Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 21 Juli 2013

diposkan pada tanggal 17 Sep 2013 22.41 oleh Essy Eisen
Mendengar sabda Allah

Kejadian 18: 1-10, Mazmur 15, Kolose 1:15-28, Lukas 10: 38-24

Ada seseorang yang memiliki tiga sahabat. Ketika, ia terkena masalah, ia datang kepada tiga sahabatnya tersebut, satu per satu lalu menceritakan masalahnya, ia mendapatkan tiga respon yang berbeda. Sahabat yang pertama mendengarkan masalahnya sambil sibuk melakukan pekerjaannya lalu berkata “Sebenarnya aku ingin membantumu tapi aku sibuk sekali”. Ia pun lalu datang kepada sahabat yang kedua, lalu sahabatnya itu mendengarkan ia menceritakan masalahnya lalu berkata “Dengar, menurut pendapatku inilah yang harus kau lakukan dan aku akan dengan senang hati membantumu melakukannya”. Kemudian ia menemui sahabatnya yang ketiga, dan sahabatnya tersebut dengan penuh kasih mendengarkan ia menceritakan masalahnya. Lalu sahabatnya berkata “Apa yang bisa aku perbuat untukmu kawan?”. Menurut pendapat kita, sahabat yang manakah yang paling tepat dalam menyikapi masalah ini?

Dalam Injil yang kita baca hari ini, dikisahkan mengenai perbedaan sikap dalam melayani Yesus. Marta memilih sibuk untuk mempersiapkan makanan, Maria memilih duduk didekat kaki Yesus untuk mendengarkanNya bersabda. Sedangkan dalam kitab Kejadian diperlihatkan Abraham yang sibuk melayani tamunya yang ternyata ada Allah dalam kunjungan Teofani, namun ia tetap memberikan dirinya untuk mendengar sabda Tuhan. Ketiganya sama-sama melayani Tuhan dengan jalan yang berbeda, namun pelayanan yang manakah yang sesuai dengan kehendak Tuhan?

Dalam perjalanan kehidupan kita sering kali sibuk dalam pekerjaan yang berlarut sehingga terkadang melupakan apa yang seharusnya kita perbuat untuk Tuhan, “ Tuhan aku ingin melakukan sesuatu untuk Tuhan, tapi aku sibuk Tuhan..”. Sering juga kita mendekatkan diri kepada Tuhan namun memaksakan kehendak kita kepada Tuhan , “Tuhan ini loh yang bisa aku berbuat untuk Tuhan yaitu….”, namun sangat jarang sekali kita diam dalam perenungan akan Tuhan dan dalam penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan bertanya “Tuhan, apakah yang Tuhan inginkan untuk aku perbuat?” lalu mencoba untuk mendengar suara Tuhan tanpa ada intervensi kepentingan diri didalamnya.

Sama seperti kisah tiga orang sahabat di atas, sahabat yang pertama, mungkin mendengarkan sahabatnya mengeluarkan masalahnya tetapi ia terlalu sibuk untuk dapat membantu, kitapun mungkin sering datang ke gereja untuk mendengar Tuhan bersabda tetapi kita terlalu sibuk untuk melakukan apa yang menjadi sabda Tuhan. Begitu pula kita sering kali seperti sahabat yang kedua yang mendengarkan sabda Tuhan dengan seksama dan melakukan sabdaNya tetapi melakukannya dengan memaksakan kehendak dengan merasa hanya inilah yang bisa saya lakukan untuk Tuhan dan disertai intervensi kepentingan diri didalamnya. Namun pernahkah kita mencoba untuk memahami kehendak Tuhan dalam kehidupan kita bukan dengan pernyataan “inilah yang bisa saya lakukan untuk Tuhan” tetapi dengan pertanyaan kepada Tuhan “apakah yang Tuhan kehendaki untuk saya perbuat dalam kehidupan saya untuk melayani Tuhan?”.

(Merry Takasowa, S.Si. (Teol.))



Comments