Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 21 Oktober 2012

diposting pada tanggal 26 Okt 2012 20.36 oleh Essy Eisen
Bersedia Dilibatkan Dalam Rencana Allah

1 Petrus 2:1-10

Apa yang indah menurut Allah, pasti indah buat kita. Inilah iman dan pengharapan kita. Allah sudah membuat rencana yang indah bagi hidup kita. Memang kita tidak bisa mengetahui dengan utuh rencana-Nya itu. Yang kita bisa kenali ialah bahwa Allah sudah memulai apa yang baik bersama kita, dan mengajak kita untuk berproses bersama-Nya. Selebihnya, dengan semangat yang tulus kita jalani dengan iman, pengharapan dan kasih. Demikianlah hikmat dari banyak bagian dalam Kitab Suci telah meyakinkan kita.

Petrus dalam suratnya mengajak orang percaya untuk menjadi sama seperti bayi yang baru lahir, yang haus akan air susu yang murni dan rohani, mau terus bertumbuh dan beroleh keselamatan. Dengan datang kepada Kristus, orang yang percaya akan menjadi “batu-batu yang hidup” untuk pembangunan suatu “rumah rohani”, yaitu menjadi bagian dari sekumpulan orang yang hidupnya menjadi persembahan yang kudus dan berkenan bagi Allah karena Kristus.

Rencana Allah bagi dunia ini indah, tetapi tidak semua orang bersedia untuk menjadi rekan kerja-Nya dalam mewujudnyatakan rencana itu. Kristus, dahulu sekali dianggap sebagai “batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan.” Tetapi Kristus, melalui karya-Nya sudah membuktikan, bahwa Ia telah menjadi “batu penjuru”, yang menghadirkan kebaruan hidup bagi dunia ini. Kebangkitan hidup nyata di dalam dan melalui-Nya. Berawal dari Kristus, para pengikut-Nya kini mengikuti teladan-Nya. Bersedia dilibatkan dalam rencana Allah yang indah bagi dunia ini. Untuk menjadi “batu-batu hidup” hingga “rumah rohani” itu pada saat-Nya hadir sempurna.

Orang yang mengikut Kristus, hidupnya terarah. Tidak lagi hidup dalam kegelapan. “Terang” dalam hidupnya ialah bahwa Kristus sedang memegang tangannya melewati suka duka kehidupan dan memampukannya mengelola kehidupan sebagai bagian dari semakin nyatanya rencana Allah yang indah bagi dunia ini. Dalam peran yang dilakukan di tengah hidup, baik di keluarga, di gereja, di tempat kerja, di masyarakat, melalui perkataan dan perbuatannya, pengikut Kristus mengelola hidup yang berangkat dari pengakuan bahwa ia sedang menjadi rekan kerja Allah dalam penyataan rencana Allah yang indah bagi orang lain.

Kita tidak pernah kesepian dalam hidup berkeluarga. Kristus adalah “Tamu” yang tetap dalam kehidupan keluarga kita. Karena kehadiran kuasa kasih-Nya yang menyelamatkan, cara kita berpikir, merasa dan bertindak selalu ada dalam proses terus bertumbuh untuk menunjukkan kasih kepada yang lain semakin baik setiap harinya. Melalui prinsip-prinsip hidup yang ada dalam Firman-Nya yang kita baca, hayati, mengerti dan berlakukan, kita akan diubahkan-Nya untuk menjadi pribadi yang hangat, dinamis dan memberikan pengaruh yang baik.

Jadi bagaimana kita yakin ada rencana Allah yang indah bagi keluarga kita?
  1. Karena Kristus telah memperlihatkan kebaikan Allah melalui karya penyelamatan-Nya.
  2. Karena Kristus ada sebagai “Tamu” yang tetap dalam keluarga, yang akan mengubahkan hati yang pahit menjadi pikiran dan hati yang manis.
  3. Karena Kristus memberikan Roti Hidup yaitu Firman-Nya, yang memberikan kita hikmat dalam suka duka hidup sehingga kita menang dan tidak jatuh dalam pencobaan.
  4. Karena ada kebangkitan setelah salib Kristus, ini memberikan pengharapan dalam hidup saat harus menyangkal diri dan memikul salib, berproses dalam hidup, bahwa kita akan beroleh kebangkitan hidup juga, kini di sini dan kelak dalam kedamaian yang abadi.
  5. Karena dalam setiap hembusan nafas hidup kita, ada nafas hidup Allah juga yang memampukan kita mengelola ciptaan-Nya menjadi sungguh amat baik.
Siapa dan apa peran kita dalam keluarga? “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.” (1 Ptr. 2:9-10).

(Pdt. Essy Eisen)
Comments