menampar pipi kananmu, maka balaslah dengan tinju). Saya yakin dia sedang berkelakar ketika menulisnya. Namun dalam bayangan banyak orang, perintah ini mengajarkan ketidakberdayaan. Jika ada penindasan maka yah terima saja, kalau perlu buatlah diri lebih menderita lagi. Tentang kesalahpahaman ini, Pdt Em Andar Ismail dalam bukunya Selamat Mengikut Tuhan memberikan penjelasan yang sangat terang dan patut kita baca. Pada hemat saya, inti utama dari ajaran Yesus diperjelas dengan baik oleh Pdt. Marthin Luther King, Jr.

Beliau pernah berkata, “I’m concerned about justice. I’m concerned about brotherhood. I’m concerned about truth. And when one is concerned about these, he can never advocate violence. For through violence you may murder a murderer but you can’t murder murder. Through violence you may murder a liar but you can’t establish truth. Through violence you may murder a hater, but you can’t murder hate. Darkness can’t put out darkness. Only light can do that.”

Dalam Bahasa Indonesia, “Saya prihatin akan keadilan. Saya prihatin akan persaudaraan. Saya prihatin akan kebenaran. Dan ketika seseorang prihatin akan hal-hal ini, ia tidak pernah dapat mendukung kekerasan. Karena melalui kekerasan Anda dapat membunuh seorang pembunuh, tetapi Anda tak dapat membunuh pembunuhan. Melalui kekerasan, Anda dapat membunuh seorang pembohong tetapi Anda tak dapat menegakkan kebenaran. Melalui kekerasan Anda dapat membunuh seorang pembenci, tetapi Anda tak dapat membunuh kebencian. Kegelapan tak dapat mengalahkan kegelapan. Hanya terang yang dapat melakukannya.”

Ini agaknya yang Tuhan Yesus ingin kita lakukan ketika Ia mengajar kita untuk memberi pipi kiri kita setelah ditampar pipi kanan. Kita tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Karena itu hanya akan melanjutkan lingkaran setan kekerasan. Tuhan Yesus menyuruh kita untuk mengasihi mereka yang memusuhi kita, karena hanya dengan kasih maka lingkaran setan kekerasan bisa terhenti. Apakah ini berarti kita tidak berdaya? Sekali-kali tidak. Pdt. Marthin Luther King, Jr. dan perjuangannya melawan diskriminasi rasial di Amerika Serikat bisa menjadi inspirasi dalam berjuang tanpa melakukan kekerasan.

Menariknya, kutipan Pdt. King, Jr. ini saya dapatkan dari Facebook seorang teman Muslim saya, yang ditulisnya beberapa saat setelah peristiwa di Cikeusik. Pdt. King, Jr. rasanya benar sekali, siapapun yang memiliki keprihatinan akan keadilan, persaudaraan dan kebenaran tidak akan mengambil jalan kekerasan untuk mencapai tujuan apapun. Apakah kita juga memiliki keprihatinan Pdt. King Jr.?

Agustian N. Sutrisno
Comments